My Sexy Old Man

My Sexy Old Man
Amarah Xander


__ADS_3

"Sayang kita harus berangkat sekarang." Ucap Devan, ketika sampai diruang makan dan menarik tangan Raya.


"Tapi sayang, Mom membawa banyak makanan untuk kita." Ucap Raya.


"Devan, benar kata Raya. Kalian makanlah sarapan yang di bawakan Nyonya Fadaei." Sela Jeje, yang sudah duduk di kursi makan.


Tuan dan Nyonya Fadaei menatap Devan dengan tatapan sedih. Mereka tahu jika Devan enggan satu meja makan dan ingin menghindari mereka.


"Tidak apa-apa Nyonya. Lebih baik kita pulang." Ucap Nyonya Fadaei pada akhirnya dan beranjak dari duduknya.


"Eh, Mom. Jangan pulang, kita sarapan bersama. Sepertinya masakan Mom sangat lezat." Ucap Raya, mencegah ibu dan ayah mertuanya dan menatap penuh minat makanan yang terjejer diatas meja makan.


"Iya kan, Sayang." Ucap Raya pelan tapi penuh penekanan kepada suaminya.


"Tid—"


"Jika kau tidak mau ! Maka jangan harap nanti malam mendapatkan jatah." Bisik Raya, sambil menutupi hidungnya. Karena ia masih merasa sedikit mual jika berdekatan dengan Devan.


Tapi, tidak se mual kemarin karena saat ini dan seterusnya Devan akan mengunyah permen rasa strobery ketika bersama Raya.


Demi Istrinya ia melakukan apapun. Padahal Devan bukan tipe pria yang suka makanan yang manis-manis.


"Hum, baiklah." Devan akhirnya mengalah.


Dia tahu kelemahan ku. Batin Devan.


"Kau memang suami yang pengertian." Ucap Raya, sambil mencubit pipi Devan dengan gemas. Setelah itu mereka mendudukan diri di kursi masing-masing.


Dasar embek licik. Devan mengumpati istrinya dalam hati.


"Wah, Mom pandai memasak makanan indonesia." Puji Raya, sambil bertepuk tangan.

__ADS_1


"Cih ! Paling juga yang memasak Kokinya." Cibir Oma Airin.


"He he he. Iya Oma benar." Ucap Tuan Fadaei. "Istri saya memang tidak bisa memasak" Aku Tuan Fadaei.


"Dad!" Kesal Nyonya Fadaei pada suaminya.


"Apa? Memang benarkan jika Mom tidak bisa memasak." Ucap Tuan Fadaei,membuat istrinya semakin mengerucutkan bibirnya kesal.


Oma Airin dan Jeje menyembunyikan tawanya, sedangkan Raya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Dan jangan tanya bagaimana ekspersi Devan terlihat datar dan dingin.


"Je, Xander kemana?" Tanya Oma Airin.


"Daddy, sedang bersama Ansel." Jawab Jeje.


"Tumben J4 mau menempel sama Daddynya." Heran Raya dan juga Oma Airin.


Karena biasanya yang menempel dengan Xander adalah J1, J2, dan J3 sedangkan Ansel lebih suka menempel dengan sang mami.


"Iya, Mom." Jawab Jeje dengan patuh.


Setelah itu mereka semua memulai makanan sarapannya dengan tenang. Dan Jeje pamit terlebih dulu karena ia harus membawakan sarapan untuk Xander.


"Mom, terimakasih makanannya." Ucap Raya kepada ibu mertua.


"Sama-sama, Raya." Ucap Nyonya Fadaei.


"Harusnya kau berterimakasih kepada Kokinya." Ucap Oma Airin.


"Oma!" Tegur Raya.


"Apa? Oma Hanya berbicara sesuai realita." Ketus Oma Airin.

__ADS_1


"Sudah siang dan berangkat lah kalian." Ucap Oma Airin kepada Raya dan Devan.


"Baik, Oma." Ucap Devan, lalu segera menarik tangan Raya menuju halaman depan dimana mobilnya terparkir.


Dan di ruang makan tersisalah Oma Airin dan kedua besannya itu.


Oma Airin meneguk jus jeruknya hingga tandas.


Tak


Om Airin meletakkan gelas yang sudah kosong itu dengan kasar diatas meja.


"Aku harap jika kau berbicara di pikir dulu pakai otak!" Oma Airin menatap tajam Nyonya Fadaei.


"Oma, maaf sebelumnya. Tapi apa yang saya ucapkan benar bukan? Jika pendidikan itu sangat penting, apa lagi Nyonya Jeje adalah menantu anda dan keluarga anda terpandang di negara ini. Apa kata orang jik—" Ucapan Nyonya Fadaei terhenti ketika melihat Xander menghampiri meja makan dengan aura sangat mencekam.


Brak


"Apa urusanmu mencampuri urusan keluarga kami! Kau memang besan dan juga orang tua Devan tapi, jika kau seperti ini jangan salahkan aku, jika aku tidak sopan kepadamu." Ucap Xander dengan penuh amarah dan menggebrak meja makan. Semua orang disana sangat terkejut termasuk para pelayan yang tengah membereskan meja makan sampai bergetar ketakutan.


Selama Ini Xander sudah menahan diri dan selalu bersikap sopan kepada besannya tersebut.


"Ataukah otak mu itu harus di keluarkan dulu dari tempatnya! Agar kau sadar dengan semua kesalahanmu!" Tatapan Xander kian menajam.


Glek


Emak ikut kaget waktu Daddy menggebrak meja.


Konfliknya seperti biasa yang ringan aja


Tambahin Vote dan hadiahnya ya😘

__ADS_1


__ADS_2