Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Menguping Transparan


__ADS_3

Masih di dalam mobil, dan masih dalam posisi mereka berdua berpelukan, Brayen kembali mengecup puncuk kepala Zela.


Bahkan Zela sendiri serasa enggan untuk melepasnya, Zela merasa begitu nyaman dipelukan Brayen, kenyamanan yang sebelumnya tak pernah Zela rasakan, dan ini untuk pertama kalinya Zela merasakan kenyamanan yang diberikan oleh seseorang kecuali Mamh Hana.


Sungguh membuat Zela candu akan ini.


" Aku sayang kamu.. Lebih dari apapun.." Ucap Brayen membuat Zela seketika merenggangkan pelukannya.


Menatap manik mata indah Brayen, begitu juga dengan Brayen yang menatap Zela begitu lembut.


Sungguh tatapan mata ini yang selalu mampu membuat Zela tidak bisa menolak, karena tatapan mata Brayen yang membuatnya begitu bertambah kali kali lipat pesonanya.


Dan Zela beruntung hanya dia yang selalu ditatap oleh Brayen dengan tatapan mempesona ini.


Tatapan yang mampu memenjara Zela berada di dekapan Brayen, bahkan selalu tak ingin lepas dari Brayen, membuat Zela selalu suka dan menikmati itu.


" Aku juga Sayang Kak Ray.. Lebih dari apapun.." Jawab Zela mengulang kata kata Brayen untuk dirinya.


Brayen tersenyum kepada Zela, kemudian dia mencium kening Zela, ciuman hangat dan tulus untuk Zela.


Mereka saling menatap kemudian tersenyum, sebelum akhirnya sama sama keluar dari mobil untuk menuju ke apartemen.


" Kak apa nggak papa kita pulang ke sini..?? Kemarin kita udah pulang Ke Rumah Mamah apa Bunda nggak apa apa..?? Tanya Zela yang khawatir jika nanti Ibu Martuanya akan marah.


" Nggak akan sayang.. Bunda udah tau kita pulang kesini.." Jawab Brayen yang memang tadi sudah memberitahukan Bunda Wina terlebih dahulu.


Zela mengangguk lega, juga dengan seulas senyum yang manis, begitu juga dengan Brayen yang membalas senyuman manisnya, tentu saja senyuman tampan Brayen.


Mereka menuju apartemen dengan tangan yang sama sama bergandengan, bahkan sesekali Zela menopang dirinya pada lengan Brayen.


Romantis bukan...?? Semoga selalu begitu.


Sampai di apartemen, Zela merebahkan dirinya dikasur yang begitu nyaman, diikuti oleh Brayen yang berbaring di sebelahnya.


Brayen berbaring menatap langit langit apartemennya, sebelum akhirnya dia memejamkan matanya, bukan tidur Brayen hanya ingin memejamkan matanya saja.


Mungkin karena akhir akhir ini begitu banyak masalah yang membuatnya berpikir keras, tapi sungguh Brayen mampu menyelesaikannya dengan baik.


Bahkan ketika masalah Misha dengan Zelapun Brayen sudah menyelesaikannya, meskipun begitu menguras emosinya, tapi pada akhirnya Misha menyerah untuk saat ini, lain waktu ntah lah, Brayen belum memikirkannya.


Zela menoleh ke arah Brayen yang sedang memejamkan matanya, Zela fikir Brayen benar benar tertidur.


Di usapnya lembut pipi Brayen, kemudian Zela setengah bangun untuk mencium pipi Brayen.


" I Love you Kak..." Ucap Zela mengungkapkan perasaanya lagi kepada Brayen, sebelum akhirnya Zela benar benar bangun dan segera bergegas kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Brayen membuka mata dengan seulas senyum terukir di bibirnya, Brayen tidak benar benar tidur, dia ingat jelas apa yang dilakukan oleh istri cantiknya barusan.


Membuat Brayen tersenyum senang juga menggelengkan kepalanya, Brayen berniat untuk menghampiri Zela di kamar mandi.


Tapi akhirnya dia urungkan, Brayen malah pergi ke dapur apartemen untuk membuatkan Zela makan malam.


Ya... Brayen berniat untuk memasak, makan malam mereka.


Setelah dilihat kulkas masih cukup bahan makanan, Brayen segera menunjukan aksinya.


Ya.. Brayen memanglah tampan, tapi jangan lupakan jika dia juga ahli dalam memasak, bahkan lebih ahli dari istrinya.


Brayen mulai berkutat dengan bahan makanan juga peralatan dapur, sungguh jika saja wanita di luar sana melihat pemandangan sekarang ini, sudah dipastikan mereka akan menjerit histeri karena seorang Brayen yang begitu terlihat sexy.


Oh... Gaes... Brayen benar benar sexy.


Zela sudah selesai dengan ritual mandinya, tapi dia tak mendapatkan Brayen di kamarnya, dengan segera Zela mencari keberadaan suaminya.


Sampai akhirnya Zela mendengar suara suara dari arah dapur, Zela sedikit tersentak, dia takut kalau ada orang jahat yang masuk ke dalam apartemennya.


" Astaga..." Gumam Zela sedikit was was.


Zela berjalan pelan, dia benar benar takut jika Brayen sudah di lumpuhkan oleh orang jahat tersebut, sekarang Zela harus bagaimana..?? apa Zela harus melawan orang jahat tersebut sendiri..??


Haruskah Zela meminta bantuan..???


Stoop... Jangan konyol Zelaaa... Ini hanya pikiran parnomu saja.


Ayo masuk dapur, dan kamu akan melihat pemandangan indah yang akan membuatmu terpesona.


Dengan memberanikan diri, juga berjalan pelan ke arah dapur, Zela mengintip sedikit dan betapa terkejutnya dia setelah melihat siapa yang membuat suara suara barusan.


Deg....


Jantung Zela terpompa lebih cepat, dia benar benar terpesona dengan lelaki tampan yang sedang mengiris beberapa cabe juga bumbu yang lain.


" Astaga.... Perfect.." Gumam Zela tanpa dia sadari memuji Brayen dengan lirih.


Zela teringat dengan pikiran konyolnya, dia menepuk jidatnya merasa jadi malu sendiri.


" Sayang lihat.. Daddy keren kan..?? Tanya Zela kepada calon anaknya.


Zela terus menatap Brayen, tatapan kekaguman yang Zela tunjukan untuk suaminya, sampai tanpa Zela sadari Brayen sudah berada di depannya.


Menangkap basah Zela yang masih terbengong, sungguh lucu pikir Brayen.


Brayen memeluk Zela sambil menatap Zela, membuat Zela tersadar dari lamunannya, akh... Betapa malunya Zela sekarang.

__ADS_1


" Mau bantu masak..?? Tanya Brayen lembut kepada Zela.


" Kak ray ikh.. Lepasin.. Aku udah mandi.." Jawab Zela mengingatkan Brayen.


" Nanti mandi lagi...... Bareng.." Jawab Brayen terjeda sebentar lalu melanjutkan membuat Zela sedikit terkejut dengan perkataan Brayen.


" Ikh.. Mesum.." Jawab Zela singkat.


" Nggak apa sama istri sendiri..." Jawab Brayen tak mau kalah, membuat Zela mendesah kesal.


" Mau nggak..?? Apa mau aku peluk terus seperti ini..?? Tanya Brayen semakin menggoda Zela.


" Iya mau tapi nanti dikamar.." Jawab Zela sambil cekikikan, membuat Brayen terkejut dengan jawaban nakal Zela.


Brayen tersenyum, lalu mengecup singkat bibir Zela, menarik hidung Zela pelan dan melepaskan pelukannya kembali pada masakannya yang belum selesai.


Sedangkan Zela masih termenung karena perlakuan Brayen barusan, niat hati ingin menggoda Brayen malah dia sendiri yang tergoda.


Oke.. Brayen memang masih sangat susah ditebak.. Dan Zela akui jika Brayen memang bukan hanya Lelaki Idaman wanita tapi juga Suami Idaman.


Ingat Suami Idaman gaes.. Yang selalu membuat istrinya berbunga bunga dengan perlakuannya setiap saat, tanpa bisa Zela tebak.


Brayen menoleh ke arah Zela yang masih mamatung pada posisinya tadi tanpa bergeser sedikitpun, membuatnya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


" Sayang.. Ayo.." Ajak Brayen sengaja membuat Zela tersadar.


" Eh.. Iya kak.." Jawab Zela reflek karena gugup.


Brayen kembali memasak ditemani Zela yang ntah kenapa malah lebih senang memandangi suaminya itu.


" Kak Ray masak apa..?? Tanya Zela tanpa sedikitpun tatapannya beralih.


" Masak nasi goreng yank.. Nggak papa kan..?? Tanya Brayen masif fokus dengan masakannya.


Membuat Zela mengangguk cepat tanpa menjawab.


" Kak Ray sexy banget.." Ucap Zela tanpa sadarnya karena terlalu terpesona oleh Brayen.


Brayen menoleh ke arahnya dan mendekati Zela, tersenyum tampan kepada Zela lalu menarik hidungnya gemas.


" Kamu jauh lebih sexy yank.. Makin berisi.." Bisik Brayen membuat Zela tersentak kaget, dan tersadar dari lamunannya juga perkataannya barusan.


Astaga..apa apaan gue... batin Zela kesal sendiri.


Zela menunduk malu, membuat Brayen tersenyum melihat muka merah Zela karena malunya.


" Istriku yang cantik ini ternyata bisa malu.." Ucap Brayen lembut membuat Zela menoleh ke arahnya dan menepuk dada bidang Brayen pelan.


" Emang nggak lagi ngelawak yank.. Tapi lagi muji.." Sambung Brayen masih mencoba menggoda Zela.


" Kak Ray stop deh.. Malu..." Jawab Zela manja.


Brayen tersenyum dan memeluk Zela, mereka tersenyum bahagia bersama dan melanjutkan menyelesaikan masaknya juga makan bersama.


Kini mereka sedang berada diruang tv mini yang modern itu, mereka sama sama fokus pada layar besar yang berada di depan mereka.


Tak lama ponsel Brayen berbunyi, ya Dimas yang mengubunginya, memberitahu kalau dia sudah berada di depan pintu apartemen.


" Akh..Shit..." Gumam Brayen kesal merasa Dimas menganggu waktu berduanya dengan Zela.


" Bentar yank.." Ucap Brayen berpamitan kepasa Zela, juga sambil bangun dari duduknya.


" Mau kemana kak..?? Tanya Zela kepada Brayen.


" Mau bukain pintu buaya bentar.." Jawab Brayen membuat Zela menautkan kedua alisnya bingung.


Buaya..?? Pikir Zela heran.


Tak lama pintu terbuka dan menampilkan sosok tampan dengan senyum menyebalkannya menurut Brayen.


Tanpa di suruh masuk, Dimas sudah nylonong melewati Brayen.


Menyebalkan memang.


" Hei Zel.." Ucap Dimas kepada Zela.


Zela menoleh ke arah suara yang ternyata adalah Dimas.


Jadi ini buayanya batin Zela terkikik geli dengan ucapan suaminya tadi.


" Kak Dimas..?? " Jawab Zela dengan senyumnya.


Sedangkan Dimas hanya nyengir sambil menaik turunkan alisnya, akh.. Memang Dimas datang di waktu yang sangat tepat, sudah menganggu kedua suami istri ini.


Tapi itu menurut Dimas, jika Brayen dan Zela tentu saja mereka sangat ingin mengusirnya sekarang juga.


Sangat menganggu dan datang diwaktu yang tidak tepat.


Tidak lama Brayen datang juga menghampiri mereka.


" Kak Ray.. Maksud Kakak.. Kak Dimas buayanya..?? " Tanya Zela tiba tiba membuat Dimas melotot kesal dan tak percaya dengan Brayen.


Brayen mengangguk dengan senyum menyebalkannya, membuat Dimas kesal akan hal itu.

__ADS_1


Sedangkan Zela sudah tertawa terbahak karena situasi ini.


" Gue buaya..?? Parah loe ray.." Ucap Dimas kesal kepada Brayen.


" Dari pada gue bilang loe bangkai buaya.." Jawab Brayen ngasal membuat Dimas semakin kesal.


" Akh.. Serah loe deh.. Yang penting gue nggak bau bau play boy kayak yang loe bilang.." Jawab Dimas membela diri.


" Emang nggak bau.. Karna loe udah sebagai play boynya.." Jawab Brayen membuat Dimas semakin dan semakin kesal.


" Sialan loe.." Jawab Dimas yang akhirnya menyerah dengan perdebatan ini.


Membuat Brayen tersenyum senang, sedangkan Zela hanya tertawa mendengar perdebatan kedua lelaki tampan di depannya ini.


Sungguh, jujur saja sedari tadi Zela tidak mengerti apa yang mereka maksud.


Konyol bukan menertawakan sesuatu yang menurutnya lucu tanpa dia mengerti.


Dimas melirik Zela kemudian beralih melirik Brayen, dia sebenarnya ingin membahas tentang Sandro kepada Brayen, tapi jika ada Zela tentu saja Dimas meminta persetujuan empunya, siapa lagi kalau bukan Brayen.


" Mau ngomong penting ya..?? " Tanya Zela yang seperti mengerti dengan gelagat keduanya.


" Oke.. Aku ke kamar.." Ucap Zela yang akan segera berdiri dan berlalu menuju kamar.


Tapi sebelum Zela pergi Brayen sudah mencegahnya, Brayen menarik tangan Zela untuk tidak pergi.


" Nggak usah pergi yank.. Disini aja.. Nggak ada yang lebih penting dari kamu.." Ucap Brayen seketika membuat Zela terkejut.


Masih saja dalam keadaan serius ini, Brayen mencoba untuk menggodanya.


Akh.. Suami tampan yang penuh dengan kejutan dari kata katanya.


Sedangkan Dimas benar benar memutar bola matanya jengah.


Brayen benar benar sudah berubah, dari es kutub menjadi es cream yang begitu manis menurut Dimas.


" Ck.." Decak Dimas benar bena tak percaya dengan apa yang dikatakan Brayen barusan.


" Nggak papa..?? " Tanya Zela meyakinkan dan Brayen mengangguk tersenyum.


Zela menoleh ke arah Dimas seperti meminta persetujuan, begitu juga dengan Dimas yang mengangguk.


Memangnya siapa Dimas..?? Dia akan meminta persetujuan Brayen terlebih dahulu, jadi kalau Brayen iya.. Berati Dimas juga, tanpa Zela harus meminta ijin padanya terlebih dahulu.


" Oke.. Aku duduk ya.. Aku nggak akan ganggu Kalian.." Ucap Zela kembali pada tempat duduknya semula.


Membuat Brayen lagi lagi tersenyum lembut untuk Zela, akh.. Rasanya Brayen ini benar benar seperti habis terbentur otaknya, bentar bentar tersenyum untuk Zela, seperti baru saja jatuh cinta pikir Dimas.


" So.... Gue mau jelasin ke loe ray..." Ucap Dimas yang tiba tiba berubah jadi serius.


Zela masih menatap layar tvnya, tapi tentu saja telinganya sudah siap mendengarkan secara seksama apa yang akan mereka bicarakan.


Brayen menghela nafasnya pelan, dia tau jika Sandro memang benar benar tidak bisa dikasihani.


" Apa dia sengaja..??? Tanya Brayen kepada Dimas, membuat Dimas nenganggukan kepalanya.


" Iya dia sengaja, dia sendiri yang bilang kalau dia kasihan sama keluarganya.." Jawab Dimas yang tak yakin, karena Dimas tau pernyataan anak curut itu hanya akan membuat Brayen tak lagi bisa memaafkannya.


" Ck.. Dasar bodoh..." Ucap Brayen singkat.


Fix.. Kali ini Sandro benar benar tamat, sepertinya Brayen sudah tidak lagi akan menyembunyikan tentang apa yang dilakukan oleh Pak Septa.


Brayen tidak akan lagi merasa kasihan dengan keluarga yang sepertinya masa depannya berada di tangannya sekarang.


Jika semua tau kesalahan yang sudah Pak Septa lakukan, tentu saja Pak Septa akan masuk ke jeruji besi, bahkan mungkin dalam waktu yang cukup lama.


Nama keluarganya akan tercoreng, akan menjadi bahan olokan oleh semua orang termasuk teman teman juga keluarganya.


Itu baru permasalahan Bapaknya, jika semua orang tau kelakuan anaknya juga, sudah dipastikan keluarga itu tidak bisa lagi hidup dengan nyaman seperti sekarang ini.


Bahkan Brayen sangat marah, karena Sandro mencoba untuk menjebaknya atau membuat nama keluarga Zafano tercoreng gara gara aksinya.


Sudah dikasih hati masih minta jantung, mungkin itu sebutan yang pas untuk Sandro saat ini.


Tapi tentu saja itu bukan hal yang besar untuk Brayen, semua yang dilakukan oleh Sandro tidak membuatnya cemas sama sekali, hanya saja Brayen kesal dan marah karena Sandro tidak bisa berfikir lebih panjang.


Apa yang Sandro lakukan saat ini akan sangat berdampak pada keluarganya.


Zela sedari tadi terus menguping pembicaraan dua lelaki tampan itu, Tapi tetap saja Zela tidak tau apa yang mereka bicarakan.


Membuat Zela kesal sendiri, dengan teka teki obrolan mereka.


mereka ngomongin siapa sih..?? batin Zela


kesal.


Tapi tentu saja Zela tidak akan mudah menyerah, dia akan mendengarkan sampai dia tau siapa yang sedang mereka bicarakan.


Atau jika perlu Zela akan mengeluarkan jurus rayunya untuk Brayen, supaya dia tak lagi penasaran seperti sekarang ini.


Jangan Lupa Like, Comment dan Vote.


Big Thanks.. 🙏🙏😘😘

__ADS_1


__ADS_2