
Jika di Bali Devan dan Raya tengah sibuk dengan asah mengasah golok dan berbagi peluh, berbeda dengan Xander yang tengah kelimpungan karena menghadapi sikap Cucunya.
Xander menggaruk kepalanya yang sudah di tumbuhi Uban itu dengan kasar, sedangkan Jeje memalingkan wajahnya lantara bingung dengan pertanyaan Crystal.
Saat ini Ketiga orang itu tengah merebahkan diri di Markas tempur satu, dengan Formasi Crystal berada di tengah diantara mereka.
"Kenapa Daddy dan Mommy diam?" Tanya Crystal dengan wajah polosnya, sambil menatap Jeje dan Xander bergantian.
"Emm, aduh bagaimana ya menjelaskannya." Jeje bingung sendiri.
"Kok, bingung? Bukankah Mommy sendiri yang bilang jika sekarang Mami dan Papi sedang membuatkan adik untuk aku?" Tanya Crystal lagi, tanpa tahu jika dua orang dewasa yang ada di sampingnya tengah kebingungan dengan pertanyaanya.
Semua ini berawal dari, saat Raya Video Call dan mengatakan tidak akan lama berada di Bali tapi Crystal terus merengek untuk ikut hingga menangis tak karuan membuat Xander dan Jeje bingung karena tidak bisa menenangkan gadis kecil yang terlalu pintar itu.
Dan mau tak mau Jeje harus mengatakan. "Mami dan Papi sedang membuatkan adik untuk Crystal."
Sontak saja mendengar hal tersebut Crystal langsung berhenti menangis dan wajah mungil yang tadinya sendu berubah menjadi ceria. Tidak sampai di situ saja gadis itu bertanya. "Apakah adik bayi nanti akan tumbuh di perut Mami, lalu nanti keluarnya bagaimana? Nanti adik bayi tidak bisa nafas? Dan adik bayi nanti menangis di dalam perut mami." Gadis kecil itu melontarkan banyak pertanyaan dengan lancar walaupun masih terdengar cadel. Sampai Xander dan Jeje pusing di buatnya.
"Begini ya sayang, nanti ada caranya sendiri adik bayi tumbuh hingga keluar dari dalam perut Mami. Sekarang ayo kita tidur dan sebelum tidur baca doa dulu ya." Akhirnya Jeje menjawab dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ya, Mommy." Jawab gadis kecil itu, kemudian membaca doa sebelum tidur.
Akhirnya Jeje dan Xander bernafas lega karena gadis kecil itu menurut dan tidak bertanya lebih dalam lagi. Namun, rasa leganya itu hanya sesaat ketika mendengar gadis kecil itu berceletuk kembali dan tentu saja membuat Xander dan Jeje semakin pusing tujuh keliling dan tujuh tanjakan, tujuh putaran.
"Apa jika tidur di kamar Mommy dan Daddy tidak ada gempa bumi?"
Embekkkkkk
Xander dan Jeje terdiam dan saling pandang, sedikit bingung juga dengan ucapan gadis kecil dan polos itu.
"Gempa bumi?" Beo Jeje, dengan kening yang mengkerut.
"Iya, Mom, karena setiap malam tempat tidur di kamar Mami dan Papi selalu ada gempa bumi." Jawab Crystal dengan polos.
"Setiap malam?!" Kali ini Xander yang membeo dan Crys mengangguk pasti.
"Crys tahu dari mana?" Tanya Jeje memastikan.
"Crystal merasakannya dan setiap bertanya sama Papi, selalu menjawab jika ada gempa bumi." Jawab Crystal lagi dengan keluguannya.
Dasar anak dan menantu luknut! Umpat Xander dalam hati.
__ADS_1
Ya ampun, bisa-bisanya mereka seperti itu! Batin Jeje.
"Mom, Dad. Gempa bumi itu bahaya ya?" Tanya Crystal lagi, dengan polos dan rasa ingin tahunya sangat tinggi.
"Hoaammm, Mommy mengantuk. Tidur yuk!" Jeje mengalihkan pembicaraan lagi, dan beruntung lagi gadis kecil itu menurut.
Awas saja kalian jika sudah kembali, akan aku gantung kalian di pohon tomat! Umpat Xander lago dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hari ini daddy berangkat kekantor, jadi kalian nanti akan diantar jemput oleh supir." Pesan Xander kepada Empat putranya.
"Siap, Daddy." Jawab ke empatnya kompak.
"Ya sudah, Daddy berangkat dulu." Ucap Xander, lalu ke empat putranya mencium punggung tangannya di ikuti oleh Crystal dan yang terakhir Jeje.
"Hati-hati Dad." Ucap Jeje tersenyum, lalu Xander mengecup kening istrinya sekilas.
"Iya, sayang." Jawab Xander, lalu memasuki mobilnya dan tak lupa juga ia melambaikan tangan kepada keluarga kecilnya, sebelum ia menekan pedal gas mobilnya.
"Ayo, kalian siap-siap harus ke sekolah." Ucap Jeje.
"Iya, Mommy." Jawab mereka kompak lagi. Dan berjalan menghampiri baby sitternya yang sudah memegang tas anak asuhnya masing-masing.
"Aww, sakitt! Mommy hikss." Crystal memegangi rambutnya sambil menangis.
"Ansel! Jangan seperti itu, kalian ini saudara jadi harus saling menghargai dan menghormati." Jeje memberi pengertian kepada putranya.
"Tapi dia sangat menyebalkan, Mom. Dikit-dikit nangis! Dasar manja!" Cibir Ansel kepada Crystal.
"Wajar jika Crystal manja, karena dia perempuan dan perempuan itu harus di lindungi, dijaga dan di hormati. Jaga, hormati dan sayangi Crystal sebagaimana kalian menjaga dan menyayangi Mommy, mengerti?" Jeje menjelaskan dengan lembut dan hati-hati. Karena menghadapi anak yang bandel seperti Sean dan Ansel harus dengan cara memberikannya pengertian secara perlahan dan dengan kelembutan, agar anaknya itu paham dan mengerti jika yang mereka lakukan selama ini salah, karena anak seusia mereka hanya menilai dengan apa yang mereka lihat. Hati mereka masih sangat lembut dan rapuh, jadi harus bisa juga menjaga perasaan mereka.
Banyak yang terjadi di luar sana, anak bandel tapi orang tua memberi penjelasannya dengan cara membentak dan bahkan ada yang lebih parah sampai ada yang memukul, karena anak yang selalu di keras bukannya menurut tapi malah menjadikan anak itu sendiri menjadi pemarah, membangkang, pendendam dan lebih parahnya lagi mereka menjadi keras kepala dan tidak ingin mendengar ucapan orang lain. Jeje tidak ingin semua hal itu terjadi kepada anak-anaknya, sebisa mungkin ia menjelaskannya dengan kesabaran dan kelembutan, walau hal itu sering terjadi dan di ulangi tapi ia tidak pernah bosan menasehati anak-anaknya.
Ini menurut pandangan Emak ya say, maaf jika salah kata. 🙏
"Dengarkan kata Mommy." Ucap Nathan, sambil melirik kedua adiknya Sean dan Ansel.
"Maafkan Ansel dan Sean ya Mom." Ucap Sean dan Ansel bersamaan.
"Iya, jangan di ulangi lagi dan sekarang kalian meminta maaf lah kepada Crys." Ucap Jeje, sambil membelai rambut Sean dan Ansel dengan lembut.
__ADS_1
Kemudian Ansel dan Sean berjabat tangan dengan Crys dan meminta maaf dengan tulus dan Crys pun sudah memaafkan.
Setelah itu Four J, berangkat ke sekolah dengan diantar oleh supir pribadi Jeje.
"Sekarang tinggal kita berdua, main apa ya kita?" Jeje bertanya kepada Crystal.
"Main masak-masak!" Seru Crystal sambil bertepuk tangan.
"Boleh." Kemudian Crystal, menarik tangan Jeje menuju tempat bermain yang di dekat ruang tengah.
Saat mereka asik bermain, ada tamu yang tidak.di undang datang kerumah besar itu.
"Alohaaa."
"Mimi peri!!!" Seru Crystal kegirangan, lalu berlari dan menghambur memeluk kaki Ema.
"Hello bidadari cantik dan imut, tapi masih imutan Eike, hi hi hi." Ucap Ema gemulai, sambil mengangkat tubuh gembil itu ke gendongannya.
"Huh, Mimi peri jelek!" Sungut Crystal dan menatap sinis Ema.
"Hai, Miss Em." Sapa Jeje, menghampiri Ema.
"Alohaa, Mami tua." Jawab Ema, membuat Jeje mendengus kesal sedangkan Ema tergelak tak karuan.
"Mimi berdandan, mau kemana?" Tanya Crystal dengan bahasa cadelnya.
"Mau bertemu Oma Airin dan juga gadis kecil ini dong." Jawab Ema, dengan gaya gemulainya sambil mencubit pipi gembil gadis kecil itu.
"Oma sedang ada di studio, biasa banyak Endorsan." Jawab Jeje terkekeh.
"Masih laku yes tuh ninik rempong, hi hi hii, eike kalah pamor" Ucap Ema, tertawa cikikikan.
Senyummu mengalihkan duniaku. ihiiirrrr icikiwirrr🤣
Like!
Vote!
Komentar!
__ADS_1
Kasih bunga sekebon dan kopi sedrum! 😆