
Malam hari pun tiba di kediaman keluarga Clark terdengar gelak tawa yang menggema yang berasal dari ruang tengah.
Trio gesrek tengah berkumpul sambil membicarakan Kehebohan Ema tadi siang.
"Aku tidak bisa membayangkan wajah syok Ema saat menyetuh sesuatu dilantai." Jeje Tergelak, sambil melirik ibu mertuanya.
"Ha ha ha haa, sudah tua jadinya suka beser." Jawab Oma Airin absurd, seolah ia tahu tengah di sindir menantunya.
"Bukan cuma Oma yang beser, tapi menantu Oma juga." Ucap Raya, melirik ibu sambungnya.
"Ish, Raya!" Jeje bersemu merah, membuat Raya dan Oma Airin tergelak bersama.
Tak berselang lama terdengar deru suara mobil memasuki halaman rumah mereka.
"Daddy dan Devan pulang." Ucap Jeje, kemudian kedua wanita tersebut pergi menyambut kepulangan suaminya dan meninggalkan Oma Airin di Ruang tengah sendirian.
"Hai, bidadari cantikku." Sapa Xander, ketika melihat Jeje menyambutnya di ambang pintu.
"Hai, pangeran tampanku." Balas Jeje, sambil memeluk Xander dan mengecup pipi suaminya dengan mesra.
"Cih, lebay." Sindir Devan.
"Manis! Tidak boleh iri ya." Ucap Xander terkekeh.
"Heh!" Devan mendengus kesal, ketika Ayah mertuanya terus memanggilnya dengan sebutan 'Manis'.
"Kau juga bisa seperti itu, Sayang." Ucap Raya, lalu memeluk suaminya.
__ADS_1
"Hem, wanginya." Raya mengendus ketiak Devan. Membuat Xander dan Jeje bergidik ngeri.
"Iyuhhh... Hoek." Ucap Xander dan Jeje bersamaan, kemudian mereka berjalan memasuki rumah.
Sedangkan Raya dan Devan masih di halaman.
"Sayang, hari ini aku sangat malu karena Daddy selalu mengolokku." Adu Devan, kepada istrinya. Keduanya berjalan memasuki rumah dengan posisi Raya bergelayut manjah ditangannya sambil mengendusi ketiak Devan.
"Mengolokmu bagaimana?" Tanya Raya, masih setia mengendusi ketiak Devan.
"Daddy memanggilku, MANIS seharian ini." Ucap Devan dengan nada kesal dan mengucapkan kata 'manis' dengan penuh penekanan.
"Kau kan memang manis dan gurih, he he he." Ucap Raya, ikut mengolok suaminya membuat Devan semakin kesal.
"Sayang, malam ini jangan mandi ya."
"Whatt!!!" Pekik Devan, ketika mereka sudah di dalam markas tempur 2.
"Para botak sudah tidur?" Tanya Xander, sambil menciumi leher Jeje.
"Sudah, Dad." Jeje menggelinjang ketika pepaya gantungnya di remat.
"Berapa lama lagi jalan menuju surgaku di buka?" Tanya Xander, masih menciumi leher putih itu dan sesekali menyesapnya hingga meninggalkan jejak cinta disana.
"Sabar, masih 14 hari lagi. Sshhhh." Suara laknat Jeje keluar ketika tangan Xander masuk kedalam dressnya sambil memencet Choco chips nya dengan gemas.
"Lama sekali." Keluh Xander, sambil menggesekan benda keramatnya yang sudah bengkak ke bokong Jeje.
__ADS_1
"Dad, sshh mandi dulu sana." Jeje melepaskan tangan Xander dari pepaya gantungnya.
"Mandiin." Rengek Xander dengan nada manjah.
"Manjah!" Ledek Jeje.
"Aku manjah, hanya denganmu saja. Honey." Ucap Xander, lalu membalikan tubuh Jeje, hingga tatapan keduanya bertemu dan mengunci.
Keduanya saling mengagumi dan saling memuja. Layaknya anak ABG yang baru mengenal cinta.
Xander mendekatkan wajahnya dengan perlahan sambil berbisik di depan bibir Jeje yang berwarna pink alami.
"Kau pakai mantra apa? Hingga membuatku bisa segila ini." Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga setelah sekian lama mereka menikah.
Jeje memejamkan matanya, ketika hembusan nafas berbau mint menerpa indra penciumannya.
Sangat menggoda dan membuat Jeje lupa diri.
Cup
Jeje mengecup bibir tebal itu dengan lembut dan penuh cinta.
"Aku tidak memakai mantra apa-apa. Hanya saja aku menggunakan ramuan cinta dan juga kasih sayang agar kau tidak mampu berpaling denganku. Hanya aku yang harus kau lihat dan kau cintai. Xander Clark! My Sexii Old Man. Aku mencintaimu."
Cup
Cap cip Cup kembang kuncup 🤣🤣🤪🤪🤪
__ADS_1
Seninn!!!!!!!
Kasihh dukungannya dengan cara Vote, kasih hadiah,dan like!!