My Sexy Old Man

My Sexy Old Man
Goyang cendol


__ADS_3

"Sekali celup saja!!" Ketus Raya.


Yes!! Batin Devan bersorak.


"Tidak masalah mau sekali celup atau setengah celup." Ucap Devan menyeringai licik.


Kemudian Devan segera melepaskan Boxer warna hitam yang melekat di bawah sana, lalu membuangnya asal. Dia juga melepaskan kain penutup si sarung sempit.


"Sudah siap, Sayang?" Tanya Devan, yang sudah mempososisikan dirinya.


"Iya." Jawab Raya, mengangguk lalu memalingkan wajahnya.


Sepertinya istrinya itu masih kesal kepadanya karena tidak bisa mencium bau asam-asam dari badannya.


Devan mulai memposisikan dirinya dan menuntun kepala Botak yang sudah ngences menuju sarung sempit di sela paha Istrinya.


"Ahhh sshhh." Desaah Raya, ketika Devan mencolek-colek si kepala botak di pintu sarung sempit.


Devan mengangkat wajahnya dan menatap istrinya yang tengah menikmati colekan si kepala botak.


"Enak?" Tanya Devan. Raya hanya mengangguk lalu menggeleng.


Dasar Raya, malu-malu embek tapi mau.πŸ˜†


Devan mulai memasukan golok yang super jumbo yang sudah berubah menjadi talas bogor itu menuju Sarung sempit di bawah sana.


Blesh.


"Owhhh." Desaah keduanya, ketika si golok sakti mulai mengasah goloknya.


Mata Raya terpejam, menimmati rasa golok yang asoyy ketika masuk kedalam sana.


Tapi, dengan teganya Devan langsung mencabut goloknya dan menggulingkan badannya di samping Raya.


Raya yang tadinya sangat menikmati keperkasaan golok super jombo itu, langsung membuka matanya dan menatap suaminya dengan heran.


"Kok di cabut?" Tanya Raya, dengan rasa tidak puasnya.


Nanggung banget kan!


"Kan sekali celup." Jawab Devan, lalu memejamkan matanya.


Bukan salah Devan kan? Memang istrinya meminta sekali celup.πŸ˜†

__ADS_1


"Tapiβ€”"


"Sstt, Sudah malam ayo tidur." Potong Devan, lalu menarik selimut hingga sebatas pinggang.


"Ya, tapikan nanggung banget." Protes Raya. "Itu golok mu juga masih menganggukan kepalanya." Ucap Raya tak berfilter, sambil menunjuk tonjolan di balik selimut yang bergerak-gerak.


Devan memejamkan matanya, dan pura-pura tidak mendengar ucapan sang istri.


"Sayang!!" Kesal Raya.


Kenapa aku yang menjadi kalang kabut sendiri. Ini lagi sarung sempit pake kedut-kedut terus. Bahaya kalau enggak di terusin. Kesal Raya dalam hati.


Duh, terusin enggak ya?.


Terusin saja deh, lagian punya suamiku juga punyaku, Kata Oma seperti itu.


Oma lagi yang di salahin.πŸ˜†


"Ya, sudah kalau kau tidak mau, aku akan memperkaosmu." Ucap Raya tak tahu malu, sambil menyibakkan selimut suaminya.


Dalam hati Devan tertawa geli dengan tingkah istrinya.


Kena kau!.


"Wah, si golok sudah jadi terong rebus." Ucap Raya, tak berfilter ketik melihat golok suaminya terlihat mengkerut.


Tuing


Tuing


Raya menonyor si kepala botak berulang kali, membuat Devan yang pura-pura tidur pun membuka matanya.


"Sayang!"


"Apa?" Jawab Raya.


"Kau sedang apa?"


"Bermain sama si kepala botak, lihat dia tegang kembali, ha ha ha haaa." Raya memekik sambil menunjuk kepala botak.


"Mesum!" Devan segera menarik selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya.


"Ayo kita lanjutkan lagi." Ajak Raya.

__ADS_1


"Tidak mau!"


"Aku yang akan memimpin, ayolah." Ajak Raya.


Haisss! Murahan sekali sih aku ini.


Eh, Tidak murahan tapi tidak tahu malu.


Bodo amat lah!.


Devan masih terlihat berpikir kemudian mengangguk.


"Tapi jangan sekali celup."


"Terus berapa celup?" Tanya Raya dengan bodohnya.


"Berkali-kali celup dong dan puaskan suamimu yang gagah perkasa ini dengan goyangan cendolmu." Ucap Devan, membuat Raya tersenyum lalu mengangguk.


Raya pun mulai naik keatas Tubuh Devan dan mulai memasukan Golok super jumbo itu kedalam sarung sempit.


"Ahhh." Desaah keduanya saat si golok sudah tertanam sempurna di dalam sana.


Raya mulai bergoyang cendol dan membuat Devan merem melek.


"Ah, Sayang." Racau Devan, sambil meremat pepaya gantung, yang gondal-gandul di depan matanya.


"Ouhhh, sshshhh." Desaah Raya, ketika pepaya gantungnya di remat dan biji ketapangnya di hisap oleh Devan yang seperti bayi kehausan.


Dengan gerakan perlahan Raya mengasah golok super jumbo itu hingga tajam.


Desaahan dan lenguhan terus bersahutan di dalam markas tempur 2 itu. Hingga keduanya sampai pelepasan bersama.


"Arghhhh." Racau keduanya ketika sampai puncak bersama.


Tubuh Raya langsung terkulai lemas di atas tubuh berotot Devan.


Cup


"Terimakasih, goyangan cendolnya." Ucap Devan sebagai kata penutup kegiatan panas mereka.


Jangan hujat Emak yang sholehah ini🀭


Kasih Vote, hadiah dan like! Awas kalau enggak πŸ‘ŠπŸ‘Š

__ADS_1


__ADS_2