
Biasakan tekan like lebih dulu.
Semoga suka dan tidak bosan ya.😊
Hari berlalu begitu cepat dan tidak terasa hari ini adalah hari terakhir Raya dan Devan berada di Bali, setelah berburu oleh-oleh seperti gelang, kalung, baju khas Bali dan puas berjalan-jalan kini saatnya Devan dan Raya mengisi perut mereka yang sudah berdendang ria.
"Wih." Devan berdecak kagum, saat memasuki Restoran mewah tersebut yang ramai pengunjung turis Asing, apalagi kebanyakan pengunjungnya adalah para wanita yang memakai pakaian seksoy, ada diantara mereka yang memamerkan pepaya gantungnya, membuat Devan semakin melotot sempurna.
Sepertinya Devan tidak sadar jika di sebelahnya ada buaya betina yang siap menerkamnya.
Kemudian Raya dan Devan memilih meja kosong yang berdekatan dengan meja para turis wanita yang ada di sana.
"Apa bedanya pepaya lokal dengan import?" Tanya Raya, ia kesal kepada suaminya yang tengah memandangi para wanita bule yang terlihat seksoy yang duduk di meja seberang sana. Apa lagi pepaya gantung mereka seperti akan tumpah ruah, mata Devan seolah tak berkedip melihatnya.
"Tidak perlu ditanyakan lagi, jelas lebih besar dan enak yang import." Jawab Devan tanpa mengalihkan pandangannya, ia belum sadar jika pertanyaan istrinya adalah kalimat sindiran untuknya.
"Oh, begitu. Oke!" Ketus Raya, kemudian membuka kemejanya di Restoran tersebut. Seketika para pengunjung Restoran tersebut mendadak riuh saat melihat Raya membuka kemejanya. Semua orang yang ada di sana menatap kagum dengan bentuk tubuh Raya yang sangat proposional. Apalagi saat ini Raya hanya terlihat memakai Br* berwarna Cream senada dengan warna celana panjangnya.
Tubuh melengkung indah, kulit eksotis idaman setiap wanita, pepaya gantung yang terlihat kencang dan besar, perut rata tanpa ada lemak sedikit pun, bahkan para wanita yang melihatnya pun menjadi iri. Itulah Raya Farasya Clark sangat cantik dan mempesona.
Devan mengerutkan keningnya saat mata pengunjung berarah kepadanya. Tidak! tepatnya mengarah di sampingnya.
"Sayang!! Apa yang kau lakukan!!" Sentak Devan dan sangat terkejut saat melihat istrinya hanya memakai Br*, lalu dimana kemeja yang di kenakan istrinya tadi?.
"Apa? Kau bilang pepaya import lebih enak dari yang lokal." Jawab Raya santai, dia ingin memberikan pelajaran untuk suaminya.
"Aku pikir pepaya sungguhan." Elak Devan, salah tingkah.
"Kita pulang!" Devan menjadi kesal dan juga emosi ketika banyak pasang mata yang memandangi tubuh istrinya. Apalagi tatapan dari para pria yang ada di sana seolah ingin memangsa istri cantiknya.
"Tidak mau!!" Tolak Raya.
"Kau ingin pamer bentuk tubuhmu ini dan juga membuat malu suamimu?" Emosi Devan sudah ada di ubun-ubun.
"Kalau iya kenapa!" Tantang Raya. "Aku ingin mencari golok import yang lebih besar!" Sungut Raya lagi.
"Apa kau bilang!"
"Kau mendengar jelas bukan? Kau saja memandang pepaya gantung milik wanita lain tidak memperdulikan perasaanku!" Kesal Raya, lalu berdiri meninggalkan Devan.
"Astaga!" Devan meraup wajahnya, ia baru menyadari kebodohannya kemudian Devan mengejar Raya yang akan keluar dari Restoran tersebut.
"Sayang." Devan meraih tangan Raya lalu menggenggamnya dengan erat.
"Lepas!" Raya menghentakkan tangannya dengan kasar.
"Tidak akan!" Devan, semakin mengeratkan genggaman tangannya, membuat Raya pasrah.
__ADS_1
"Hai, Beautiful." Sapa pengunjung pria tampan yang baru memasuki Restoran tersebut.
"Hai." Raya menoleh lalu tersenyum menanggapinya, membuat Devan semakin kebakaran jenggot.
"She's my wife!" Devan menghentikan langkahnya dan menatap tajam pria yang baru saja menyapa Istrinya.
"Lepaskan aku!!" Sentak Raya lagi, saat mereka sudah berada di parkiran Restoran tersebut.
"Masuk!!!!" Devan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Tidak perlu membentakku!" Sungut Raya, lalu memasuki mobil dengan cepat dan menutup pintu mobil dengan kasar.
Blam
Devan mengusap wajahnya kasar, saat mendapati istirnya sedang marah besar kepadanya. Kemudian ia berjalan mengitari mobil lalu memasuki mobilnya dan duduk di balik stir mobil tersebut.
"Sayang, pakai seatbelt mu." Devan berucap selembut mungkin.
Raya hanya diam, tapi tangannya tergerak untuk memasang seatbelt dengan kasar.
Devan membuka kemejanya lalu menyelimutkan kemeja tersebut di bagian dada istrinya yang terekspos.
"Aku tidak memerlukannya!" Raya melepaskan kemeja tersebut lalu memberikan kepada Devan lagi.
"Aku juga tidak rela! Jika suamiku melihat bagian tubuh wanita lain!" Balas Raya tak kalah tegas. Membuat Devan diam dan memejamkan matanya frustasi.
"Apa kau kurang puas dengan milikku? Apa kau tidak lihat jika tubuh istrimu ini sangatlah indah dan seksih!" Ucap Raya sombong dan menatap tajam suaminya.
Memang begitu kenyataanya jika tubuhnya sangatlah seksoy.
"Maaf sayang." Devan meminta maaf dengan tulus.
"Percuma meminta maaf jika kau terus mengulangi kesalahanmu!" Ketus Raya, tanpa menatap suaminya dengan nanar.
Wanita mana yang tidak marah, jika suaminya melihat pepaya gantung milik wanita lain?
Emak aja marah jika di posisi Raya.
Devan menghela nafasnya kasar sebelum ia menekan pedal gas mobilnya. Ia akan membicarakan masalah ini ketika sudah sampai di resort.
Istrinya jika sedang marah dan cemburu sangatlah mengerikan!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang, apa yang kau lakukan?" Devan menghampiri istrinya yang tengah mengemasi barang-barang kedalam koper. Saat ini mereka sudah berada di dalam resort.
__ADS_1
"Pulang!"
"Tapi, jadwal penerbangan kita jam 10 malam nanti." Devan berucap sambil mencekal tangan istrinya.
"Terserah! Jika kau masih ingin disini, aku bisa pulang sendiri." Ucap Raya, sambil menghentakkan tangannya agar terbebas dari cekalan tangan suaminya.
"Ayolah, kita bisa membicarakan ini dan jangan terlalu kekanakan." Entah kenapa kalimat itu bisa terlontar begitu saja dari mulut manis Devan.
"Kekanakan kau bilang?!" Raya semakin meradang saat mendengar ucapan suaminya.
"Sayang bukan maksudku berbicara seperti itu." Devan memukul mulutnya berulang kali.
Bodoh! Devan mengumpati dirinya sendiri.
"Sekarang aku tanya! Pantas tidak jika seorang suami memandangi bagian tubuh wanita lain?!" Tanya Raya sewot, dan Devan menggeleng sebagai jawaban.
"Tapi jangan salahkan aku juga, salahkan juga mereka karena memamerkan tubuh mereka di depan umum." Sangkal Devan, dan membuat Raya semakin kesal dan juga merasa sesak didada.
"Kau benar-benar tidak bisa menjaga perasaan istrimu ya! Dasar tidak peka! Hiksss." Raya akhirnya tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Sayang, jangan menangis. Maaf aku salah." Devan mendekati istrinya, tapi sayangnya Raya langsung mundur beberapa langkah, menghindari dirinya.
"Kau sangat keterlaluan! Bagaimana jika posisi itu terbalik, aku memandangi roti sobek pria lain apa kau akan diam saja?!" Tanya Raya, disela isak tangisnya.
"Tentu saja aku tidak akan tinggal diam!" Jawab Devan dengan cepat. Ia akan marah dan mengurung istrinya jika hal itu terjadi.
"Maafkan aku." Sekali lagi Devan meminta maaf dengan tulus sambil menatap wajah cantik istrinya yang berlinang air mata.
"Jangan menatap ku dengan matamu itu!!"
"Why?"
"Karena kedua matamu sudah terkontaminasi!" Sungut Raya, sambil mengusap air matanya dengan kasar.
"Baiklah aku akan mencucinya." Ucap Devan, berjalan menuju kamar mandi.
"Bagus! jika perlu cuci pakai bayclin!!"
Kayaknya Om Devan akan berjuang lebih keras lagi untuk meluluhkan hati Raya.
Kasih like!
Komentar!
Vote!
kasih bunga sekebon dan kopi sedrum!
__ADS_1