
Yang jomblo menepi, karena ini adalah area terlarang!!!
Jahara deh emak!
Kasih Like sebelum baca ya!
Jeje menyambut kepulangan suaminya, malam ini Xander pulang agak larut malam karena pekerjaanya begitu banyak di kantor.
"Malam Dad." Jeje mengambil tas kerja Xander lalu memeluk suaminya.
Ah, rasa lelah dan penatnya menguap begitu saja ketika mendapat sambutan manis dari istrinya.
"Malam juga sayang." Xander membalas pelukan Jeje, lalu mengecup pucuk kepala istrinya berulang kali dan terakhir ia mengecup bibir pink itu dengan lembut dan sedikit melumaatnya sesaat.
Daddy sudah gosok gigi ya waktu di kantor, jadi nafasnya sudah tidak bau lagi. 🤣
"Anak-anak sudah tidur?" Tanya Xander.
"Sudah Dad." Jawab Jeje dalam pelukan suaminya.
Jeje mengurai pelukannya lalu mengajak Xander bergegas masuk kedalam rumah untuk segera membersihkan diri.
"Mandiin ya." Ucap Xander manja, ketika sudah samapai di dalam markas tempur 1.
"Iya." Jawab Jeje, tersenyum manis.
Keduanya melangkah menuju kamar mandi, Jeje menyiapkan air hangat untuk suaminya sedangkan Xander membuka satu persatu pakaiannya hingga menyisakan boxer berwana putih saja yang membungkus si pedang pamungkas yang masih bobok ganteng dan meringkuk di dalam sana.
"Dad, airnya sudah siap." Ucap Jeje, lalu menegakkan badannya karena posisi sebelumnya ia mendudukan diri di pinggiran bathup.
"Dad!!" Pekik Jeje, ketika melihat penampilan suaminya yang sangat menggoda dan juga Xander saat ini tengah menatapnya tajam seolah ingin mamangsanya hidup-hidup.
Ah, sepertinya malam ini dirinya tidak akan selamat dari terkaman harimau kelaparan.
Perut kotak-kotak, dada bidang dan sesuatu yang menonjol di bawah sana seolah melambai ingin di elus oleh Jeje.
Kenapa suaminya itu semakin tua semakin hot, sih? Kan Jeje menjadi panas sendiri saat melihat penampakan suaminya itu, bahkan si sarung sempitnya saja sudah kembang kempis ingin segera di todong oleh pedang pamungkas yang dapat menyemburkan Vla puding yang berlimpah ruah.
Xander berjalan mendekat lalu melepas kaos yang dikenakan istrinya dengan paksa.
"Dad!" Protes Jeje, ketika kaos yang di kenakannya sudah teronggok di lantai, kini hanya br* berwarna pink yang menutupi bagian atasnya.
"Aku sudah melihat bahkan sudah mencicipi tubuhmu yang indah itu sayang." Ucap Xander, tak berfilter.
"Daddy!!" Jeje memunggungi suaminya.
"Kau seperti gadis perawan saja." Xander terkekeh, sedangkan Jeje menatap kesal suaminya.
"Jangan mentapku seperti itu!" Kesal Jeje, saat melihat suaminya menatapnya dengan mesum.
Xander tidak menghiraukan, kemudian ia berjalan lebih mendekati Jeje, lalu menarik tangan Jeje.
Greb
Jeje jatuh kedalam pelukan hangat suaminya.
"Dad." Rengek Jeje manja.
__ADS_1
"Bercinta di dalam bathup sepertinya sangat menarik." Bisik Xander sensual membuat bulu kuduk Jeje meremang.
"Jangan aneh-aneh, ini sudah malam nanti masuk angin!" Ketus Jeje.
"Tapi, aku ingin." Ucap Xander, lalu menggendong Jeje dan membawanya masuk kedalam bathup.
"Dad!" Pekik Jeje, sambil menyipratkan air kewajah suaminya. Saat ini Jeje barada diatas pangkuan suaminya.
Kemudian Xander menarik penutup pembuangan air di dalam bathup itu.
"Beri aku vitamin agar tubuh lelahku ini kembali bugar. Hah, apa kau tidak kasihan kepada suamimu ini?" Ucap Xander dengan wajah yang memelas.
Alasan!
"Vitamin apa yang daddy inginkan?" Tanya Jeje, pura-pura polos.
"Yang, jelas aku ingin vitamin ini, ini, dan ini." Xander menunjuk bibir, dada dan terakhir si sarung sempit Jeje.
"Ih, Rakus!" Walau begitu Jeje mulai mengecup bibir suaminya dengan lembut.
Sudah tercebur basah kenapa tidak dilanjutkan sekalian. Toh, dirinya tidak rugi ini.
"Ah, Daddy." Lenguh Jeje, ketika Xander memperdalam ciumannya dan lidah nakal itu sudah mengobrak-abrik rongga mulutnya dan tangan Xander tidak tinggal diam.
Tangan besar itu membuka pengait Br* yang ada di belakang punggung Jeje, setelah berhasil melepas kaitan itu, Xander membuang penutup pepaya gantung itu asal.
"Ahhh." Jeje semakin melenguh ketika ciuman penuh hasrat itu turun keleher dan semakin turun lagi lalu berhenti di dua pepaya gantung yang terlihat segar dan menggoda.
Xander meremat dan menghisap choco chips itu bergantian.
"Ah, dad." Jeje meremat rambut Xander ketika ia merasakan kenikmatan yang tiada tara. Geli bercampur enak menjadi satu.
Preketekkk
"Kenapa dirobek?" Protes Jeje.
"Aku sudah tidak tahan" Ucap Xander, lalu menyangga tubuh Jeje dengan satu tangannya dan tangan lainnya menurunkan boxernya sendiri.
"Asah dia sayang, asah dia sampai tajam." Pinta Xander dengan suara yang sudah serak sambil mengarahkan si pedang menuju si sarung sempit yang hangat dan menggigit.
Jleb
"Arghhhhh." Desaah keduanya ketika padang panjang itu sudah tertanam sempurna di bawah sana.
"Bergoyanglah." Pinta Xander, sambil meremat bokong istrinya.
"Sshhhhh." Xander memejamkan matanya dan mendesis seperti ular ketika Jeje bergoyang es doger di atasnya.
"Ahhh, daddy."
"Ouhh sayang, lebih cepat."
Dan detik berikutnya hanya terdengar lenguhan dan desaahan di dalam kamar mandi tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dimana anak nakal itu?" Tanya Oma Airin, kepada Devan.
"Aku tidak tahu Oma, tapi kata Pak Man tadi daddy sudah pulang." Jawab Devan. "Paling sekarang barada di kamar."
"Oma sudah berulang kali mengetuk pintunya, tapi tidak ada jawaban." Ucap Oma Airin.
__ADS_1
"Mungkin mereka sedang memproses adik Four J." Balas Devan, menahan tawa.
"Ah, iya kau benar mereka benar-benar tidak ada duanya. Apa pinggang mereka tidak encok ya?" Tanya Oma tak berfilter.
"Aku tidak tahu Oma." Jawab Devan, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ah, kau mana tahu, dirimu 'kan sedang berpuasa, ha ha ha." Ledek Oma Airin, membuat Wajah Devan berubah menjadi masam.
Sial! Batin Devan mengumpat.
"Tidak ada Xander, Devan pun jadi." Ucap Oma Airin, membuat bulu kuduk Devan merinding.
Sepertinya aku mencium bau-bau mencurigakan. Batin Devan, mulai waspada.
"Devan, apa kau tahu sekarang lagi ngetren baju bulu kuda?" Tanya Oma Airin.
"Maaf Oma, aku tidak tahu." Jawab Devan.
Jawab begitu saja biar aman.
"Kau ini payah sekali!" Cibir Oma Airin, lalu mengeluarkan ponsel mahalnya dari kantong celananya.
"Wih!! Ponsel baru Oma?" Tanya Devan terngaga, saat melihat ponsel Oma Airin berlapis emas.
"Ya, dong horang kaya." Ucapnya sombong.
"Ck." Devan berdecak kesal.
Oma Airin mengutak-atik ponselnya, entahlah Devan tidak tahu.
"Nah coba lihat ini, baju yang lagi ngetren ini." Oma Airin menunjukan ponselnya kepada Devan.
"Astaga!! Oma Ini adalah baju khusus untuk ABG sedangkan Oma—"
"ABG TUA!" Sahut Oma Airin asal.
"Pfftttttt, ha ha ha ha." Devan teratawa terbahak, saat mendengar ucapan Oma Airin.
"Dasar cucu luknut!!" Umpat Oma.
"Oma mau baju itu, oke! Karena teman-teman Oma sudah mempunyai semua." Ucap Oma Airin sewot.
"Ha ha ha ha ha." Devan semakin tertawa terbahak.
Devan tidak bisa membayangkan ketika teman-teman Oma Airin yang sudah lanjut usia mamakai pakaian berbulu itu.
"Belikan ya Devan, kau 'kan baik hati dan tidak sombong."
Cih! Merayu. Katanya horang kaya.
"Memang harganya berapa?" Tanya Devan, masih menyisakan tawanya.
"200 jetong!! Murah kok tidak mehong." Jawab Oma Airin tanpa beban.
"What!!"
Daddy, kau enak jungkat-jungkit sedangkan aku harus tersiksa karena pemintaan aneh Oma!.
Sabar Om sabar 🤣
Maafin Emak ya.
__ADS_1
Tambahin Vote dan hadiahnya!!