Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Keseruan Tiga Sahabat


__ADS_3

Brayen dan Zela kini sama sama sudah terbuai hanya dengan tatapan mata mereka masing masing,, di saat Brayen akan mendekatkan dirinya untuk mencium Zela, tiba tiba ponsel Zela berbunyi.


Tentu saja susana yang tadi romantis dan akan berlanjut menjadi kobaran cinta tiba tiba berubah menjadi kikuk dan canggung, Brayen berdiri mengusap rambutnya kasar.


Sedangkan Zela dia langsung segera mengambil ponselnya yang masih terus berbunyi di saku seragam sekolahnya.


Ternyata Vani yang melenfon, Zela membuang nafas kasarnya.


apa van..???


Tanya Zela dengan nada sedikit kesal.


ikh kok ngegas si...?? tas loe nih..gue ma seli dirumah loe..


Jelas Vani kepada Zela.


Dirumah gue..?? ya udah bentaran gue balik..


Jawab Zela kepada Vani.


Loe dimana sih ma kak ray..?? Bunda nanyain nih...


Sambung Vani lagi.


gue lagi di....akh....kak ray..jangann..please..


Ucap Zela masih di sebrang telp,, tapi tiba tiba suaranya terpekik seperti menahan sesuatu.


Vani melotot dengan apa yang dia dengar..


" Kirain dimana..malah lagi enak enakan..." Gumam Vani langsung menutup panggilan telpnya.


Ternyata Brayen tadi memeluk Zela dari belakang ketika Zela masih ditelp Vani, tak hanya itu, dia juga mencium tengkuk leher Zela sampai membuat Zela tak bisa lagi untuk tidak melarangnya dan bersuara.


Zela menoleh kearah Brayen dengan muka sedikit cemberut, tapi Brayen malah menatapnya dengan senyum tampannya.


" Kenapa..??? Tanya Brayen masih dengan memeluk Zela.


" Kita pulang sekarang kak.. Seli sama Vani lagi dirumah tungguin gue.." Jelas Zela membuat Brayen sedikit berfikir.


" Nggak main dulu yank.." Tanya Brayen sengaja menggoda Zela, seketika Zela memelototkan matanya.


" Kak Ray ikh..." Kesal Zela yang malah dijawab Brayen dengan tertawa juga menarik hidung mancung Zela gemas.


Mereka segera keluar dari Caffe, setelah sampai di mobil Brayen segera melajukan mobil mewahnya.


" Nggak mau beli sesuatu dulu..?? Tanya Brayen menawarkan kepada Zela,


" Nggak usah deh kak... masih kenyang..." Jawab Zela dan Brayen mengangguk setuju.


Kembali Brayen melajukan mobilnya, setelah 15 menitan mereka sampai di kediaman Zafano, tampak di pekarangan masih berjejer mobil Seli dan juga Vani.


Dengan segera Zela membuka pintu mobil dan masuk kedalam rumah, tanpa menghiraukan adanya Brayen yang sedari tadi bersamanya.


Brayen yang melihat tingkah Zela hanya geleng geleng kepala, dia tidak mempermasahkan mungkin karena bawaan debay juga menurut Brayen.


Dengan segera dia menghmpiri Zela yang sudah terlebih dahulu masuk.


" Gaes...." Teriak Zela melihat keberadaan Seli dan Vani yang sedang duduk santai di depan tv bersama Bunda Wina.


Seli dan Vani juga termasuk Bunda Wina menoleh ke arah Zela dengan tersenyum.


" Bunda..." Sapa Zela menyalami tangan Bunda Wina.


" Nggak sama ray..??? Tanya Bunda Wina melihat kedatangan Zela seorang diri.


" Ya ampun... gue tinggal kak ray.. masih dimobil deh Bund kayaknya.." Jawab Zela dengn tersenyum kikuk.


" Gue di sini..." Jawab Brayen yang sudah datang, seperti biasa dengan muka datar.


Seli dan Vani mengangguk tersenyum ketika menyapa Brayen, yang di jawab Brayen juga dengan anggukan kepala juga senyum tampannya.


Hampir saja Vani terpesona, jika saja dia tidak ingat kalau Brayen sekarang suami sahabatnya sendiri.


Bunda Wina meninggalkan Seli dan Vani karena Zela sudah datang, begitu juga dengan Brayen yang langsung menuju ke kamar.


Sedangkan ketiga gadis cantik itu memilih untuk duduk di ruang tv sambil mengobrol.


" Zel loe dari mana sih..?? Tany Vani menyelidik.


" Caffe Van..." Jawab Zela singkat.


" Pikiran loe aja Van yang ngeres.." Sambung Seli membuat Zela menatap bingung.


" Kenapa memangnya..?? Tanya Zela penasaran.


" Tadi kata Vani loe lagi..." Ucap Seli terpotong karena langsung dibekam oleh Vani.


" Vani ikh..." Kesal Seli menurunkan telapak tangan Vani.


Sela semakin penasaran dengan tingkah kedua sahabatnya.

__ADS_1


" Jujur..." Tekan Zela kepada mereka berdua.


" Oke Zel gue jujur.. Tapi loe jangan marah ya.." Jelas Vani ragu, dan Zela mengangguk setuju.


" Tadi gue...denger loe kayak lagi itu itu ma kak ray..." Sambung Vani masih dengan keraguannya.


Zela berfikir sejenak, tapi kemudian dia tertawa terbahak mendengar penuturan Vani barusan, sedangkan Seli dan Vani saling pandang bingung.


" Kok ketawa sih loe nggak marah..??? Tanya Vani yang dijawab Zela dengan gelengan kepala masih dengan ketawanya.


Vani bernafas lega, tapi dia juga merasa janggal kenapa bisa hal seperti itu Zela sampai tak merasa marah atau paling nggak malu sama dia.


" Yang tadi pas loe telo itu kan..?? Tanya Zela kemudian kepada Vani,


Vani mengangguk, sedangkan Seli masih menyimak.


" Tadi tuh gue dipeluk kak ray,, karena gue geli ya jadi gitu deh..." Jelas Zela membuat Seli dan Vani ber wuuu ria.


" Tapi.." Sambung Zela lagi seketika mereka langsung memasang muka serius menatap ke arah Zela.


" Tapi kenapa Zel..??? Tanya Vani yang sudah penasaran, sedangkan Seli masih setia menyimak.


" Tapi..emang telp loe ganggu gue ma kak ray mau..." Ucap Zela setengah setengah, membuat Seli dan Vani bertambah penasaran.


" Mau apa..??? Tanya Vani lagi dengan tingkat rasa penasaran yang sudah semakin tinggi.


" Mau..itu..." Jawab Zela singkat sambil menaik turunkan alisnya.


Seli dan Vani melongo dengan tangan menutup mulutnya.


" Ya ampunnn Zel.. seriusan..?? Tanya Seli dan Zela menjawab dengan anggukan kepala.


" Jadi gara gara gue..loe ma kak ray nggak jadi..??? Ya ampun..." Sambung Vani merasa sedikit bersalah.


" Tuh gara gara loe Van... nggak jadi kan nambah dedek.." Ejek Seli kepada Vani.


" Ikh...apaan sih Sel.. 1 aja belum keluar masa udah mau nambah lagi..aneh loe.." Jawab Vani kesal.


" Ha..ha..ha..udah udah... Gue kidding kali..." Ucap Zela membuat mereka berdua kembali menoleh kearahnya dengan tatapan kesal.


Meskipun memang begitu adanya, tapi tidak mungkin Zela memberitahukan yang sebenarnya kepada mereka, apa lagi tentang hubungannya dengan Brayen ketika diranjang, sudah pasti itu menjadi privasi mereka berdua saja.


Meskipun sahabat karib sekalipun..


" Serang..." Teriak Vani mengajak Seli untuk menyerang Zela.


Mereka berdua menggelitiki Zela, sampai Zela benar benar tidak bisa menahan ketawanya.


" OMG... gue lupa.. sorry Zel... gue bener bener lupa.." Jawab Vani dengan muka bersalahnya.


" It's oke.. gue nggak papa kok.." Jawab Zela yang memang tidak mempermasahkan.


Namanya juga lupa mau bagaimana lagi, lagian memang dia baik baik saja tidak merasa mual atau yang lainnya.


" Boleh elus perut loe nggak..?? Tanya Vani ragu.


Zela mengangguk pelan dengan senyumnya.


" Baby.. maafin aunty ya..." Ucap Vani mengelus lembut perut rata Zela yang masih berseragam sekolah.


" Nggak apa apa aunty.. baby baik baik atcha.. uat.. cehat..." Jawab Zela menirukan suara anak kecil.


" Uluh..uluhh.. Cayang cayangku..." Ucap Seli lebay sambil meregangkan tangannya.


Mereka bertiga berpelukan, lalu tertawa bahagia bersama.


Sedangkan Brayen yang melihat dari atas, tersenyum senang, dia ikut merasa bahagia, karena Zela dikelilingi oleh orang orang yang sangat menyayanginya.


Ketika moment sedang mengharukan itu, tiba tiba Dimas datang tapi sendiri tanpa adanya Xelo yang biasanya ketika Dimas muncul Xelo juga muncul.


Zela, Seli dan Vani menoleh ke arah Dimas dengan tatapan yanh susah di artikan, Dimas yanh ditatap mereka seperti itu malah jadi bingung sendiri.


" Kenapa pada liatin gue kayak gitu sih.." Ucap Dimas kepada mereka bertiga.


" Kak Dimas sendiri..?? Tanya Vani yang malah berbalik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Dimas barusan.


Dimas clingukan ke sebelah kanan dan kirinya.


" Seperti yang loe liat Van.." Jawab Dimas enteng.


" Ups...gue tau loe ngarepin gue kesini bareng Xelo kan..??? Sambung Dimas lagi dengan tampang menyebalkan.


Zela dan Seli saling pandang dan tersenyum, mereka baru sadar kalau apa yang dikatakan Dimas itu ada benarnya.


" Ikh...apaan sih kak.. Nggak banget ya..." Jawab Vani mengelak.


Dimas tertawa melihat muka bohong Vani, pasalnya sangat terlihat Vani yang begitu gugup, membuat Vani jadi semakin kesal.


" Van..loe beneran nungguin kak Xelo kesini..??? Tanya Zela yang malah dapat plototan mata dari Vani.


Zela tersenyum sepertinya dia juga tau sama halnya dengan Dimas tadi.

__ADS_1


" Iya... Vani emang ngarepin kedatangan Kak Xelo... Udah tuh gue aja yang bantu jawab.." Sambung Seli, membuat Vani bertambah kesal tapi juga gemas melihat muka Vani yang sangat merah.


Zela, Seli dan juga Dimas tertawa, tapi kemudian Zela dan Seli menarik gemas pipi Vani.


" Jangan di anggap serius sayang..." Ucap Zela untuk mengurangi kesal Vani.


" Kita just kidd..." Tambah Seli dengan senyum manisnya.


Vani memonyongkan bibirnya, tapi kemudian mengangguk pelan, kembali mereka bertiga berpelukan dengan tawanya.


Dimas yang melihat para gadis hanya geleng geleng kepala dengan tingkah mereka.


" Sel..loe nggak nungguin gue kayak Vani tadi nungguin Xelo..??? Tanya Dimas tiba tiba membuat Seli seketika menoleh ke arahnya dengan muka sedikit merah.


Zela dan Vani hanya memandang Dimas bingung, sedangkan Dimas malah cengengesan nggak jelas.


" Ray mana..?? Tanya Dimas kemudian.


" Di atas Nak.." Jawab Bunda Wina yang baru datang dari arah belakang.


" Eh.. Bunda..." Jawab Dimas dengan senyum kikuk.


" Anak nakal.. kesini nggak nemuin Bunda.." Jawab Bunda Wina sambil menarik telinga Dimas.


Zela dan kedua sahabatnya tertawa melihat Dimas yang tadinya berani meledek, sekarang malah persis seperti anak ayam takut dengan induknya.


" Ha..ha..syukurin kak.." Ucap Vani tanpa suara sambil cekikikan.


" Auw...ampunn Bund... Ini Dimas juga mau nemuin Bunda kok.." Jawab Dimas.


" Hmmm... Sekarang pinter bohong ya.. sama Bunda juga berani bohong,," Jawab Bunda Wina melepas tarikannya di telinga Dimas, lalu dengan sikap pura pura marah dia bersedekap dada tangannya.


" Iya tuh Bund... malah katanya jangan sampe Bunda tau kalau Kak Dimas kesini.." Sambung Zela sengaja mengerjai Dimas.


Seli dan Vani masih cekikikan, sedangkan Bunda Wina menatap Dimas kesal.


" Zel kok gitu sih..tega loe ya ma kakak...Zela fitnah bund.." Jawab Dimas mencoba membela diri.


Zela semakin tertawa melihat muka Dimas yang memelas, begitu juga dengan Seli dan juga Vani.


"Sudah sudah.. kali ini Bunda maafin, tapi lain kali kalau begini lagi... Bunda kasih hukuman.." Jawab Bunda Wina menepuk pundak Dimas.


" Siap Bund.. mmmuachh..." Jawab Dimas mencium pipi Bunda Wina dan langsung ngacir menuju atas dimana Brayen berada.


Bunda Wina hanya geleng geleng kepala melihat tingkah anak yang satu ini, berbeda dengan Zela, Seli dan Vani yang terbengong bengong melihat tingkah usil Dimas.


" Sayang ganti baju dulu... setelh itu ajak Seli sama Vani makan malam disini.." Suruh Bunda Wina kepada Zela.


Zela mengangguk tersenyum.


" Ehh..ini juga sudah mau pulang kok Bund.." Sambung Seli merasa tak enak.


" Nggak boleh pulang kalau belum makan malam dulu.." Jawab Bunda Wina mencoba tegas.


" Iya Sel..lagian kapan coba dapat makan gratis enak lagi.. Masakan Bunda kan the best.." Sambung Vani yang dijawab Bunda Wina dengan acungan jempol juga senyum manisnya.


" Vani ikh...malu maluin..." Jawab Seli sedikit kesal, membuat Zela tersenyum karena tingkah mereka.


" Bener kata Vani nak.. lagian Bunda bakal marah dan kecewa kalau sampe kalian pulang tanpa makan terlebih dahulu..." Jelas Bunda Wina kepada mereka.


Seli dan Vani mengangguk mengerti.


"Tuh... denger kata Bunda.." Sambung Zela membenarkan apa yang dikatakan oleh martuanya.


" Ya sudah Bunda tinggal dulu ya... awas aja kalian berdua kalau nggak nemenin Zela makan..." Ancam Bunda Wina kepada Seli dan Vani.


" Siap Bund..." Jawab mereka berdua kompak.


Setelah Bunda Wina pergi, Zela juga pamit untuk berganti baju terlebih dahulu, sedangkan Seli dan Vani masih menunggu di ruang tv.


Ketika Zela menuju ke kamarnya, dia melewati tempat kerja Brayen, samar samar dia mendengar perbincangan Brayen dan Dimas.


Dengan acuh dia segera berlalu menuju kamarnya, tapi langkah kaki Zela terhenti saat tiba tiba Dimas menyebut namanya, Zela menjadi penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Dimas dan Suaminya.


Zela mendekat ke arah pintu untuk bisa menguping pembicaraan mereka berdua, matanya seketika melotot saat tau apa yang mereka bicarakan.


" Astaga..." Gumam Zela pelan.



Apa yang sebenarnya Brayen dan Dimas bicarakan..?? Sampai Zela begitu terkejut mendengarnya.. Tunggu aja next episodenya..😊



Dan Jangan lupa Like, Comment, dan Vote ya kak..



Vote,vote,vote...Biar author lebih semangat meneruskan ceritanya....


Big Thanks.. 🙏🙏😘😘

__ADS_1


__ADS_2