
❤️ Happy Reading ❤️
*****
Di kantor AN grub saat ini di sebuah ruangan milik CEO sedang ada dua orang pria dewasa yang sedang duduk dan berbincang dengan sangat serius.
Ya yang ada di ruangan tersebut adalah Arya Narendra bersama dengan Henry sang asisten pribadi yang sudah berpuluh tahun mengikutinya.
''Terus rencana kamu selanjutnya apa Ar?''tanya Henry.''Perusahaannya sudah dia ambang kebangkrutan saat ini.''sambungnya lagi.
''Biarkan saja dan tunggu sampai dia merengek padaku.''jawab Arya dengan santainya.
''Tapi kalau dia tidak mau bagaimana?''tanya Henry lagi.
''Biarkan saja berarti dia memilih untuk bangkrut dan hidup miskin.''sahut Arya lagi.
''Ya sudah berarti kita tinggal tunggu dia datang kesini saja.''kata Henry dan di angguki oleh Arya.''Kalau begitu aku balik ke ruangan aku dulu.''pamitnya.
__ADS_1
*****
Sedangkan di tempat lain di sebuah perusahaan yang sebenarnya tak terlalu besar sedang ada kekacauan yang telah di ciptakan oleh seorang tuan Arya Narendra.Dan perusahaan itu adalah perusahaan tuan Prakoso.
''Apa yang akan kita lakukan tuan?''tanya seorang pria yang bekerja sebagai sekretaris sekaligus asisten CEO itu.
''Aku gak tau mesti gimana lagi.''kata tuan Prakoso yang sudah sangat pening sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan memijat pelan pelipisnya.''Kamu sudah menghubungi perusahaan yang bisa kita jadikan investor baru dan apa kamu juga sudah membujuk para investor yang kemarin untuk kembali ke perusahaan kita?''tanya tuan Prakoso secara beruntun.
''Sudah semua tuan tapi...''kata sang asisten.
''Tapi tidak ada yang bisa membantu kita tuan."jawab sang asisten."Soalnya mereka semua takut dengan keluarga Narendra dan juga keluarga Regantara."terangnya."Mereka gak mau bersinggungan dengan dua keluarga yang sangat berpengaruh tersebut terutama keluarga Narendra...mereka lebih memilih aman dari pada ada masalah dengan mereka."imbuhnya lagi.
"Br*****k."umpat tuan Prakoso."Apa ada jalan lain untuk menyelesaikan semua ini?"tanya tuan Prakoso yang sudah buntu tidak bisa berpikir lagi.
"Tidak ada jalan lain tuan selain kita harus meminta maaf pada tuan Narendra dan meminta bantuan beliau untuk memulihkan semua keadaan perusahaan kita."usul asisten tuan Prakoso.
"Apa tidak ada jalan lain lagi?"tanya tuan Prakoso yang masih enggan untuk bertemu dengan seorang Arya Narendra.
__ADS_1
"Maaf tidak ada lagi tuan,hanya itu jalan satu-satunya."sahut sang asisten lagi.
"Baiklah akan aku pikirkan dulu."kata tuan Prakoso.
"Tapi kita tak bisa menunggu terlalu lama tuan,karena keadaan semakin memburuk."kata asistennya lagi.
"Ya sudah sana kamu bisa keluar."kata tuan Prakoso sambil menggerakkan tangannya memberi isyarat agar sang asisten segera pergi dari ruangannya.
"Baik,kalau begitu saya permisi tuan."pamitnya.
Sepeninggal sang asisten tuan Prakoso terus berpikir dan menimbang apakan dia harus menurunkan egonya untuk menemui serta meminta bantuan pada keluarga yang usaha milik putranya akan dia hancurkan.
Apakah mereka mau untuk memaafkan serta membantu perusahan miliknya setelah niat jahat apa yang di lakukan.
Pikirannya benar-benar buntu saat ini dan terasa sudah tidak sanggup untuk berpikir lagi.
Sedangkan di luar sana para karyawan yang sudah mengetahui berita bahwa perusahaan tempat mereka mengais rezeki di ambang kebangkrutan mulai membuat mereka resah memikirkan bagaimana nasib mereka selanjutnya.
__ADS_1