
Senin!!! Mana Votenya!!!!
Setelah selesai dengan urusannya Devan segera pulang kerumah karena disaat bersamaan Raya menghubunginya dan menanyakan keberadaannya.
"Sayang." Panggil Devan, ketika ia memasuki kamar.
"Dari mana?" Pertanyaan yang terlontar dari bibir manis yang tengah mengerucut sebal itu.
Devan berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur, kemudian ia mengusap pipi cuby istrinya yang semakin hari semakin menggemaskan.
"Aku habis menemui Flora." Jawab Devan dengan jujur.
Bugh
Bugh
Belum selesai bicara dirinya sudah terkena serangan bantal dari istrinya bertubi-tubi.
"Kenapa?! Hah! Apa kau tidak puas dengan satu wanita!" Kesal Raya, kemudian menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
Terdengar isak tangis lirih yang membuat Devan menelan ludahnya dengan kasar.
"Sayang, aku menemuinya untuk memberikan pelajaran dan —"
"Pembohong!!" Teriak Raya, sambil mengangkat kepalanya.
Terlihat jelas jika wajah cantik itu sangat terluka dan mata indah itu berkaca-kaca.
"Aku tidak berbohong, aku bersumpah jika aku memberikan pelajaran untuknya karena dia berniat untuk menjebakku." Ucap Devan dengan jujur, kemudian ia mencoba meraih tangan Istrinya tapi segera di tepis kasar oleh istrinya itu.
"Please, percaya padaku." Lirih Devan. Kemudian ia mengelurkan ponselnya dan memutar rekaman suara yang sama, yang sebelumnya ia tunjukan kepada Flora.
"Bagaimana aku bisa percaya kepadamu, jika kau menememui mantan terindahmu itu tanpa memberitahuku!" Ucapnya masih tidak percaya dengan suaminya.
Benar bukan, yang di ucapkan Raya. Wanita manapun akan sakit hati jika suaminya menemui mantan kekasih apalagi punya predikat 'terindah'.
Sebenarnya Raya sedikit terkejut saat mendengar rekaman suara tersebut. Tapi, rasa kesal, kecewa dan emosinya sudah menyelimuti dirinya.
"Sayang—"
"Sekarang jika kau ada di posisiku! Apa kau tidak marah dan kecewa jika istrimu bertemu dengan mantan kekasihnya?!" Potong Raya, sambil menghapus sisa air matanya.
Pertanyaan Raya membuat Devan bungkam, tapi hanya sesaat.
"Aku salah karena tidak memberitahumu saat aku akan menemuinya. Aku minta maaf dan sekarang ikutlah bersamaku, agar kau tahu semuanya." Ucap Devan.
"Oke." Jawab Raya, setelah itu keduanya menuju lokasi dimana Flora berada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi lain Jeje tengah berada di ruang tengah bersama Ke empat tuyul, Xander dan Oma Airin juga beserta para baby sitter.
"Sayang, minum obatmu dulu." Ucap Xander, kepada istrinya yang tengah bersender di sofa dengan keadaan lesu dan lemas.
Ya, beberapa saat yang lalu badan Jeje terasa panas.
__ADS_1
Xander menyodorkan obat paracetamol dan segelas air minum untuk istrinya.
Dan Jeje pun segera meminum obatnya.
"Lain kali mainnya harus tahu waktu! Kecapekan 'kan jadinya." Sindir Oma Airin, yang tengah memangku Aiden, sedangkan Tiga tuyul lainnya sedang berada di baby bouncernya masing-masing dan di temani Baby sitternya.
"Memangnya aku bebuat apa?" Xander pura-pura bodoh.
"Cih!" Oma Airin, hanya berdecih kesal dengan putranya.
"Tenggorokanku terasa serak Mom, sepertinya aku akan Flu." Ucap Jeje, sambil menyentuh lehernya dengan punggung tangannya sendiri.
"Benarkah?" Tanya Xander, kemudian ia segera meraih ponselnya untuk menghubungi dokter keluarga.
"Aku baik-baik saja, Dad." Ucap Jeje, saat mendengar suaminya menghubungi Dokter.
"Baik-baik saja bagaimana? Lihat wajahmu saja terlihat sangat pucat." Ucap Oma Airin.
"Lebih baik segera di periksa oleh dokter agar kau cepat sembuh." Lanjut Oma Airin.
"Yang di katakan Mom benar, Sayang." Ucap Xander, dan membuat Jeje menopang wajahnya dengan telapak tangannya sambil mengerucutkan bibirnya.
Terlihat sangat menggemaskan di mata Xander.
Tidak berselang lama seorang dokter pria muda sudah tiba di kediaman keluarga Clark. Mungkin usianya tak beda jauh dari Devan.
"Hei! Kenapa kau yang datang? Aku kan memanggil ayahmu!" Tanya Xander, kepada dokter muda itu.
"Sudah jangan banyak tanya kau!" Kesal Oma Airin kepada putranya. "Sekarang, periksa menantuku." Ucap Oma Airin.
"Wah, Om Xander sudah menikah lagi? Wanita mana yang ketiban sial itu?!" Ucapnya bercanda, sambil melangkahkan kakinya memasuki rumah besar itu.
Dug
"Awww." Ringis Dokter tersebut saat kakinya di tendang keras oleh Hot Daddy itu.
"Bicara lagi, akan ku potong lidahmu!" Ancam Xander, membuat Dokter muda itu bergidik ngeri.
"Kau masih saja mengerikan, Om." Ucapnya sambil mengusap kakinya yang masih terasa sangat sakit.
"Lalu dimana tante?" Tanyanya, sambil celingukan menatap sekitar ruang tengah tersebut.
"Apa matamu buta! Kau tidak melihat wanita yang paling cantik di sini?" Tanya Xander dengan ketus.
Mata dokter tersebut menatap satu persatu wanita yang ada di sana, dan tatapannya berhenti ketika melihat Jeje yang sedang menyenderkan kepalanya di senderan Sofa.
"Tentu saja aku melihat dan itu wanita tercantik yang ada di sini. Tapi, siapa dia?" Ucapnya sambil menunjuk Jeje.
"Dia istriku bodoh!!" Umpat Xander.
"What!"
"Astaga, Dunia semakin gila!" Gumam Dokter tersebut, kemudian berjalan kearah Jeje.
__ADS_1
Dan dokter tersebut di buat terkejut lagi saat melihat empat bayi disana.
Benar-benar top cer! Batinnya.
"Selamat malam, Ehem Tante." Ucap Dokter tersebut menahan senyumnya.
Lidahku terasa sangat geli. Batin Dokter tertawa.
Kemudian Dokter tersebut mulai memeriksa keadaan Jeje.
"Ciki, bagaimana keadaan menantu Oma?" Tanya Oma Airin.
"Ricky Oma! Bukan Ciki!" Kesal Ricky.
"Sama saja. Lebih baik Ciki karena ada krenyes-krenyesnya" Ucap Oma Airin absurd.
"Astaga!" Ricky menepuk jidatnya sendiri.
Ternyata keluarga ini masih saja sangat absurd.
"Hanya gejala Flu dan sedikit kelelahan." Ucap Ricky, sambil melirik Xander dan tersenyum geli.
"Jangan berdekatan dengan para baby dulu ya, Tante. Dan ini resep obatnya." Ricky memberikan resep Obat kepada Xander.
"Terimakasih." Ucap Xander.
"Salam tempelnya mana Om? Masa iya terimakasih saja." Ucap Ricky kepada Xander.
"Kau persis seperti ayahmu!" Kesal Xander sambil memutar kedua matanya dengan malas.
"50 juta Om." Ucap Ricky, sambil tersenyum tengil.
"Dasar mata duitan!!" Kesal Xander. "Masukan nomer rekeningmu!" Xander menabrakan ponselnya ke dada Ricky dengan kasar.
"Nah, sudah." Ricky mengembalikan ponsel Xander.
"Sana pergi! Sudah aku kirim uangmu!!" Usir Xander.
"Oke, by semua dan Tante cantik" Ucap Dokter itu sambil mengerling nakal kearah Jeje.
"Ya!! Mau ku congkel matamu!" Ucap Xander dengan kesal. Tapi, sayangnya Dokter itu sudah melarikan diri terlebih dahulu.
"Daddy!!!" Jeje memanggil suaminya dengan nada tak kalah kesal. Karena suara suaminya yang terlalu keras membuat para tuyul menjadi terkejut dan menangis.
Sedangkan di halaman rumah besar itu Ricky masih tertawa terbahak, sambil membuka pintu mobilnya. Tapi, pada saat ia akan menaiki mobilnya ada sebuah mobil lainnya yang memasuki halaman rumah itu.
"Devan?!" Pekik Ricky.
"Ricky, Om Ricky" Ucap Raya dan Devan bersamaan.
"Wah, Dokter cabul!!" Maki Devan, membuat Ricky semakin tergelak.
Yang baca dari awal pasti tahu siapa dokter Ricky ini dan kenapa bisa di anggap Cabul oleh Devan. 😆
Tambahin Vote dan hadiahnya, likenya jangan lupa!!
__ADS_1