
"Melihat pepaya gantung di kantor juga tidak bagus untuk kesahatan mata dan juga hatimu!" Sindiran keras untuk Xander.
Skak Matt
Xander mendelik ketika mendengar sindiran dari istrinya.
"Sayang, aku minta maaf ya." Ucap Xander kepada istrinya.
Memohon dan merendahlah agar istri cantikmu itu tidak marah lagi. Batin Xander.
"Sudah di maafkan." Jawab Jeje, masih terdengar ketus.
Yes!! Batin Xander jingkrak-jingkrak.
"Terimakasih sayang." Ucap Xander, tersenyum senang.
"Tapi, hukumanmu masih berlaku! Dan Mulai malam ini kau tidur sendiri!"
Jedarrrr
Seperti tersambar petir di malam hari.
Senyuman Xander langsung luntur seketika dan tubuhnya langsung lemas, lesu, dan lunglai.
"Sayang, kau tidak bercanda 'kan?" Tanya Xander, lemas.
"Tentu saja aku serius!" Ketus Jeje sambil menatap suaminya dengan sengit.
"Tapi, sayang ak—"
BLAM
Jeje langsung menutup pintu kamar Four J, tanpa memperdulikan ocehan suaminya.
Sedangkan Xander memejamkan matanya sambil menghembuskan nafasnya kasar.
Sial!! Gara-gara pepaya busuk malah jadi begini. Runtuk Xander dalam hati.
Pedangku terancam karatan!.
"Sayang, please jangan seperti ini. Sayang!" Xander terus mengetuk pintu kamar Four J.
"Malam-malam aku sendiri, tanpa cintamu lagi, ho o hooooo. "Devan bersandar di dinding yang tidak jauh dari sana dengan gaya yang Cool sambil bernyanyi dan menatap Ayah mertuanya dengan tatapan mengejek.
Entah sejak kapan menantunya itu ada disana? Tapi, yang jelas sepertinya Devan mendengarkan percakapannya dengan Jeje.
Sring
Xander melirik tajam menantunya, bahkan lirikan itu setajam silet. Bukannya takut, Devan malah terus mengolok ayah mertuanya.
"Mau Miss Lux, Dad? Kemarin Oma membelikanku lima botol." Ucap Devan, mengejek Ayah mertuanya.
"Enyah kau dari sini!!" Sentak Xander kepada Menantunya.
"Ayolah Dad, sesama senam lima jari tidak boleh seperti itu." Devan menaik turunkan alisnya, sambil menahan tawanya.
Pfftt, Ya Tuhan aku ingin tertawa. Batin Devan
__ADS_1
"Cih!" Xander hanya berdecih kesal sambil menatap menantunya dengan tajam.
"Ha ha ha ha." Tawa Devan akhirnya pecah ketika melihat wajah Ayah mertuanya semakin kesal.
"Akhirnya sekarang aku tidak berpuasa sendirian, ha ha haa." Ucap Devan sambil tertawa.
"KABOR!" Devan langsung melarikan diri ketika Xander bersiap untuk menghajarnya.
"Awas saja kau!! Menantu Luknut!" Umpat Xander
"Sial!!" Umpat Xander lagi, kemudian memasuki kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Four J.
Eh! Bukankah dari kamar ini bisa masuk kekamar Four J?
Kenapa aku mendadak bodoh begini? Batin Xander, kemudian ia menuju pintu kamar yang menghubungkan ke kamar Four J.
Sial, di kunci!
Arghhh! Jenita kenapa kau menghukumku seperti ini!! Ini semua karena pepaya busuk.
Lagi-lagi Xander menyalahkan pepaya busuk.
Xander melangkah gontai menuju tempat tidurnya, lalu ia merebahkan dirinya dengan kasar.
Sedangkan di kamar Four J, Jeje sudah terlelap dalam tidurnya,tanpa memikirkan suaminya yang tengah gelisah di markas tempur 1.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau itu kenapa, Sayang?" Tanya Raya penuh keheranan, ketika melihat suaminya memasuki kamar sambil tertawa terbahak.
"Pepaya gantung? Maksudmu uget-uget gatel?" Tanya Raya.
"Iya." Jawab Devan. "Ha ha ha, akhirnya aku tidak sendirian berpuasa." Devan tergelak, tapi Raya malah menatapnya tajam.
"Hei! Jangan menatapku seperti itu!" Sontak Devan langsung menghentikan tawanya ketika ia di tatap tajam oleh Raya.
"Jangan-jangan kau yang mengajari daddy?" Raya semakin menyipitkan matanya, menatap suaminya itu penuh selidik.
"Aku?!" Devan menunjuk dirinya sendiri, lalu Raya mengangguk pelan.
"Tentu saja kau! Siapa lagi yang suka jelalatan melihat pepaya gantung!" Ketus Raya, seolah mengingatkan kesalahan Devan yang dulu-dulu.
"Itu dulu sayang. Ayolah, kau masih mengingat kesalahanku yang sudah berlalu?" Tanya Devan, tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh istrinya.
"Jangan kira sudah berlalu, aku bisa melupakannya dengan mudah" Balas Raya kesal.
"Itu artinya kau tidak percaya dengan ku!!"
"Aku percaya" Jawab Raya.
"Lalu kenapa kau masih mengingatnya?!" Balas Devan tak kalah kesal.
Perdebatan pun akhirnya tak terelakan, dan sudah pasti pemenangnya adalah Raya.
"Puasamu di tambah 10 hari lagi!"
"What!!" Pekik Devan.
__ADS_1
"Salah siapa kau mengajakku berdebat." Kesal Raya.
Ya ya ya, wanita memang selalu benar. Batin Devan, mengalah lebih baik dari pada puasanya di perpanjang lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xander mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sayang, kau serius dengan semua ini?" Tanya Xander entah sudah keberapa kali.
"Hem." Jawab Jeje hanya berdehem.
"Tapi, bagaimana bisa aku bekerja jika aku juga haris mengawasi Sean dan Ansel?" Tanya Xander, frustasi.
Pasalnya Sean dan Ansel adalah balita yang super aktif bukan hanya itu saja Sean dan Ansel juga suka mengacau pekerjaan orang lain.
Sifat keduanya itu berbanding terbalik dengan Nathan dan Aiden.
Ah, Xander rasanya ingin menjerit saja dan ingin mengibarkan bendera warna putih bertanda jika ia ingin menyerah sebelum berperang, tapi sayangnya ia tidak bisa melakukan hal itu.
Jeje memberikan Tas lumayan besar yang berisi kebutuhan kedua putranya.
"Ini didalam sudah aku siapkan semua. Jam sepuluh pagi Sean dan Ansel minum susu, lalu jam sebelas mereka harus tidur siang setelah mereka bangun tidur beri mereka camilan yang sudah aku siapkan didalam tas dan jangan lupa ganti popok mereka setelah bangun tidur, sebelum itu basuh dulu bokongnya dengan air hangat atau tissue basah agar kulitnya tidak iritasi, jam tiga mereka minum susu lagi. Ah, ya jangan lupa ajak mereka bermain." Jelas Jeje panjang lebar.
Xander hanya melongo dan sampai tidak berkedip ketika mendengar jadwal kedua putranya itu.
"Sudah paham?" Tanya Jeje, Xander menggeleng lalu mengangguk
"Bagus." Ucap Jeje, lalu memasangkan Tas itu ketubuh suaminya yang terlihat menegang.
"Sean dan Ansel hari ini ikut daddy ke kantor. Ingat tidak boleh nakal." Pesan Jeje kepada kedua putranya yang sudah ada di dalam stroler gandeng.
"Di di di." Sean bertepuk tangan sambil tertawa, begitu pula dengan Ansel.
"Uh, gemas banget sih Mami sama kalian." Jeje menundukan badannya lalu mencium gemas kedua putranya itu.
"Sayang, apa tidak ada pilihan lain?" Xander masih berharap jika istrinya itu berubah pikiran.
"Tidak!" Jawab Jeje dengan tegas.
"Tapi—"
"Tenang saja mereka tidak akan merepotkan Daddy!!" Jeje memotong perkataan suaminya dengan cepat.
"Iya, tapi kan—"
"Daddy bekerja sambil melihat pepaya gantung saja bisa! Masa iya, cuma bekerja sambil jagain anak sendiri tidak bisa?!"
Ngek
Xander kalah telak lagi dengan perkataan istrinya. Dirinya kini hanya bisa pasrah dan ikhlas menjalani hukumannya.
Nasib...Nasib
Seneng banget kalau daddy menderita🤣🤣
Tambahin Vote dan hadiahnya 😘😘😘
__ADS_1