
Devan menuruni anak tangga sambil menggenggam tangan istrinya dengan erat.
Devan hari sudah siap dengan pakaian kantornya, pria itu terlihat sangat tampan dan gagah. Begitu juga Raya terlihat sangat cantik, memakai dress rumahan atau biasa di sebut Daster, karena hari ini dirinya tidak ada jadwal kuliah jadi ia memakai daster tersebut yang baru dibelinya beberapa hari yang lalu dari online shop.
"Apa Dede gondrong baik-baik saja?" Tanya Devan.
"Iya, Sayang." Jawab Raya, tersenyum menatap suaminya yang tampak khawatir.
"Aku sangat khawatir." Ucap Devan, menatap perut Raya yang masih terlihat Rata.
"Lain kali mainnya jangan terlalu kasar." Bisik Raya, membuat Devan tersenyum malu.
Karena tadi pagi, Devan menggempur istrinya lagi dengan gaya cicak nemplok di punggung dan monyet minta di gendong.
"Aku hanya takut jika Dede gondorong nyungsep." Ucap Devan, membuat Raya terkekeh lalu menggelengkan kepalanya.
"Kapan jadwal periksa Dede gondrong?" Tanya Devan.
"Minggu depan sayang, aku harap kau bisa menemaniku." Ucap Raya, penuh harap.
"Tentu saja, aku akan menemani istri cantikku ini." Jawab Devan, sambil mengecup tangan Raya yang ada di genggamannya.
"Auhhh, Romantis sekali." Ucap Raya, genit.
"Dasar." Ucap Devan, sambil mengacak rambut Raya.
"Ishh, berantakan! Jadi tidak cantik lagi kan." Raya mengerucutkan bibirnya kesal sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Kau itu selalu cantik dalam keadaan apapun, apa lagi jika kau mendesah di bawahku, kau semakin terlihat cantik dan seksih." Bisik Devan, membuat Raya tersenyum malu dan wajahnya menjadi semerah tomat.
"Dasar maniak!"
__ADS_1
Bugh
Raya memukul lengan Devan dengan keras, kemudian berjalan mendahului Devan.
"Ha ha ha haa." Devan tergelak dan masih berdiri di anak tangga.
Sedangkan Raya, sudah terlanjur kesal pun langsung menuju ruang makan. Tapi, langkah Raya terhenti ketika melihat kedua mertuanya yang tengah melangkah memasuki rumah besar tersebut.
"Mom? Dad?" Raya menghampiri kedua mertuanya dan memeluk mereka satu persatu.
Devan yang tengah tertawa pun menghentikan tawanya dan seketika tatapannya menajam ketika melihat kedatangan kedua orang tuanya.
"Apa kabar sayang? Dan bagaimana keadaan kalian?" Tanya Nyonya Fadaei, kepada menantunya.
"Kami baik, Mom Dad." Jawab Raya tersenyum dan menatap kedua mertuanya bergantian.
"Maaf, itu karena—" Ucapan Tuan Fadaei terhenti ketika Raya di tarik paksa oleh Devan.
"Devan, jangan seperti itu! Istrimu tengah mengandung." Tegur Nyonya Fadaei.
Devan menatap tajam kedua orang tuanya, tanpa berkata apapun ia membawa Raya kembali naik ke markas tempur 2.
Tentu saja hal itu membuat hati kedua orang tuanya mencelos.
"Devan Daddy dan Mommy akan kembali ke Kanada." Ucap Tuan Fadaei, ketika melihat Devan dan Raya menaiki anak tangga.
Devan menghetikan langkah kakinya saat Raya menahan tangannya.
"Maafkan Dad dan Mom karena tidak pernah ada untukmu." Lanjut Nyonya Fadaei mulai terisak.
__ADS_1
"Terimakaasih, Nak. Melihatmu seperti ini sudah membuat kami senang dan bahagia. Kami adalah orang tua yang sangat buruk. Sekali lagi maafkan kami." Ucap Tuan Fadaei, lalu memapah istrinya yang terlihat lemas untuk keluar dari kediaman keluarga Clark.
"KEMBALILAH! Tapi, jangan pernah kalian menampakan diri di hadapanku lagi!"
Deg
Jantung kedua orang tua Devan berdetak sangat cepat ketika mendengar suara Devan yang begitu dingin dan tegas.
"Sayang." Raya menggoyangkan tangan Devan yang menggenggamnya dengan erat.
Kedua orang tua Devan menghentikan langkahnya dan membalikan badan untuk menatap putranya. Tapi, sayangnya Devan memunggungi mereka hanya Raya yang menatap mereka.
"Aku akan sangat membenci kalian jika kalian kembali lagi ke Kanada!" Ucap Devan dengan tegas, lalu melepaskan tangan istrinya dan berjalan cepat menuju markas tempur 2.
Kedua orang Devan, tersenyum sambil menghapus air mata yang sudah membasahi pipi.
"Sayang, kau tidak ingin memeluk Daddy dan Mommy?" Teriak Raya, tapi suaminya itu tidak menileh sedikitpun.
"Mom and Dad." Raya menghambur memeluk kedua mertuanya bersamaan.
"Apa itu tandanya Devan—" Nyonya Fadaei tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Ya, Mom. Devan mulai membuka hati untuk kalian lagi." Ucap Raya, lalu mengurai pelukannya.
"Ya Tuhan, terimakasih." Nyonya Fadaei memekik senang dan bahagia.
Baik buruknya kedua orang tua dan sebesar apapun kesalahan mereka, kita tidak boleh membenci mereka. Karena tanpa mereka kita tidak akan ada di dunia ini, Percayalah, mereka menyayangi dan mencintaimu, walaupun mereka membesarkanmu dengan cara yang salah.
Nyesek ya Mak😭
Tambahin Vote dan hadiahnya, like jangan ketinggalan👊👊
__ADS_1