My Sexy Old Man

My Sexy Old Man
Seperti Bom Atom


__ADS_3

Full part Devan ya !


Kasih Vote sama hadiah dulu ya ! Awas kalau enggak !👊


Mata Raya berkaca-kaca ketika mendengar penuturan suaminya. Hatinya ikut merasa sesak dan juga sakit.


Inikah kehidupan suaminya sesungguhnya ? Pria itu terlihat tangguh dari luar tapi lihat sekarang Pria yang berstatus suaminya itu terlihat terluka batinnya bahkan sampai menangis.


Sesakit itukah luka yang di berikan kedua orang tua Devan ?


Devan mengepalkan keduanya tangannya dengan kuat yang ada di pangkuannya.


Sesak !


Sakit hati !


Kecewa !


Semua ia rasakan menjadi satu dan ia pendam sendiri selama ini tanpa ada yang mengetahui kehidupan masa lalunya,termasuk istrinya sendiri.


Dan semua rasa yang ia pendam itu akhirnya meledak seperti BOM ATOM yang menghantam kedua orang tuanya.


"Devan,tenangkan dirimu," Ucap Nyonya Fadaei dengan nada lembut dan tenang.


Tapi di dalam hati wanita paruh baya itu takut dan juga di hantam rasa bersalah yang sangat luar biasa yang menggerogoti jiwanya.


"Tenang ?" Devan terkekeh.


"Sayang," Raya,menyentuh pundak tegap suaminya itu. Tapi Devan tetap tak bergeming,menoleh pun tidak.


Tatapan tajam Devan terpaku kepada Kedua orang tuanya yang duduk di hadapannya.


"Daddy melakukan semua ini untukmu ! Dan kau lihat sendiri hasilnya sekarang perusahaan yang daddy bangun dari nol sekarang menjadi besar dan banyak cabang di mana-mana. Itu semua kami lakukan untuk kamu Devan !" Ucap Tuan Fadaei tak kalah tajam.


Lagi-lagi masalag harta ! Devan merasa muak dengan semua ini !


"Begitu kah ? Tapi buktinya aku bisa berdiri dengan kaki ku sendiri tanpa uang kalian !" Balas Devan,dengan tegas dan begitu menohok di hati kedua orang tua Devan.


SKAK MAT


Bungkam !


Ya ! Kedua orang tua Devan bungkam,karena ucapan Devan adalah fakta.


"Devan sa-" Ucapan Nyonya Fadaei terhenti ketika Devan mengangkat telapak tangannya.


"Jika harta yang kalian cari untuk apa kalian melahirkan ku kedunia ini,jika aku tidak dianggap ! Tidak tahu kah kalian jika aku sangat tersiksa dan juga kesepian di masa kecil hingga remajaku ? Aku mempunyai segalanya dari kalian tapi aku tidak mendapat perhatian dan kasih sayang dari kalian !" Ucap Devan,mulai melemah.

__ADS_1


"Maafkan kami," Lirih Tuan Fadaei.


Tuan Fadaei mengukur segalanya dengan uang. Ia berpikir jika banyak uang maka semua beres dan bahagia. Tapi,nyatanya ? Dia salah besar !.


Raya hanya menangis tertahan di samping Devan yang masih terbawa emosi.


"Aku selalu memaafkan kalian" Ucap Devan. "Tapi,disini rasa sakit hatiku sulit untuk hilang ataupun untuk di lupakan," Devan menunjuk dadanya sendiri.


"Maaf," Ucap Nyonya Fadaei menangis terisak.


"Sayang ?" Raya menatap Devan dengan menggelengkan kepalanya,bertanda agar Devan tidak melanjutkan pertikaian ini.


Devan menoleh dan menatap wajah istrinya yang terlihat sembab.


Ia merasa bersalah kepada istrinya karena membawa istrinya kedalam masalah keluarganya.


"Jika kalian mengundang kami kesini untuk membicarakan masalah hadiah itu ? Maaf saya tidak bisa menerimanya ! Dan sepertinya kami harus undur diri. Permisi," Ucap Devan dengan bahasa formal dan menatap Datar kedua orang tuanya.


Dan itu membuat hati kedua orangnya sakit.


Devan beranjak dari duduknya,kemudian menarik tangan Raya.


"Raya tunggu !" Seru Nyonya Fadaei,ketika Melihat anak dan menaantunya ingin pergi.


Devan dan Raya menghentikan langkahnya,tapi Devan tidak menoleh hanya Raya yang menoleh dan berbalik menatap ibu mertuanya.


"Maaf,mungkin terlambat tapi Mommy memberikan hadiah ini khusus untukmu," Ucap Nyonya Fadaei pelan dan menyerahkan kotak perhiasan itu kepada menantunya.


Raya tersenyum dan tangannya terulur untuk menerima kotak perhiasan itu.


"Istriku tidak membutuhkannya !" sahut Devan,dan membalikan badannya.


Sontak saja tangan Raya terhenti untuk menerima kotak perhiasan itu.


"Sayang !" Seru Raya.


"Aku bisa membelikan mu ! 100 perhiasan seperti itu !" Tegas Devan menatap tajam Raya.


"Mommy mohon,Nak," Ucap Nyonya Fadaei menangis,karena penolakan dari putranya.


"Maaf,Mom," Raya seraba salah,disatu sisi ia sangat menghargai ibu mertuanya tapi disisi lain,Ia juga menghormati suaminya.


Devan segera menarik istrinya keluar dari kamar hotel itu dan menyisakan luka untuk kedua orang tuanya.


"Beginikah rasanya diabaikan ? Rasanya sungguh sakit,hiks," Nyonya Fadaei,menangis terisak dan menatap punggung anak dan menantunya yang sudah mulai menjauh.


"Mom,sudah," Tuan Fadaei,memeluk istrinya dan membawa istrinya duduk kembali di atas Sofa.

__ADS_1


"Mommy sangat bahagia ketika membelikan perhiasan ini untuk menantu kita,tapi sudah terlambat. Devan membenci kita,Dad," Nyonya Fadaei menangis di dalam dekapan suaminya sambil memegang kotak perhiasan tersebut.


"Tidak ada kata terlambat Mom," Ucap Tuan Fadaei,mengurai pelukannya dan menatap istrinya dengan mata yang berkaca-kaca,kemudian tersenyum.


"Benarkah Dad ?" Dan di angguki Tuan Fadaei.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Devan dan Raya sudah di dalam mobil.


Raya melirik Devan yang masih terdiam di balik kemudi.


"Kenapa Om tidak pernah membicarakan semua ini kepadaku," Raya membuka suara.


"Maaf," Ucap Devan,tanpa menoleh.


"Kau anggap aku ini apa bagimu ? Bukankah kita sudah berjanji suka atau duka akan kita lalui bersama ? Tidak kah kau ingat janji suci kita pernikahan kita ?" tanya Raya dengan nada bergetar.


Devan menoleh ketika mendengar ucapan istrinya.


Inilah yang tidak di inginkannya. Istrinya ikut terluka karenanya dan dia tidak suka itu !.


"Maaf,bukannya aku tidak mau cerita tapi, lihat dirimu sekarang terluka karena ku," Jelas Devan,kemudian memeluk Istrinya.


"Lebih terluka lagi jika aku tidak tahu tentang dirimu ! Suamiku menyembunyikan masalahnya sebesar ini ? Aku tidak tahu bagaimana kehidupanmu di luar sana ? Sendirian,tanpa siapa pun, aku merasa istri yang paling bodoh karena tidak mengerti suaminku," Ucap Raya,terisak.


"Setegar apa hatimu itu ? Hah !! Hatimu itu bukan batu karang ! Pasti disini rasanya sakit sekali bukan ?" Tanya Raya masih berderai air mata,kemudian ia mengurai pelukannya dan meraba dada bidang Devan.


"Pasti disini kau memendam semuanya,bukan?!" Raya mengecup Dada bidang Devan berulang kali.


"Aku membencimu Devan Fadaei ! Kenapa kau menyembunyikan luka mu itu ?" Raya terisak dan memukul dada bidang Devan berulang kali.


"Jika kau membenciku,maka hatiku akan terasa lebih sakit !" Devan menangkap kedua tangan Raya.


"Setidaknya disini sudah tidak ada beban," Devan menunjuk dadanya sendiri.


"Berjanjilah padaku sayang,jika kau tidak akan memendam sendiri masalahmu. Kita hadapi dan selesaikan bersama. Aku adalah rumahmu untuk pulang dan tempatmu untuk mengadu. Berjanjilah," Ucap Raya,menatap suaminya dengan sendu.


Devan mengangguk dan tersenyum tipis,kemudian ia menarik tengkuk Raya dan mencium bibir merah ceri itu.


Keduanya saling berciuman dan saling menyesap lembut dengan keadaan yang berderai air mata untuk melepaskan segala rasa yang bercampur menjadi satu.


Devan merasa sedikit lega di dalam hatinya,karena ia sudah melepas uneg-uneg yang selama ini ia pendam sendiri.


...Tamat...


Tapi Bo'ong 😂😂😜😜😜😜😜

__ADS_1


Tambahin vote dan hadiah nya donk. Likenya jangan lupa,kok makin sepi ya ?


__ADS_2