
"Ya kali aja mau," Ucapan Devan membuat Raya melotot sempurna.
"He he he he,Ya sudah kita bersihkan diri dulu," Ucap Devan dan di angguki Raya.
Setelah membersihkan diri Raya dan Devan merebahkan diri diatas arena pertempuran kembali,dengan posisi Devan memeluk Raya dari belakang dan keadaan mereka sama-sama polos.
Sedari tadi Raya terus menggeliat,matanya terpejam dan ia menggigit bibir bawahnya.
"Kamu kenapa," Tanya Devan.
"Ahh,Shhhh " Bukannya menjawab pertanyaan Devan,Raya malahh mengeluarkan suara laknat nya.
Devan menyeringai licik di belakang leher Raya,kemudian ia menciumi leher Raya dengan rakus dan menggigit kecil leher putih dan mulus itu,hingga meninggalkan jejak cinta disana.
"Emm Ahh " Raya terus menggelinjang dan mendesaah seiring dengan gerakan tangan Devan yang ada di sarung sempitnya.
"Tidak akan aku biarkan kau tidur nyenyak," Devan terus menusuk-nusukan jarinya di dalam sarung sempit itu.
Raya semakin membuka kakinya dengan lebar,agar Devan bisa leluasa mengobrak-abrik sarung sempitnya.
"Ahh,Omm Ahh aku emmm Sshhh," Raya mencengkram sprei di bawah sana.
"Kau sudah basah sayang," Devan menarik jarinya,kemudian Devan beranjak dari tidurnya dan duduk di sela kaki Raya.
"Om mau apa ?" Tanya Raya,dengan nafas yang masih terengah-engah.
Tanpa menjawab pertanyaan Raya,Devan menekuk kedua kaki Raya dan membukanya lebih lebar,kemudian Devan menenggelamkan wajahnya di sela pangkal paha itu.
"Ahh,Shhhhh," Raya menggeliat,bahkan ia membusungkan badannya,saat Devan mengobrak-abrik lubang belut itu dengan lidahnya dan juga jari-jari Devan bergerak aktif disana.
"Arghhhh,Sayang. Aku sudah tidak ahhh tahann emm," Raya terus mengeluarkan suara laknatnya itu saat Devan terus bergerak aktif dibawah sana.
"Nikmat bukan ?" Tanya Devan,setelah menjauhkan wajahnya dari lubang belut.
"Iya,sangat," Jawab Raya,wajahnya sangat memerah lantaran malu dan juga bergairah.
"Saatnya pembalasan," Devan menyeringai licik,lalu menuntun Golok saktinya itu menuju sarung sempit yang sudah banjir untuk segera diasah.
"Pelan-pelan," Ucap Raya.
Bleshhh
"Argg,sakit," Raya memekik sakit,saat golok sakti itu sudah tertanam sempurna di dalam sana.
"Masih sakit ?" Tanya Devan,ia belum menggerakkan goloknya.
"Iya,sedikit," Ucap Raya,sambil mengelus rahang Devan dengan lembut.
"Maaf,aku pikir sudah tidak sakit," ucap Devan merasa bersalah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Bergeraklah," Ucap Raya,kemudian mencium bibir Devan dengan sangat lembut.
Devan menggerakan pinggulnya perlahan agar Raya tidak merasa kesakitan.
"Sshhh," Raya mendesis saat merakan hujaman yang begitu nikmat dan memabukkan dibawah sana.
"Ouhh Yeahh," Dessah Devan,ketika ia mempercepat gerakan,goloknya terasa di urut dan di jepit oleh si sarung sempit.
Tangannya dan bibirnya bergerak aktif,mellumat bibir Raya dengan rakus dan mengecap biji ketapang yang ada di pucuk pepaya gantung itu,dan tangannya meremat pepaya gantung itu bergantian.
"Ahh ughhh," Dessahan mereka bersahutan hingga menggema di seluruh kamar pengantin itu.
"Aku sampai Ahhh ughh aku mau ke luar ahhh"
"Bersama sayang bersama," Devan semakin mempercepat gerakannya.
"Argghhhhh," Racau keduanya. Devan menyentakkan golok saktinya hingga ke bagian ke terdalam saat golok saktinya menyemburkan santan kental kedalam sarung sempit milik Raya.
"Ahh,Om rasanya hangat sekali," Ucap Raya,ketika santan kental itu tumpah di rahimnya.
Nafas keduanya terengah-engah dan Devan masih diatas tubuh Raya begitu juga golok saktinya masih tertancap sempurna di dalam sana.
Devan mengemuut biji ketapang itu seperti bayi yang kehausan.
"Sayang sudah,aku lelah," Rengek Raya,saat merasakan golok sakti itu mengembang kembali.
"Aku belum ! Sudah ku katakan bukan jika aku akan membalaskan dendamku padamu karena sebelum menikah,kau sering menggodaku," ucap Devan menyeringai licik.
"Kau ini pendendam ya rupanya. Aku minta ampun, " Rengek Raya.
"Tidak ada kata ampun bagimu,My Wife," Ucap Devan dan mulai Ronde ketiga.
Raya hanya bisa pasrah dan membiarkan suaminya mengasah goloknya hingga tajam.
Desaah dan lenguhan kembali terdengar di dalam kamar pengantin itu. Dan Devan melakukannya berulangkali membuat Raya sampai terkulai lemas.
"Aku lelah,aku lelah lihat golokmu sudah sangat tajam," Rengek Raya,yang masih di bawah kukungan Devan.
"Diam dan nikmati Sayang,sebentar lagi," Devan terus mengasah goloknya di bawah sana.
"Arghhhhhhh," Devan menyemburkan santan kental yang ke lima kalinya kedalam rahim sang istri.
"Cepat tumbuh sayang," Bisik Devan di dekat perut Raya dan Raya tidak mendengar apa yang Devan ucapkan,ia hanya melihat bibir Devan komat-kamit di dekat perutnya.
"Sudah sana ! Lihat punyaku sangat pedih," Kesal Raya.
"Tapi kau suka kan ?" Ledek Devan,lalu menggulingakan tubuhnya di samping Raya kemudian merengkuh tubuh Raya dalam dekapannya.
"Suka lah,kan enak banget," jawab Raya,sambil tersenyum.
__ADS_1
"Dasar" Devan mencubit pipi Raya dengan gemas. "Sekarang kamu sudah menjadi mantan perawan,apa kau sedih ?" Tanya Devan,sambil mengelus punggung polos Raya.
"Tidak ! Aku justru bahagia karena aku memberikan hal yang berharga dalam hidupku untuk suamiku," Ucap Raya,mencium pipi Devan dengan mesra.
"Uhh,manisnya istriku," Devan mengecup bibir Raya berulang kali,membuat gadis mantan perawan itu terkekeh geli.
Devan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
"Apa mau lagi ?" Tanya Devan
"Tidak ! lima ronde sudah ***--. Astaga ternyata aku kuat mengimbangimu," pekik Raya.
"Apa maksudmu ?" tanya Devan.
"Lima ronde kita melakukukannya lima Ronde. Sayang," Ucap Raya,sambil menangkup wajah Devan dengan kedua tangannya.
"Jadi aku tidak perlu meminum obat kuat," ucap Raya keceplosan.
"Dasar ! otak mesum !" Devan menonyor kepala Raya.
"Jadi kau sudah mempersiapkan jauh hari dan obat kuat itu untuk dirimu ?" Tanya Devan,kesal.
"He he he,Iya," Devan sampai menepuk jidatnya karena tingkah istrinya tersebut.
"Bagaimana bisa seorang anak perawan seperti dirimu membeli obat kuat ?" Tanya Devan,kemudian terkekeh geli.
Raya mendongak dan mengerucutkan bibirnya sebal.
"Aku tidak membelinya tapi dikasih sama mami Jeje,katanya biar aku kuat dan bisa menandingi kekuatanmu diatas ranjang panas," ucap Raya,lagi-lagi ia keceplosan.
"Astaga ! Kau itu dikerjai oleh mami Jeje," Devan sampai tertawa terbahak,karena istrinya yang nakal itu sangat lah polos.
"Ishh,benarkah ! " Ucap Raya kesal. "Tapi,aku harus pamer sama mami kalau tanpa obat kuat pun aku bisa melayanimu sampai lima Ronde," Ucap Raya dengan bangga.
"Ya Tuhan,ha ha ha ha haa ha. Sepertinya aku akan awet muda karena telah menikahimu ha ha ha ha," Devan tertawa terbahak karena melihat sikap istrinya sudah kembali ke semula.
Benar-benar titisan Xander Clark. Batin Devan.
"Hih,dari tadi kau terus menertawakan aku ! Apa ada yang lucu?" Tanya Raya dengan nada kesal.
"Tidak ada," Jawab Devan,masih menyisakan tawanya.
"Ayo tidur,sudah jam 3 pagi. Kau harus mengumpulkan tenagamu kembali karena golok ku belum puas diasahnya,masih kurang tajam," Ucap Devan,mengeratkan pelukannya.
"Sayang !" Pekik Raya,dan memukul dada bidang Devan dengan kesal.
"Ha ha ha ha,"
ππππ
__ADS_1
Habis hareudang langsung ajlok aja karena tingkah Rayaπ π
Tambahin vote sama hadiahnya ya πΉ