
"Baiklah aku akan mencucinya." Ucap Devan, berjalan menuju kamar mandi.
"Bagus! jika perlu cuci pakai bayclin!!" Ketus Raya, sedangkan Devan hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar saat mendengar ucapan istrinya.
Setelah mencuci matanya, Devan menghampiri istrinya yang masih sibuk mengemasi barang-barang mereka.
Tapi, nyucinya nggak pakai bayclin lho ya.😁
"Sayang, mataku sudah bersih dan tidak terkontaminasi lagi." Ucap Devan dengan nada bercanda.
"Hemm." Raya hanya berdehem, ia sangat malas menanggapi suaminya saat ini.
"Sayang, kau yakin jika kembali ke Jakarta sekarang? Masih ada waktu loh buat bikin dede untuk Crystal." Devan berucap tanpa bebas, seolah lupa dengan kesalahannya yang baru saja ia perbuat.
Dasar tidak tahu malu!
Ngegetok kepala suami dosa gak sih?!
Apa tadi? Buat adik untuk Crystal? Jangan mimpi!
Raya tidak menanggapi perkataan suaminya, tapi ia hanya menggerutu dalam hati.
Raya tetap melanjutkan mengemasi barang-barangnya tanpa memperdulikan suaminya yang selalu membujuk dan juga menggodanya.
"Selesai." Ucap Raya, saat sudah selesai mengemasi barang-barangnya kedalam koper.
"Sayang, kau yakin?" Entah sudah berapa kali Devan bertanya seperti itu membuat Raya mendengus kesal.
"Kenapa? Kau tidak rela jika pulang sekarang. Tidak apa, aku bisa pulang sendiri dan kau bisa sepuasnya memandangi pepaya gantung disini tanpa gangguan." Raya berucap ketus, kemudian ia mengambil baju ganti yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Ya ampun bukan begitu." Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Salah lagi salah lagi. Bati Devan.
Jika dirinya pandai menggombal seperti Daddy Xander mungkin dirinya tidak akan kesulitan seperti ini untuk meluluhkan hati istrinya.
Devan akhirnya memilih mengalah dan mengikuti istrinya jika mereka akan kembali siang ini ke Jakarta.
Tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir Raya sejak tadi, membuat Devan merasa bersalah. Seharusnya dirinya tidak jelalatan, dan bisa menjaga perasaan istrinya.
Aku harus bagaimana? Batin Devan terus bertanya-tanya. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya untuk meluluhkan hati istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mami!!!!" Teriak Crystal saat melihat Raya memasuki rumah.
Raya sedikit berjongkok lalu merentangkan kedua tangannya, lalu dengan cepat Crystal berlari dan memeluk ibunya dengan erat.
"Mami kangen banget sama kamu sayang." Raya mengecupi seluruh permukaan wajah putrinya dengan penuh kerinduan.
"Crys juga kangen banget sama Mami." Lalu Crystal juga melakukan hal yang sama yaitu mengecupi wajah ibunya.
"Papi mana?"
__ADS_1
"Masih di depan." Ucap Raya, karena Devan masih sibuk menurunkan beberapa koper yang lumayan besar dari bagasi mobil.
"Loh, katanya nanti malam sampai?" Tanya Jeje heran, saat melihat Raya sudah di dalam rumah.
"Iya, Mam. Habis kangen banget sama si bawel ini." Ucap Raya apa adanya, karena dirinya memang sudah merindukan Putri bawelnya itu.
"Benarkah?" Jeje menatap putri sambungnya dengan tatapan penuh selidik.
"Iya." Jawab Raya, sambil tersenyum manis.
"Baiklah, untuk saat ini Mami percaya." Ucap Jeje lalu memeluk Raya yang tengah menggendong Crystal.
Ah, Raya hanya menghela nafasnya. Ibu sambungnya itu sangat peka dan tidak bisa di bohongi.
"Papi!!" Seru Crystal saat melihat Devan memasuk rumah sambil menyeret dua koper besar di tangannya.
"Anak Papi." Devan lalu mengambil alih Crystal dari gendongan Raya.
"Kangen sama Papi tidak?" Tanya Devan sambil mendusel perut Crystal, membuat gadis kecil itu kegelian.
"Kangen dong. Papi apa dede bayinya sudah jadi?" Tanya Crystal dengan kepolosannya.
Krik
Krik
Krik
Sejenak keadaan disana menjadi senyap, Devan dan Raya saling pandang dan Jeje menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tapi—"
"Kita Video Call Mimi peri, bagaimana?" Usul Jeje lagi.
Mendengar 'Mimi Peri' di sebut, Crystal langsung menganggukan kepalanya dengan semangat, karena gadis kecil itu sangat menyukai sosok Mimi peri begitu pula dengan Four J. Kemudian Crystal minta diturunkan lalu berjalan mengikuti Jeje menuju markas tempur 1.
Setelah Jeje dan Crystal sudah tidak terlihat, Raya menuju markas tempur 2 dan di ikuti Devan dari belakang.
Devan terus berusaha untuk meluluhkan Raya yang terlanjur marah dengannya.
"Sayang, sudah dong marahnya jangan diamkan aku seperti ini." Bujuk Devan lagi.
"Aku lelah!" Jawab Raya begitu saja, kemudian merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Sayang, ganti baju dulu." Devan duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Aku malas." Jawab Raya cuek, membuat Devan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Lelah sekali ya." Gumam Devan, saat mendengar dengkuran halus istrinya bertanda jika Raya sudah terlelap dalam tidurnya.
Dengan perlahan dan telaten Devan melepaskan pakaian istrinya dan menggantikannya dengan daster rumahan.
"Aku mencintaimu sayang." Bisik Devan, lalu mencium kening Raya dan menyelimuti tubuh istrinya sampai sebatas dada.
__ADS_1
Setelah memastikan Istrinya nyaman, Devan keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang kerjanya.
"Hei!! Cucu menantu luknut!" Seru Oma Airin kepada Devan.
"Oma?" Beo Devan.
Ada apa lagi ini? Batin Devan, saat melihat wajah Oma Airin tak bersahabat.
Semoga tidak minta yang aneh-aneh. Batin Devan lagi.
"Sini kau!" Oma Airin menjetikan jarinya agar Devan mendekat.
"Awwww." Pekik Devan saat daun telinganya di jewer oleh Oma Airin.
"Oma apa salahku?" Keluh Devan, sambil mengusap daun telinganya yang terasa panas.
"Masih bertanya apa salahmu!! Kau ini bodoh atau apa hah!" Bentak Oma Airin.
Waduhh, jangan-jangan Raya memberitahu Oma, jika aku jelalatan lihat pepaya import. Batin Devan, dan jantungnya sudah jedag-jedug tak karuan.
"Ampun Oma." Devan menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya, saat Oma Airin akan menjewer telinganya lagi.
"Jangan menyiksaku, Oke. Aku jujur dan maaf karena membuat Raya bersedih." Jelas Devan, membuat Oma Airin melotot seram. "Maaf, Oma aku tidak sengaja melihat pepaya import—" Kemudian Devan menjelaskan masalahnya secara Detail kepada Oma Airin.
"Oh, jadi kau membuat Cucuku sedih." Oma Airin menyingsing lengan bajunya dan bersiap menghajar Devan lagi.
"Apa? jadi Oma tidak tahu?!"
"Tadi tidak tahu tapi sekarang aku sudah tahu!" Sahut Oma Airin kesal.
"O oma aku—"
"Gara-gara pepaya Import yang gondal-gandul, kau mengabaikan pepaya Lokal yang ranum dan segar! Dasar mata jelalatan!" Maki Oma Airin dan menatap tajam Devan.
"Tidak kau, tidak Xander kalian sama saja!!" Maki Oma Airin lagi.
Habislah aku.. ternyata aku salah paham.
"Oma yang cantik dan tidak sombong, jangan marah-marah nanti darah Oma naik lagi dan keriput Oma nanti bertambah banyak. Nanti tidak cantik lagi loh." Rayu Devan.
Sempat-sempatnya Devan berkata seperti itu, disaat si macan tutul siap memangsa lawannya.
"Aku tidak peduli!! Sini kau!"
"Oh tidakk!! Ampun Oma."
Hajar Oma!!! 😂
Kasih like!
Vote!
Komentar!
__ADS_1
Kasih bunga sekebun dan kopi sedrum!!