
"He he he he,Kalau itu sepertinya,Eike harus bertapa dulu deh. Karena jati diri eike inilah yang sebenarnya." Ucap Ema dengan lemah gemulai.
"Ya! Bertapalah di goa hantu sekalian! Siapa tahu kau akan mendapat mukjizat dari Tuhan." Ucap Oma Airin dengan kesal.
"Ih! Oma Jahara deh, masa eike disamain sama si buta dari goa hantu yang suka bawa monyet di pundaknya." Ema mencebikan bibirnya dengan kesal.
"Ya, memang kau sudah sangat mirip, Nah tinggal begini saja." Oma Airin beranjak dari duduknya, lalu mengambil Guguk Ema yang mungil dan imut itu, lalu meletakan di pudak Ema.
"Ha hha hah haa." Jeje tertawa terbahak ketika melihat penampilan Ema.
"Jahara deh kalean." Ema mencebikan bibirnya dengan kesal, lalu menurunkan Guguknya ke pangkuannya.
"Kau sangat imut dan manis Ema. Tetaplah menjadi dirimu sendiri selama kau masih nyaman. Tapi, jika kau berubah pikiran, kau bisa memberi tahu Oma karena Oma akan membantumu. Benarkan Mom?" Ucap Jeje dan meminta persetujuan dari Oma Airin.
"Yap! Benar sekali. Kami selalu ada untukmu Ema." Ucap Oma Airin.
"Hiks hiks hiks, kalean memang yang terbaik. Eike jadi terhura." Ema menitikan air matanya dengan penuh haru.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Disisi lain Raya yang sejak tadi siang mengunjungi suaminya di kantor hingga saat ini masih betah menunggui suaminya, padahal ia sudah tahu jika Devan tengah lembur.
"Sayang, jika kau bosan pulanglah lebih dulu. Karena hari ini aku akan lembur." Ucap Devan kesekian kalinya, sambil melihat jam tangannya yang mahal di lengan kirinya.
"Nah, sudah jam 6 sore. Kau harus pulang sayang."
"Tidak mau!" Jawab kekeh Raya.
"Sayang, mengertilah!" Devan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Hiks hiks hiks, Harusnya kau yang mengerti aku karena aku sedang mengandung dede gondrong." Raya mulai terisak.
Dan benar saja, tak berselang lama Xander memasuki ruangan Devan.
"Hei! Apa yang kau lakukan kepada putriku? Mau di gantung di pohon cabe kau!" Sentak Xander.
"Daddy! Kenapa membentak suamiku!" Kesal Raya.
"Eh." Xander terperanjat kaget ketika Raya malah kesal kepadanya.
__ADS_1
"Harusnya aku yang marah sama Daddy karena memberikan pekerjaan banyak kepada menantu Daddy itu." Raya mengusap air matanya dengan kasar dan menatap tajam Ayahnya.
"Sayang, memang pekerjaan kita sedang banyak." Ucap Devan.
"Kalau di bela itu harus berterimakasih!" Ketus Raya, kepada suaminya.
"Sayang, bukan mak—" Ucapan Devan terhenti ketika Raya memotongnya dengan cepat.
"Sudahlah kalian ini sama saja! Bisanya cuma bikin dede bayi saja tapi tidak bisa bertanggung jawab jika istri lagi hamil tengah ngidam." Ketus Raya lagi, lalu mengambil tasnya dengan kasar dan beranjak pergi dari sana.
Sindiran keras untuk Devan dan Xander. Membuat kedua lelaki takut istri menggaruk kepala bersamaan.
"Sayang tunggu!" Seru Devan, lalu mengejar istrinya.
"Dad, maaf demi kesejahteraan perkasuran ku. Aku tidak bisa ikut lembur." Ucap Devan kepada Ayah mertuanya, sebelum mengejar Raya.
"Dasar! Istri lagi hamil masih saja memikirkan asahan golok!" Dumel Xander, lalu meninggalkan ruangan Devan dan membawa pekerjaan yang ingin di serahkan kepada Devan kembali keruangannya.
Daddy tidak sadar jika dirinya pun seperti itu.😆
__ADS_1
Yuk ayokkk tambahin Vote dan hadiahnya !! Likenya jangan ketinggalan!