My Sexy Old Man

My Sexy Old Man
Raja gombal


__ADS_3

Pagi harinya.


Xander di buat bingung dengan sikap istrinya yang seolah sedang marah padanya.


Bahkan tadi malam pun, Jeje tidur membelakanginya dan tidak ingin di sentuh olehnya.


Apa salahku? Lagi-lagi Xander berkata dalam hati.


"Morning, Dad, Mami, Oma sayangku." Sapa Raya dengan ceria, yang baru saja bergabung di meja makan bersama Devan.


"Morning juga." Jawab mereka serempak.


"Wah, wajah kalian ini terlihat berseri-seri beda sama tuh-" Oma Airin menunjuk Jeje dan Xander dengan dagunya.


"Mom, apa sih." Sanggah Jeje.


"Kalian ini yang kenapa? Mom perhatikan dari tadi kalian saling diam seperti orang yang bermusuhan. Kalian tidak sedang bertengkar kan?" Tanya Oma Airin penuh selidik.


Karena baru kali ini Jeje dan Xander menjaga jarak seperti itu, jadi wajar jika Oma Airin mempunyai pemikiran yang seperti itu.


Baru Jeje akan menjawab tapi, Xander sudah mendahuluinya.


"Aku merasa tidak bertengkar dan tidak merasa salah tapi, tidak tahu tuh dia." Ucap Xander, sambil melirik Jeje yang duduk di sebelahnya.


Jeje menipiskan bibirnya dan menggertakkan giginya dengan kesal.


"Tidak punya salah? Dasar tidak peka!! Apa karena umurmu sudah bertambah satu tahun kau menjadi pikun! Huh!" Jeje membuang nafasnya dengan kasar, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Eh?" Xander dan yang lainnya terperanjat ketika mendengar ocehan istrinya.


"Apa salahku?" Tanya Xander, kepada Ibu dan Anak juga menantunya, ketika Jeje sudah tak terlihat lagi.


"Apa tadi malam daddy pulang malam tidak memberi ibu mertuaku?" Tanya Devan ringan, sambil mengambilkan sarapan untuk istrinya.


"Astaga!" Xander menepuk jidatnya sendiri, karena ia melupakan hal itu.


"Selalu saja begitu." Sungut Raya ikut kesal.


"Jangan-jangan kau juga lupa jika pintu surgamu sudah terbuka sejak satu bulan yang lalu." Tanya Oma Airin, sambil menyipitkan matanya menatap putranya dengan penuh selidik.


Melihat wajah Xander yang begitu Syok membuat ketiga orang tersebut tertawa terbahak.


"Ha ha ha ha haa." Tawa ketiganya begitu menggelar di ruang makan tersebut.


"Pantas saja, Mami marah ternyata eh ternyata. Ha ha ha haaa." Raya semakin meledek ayahnya.


"Pedang Daddy pasti sudah karatan." Ledek Devan, membuat Xander menekuk wajahnya.


"Kalian ini!" Kesal Xander, kemudian ia beranjak dari duduknya.


"Devan, hari ini kau gantikan aku." Ucap Xander sebelum beranjak.


"Dad!" Kesal Devan.


"Demi kesejahteraan perkasuran" Ucap Xander. Membuat Devan mendengus kesal.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hei, Cantik." Rayu Xander kepada istrinya yang tengah menggendong Nathan di dekat Jendela kamar Four J.


Jeje hanya melirik malas suaminya.


"Aku tahu kita tidak seumuran." Ucap Xander, mendekati istrinya.


Jeje mengernyitkan keningnya dan menatap suaminya dengan heran.


Kenapa suaminya berkata seperti itu?


"Tapi, bolehkan jika seumur hidup, kuhabiskan waktuku bersamamu." Lanjut Xander, menahan senyumnya.


Sedangkan Jeje langsung memalingkan wajahnya yang bersemu.


Dasar raja gombal! Batin Jeje.


Sedangkan para baby sitter sudah termehek-mehek ketika mendengar Tuannya menggombali sang Nyonya.


"Boleh di bungkus enggak sih?" Tanya Salah satu baby sitter yang sudah baper sambil menyatukan tangannya di depan Dada.


"Di bungkus pakai karet dua biar enggak ketuker sama yang lain."


"Jangan lupa di ujungnya di sobek sedikit biar lebih pasti."


"Kalian pikir Tuan Xander itu Nasi uduk!" Jawab Salah satunya, membuat ke empatnya terkikik geli.

__ADS_1


Hayoo! Pasti kalian bacanya sambil senyum-senyum sendiri.😆


Tambahin Vote dan hadiahnya! Likenya jangan ketinggalan!


__ADS_2