
"Wah, Dokter cabul!!" Maki Devan, membuat Ricky semakin tergelak.
"Bagaimana Bro? Saat itu pasti jantungmu berdetak sangat cepat, kan?" Ricky meledek Devan.
"Kalian ini sedang membicarakan apa sih?" Tanya Raya dengan penuh keheranan, sambil menatap kedua pria tampan itu bergantian.
Tapi, lebih tampan Om Devan.ðŸ¤
"Ngomongin Skin to S— Awwww." Ucapan Dokter itu terhenti ketika Devan langsung memiting kepalanya di sela ketiaknya.
"Brengsek!! Lepasin kepala gue! Ketek lo bau bangkek!" Umpat Dokter Ricky.
"Mampus lo!! Hirup aromanya dan rasakan sensasinya." Bukannya melepaskan, Devan malah semakin menjepit kepala Ricky dan menjitaki kepala Dokter cabul itu.
Devan seperti punya dendam kesumat terhadap Ricky.
Ya, Devan memang akan membalas perbuatan Ricky saat itu. Tapi, sayang dirinya terlambat karena saat itu Ricky sudah pergi ke Negara X untuk menjadi relawan kesehatan di Negara tersebut.
"Stop!! Kalian ini seperti anak TK!" Kesal Raya, kemudian melangkahkan kakinya kedalam rumah tanpa memperdulikan kedua pria itu yang masih bergelut.
"Awwhhh, brengsek!! Kau mencubit perut seksoy ku ini." Umpat Devan, lalu melepaskan kepala Ricky dari pitingannya.
Devan menyibakakkan kaosnya dan disana terlihat jelas jika perut Devan sangat merah karena terdapat bekas cubitan yang kontras dengan kulit putihnya.
"Mampus Lo!" Ucap Ricky sambil mengatur nafasnya dan wajahnya terlihat memerah bukan karena marah akan tetapi karena bekas di piting oleh Devan.
Devan tidak terima kemudian ia mulai menggelut Ricky lagi. Dan terjadilah aksi gelut menggelut yang tidak bisa terpisahkan oleh siapapun. Bahkan para penjaga yang memisahkannya pun sampai tidak sanggup.
BYUR
Tiba-tiba ada seseorang yang menyiram tubuh keduanya dengan seember air membuat kedua pria itu basah kuyub dan berhenti bergulat.
"Oma!" Protes Devan, sambil mengusap wajahnya yang basah.
Sedangkan Ricky juga melakukan hal yang sama.
"Sudah beres! Kucingnya sudah berhenti berkelahi!" Ucap Oma Airin, kemudian membuang ember yang ia pegang kesembarang arah dan memasuki rumah kembali tanpa memperdulikan aksi protes dari kedua pria itu.
"Oma!!!!" Teriak Devan dan Ricky bersamaan.
Hais, yang benar saja mereka di katakan seperti kucing yang berkelahi.
Sedangkan para penjaga yang ada disana pun menahan tawa mereka sambil berkata.
"Empussss." Ucap salah satu penjaga meledek kedua pria itu.
__ADS_1
"Meong." Jawab salah satu temannya, kemudian mereka tidak dapat menahan tawanya lagi.
"Awas kalian ya!" Ucap Devan, membuat kedua beberapa penjaga itu langsung diam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kalian ini bisa tidak sih? Kalau bertemu itu yang akur!" Tegur Xander yang duduk di atas Sofa yang ada di ruang tengah.
Sedangkan kedua pria yang terlihat gagah itu berdiri di depan Xander dan menundukan kepalanya, seperti anak TK yang tengah di hukum oleh gurunya.
"Dia yang mulai!" Devan menunjuk Ricky.
"Enak saja! Lo yang mulai!" Ricky tidak terima.
"Astaga!!" Kesal Xander sambil memijit pelipisnya.
Karena kedua pria tersebut selalu bertengkar jika bertemu. Tapi, sebenarnya mereka saling menyayangi.
Xander tahu itu!.
"Kalian ini tidak ingat umur ya?" Ucap Xander dengan nada yang sangat kesal.
"Tentu saja kami ingat, umurku 34 tahun. Lah dia 36 tahun! Seharusnya dia yang mengalah." Cerocos Ricky sambil menunjuk Devan.
"Haduh!!! Kalian membuat kepalaku tambah pusing! Sekarang berdiri di dekat dinding sana dan angkat salah satu kaki kalian!" Ucap Xander, sambil menunjuk dinding di ujung sana.
Bagai kerbau yang di cunguk hidungnya, kedua pria itu menurut dan mengangkat sebelah kakinya.
"Kedua tangan letakan di telinga!" Dan lagi-lagi kedua pria itu menurut.
"Jangan ada yang beranjak dari sana jika kalian masih belum mau berdamai." Ucap Xander terdengar tegas, padahal Xander tengah mati-matian menahan tawanya.
Astaga, aku seperti seorang guru BP yang tengah menghukum muridnya. Batin Xander tergelak.
"Sayang, help me." Ucap Devan, dengan nada memelas kepada Raya yang membawakan kopi untuk ayahnya.
"Cih! Manja." Cibir Ricky.
"Terserah gue! Bini gue sendiri!" Sewot Devan.
"Nikmati saja sayang." Jawab Raya cuek kepada Devan, sambil mengeluarkan ponselnya.
"Hei, kau mau apa?" Tanya Xander. Saat melihat Raya menyalakan kamera ponselnya.
"Tentu saja mau merekam video mereka. Kapan lagi bisa melihat dua pria gagah, dingin dan arogant menjadi cute dan menggemaskan." Ucap Raya sambil tertawa.
__ADS_1
"Kau benar-benar istri lucnut! Tapi, daddy setuju, ha ha haaa." Xander tertawa dan menyetujui ucapan putrinya.
"Huh." Raya mendengus kesal menanggapi perkataan ayahnya.
"Van, Kecebong lo top cer juga ya? Berapa usia si berudu sekarang?" Ucap Ricky tak berfilter langsung mendapat pelototan dari Devan.
"Lo pikir bini gue katak bunting apa!!" Sungut Devan.
"Yeh, lo kan bikinnya pakai gaya katak!" Ucap Ricky lagi membuat Devan kesal dan memukul kepala Ricky.
Tot
"Perjaka tua sok tahu!"
"Emang gue tahu, 'kan suhunya Oma Airin Clark." Ucap Ricky santai, membuat Devan melotot sempurna.
Astaga, Oma lagi yang jadi biangnya.😆
"Devan, Ricky ! Hukuman kalian ingin ditambah ya!" Ucap Xander dari ruang tengah, saat melihat kedua pria itu bertengkar lagi.
"Tidak!!" Ucap Devan dan Ricky bersamaan. Membuat Raya tergelak.
"Astaga, mereka seperti anak TK." Gumam Raya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Devan, ayo berbaikan." Ucap Ricky.
"Ogah!"
"Lo mau kita di hukum sama Om Xander sampai pagi?" Tanya Ricky.
"Tentu saja, tidak!" Ucap Devan dengan cepat.
"Maka dari itu kita berbaikan."
"Ya sudah ayo!" Ucap Devan, lalu berjabat tangan dengan Ricky.
Xander yang melihat dari kejauhan pun tergelak.
Demi kesejahteraan perkasuran. Batin Devan.
Mesum terus pikiran Om Devan ya😆
Tambahin Vote dan hadiahnya, likenya jangan lupa.
__ADS_1