
Crystal memanyunkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya di dada dan menatap sinis ibunya yang ada di hadapannya.
"Mami nyebelin." Ucap Crystal, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Memangnya mami salah apa? Mami hanya mengatakan yang harus di katakan, Crys." Ucap Raya cuek tapi terdengar lembut.
"Dengarkan Crys, anak mami yang paling cantik seperti Elsa frozen." Ucap Raya selembut mungkin.
"Iya itulah aku memang paling cantik." Jawab Crystal, dengan begitu polos, tapi membuat Raya menggeram kesal.
Kamu anak siapa sih? Menyebalkan sekali! Batin Raya kesal.
"Dengarkan Mami, kamu ini anak mami dan papi sedangkan Daddy dan Mommy itu adalah Opa dan Oma kamu, mengerti?" Raya begitu sabar untuk memberikan pengertian kepada putrinya.
"No! Aku adalah putri Daddy dan Mommy dan mereka bukan Opa dan Oma ku." Ucap Crystal dengan nada bergetar.
"Hah." Raya hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Sekarang mami tanya kepada Crystal, apa yang membuat kamu beranggapan jika mereka bukan Opa dan Oma Crystal?" Tanya Raya dengan lembut, sambil mengelus surai hitam putrinya.
"Karena mereka cantik dan tampan. Jika di panggil Oma itu harus seperti Malin juga harus seperti GranPa dan GrandMa Fad." Raya hanya menganggukan kepalanya mengerti, kemudian mengernyitkan keningnya ketika putrinya berucap 'Malin'.
"Malin? Siapa itu?"
"Oma Lincah." Jawab Crystal, dengan mimik wajah yang menggemaskan sambil menunjuk Oma Airin yang tengah berjoget tok-tik tak jauh dari ruang tengah.
"Astaga! Siapa yang mengajarkan berbicara seperti itu? Itu tidak sopan sayang." Ucap Raya menahan kesal.
"Daddy." Jawab Crystal dengan polosnya.
"Astaga!!" Raya menggeram kesal sambil menepuk jidatnya.
Tidak berselang lama Devan bergabung dengan anak dan istrinya yang sedang duduk diatas karpet tebal di ruang tengah.
"Selamat pagi dua bidadariku." Sapa Devan, lalu duduk di samping Raya dan mencium pipi istrinya dengan mesra.
"Papi!! Jangan cium-cium mami." Crystal mberungut kesal, lalu beranjak dari duduknya kemudian duduk di sela ayah dan ibunya. Lalu Crystal mengusap bibir Ayahnya dengan telapak tangannya.
Sedangkan Raya hanya memutar kedua bola matanya malas dan Devan malah terkekeh geli dengan tingkah putrinya itu.
Selalu saja begitu! Batin Raya kesal.
"Memang kenapa? Kamu cemburu, iya?" Tanya Devan, lalu membawa Crystal ke pangkuannya kemudian menciumi wajah menggemaskan putrinya itu.
"Ha ha haa Papi geli hentikan." Crystal tertawa terbahak ketika Devan mengusak jambangnya ke wajah Crystal.
"Papi tidak mau berhenti" Devan semakin mengusak wajah Crystal sampai memerah.
__ADS_1
"Sayang, lihat wajah Crystal sudah memerah." Tegur Raya kepada suaminya, barulah Devan menghentikan aksinya.
"Hah .... Hah ... Hahh ... " Crystal mengatur nafasnya karena terlalu lama tertawa terbahak.
Di tempat yang sama namun berbeda tempat, Xander dan Jeje pun sama halnya tengah memberikan pengertian kepada empat putranya.
"Crystal itu adalah keponakan kalian, Papi dan Mami adalah kakak kalian." Ucap Xander kepada Four J.
"Bukankah Crystal itu adik kami? 'kan dia kecil dan bukankah jika kecil itu adalah adik?" Tanya Nathan dengan wajah polosnya.
"Benar, di sekolah kami diajarkan seperti itu jika anak kecil yang usianya di bawah kami berarti adalah adik bukan keponakan." Jawab Aiden, kali ini membuat Xander dan Jeje menggaruk kepalanya bersamaan.
"Lalu jika Papi dan Mami adalah kakak kami, kenapa mereka tua?" Celetuk Sean, membuat orangtuanya semakin bertambah bingung menjelaskannya.
"Iya benar sekali." Ansel membenarkan sambil menganggukan kepalanya berulang kali.
Walaupun baru berusia 5 tahun akan tetapi kepandaian mereka patut di acungi dengan jempol.
"Aduh bagaimana menjelaskannya, Dad? Aku bingung." Ucap Jeje dengan pelan sambil menyenggol kaki Xander.
"Kau saja bingung, apa lagi aku yang sudah berumur." Jawab Xander, membuat Jeje ingin tertawa dan juga kesal.
"Sudahlah biarkan saja, mungkin jika sudah dewasa nanti mereka akan lebih mengerti." Ucap Jeje pada akhirnya dan di angguki Xander.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi sudah berganti malam Devan dan Raya sudah berada di dalam markas petempuran 2 dan tidak ketinggalan ada Crystal yang selalu menjadi pembatas diantara mereka.
"Hem." Jawab Raya berdehem, tanpa menoleh atau membalikan badannya karena saat ini suaminya tengah menina bobokkan Crystal.
"Sayang." Panggil Devan lagi.
"Apa sih?" Raya menoleh ke belakang.
"Main yuk!" Ajak Devan, sambil memberi kode dengan tangannya.
"Crystal?"
"Sudah tidur, sebentar." Devan memindahkan Crystal ke pinggir tempat tidur tidak lupa Devan membentengi tubuh Anaknya dengan beberapa guling agar tidak terjatuh kelantai.
Awas anaknya nanti nyungsep kelantai. 😆
"Ah, akhirnya." Ucap Devan, langsung menindih tubuh istrinya lalu mematuk bibir Raya degan ganas, kemudian keduanya saling mematuk dan membelit lidah.
"Ah, sayang." Desaah Raya, saat Ciuman Devan turun keleher jenjangnya dan kedua tangan besar itu meremat pepaya gantung miliknya.
"Jangan keras-keras." Devan mengingatkan istrinya.
__ADS_1
"Iya, tapi ahh emm." Raya langsung membungkam mulutnya dengan telapak tangannya.
Pelahan tapi pasti Devan sudah melucuti pakaian istrinya dan juga pakaiannya sendiri, hingga keduanya kini polos tanpa sehelai benang.
Devan membuka kedua kaki Raya dengan lebar kemudian menekuk kaki istirinya itu lalu ia menundukan wajahnya di sela paha istrinya.
"Ahh ughhh." Suara laknat Raya tertahan, ketika Devan mengobok-obok si sarung sempit dengan lidah dan jari-jarinya.
Kenikmatan yang sangat luar biasa yang selalu di berikan suaminya, rasa geli dan nikmat melebur menjadi satu saat Devan terus bermain di bawah sana.
"Sayang, aku ahhh." Raya menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat ia akan mencapai pelepasan pertama.
"Keluarkan sayang." Ucap Devan, dan terus melancarkan aksinya membuat Raya semakin menggeliat tak karuan.
"Ahhhh." Raya mengerang panjang, saat ia mencapai pelepasan pertama. Lalu dengan sigap Devan menyeruput habis air kenikmatan itu hingga bersih tak tersisa.
"Rasamu masih sama, manis." Ucap Devan, mengusap sudut bibirnya membuat Raya menjadi malu-malu embek.
"Aku mulai ya." Devan mulai memposisikan dirinya sambil menuntun si golok sakti yang siap untuk diasah.
Jleb
"Emppghh." Desaah keduanya tertahan ketika golok sakti itu sudah tertanam sempurna di dalam sama.
"Aku mencintaimu." Bisik Devan, tepat di depan bibir merah ceri Raya.
"Aku juga sangat mencintaimu" Balas Raya tersenyum, kemudian keduanya saling memanggut, melumaat dan saling tarik ulur lidah. Perlahan Devan mulai menghujam istrinya dengan kecepatan sedang.
"Ah, sayang." Raya mendesaah tak karuan saat Devan terus menghujamnya dan bibir itu mengecap dua biji ketapangnya secara bergantian.
"Ouhhh ini sangat nikmat sekali, kenapa rasanya sangat menggigit sekali, membuatku tidak ingin melepaskannya." Racau Devan tak karuan, saat merasakan golok saktinya terasa di urut dan di jepit oleh si sarung sempit.
"Ahh sayang, aku ingin Emmpphh." Bibir Raya langsung di bungkam Devan dengan rakus.
"Bersama sayang." Ucap Devan, sambil terus menaik turunkan golok saktinya.
"Argghhh." Akhirnya keduanya sampai pelepasan bersama.
"Terimakasih sayang."
Sama-sama Om Devan sayang😘
Kasih Like!
Vote!
Komentar!
__ADS_1
Dan kasih bunga dan kopi!
Terus dukung othor ya, ratingnya turun lagi nih 😭🙏