
Setelah pesanan mereka siap, dengan segera Vani kembali ke meja di mana kedua sahabat dan kedua lelaki tampan sedang menunggunya.
Sontak saja Vani sedikit terkejut dengan keberadaan Dara yang sudah duduk di kursinya. Dara menatap Vani yang masih bingung.
" Eh.. Ini kursi Lo ya? " Tanya Dara yang di angguki oleh Vani.
" Udah nggak papa, nanti Gue ambil kursi yang lain " Jawab Vani sambil meletakan pesanan mereka, Dara mengangguk sambil tersenyum ke arah Vani.
" Cieee.. Tumben Miss telmi baik banget " Ledek Seli membuat Vani menatap kesal ke arah Seli.
" Kak Dimas tuh istrinya nakal " Sindir Vani sambil cekikikan, membuat Seli melotot dengan perkataan Vani.
" Vani...!! " Kesal Seli yang membuat Vani semakin cekikilan.
Setelah mengambil kursi lain untuk tempat duduknya, Vani segera bergabung kembali dengan mereka, Dia juga mengambil ponsel yang berada di saku seragamnya.
" Kak boleh minta foto nggak? " Tanya Vani kepada Brayen dan Dimas.
Tentu saja kedua lelaki tampan itu saling pandang bingung dengan perkataan Vani.
" Mau buat apa sih Van? " Tanya Zela yang sedari terus sibuk dengan Brayen.
" Mau Gue kirim ke Kak Xelo " Jawab Vani malu-malu.
" Astaga.... Ternyata ada yang merasa jadi nyamuk " Ledek Seli lagi.
" Enak aja nyamuk.. Gue plankton tercantik ya bukan nyamuk " Jawab Vani membuat mereka semakin tertawa.
" Yang udah nggak marah di panggil plankton, iya deh tau panggilan sayang dari Bebeb Xelo " Sambung Zela meledek membuat Vani semakin kesal tapi juga ikut tertawa.
Vani memfoto Brayen dan juga Dimas yang sedang berada di Kantin Sekolahnya. Setelah itu mengirim kepada Xelo, tentu saja agar Xelo tau jika Vani juga menginginkan kehadiran Xelo sekarang, meskipun secara langsung dan Xelo harus lebih peka dalam hal ini.
Sedangkan Dara sedari tadi terus mencuri pandang ke arah Brayen, bahkan Dara sampai tidak menyadari jika pandangan matanya sedang di amati oleh Dimas yang berada di sebelah Brayen.
Sungguh Dara memang sudah suka dengan Brayen, tapi dia tau harus lebih tau diri dengan perasaannya, Brayen adalah suami dari sepupunya sendiri. Dan Dara tidak mau sampai merusak hubungan Brayen dan juga Zela.
Meskipun jauh di lubuk hatinya begitu menyukai sosok pria tampan seperti Brayen, meskipun pada dasarnya seperti apapun Dara mencoba mendekati Brayen, Brayen akan tetap pada pendiriannya yaitu hanya Zela seorang di hatinya, tidak akan tergantikan oleh siapapin itu.
" Serah Lo pada deh " Jawab Vani lagi dengan kesalnya.
Sedangkan Dara masih dengan banyak diamnya, tentu saja karena dia belum terbiasa berkumpul seperti ini dengan mereka.
" Dar.. Gimana lancar-lancar aja kan?" Tanya Zela kepada Dara.
Zela menanyakan tentang hari kedua masuk di Sekolahnya.
"Aman kok Zel " Jawab Dara dengan senyumnya yang di angguki oleh Zela.
" Temen Lo Zel? " Tanya Dimas yang memang belum mengetahui Dara.
Tentu saja mendengar Dimas bertanya kepada Zela tentang siapa Dara, membuat Seli menatap Dimas dengan taja. Sedangkan Dimas hanya menggelengkan kepalanya sambul tersenyum, lalu menarik hidung Seli dengan gemas.
" Dih... Ada yang jealuose nih ekhemm...ekhem.." Sindri Vani cekikian, membuat Seli langsung mencubit Vani dengan gemas.
" Auw.. Gue aduin Kak Dimas Lo kalau nakal" Jawab Vani dengan kesal.
" Coba aja " Tantang Seli membuat Vani terkikik sendiri, pasalnya memang Dimas berada di sana dan Dimas sudah pasti tau bagaimana tingkah keduanya barusan.
" Udah dong.. Kalian ini kebiasaan ya nggak pernah akur" Sambung Zela kesal, membuat Seli dan Vani saling menyalahkan tapi juga masih cekikikan.
" Iya temen sekaligus sepupu Kak Dim " Jawab Zela membuat Dimas mengangguk.
Pantas saja Dara menatap Brayen dengan pandangan mata yang berbeda rupanya karena mungkin Dara pernah bertemu bertemu dengan Brayen sebelumnya, pikir Dimas.
" Dar.. Kenalin ini Kak Dimas.. Sahabat tapi juga saudara Kak Ray, dan sekarang sudah jadian sama Seli.." Ucap Zela memperkenalkan Dara dan juga Dimas dengan lengkap.
Dara dan Dimas saling mengangguk dengan senyum.
__ADS_1
" Zela ih... Malu tau" Ucap Seli malu, membuat Zela tersenyum.
" Nggak usah malu Mi, apa yang di katakan Zela kan emang bener " Jawab Dimas kepada Seli, tentu saja apa yang Dimas katakan semakin membuat Seli bertambah malu, tapi memang begitu adanya jadi Seli mengangguk dengan senyum malu-malu.
" What!! " Ucap Zela dan Vani kompak.
" Miii????? " Tanya Zela dan Vani lagi dengan kompak. Seketika membuat Seli tersadar jika baru saja Dimas memanggilnya dengan sebutan Mi.
Seli menatap Dimas tajam, sedangkan Dimas hanya tersenyum tampan tanpa dosa ke arah Seli membuat Seli semakin mengibarkan bendera peperangan dengan Dimas.
Ingat Dim.. Kamu tidak bisa seperti Brayen, yang jika orang tercinta kamu sedang ngambek bisa di rayu di atas ranjang, karena Seli masih menjadi pacar dan belum khalal jadi rasakan sajalah.
" Udah lah yang... Makan duli tuh mienya baby kita sampai kelaperan" Suruh Brayen kepada Zela.
" Tapi Kak" Ucap Zela terpotong oleh jari Brayen yang di tempelkan pada bibir Zela.
" Ssssttt.. Cepet makan, sebentar lagi aku sama Dimas ada kuliah siang soalnya" Jelas Brayen yang membuat Zela dan Vani menurut.
Sedangkan Seli merasa lega, karena tidak dapat rentetan pertanyaan dari kedua sahabatnya.
Tapi tetap saja Zela dan Vani akan menanyakan masalah itu lagi, ntah nanti di kelas atau ketika pulang Sekolah. Seli harus bersiap dengan jawabannya.
Dara melihat Brayen yang begitu romantis kepada Zela, bahkan Brayen termasuk orang yang tidak banyak bicara, sedari tadi hanya sibuk dengan ponsel dan sesekali ikut tertawa dengan ocehan ketiga gadis cantik dan juga Dimas di depannya ini. Sungguh setelah lebih tau tentang Brayen membuat perasaan Dara semakin bergejolak.
" Eh... Gue masuk dulu ya" Pamit Dara kepada mereka.
" Lho.. Nggak pesen dulu Dar? " Tanya Zela yang di jawab Dara dengan gelengan kepala.
" Nggak usah Zel.. Diet " Jawab Dara sekenanya dan berlalu.
" Astaga.. Tubuh kecil gitu diet.. Lalu bagaimana dengan tubuh Gue yang bohai ini " Celetuk Vani membuat semua yang berada di sana langsung menatap Vani.
" Huaha..ha..ha..ha.... Bohai dari mananya rata gitu kok" Sindir Seli, membuat Vani memanyunkan bibirnya.
" Tapi Tivani itu cewek paling imot dan manis di sekolah ini" Sambung Zela dan Seli barengan, sembari memeluk Vani dengan penuh kasih sayang.
Brayen dan Dimas saling pandang dan menggeleng, memang wanita itu ribet, sedari tadi mau makan masih saja terus mengobrol, bahkan mungkin sudah sekitar 10 menit, waktu yang hanya digunakan untuk mengobrol saja.
Brayen dan Dimas memang hanya memesan coffe saja untuk menemani ketiga gadis cantik itu. Tidak lama Xelo datang bebarengan dengan ketiga gadis cantik itu selesai makan, dan sudah dipastikan jika Brayen dan Dimas akan pergi menuju Kampus depan.
Ternyata Xelo memang baru saja berangkat dari rumahnya. Tadi dia bangun siang karena memang kuliah mereka siang, dan bangun karena mendapat pesan dari wanita tersayangnya, siapa lagi kalau bukan Vani yang memberitahukan jika Brayen dan Dimas sedang berada di Sekolahnya. Membuat Xelo langsung bangun dan bersiap-siap ke Sekolah pacar tersayangnya.
" Hai.." Sapa Xelo membuat mereka menoleh ke arahnya.
" Dih.. Udah nongol aja anak Orang" Jawab Dimas sambil terkekeh.
" Iya dong kan ada ayang beb" Jawab Xelo sambil mengedipkan mata ke arah Vani.
Tentu saja Vani malu dengan tingkah Xelo seperti itu, tapi tidak bisa di pungkiri kedatangan Xelo membuat Vani senang dan bersemangat mengikuti pelajaran di sekolahnya.
Xelo duduk di sebelah Vani, di mana tadi menjadi tempat duduk Dara. Sedangkan Brayen dan Dimas malah berdiri untuk pergi dari tempat duduk itu.
Zela, Seli, dan Vani saling pandang bingung dengan tingkah ketiga cowok tampan itu yang terlalu absurd.
" Lha.. Mau pada kemana? Baru juga Gue nyampe" Ucap Xelo melihat Brayen dan Dimas yang sudah berdiri.
" Mau ke kampus lah.. Lagian Lo lama, bentar lagi ada mata kuliah " Jawab Dimas membuat Xelo melotot kesal.
Sedangkan Brayen hanya tersenyum ringan, apa yang di katakan oleh Dimas memamglah benar.
Brayen dan Dimas berpamitan kepada Zela dan Seli, tentu saja Brayen tidak lupa memberi kecupan hangat di kening Zela.
" Baik-baik Baby, Daddy kuliah dulu " Pamit Brayen kepada anaknya. Mendengar Brayen akan kuliah tapi juga berpamitan kepada calon anaknya membuat Zela dan yang lain tertawa.
Jangan lupakan jika siswi-siswi yang masih berada di kantin Skeolah. Melihat perlakuan Brayen barusan untuk Zela semakin membuat Brayen di mata mereka begitu mempesona.
Fik, Brayen calon Hot Daddy yang nantinya akan semakin di idolakan banyak wanita.
__ADS_1
" Cemangat Dad..!! " Jawab Zela menirukan suara anak kecil.
" Masih muda udah mau punya anak aja " Guamam Dimas yang hanya di tatap Brayen sekilas.
Sedangkan yang lain semakin tertawa, tapi tawa bahagia dengan keluarga kecil Zela dan Brayen yang sebentar lagi akan di hadirkan malaikat kecil untuk mereka, semua sudah menantikan sampai hari itu akan tiba saatnya nanti.
" Jadi udah mau pergi ini? " Tanya Xelo yang di angguki oleh Brayen dan Dimas, membuat Xelo menghela nafasnya dengan berat.
Xelo menatapa Vani yang sedang cekikikan sambil menjulurkan lidahnya, sungguh membuat Xelo semakin gemas saja dengan Vani.
" Awas kamu beb" Ucap Xelo kepada Vani sambil menarik hidung Vani gemas, lalu berlalu mengejar Brayen dan Dimas yang sudah lebih dulu pergi.
Sedangkan Vani malah jadi senyum-senyum sendiri, jujur saja Vani masih merasa kangen dengan Xelo meskipun tadi malam mereka melakukan video call sampai begitu larut malam.
Ketiga gadis cantik itu kembali menuju kelasnya meninggalkan kantin. Sampai di kantin tidak hentinya Zela dan Vani meledek Seli yang memanggil Dimas dengan sebutan " Bi ".
" Ciee... Cecel ternyata romantis pisan euy " Ledek Vani membuat Seli mendelik kesal ke arahnya.
" Sekali lagi Lo bilang Gue Cecel... Gue kubur idu-idup Lo Van " Jawab Seli memperingatkan Vani.
" Ih.. Galak amat cepet tua Lo, kasian Kak Xelo kalau sampai Gue kenapa napa, pasti bakal sedih banget dan ngegalau bertahun-tahun " Jawab Vani dengan mimik muka yang sedih, tentu saja karena Vani sudah membayangkan begitu jauh.
Seli yang gemas dengan jawaban lebay Vani langsung menoyor kening Vani.
" Auw.. Sakit Sel !! " Kesal Vani.
" Makanya jangan ngehalu berlebihan Lo " Jawab Seli sambil cekikikan.
Sedangkan Zela semakin tertawa dengan tingkah kedua sahabatnya.
Kini Zela sudah berada di dalam mobil Brayen. Hari ini Bunda Wina menjenguk Vera lagi di rumah sakit. Tapi Zela tidaklah ikut karena Bunda Wina tadi ke rumah sakit setelah pulang dari kampus depan da Sekolahnya. Dan Zela akan menanyakan tentang bagaimana keadaan Vera nanti kepada Ibu martuanya nanti.
" Kak " Panggil Zela pelan.
" Kenapa sayang? " Tanya Brayen sambil mengelus rambut Zela pelan, dengan satu tangannya fokus pada setir.
" Tadi ikut rapat ya? " Tanya Zela yang di angguki oleh Brayen.
" Terua gimana?? " Tanya Zela ingin tau bagaimana nasib Vera ke depan.
" Emmmm.. " Jawab Brayen seperti berfikir, membuat Zela mengira jika Vera memang benar-benar sudah di keluarkan dari Sekolahnya.
Zela menghela nafasnya, tentu saja karena dia belum tau yang sebenarnya.
" Kenapa kamu peduli banget sama tuh cewek sih yang? Dia itu udah jahat dan hampir nyelakain kamu sama calon Baby kita " Jelas Brayen seketika membuat Zela terdiam.
Apa yang di katakan oleh Brayen memang ada benarnya, tapi ntah kenapa Zela merasa begitu kasihan dengan Vera jika harus berhenti Sekolah, meskipun dia menyebalkan tapi Vera termasuk cewek yang aktif di Sekolah.
" Aku nggak tau Kak.. Aku kasihan aja sama dia " Jawab Zela jujur apa adanya tanpa di buat-buat.
Tentu saja dengan jawaban Zela barusan membuat Brayen semakin sayang dengan istrinya yang ternyata tidak memiliki dendam sama sekali dengan orang yang sudah berusaha menyelakainya. Bahkan sering sekali Vera mencari masalah dengan Zela.
" Kamu memang wanita luar biasa yang " Jawab Brayen dengan senyum tampannya untuk Zela.
" Ih.. Malah ngegombal, udah ah.. Biar aku nanya Bunda aja nanti " Jawab Zela dengan nada seidkit di buat kesal.
" Lebih bagus malah " Jawab Brayen membuat Zela langsung melayangkan pukulannya di lengan Brayen dengab pelan.
" Heiii... Bahaya yang.. Aku lagi nyetir " Ucap Brayen mengingatkan Zela.
" Kak Ray sih ngeselin " Jawab Zela dengan muka yang masih di buat kesal.
" Tapi ngangenin kan? " Tanya Brayen sambil menaik turunkan alisnya membuat Zela semakin kesal saja.
Zela terus memukul lengan Brayen yang tidak terasa sakit sama sekali oleh Brayen, membuat Brayen menangkap tangan Zela dengan lembut, kemudian di kecup dengan begitu lembut, tangan wanita tercantik dan tersayang yang sekarang berada di sebelahnya masih dengan keadaan kesal.
Di perlakukan seperti itu oleh Brayen membuat Zela tidak lagi berontak, ah.. Selalu saja Brayen bisa mengubah keadaan juga mood Zela, yang tadinya ingin marah karena kesal, tapi malah sekarang Zela terbuai karena perlakuan manis Brayen.
__ADS_1
Brayen selalu bisa merayu Zela dengan jurus andalannya, jika tidak tatapan matanya yang memabukan, sudah pasti perlakuan manisnya yang membuat Zela tidak bisa lagi menolak pesona seorang Brayen Zafano.
Like,Comment and Vote ya gaes.. Big Thanks 🙏🙏😘😘