
Devan menerjabkan kedua matanya berulang kali, yang pertama ia lihat adalah langit-langit sebuah ruangan yang berwarna putih dan juga ia mencium bau obat-obatan.
Rumah sakit? Gumam Devan, dalam hati.
"Aww sshh, apa ini?" Devan merasakan tangan kirinya berdenyut nyeri karena di infus, sedangkan tangan kanannya seperti di genggam erat oleh seseorang.
Raya membuka matanya saat merasakan pergerakan tangan yang ada di genggamannya, kemudian ia mendongak lalu menatap suaminya yang sudah sadar dari pingsan.
"Sayang, kau sudah sadar? Mana yang sakit? katakan?" Raya beranjak dari duduknya lalu memeluk suaminya dan melontarkan banyak pertanyaan. Raya sangat mencemaskan keadaan Devan, apalagi Devan tidak sadarkan diri lebih dari dua jam. Rasa bersalah terus menyelumuti hatinya, hingga dirinya tidak sanggup untuk membendung lajur air matanya yang sudah ia tahan sejak tadi.
Devan mengulas senyum saat melihat Raya mencemaskan dirinya. Kemudian Devan membalas pelukan Raya dengan salah satu tangannya yang tidak terpasang infus.
"Aku tidak apa-apa." Devan berucap lirih, entah kenapa tubuhnya masih terasa sangat lemas.
"Maaf, hikss... hikss." Raya menangis di dalam pelukan Devan.
"Kenapa menangis? Hem. Lihat aku sudah sadar dan baik-baik saja." Ucap Devan, meyakinkan.
Raya mengurai pelukannya kemudian menatap Devan dengan sendu.
"Baik-baik saja bagaimana? Kata Dokter, kau dehidrasi dan tekanan darah mu rendah." Ucap Raya sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Hei, ayolah sayang jangan berlebihan." Devan tergelak, lalu mengusap pipi istrinya dengan lembut.
Raya memejamkan matanya sambil memegang tangan Devan yang mengusap lembut pipinya, ia menikmati kehangatan dan kenyamanan dari tangan besar itu.
"Maafkan aku sayang, karena aku terlalu berlebihan mendiamkanmu, andai saja aku tidak egosi pasti kau tidak akan—" Ucapan Raya terhenti ketika jari Devan menempel di bibir manisnya.
"Sstttt, sudah berlalu dan aku yang salah. Aku pantas mendapatkan hukuman dari mu dan maaf karena aku selalu membuatmu kecewa." Ucap Devan lirih, sambil menatap kedua bola mata indah istrinya. Raya mengangguk kemudian tersenyum, membalas perkataan suaminya.
"Aku mencintaimu." Ucap Raya pelan, kemudian ia mengecup lembut bibir suaminya. Tentu saja hal itu tidak disia-siakan oleh Devan yang dengan sigap langsung menahan tengkuk istrinya dan meluumat bibir Raya yang sangat ia rindukan dua bulan ini.
Xander, Jeje, Tuan dan Nyonya Fadaei berjalan tergesa menuju ruang rawat Devan.
Ceklek
"Oh astaga!" Pekik Jeje tertahan, lalu menghadap dada bidang Xander yang ada di belakangnya. Dan dengan sigap Xander memeluk leher istrinya agar tidak melihat adegan Live tersebut.
"Dasar anak nakal! Kita semua panik tapi dia malah ***-*** disini." Gerutu Nyonya Fadaei pelan dan tak berfilter. Sedangakan Tuan Fadai hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Kedua manusia yang melepas rindu itu tidak menyadari kehadiran orang lain disana.
"Empp sayang." Racau Raya, ketika tangan Devan yang tidak terpasang infus meremat dua pepaya gantungnya dengan kasar dan bergantian.
__ADS_1
"Aku menginginkanmu." Bisik Devan, saat ciumannya terlepas sesaat.
Saat ini posisi Raya berada di atas tubuh Devan, keduanya masih berpakaian lengkap hanya saja kedua manusia tidak tahu tempat itu bercumbu mesra di atas ranjang pasien itu.
Merasa Kegiatan mereka semakin panas, akhirnya Xander berdehem keras untuk menghentikan adegan Live tersebut.
Devan dan Raya menghentikan aksinya dan saling pandang ketika mendengar deheman seseorang. Perlahan Raya dan Devan menoleh bersamaan kearah suara dehaman itu berasal.
Embekkkkkkkkkk
"Astaga!!" Pekik Raya dan Devan bersamaan, lalu Raya dengan cepat turun dari atas tubuh Devan kemudian merapikan pakaiannya yang terlihat berantakan.
Malu sangat malu yang di rasakan pasangan yang kepergok mesum itu. Bahkan wajah Raya dan Devan sudah sangat merah, semerah tomat.
"Ck ck ck ck ck" Xander hanya berdecak saja disana, dengan posisi masih memeluk leher Jeje.
"Kalian ini jika mau ***-*** di kunci pintunya!" Sindir Tuan Fadaei.
"Tahan, Dev tahan lagi sakit juga." Sindir Nyonya Fadai lagi, membuat Devan dan Raya semakin malu.
"Kalian ini menodai mata suciku!" Sungut Jeje, membuat Semua orang disana menatap Jeje dengan tatapan geli.
"Mau aku nodai tidak?" Bisik Xander sensual, tepat di telinga Jeje.
Ah, Daddy dalam keadaan apapun masih saja bisa menggoda Mami Jeje. Dasar bule KW. 😆
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ha ha ha haaa." Ricky tertawa keras dan menggema di seluruh sudut ruang rawat Devan.
"Ketahuan mesum di rumah sakit, untung saja kalian sudah halal jika tidak, pasti kalian sudah di bawa ke dinas sosial, ha ha haaa." Ricky terus meledek temannya itu.
"Teruss ledek terusss. Dasar Ciki Krenyes!" Sungut Devan.
"Sudahlah, Ky. Sekarang bagaimana kondisi Devan?" Tanya Xander, kepada Dokter yang ada di sebelah Ricky.
"Menurut diagnosa, hanya dehidrasi dan juga tekanan darah rendah, dan ini hasil lab semua bagus dan tidak ada masalah yang serius, tapi yang saya tanyakan kepada Tuan Devan, apakah anda kurang mengonsumsi air putih atau terlalu lelah?" Jelas Dokter tersebut sekaligus bertanya kepada Devan.
Devan menggelengkan kepalanya pelan. "Tapi, sudah seminggu ini sering mual dan muntah." Ucap Devan, lalu diangguki Dokter tersebut.
"Baik, saya periksa dulu." Ucap Dokter, lalu mendekati Devan dan memeriksa perut Devan sebelah kiri.
"Tidak ada masalah dengan lambung anda." Ucap Dokter tersebut, setelah selesai memeriksa Devan.
__ADS_1
"Bisa di jelaskan waktu kapan anda mual dan muntah?" Tanya Dokter lagi.
"Tunggu! apa ini masalah serius?" Sela Raya.
"Tidak, Nona. Kami hanya memastikan sesuatu."
"Hanya waktu pagi dan sampai menjelang siang saja aku mengalami muntah dan mual." Jelas Devan. Membuat Dokter itu tersenyum, begitu pula dengan Ricky.
"Sayang, kenapa kau tidak mengatakannya? Jika merasa mual dan muntah?" Raya menatap suaminya berkaca-kaca. Ia merasa jadi istri yang tidak berguna, karena mengabaikan suaminya, ia jadi tidak tahu kondisi kesehatan suaminya.
"Sayang, dengarkan dulu penjelasan Dokter ya." Ucap Ibu mertuanya, sambil mengusap bahu Raya.
Ricky menatap Raya dengan intens dan menatap bentuk tubuh Raya yang aduhai seperti gitar spanyol.
"Woi!! Mata loe pengen gua colok!" seru Devan, saat melihat Ricky menatap istrinya dengan intens.
"Lebay ah! Sepertinya yang harus di periksa di sini bukan Devan melainkan Raya" Ucap Ricky, tersenyum.
"Aku??" Raya menunjuk dirinya sendiri.
"Dad, jangan-jangan?" Bisik Jeje kapada suaminya.
"Kita doakan saja." Balas Xander dengan berbisik.
Disinilah saat ini mereka semua sekarang, berada di ruangan Dokter Ricky.
Raya sudah tiduran diatas tempat tidur pasien yang ada disana dengan raut wajah yang bingung.
"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Raya masih bingung.
"Kemungkinan kau hamil, sayang?" Ucap Devan, sambil menggenggam tangan Raya.
"Apa??!!!" Wajah Raya sangat Syok, apalagi dirinya tidak merasakan tanda-tanda kehamilan, seperti kehamilan pertamanya dulu.
"Made in BALI!"
Buat Silent Readers, Kasih dukungannya pokoknya, udah Crazy up lohhh..😭
Bonus visual Ciky krenyes-krenyes
Kenapa yang cowok yang brewokan itu sangat menggoda ya🤔🤔
Serius amat lihatin visualnya 🤣
__ADS_1