Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Saatnya


__ADS_3

Zela berdiri di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya ,, Sedangkan Brayen tak jauh berdiri dari Zela, dia juga mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih di tangannya.


Tentu saja mereka sudah melakukan pergulatan di sore hari sampai menjelang malam, padahal tadi pagi mereka juga melakukannya, tapi mengingat Brayen besok sudah harus pergi ke negri orang, itu sebagai pengantar perpisahan diantara mereka.


Malam ini sudah pukul 7 ,, Tapi Bunda Wina dan juga Pak Riko belum juga pulang ,, Padahal Dimas sempat mengatakan jika Pak Riko dan Bunda Wina akan pulang sore tadi.


Brayen cukup gelisah,, jika kedua orang tuanya tidak pulang malam ini juga,, mau tidak mau dia harus mengantarkan Zela ke rumah orang tuanya,, agar Zela tidak kesepian juga ada yang menjaganya.


Berkali kali Brayen menelfon Bunda Wina juga Pak Riko,, tapi tak mendapat jawaban sama sekali,, dan itu sukses membuat Brayen semakin gertambah kegelisahannya.


" Kak.." Ucap Zela kepada Brayen.


" Hmm..." Jawab Brayen yang masih sibuk dengan ponselnya.


Tentu saja menghubungi kedua orang tuanya yang tak juga menjawab telpnnya.


Zela terkikik melihat Brayen yang terlihat begitu gelisah,, sampai mondar mandir tidak jelas.


Bahkan Brayen sampai mengetuk ngetukan ponselnya pada keningnya,, astaga... Brayen benar benar lucu,, pikir Zela.


" Kak Ray ikh..." Ucap Zela dengan nada yang di buat sekesal mungkin.


Membuat Brayen langsung menghampiri Zela yang masih berada di depan cermin dengan aktifitasnya.


" Kenapa Yank..?? " Tanya Brayen kepada Zela.


" Kenapa sih mondar mandir terus..??? " Tanya Zela yang pura pura tidak tau.


Jujur saja dalam hati Zela benar benar tertawa melihat Brayen,, meskipun ada rasa kasihan juga kepada suami tampannya.


" Nggak papa sayank.." Jawab Brayen sembari mengacak rambut Zela pelan.


" Beneran...?? " Tanya Zela memastikan membuat Brayen mengangguk mengiyakan.


" Ya udah ayo.. Kebawah.. Kita makan malam dulu.." Ajak Zela yang di jawab Brayen dengan anggukan kepala sambil menarik hidung Zela gemas.


Mereka berdua menuju ke bawah untuk makan malam, padahal sedari tadi Brayen terus berfikir bagaimana besok dia akan meninggalkan Zela jika kedua orang tuanya benar benar tak pulang malam ini juga.


Akh... Sungguh Brayen di buat semakin gelisah karena ini.


Sampai akhirnya mereka sampai di meja makan, sudah banyak hidangan makan malam yang tersedia, tentu saja Brayen sedikit mengernyitkan keningnya bingung.


Pasalnya dia tau jika semua makanan yang tersaji di meja bukanlah masakan asisten rumah tangga keluarga Zafano, melainkan masakan dari Bunda Wina sendiri.


Itu benar benar membuat Brayen bingung, Brayen menatap Zela curiga, tapi Zela bersikap biasa seperti tak ada yang perlu di curigai.


" Ayoo Kak... Makan..." Ajak Zela kepada Brayen.


Zela menyuruh Brayen duduk, tentu saja Brayen masih dengan rasa penasaran juga bingungnya.


Setelah Zela selesai menyiapkan makanan suaminya, dengan segera Zela juga menyiapkan untuk dirinya.


Zela menatap Brayen yang masih dengan bingungnya, dia tersenyum simpul, tau apa yang sedang Brayen pikirkan sekarang.


" Mau dimakan apa mau diliatin aja Kak..?? " Tanya Zela melihat Brayen yang masih berdiam tanpa menyentuh makanannya.


" Yank... Ini siapa yang masak..?? " Tanya Brayen yang sudah benar benar bingung juga penasaran.


Zela tersenyum, Brayen benar benar tau jika dia sedang di kerjai olehnya dan kedua orang tuanya.


" Yank...." Ucap Brayen lagi meminta Zela untuk menjelaskan.


" Ehemm.. Kenapa.. Nggak suka masakan Bunda..?? " Tanya Bunda Wina tiba tiba dari arah kamaranya.


Begitu juga dengan Pak Riko, mereka melihat Brayen dengan tawanya, begitu juga dengan Zela yang sedari tadi sudah tidak tahan melihat wajah frustasi Brayen.


Brayen begitu terkejut, ternyata kedua orang tuanya sudah pulang, tapi kenapa dia tidak tau sama sekali..?? Dan Zela..?? Apa apaan bukankah sedari tadi Zela bersamanya dikamar..?? Pikir Brayen masih dengan keterkejutannya.


" Jadi sengaja ngerjai Ray..?? Biar apa coba..?? " Tanya Brayen dengan nada sedikit kesal.


" Eh.. Nggak boleh marah lho.." Jawab Bunda Wina mengingatkan Brayen.


" Ya.. Ya... Ray nggak marah Bund.. Tapi kesel aja..." Jawab Brayen sembari menarik hidung mancung istrinya.


" Kak Ray ikh.." Kesal Zela kepada Brayen.


" Itu sama aja Ray.. Sebagai lelaki itu harus bisa tahan amarah Ray.. Nggak boleh bentar bentar ngambek.." Jelas Pak Riko kepada Brayen.


" Bener Yah... Zela setuju.." Jelas Zela dengan senyuman manisnya, membaut Brayen menoleh ke arah Zela tak percaya.


Pasalnya, Zela menjawab perkataan Ayahnya seperti untuk dirinya sendiri bukan untuk Brayen, bukankah selama ini memang Zela yang bentar bentar ngambek dan marah..?


Akh.. Istri cantiknya ini memang pintar sekali membolak balikan fakta, Brayen jadi gemas sendiri karena Zela.


" Sudah.. Ayo kita makan dulu..." Ajak Bunda Wina kepada mereka semua.


Setelah selesai makan malam bersama, mereka duduk santai di ruang tv.


" Ray... Jam berapa besok kamu berangkat..?? " Tanya Pak Riko membuat Brayen mengernyitkan keningnya.


" Dimas sudah jelaskan ke Ayah.." Sambung Pak Riko kepada Brayen.


" Dasar ember..." Gumam Brayen tertuju untuk Dimas.


" Kak Ray ikh.. Di tanyain Ayah..." Ucap Zela menyadarkan Brayen.


" Jam 7 Yah..." Jawab Brayen singkat.


Pak Riko mengangguk mengerti.


" Kalau sudah selesai urusanmu langsung pulang ya Ray.. Kasian Zela.." Sambung Bunda Wina kepada Brayen.


" Pasti Bund..." Jawab Brayen singkat.


Akh... Bundanya ini membuat Brayen lagi lagi tak tega jika harus meninggalkan istrinya.

__ADS_1


Selang berapa lama Dimas datang, malam ini dia akan tidur di rumah, tentu saja karena besok mereka harus berangkat pagi sekali.


Bahkan Dimas juga sudah menyiapkan segala keperluan untuk keberangkatan mereka berdua besok, apa saja yang nanti akan mereka butuhkan ketika di sana, termasuk hasil test dari dokter yang menyatakan jika Sandro bukanlah pemakai obat obatan terlarang.


Semua sudah di siapkan oleh Dimas secara rinci dan terperinci.


" Yah.. Bund.." Sapa Dimas menghampiri mereka yang sedang santai di ruang tv.


" Zel..." Sapa Dimas juga melihat keberadaan Zela.


Zela hanya mengangguk sambil tersenyum, hanya satu orang yang tidak Dimas sapa, siapa lagi kalau bukan si tampan Brayen yang kadang merepotkannya.


Tapi itu sudah biasa dilakukan antara mereka, jadi tak ada yang sakit hati, terkadang mereke memang sengaja.


" Eh.. Anak Bunda baru datang.. Makan dulu Nak.." Jawab Bunda Wina yang langsung menyuruh Dimas untuk makan malam.


Dimas mendekati kedua orang tua paruh baya itu untuk menyium punggung tangan Bunda Wina juga Pak Riko, setelah itu dia duduk tak jauh dari Brayen.


" Udah pada makan ya ini..?? " Tanya Dimas kepada mereka.


" Udah.. Loe telat.." Jawab Brayen singkat.


" Kamu makan dulu sana.." Suruh Pak Riko kepada Dimas.


" Ya.. Nanti aja deh kalau udah laper.." Jawab Dimas.


" Nanti nungguin laper..?? Sakit perut tau rasa kamu.." Sambung Bunda Wina membuat Dimas melotot tak percaya.


Sedangkan Zela terkikik geli karena ucapan Ibu martuanya itu kepada Dimas.


" Wah.. Bunda mulai jahat..." Jawab Dimas kepada Bunda Wina.


" Kalau nggak jahat anaknya bandel di bilangin.." Jawab Bunda Wina membuat Zela dan Pak Riko semakin tertawa.


Sedangkan Dimas garuk garuk kepala yang tak gatal.


Brayen hanya tersenyum tipis, dia tau Bundanya dan Dimas memang kadang seperti itu jika sedang berselisih kecil.


" Sudah sana makan dulu... Nggak usah lebay nunggu sampai laper.. Yang baru putus cinta aja nggak kayak kamu gitu kok.." Omel Bunda Wina lagi panjang kali lebar.


Membuat Pak Riko dan Zela semakin tertawa, sedangkan Dimas sudah memasang wajah memelasnya untuk dikasihani.


" Kuylah.. Aku makan dulu..." Jawab Dimas akhirnya dan berdiri untuk mengambil makanan.


Tapi sebelum itu dia sempat mencium pipi Bunda Wina terlebih dahulu, membuat Bunda Wina tersenyum.


" Heeehh.. Nggak usah cium cium istri Ayah.." Ucap Pak Riko dengan nada dibuat kesal.


" Ampun Pak Bos.. Besok lagi.." Jawab Dimas dengan candanya.


Membuat yang lain tertawa, termasuk juga dengan Brayen yang ikut tertawa meski tak seperti yang lain.


Malam semakin larut, setelah tadi semua bercanda ria bersama, kini saatnya mereka untuk istirahat, termasuk juga Brayen dan Zela yang sudah berada di kamar mereka.


Zela berbaring di dada bidang Brayen, sedangkan Brayen memeluk Zela, ini sudah pukul 12 lebih, tapi mata Zela tak juga merasa ngantuk.


Perpisahan yang hanya sebentar tapi akan mampu membuat mereka sama sama merasa kehilangan, kehilangan seseorang yang akan membuat mereka sama sama merasa rindu, rindu yang begitu berat pastinya.


Waktu yang hanya sesaat tapi akan terasa lama untuk Zela maupun Brayen.


Sungguh rasanya malam ini mereka tak ingin memejamkan mata, mereka masih ingin menikmati waktu kebersamaan.


Jika mata mereka sampai terpejam, sudah dipastikan mereka akan dihadirkan dengan hari esok yang begitu cepat tiba mereka rasakan.


" Yank.. Tidur.." Suruh Brayen yang tidak tega jika Zela harus begadang.


Zela menggeleng tanpa menjawab.


" Hei.. Nggak boleh gitu.. Kamu harus jaga kesehatan.." Sambung Brayen lagi kepada Zela.


Zela mendongakan wajahnya menghadap Brayen, membuat tatapan mereka bertemu.


" Peluk aku.. Jangan di lepasin juga.. Baru aku mau tidur.." Jawab Zela dengan manjanya membuat Brayen semakin berat saja meninggalkan Zela.


" Iya sayang..." Jawab Brayen singkat.


Hanya itu yang bisa Brayen katakan, karena sesungguhnya semakin dia mengungkapkan kegelisahan yang dia rasakan semakin berat juga untuk meninggalkan istrinya.


Brayen mencium puncuk kepala Zela berkali kali, juga tangannya mengelus perut Zela yang sudah mulai membuncit.


Membuat rasa nyaman yang Zela dapatkan karena perlakuan Brayen, tak butuh waktu lama akhirnya Zela benar benar tertidur.


Begitu juga dengan Brayen yang tertidur dengan tangannya masih memeluk Zela.


Sampai akhirnya Brayen di kagetkan dengan bunyi alarm yang sudah di tetapkan, jam baru menunjukan pukul 5 pagi, biasanya dia akan tertidur lagi jika tidak mengerjai Zela.


Tapi meskipun masih ngantuk, sekarang dia harus bangun dan bersiap siap menuju ke bandara.


Brayen melihat Zela yang masih tertidur nyenyak, tidak tega jika harus membangunkannya, tapi juga pasti Zela akan marah besar jika sampai tak di bangunkan untuk mengantarnya ke bandara.


Cupp..


Brayen mencium bibir Zela, tapi tidak membuat Zela terbangun, hanya sesekali menggeliat kecil karena ciuman Brayen.


Cupppp


Lagi.. Brayen mencium bibir Zela, bahkan Brayen juga ******* bibir Zela dengan pelan dan lembut, dan kali ini membuat Zela membuka matanya.


Brayen menghentikan aksinya, ini bukan waktu yang tepat untuk mereka bermain, Brayen bisa ketinggalan pesawat, meskipun kenyataannya Brayen sudah merasa ingin karena apa yang di lakukannya untuk Zela barusan.


" Kak Ray.." Ucap Zela melihat wajah Brayen begitu dekat dengannya.


Brayen tersenyum ke arah Zela.


" Bangun sayang.. Katanya mau nganter ke bandara.." Jawab Brayen membuat Zela seketika terbangun dan langsung duduk.

__ADS_1


Bahkan kepala mereka sampai berbenturan karena Zela yang tadi reflek, juga Brayen yang tidak siap.


" Auw.." Ucap Zela mengaduh sakit.


" Sakit yank...?? " Tanya Brayen yang juga mengelus kening Zela.


" Nggak Kak.. Ayo cepetan kita mandi.." Ajak Zela yang langsung menarik tangan Brayen menuju kamar mandi.


Mereka mandi bersama, tapi tak terjadi apa apa memang karena waktu yang memang tidka memungkinkan.


Setelah selesai mandi, Brayen bersiap siap, begitu juga dengan Zela yang sudah lengkap dengan seragam sekolahnya.


Zela juga membantu Brayen untuk menyiapkan segala keperluan pribadi Brayen, setelah semua selesai, mereka berjalan untuk menuju ke bawah.


Tapi sebelum ke bawah Brayen menarik Zela kedekapannya, Brayen memeluk Zela erat tentu saja Zela tidak menolak, dia menyambut hangat pelukan yang Brayen berikan.


" Baik baik ya.. Please.. Jaga diri baik baik.." Ucap Brayen kepada Zela.


" Pasti Kak.. Kak Ray juga jaga diri baik baik.. Ingat apa yang udha aku bilang.." Jawab Zela lagi mengingatkan Brayen.


Brayen mengangguk, kemudian mencium puncuk kepala Zela, masih dengan keadaan mereka berpelukan.


Sekitar 3 Menit mereka berpelukan sebelum akhirnya suara Dimas dari arah luar terdengar membuat keduanya melepaskan pelukannya.


Brayen mencium kening Zela, setelah itu mencium bibir Zela cukup lama sampai membuat Zela memejamkan matanya untuk menikmati, menikmati sentuhan bibir Brayen yang pastinya akhir akhir ini akan sangat dirindukannya.


Setelah itu mereka sama sama menuju ke bawah untuk sarapan terlebih dahulu, di meja makan sudah ada Pak Riko, Bunda Wina yang masih sibuk menyiapkan makanan juga Dimas yang sudah rapih sama seperti Brayen.


" Lama banget Bang.. Neng.. Ngapain aja..?? " Tanya Dimas kepada Brayen dan Zela.


" Kepo.." Jawab Zela dan Brayen barengan lalu tertawa.


Membuat Dimas sedikit terkejut dengan kekompakan dua sejoli di depannya ini, sedangkan Pak Riko dan Bunda Wina hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.


Setelah selesai sarapan, mereka pamit kepada Bunda Wina dan juga Pak Riko, hari ini mereka berangkat menggunakan 1 mobil dengan di antar oleh sopir, tentu saja Zela akan mengantar suaminya dulu ke bandara sebelum berangkat sekolah.


Tak banyak yang dibicarakan oleh Zela maupun Brayen, hanya sesekali saja mereka ikut menimpali Dimas dan sang supir yang sedari tadi terus berceloteh seperti tak pernah kehabisan topik pembicaraan.


Bahkan sepanjang perjalanan tangan mereka tak terlepasa sama sekali, mereka terus bergandengan begitu enggan untuk melepaskan, meski sama sama sudah berkeringat di sela sela genggaman tangan mereka.


Sampai akhirnya mobil mewah keluarga Zafano berhenti, tentu saja karena mereka sudah sampai di bandara.


Dan ini saatnya dua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu harus berpisah untuk sementara waktu.


Brayen dan Zela saling tatap, lalu Brayen tersenyum ke arah Zela membuat Zela semakin tak kuasa saja rasanya harus melepaskan suami tampannya itu.


Setelah keluar dari mobil, mereka memasuki bandara, dan saat inilah perasaan Zela mulai berkecamuk.


Zela merasakan sesak di dadanya, dengan sekuat tenaga dia berusaha setenang mungkin agar Brayen tak semakin khawatir dengannya.


" Ehemm... Silahkan nikmati waktunya dulu... Sebelum nanti kangennya di pending.. Gue kasih waktu 5 menit.." Ucap Dimas yang mengerti kegundahan pada diri dua sejoli ini.


Dimas mengajak sang sopir untuk pergi meninggalkan Zela dan juga Brayen.


Membuat Zela langsung berhambur ke pelukan Brayen, Zela memeluk Brayen begitu erat, bahkan dia sudah tak sanggup lagi untuk membendung air matanya, tak peduli dengan banyak orang yang berada di situ.


Baik Zela maupun Brayen sama sekali tak peduli, Brayen berkali kali mencium puncuk kepala Zela.


Rasanya semakin berat dan ingin rasanya dia juga membawa Zela untuk ikut pergi bersamanya, tapi ini bukan waktu yang tepat, dan Brayen harus mengerti itu.


" Heii... Sayang jangan nangis.." Ucap Brayen mendengar suara tangis Zela, meskipun begitu pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Brayen.


" Janji cuma sebentar.. Pokoknya nggak boleh lama lama.." Jawab Zela masih dengan tangisnya.


" Janji hanya sebentar dan nggak akan lama.." Jawab Brayen seperti menirukan kata kata Zela.


" Ingat ya.. Kamu jaga diri baik baik.. Jangan nakal selama aku nggak ada.." Sambung Brayen membuat Zela sedikit tersenyum.


" Nggak akan nakal kalau Kak Ray cepet pulang.." Jawab Zela yang seperti masih enggan untuk membiarkan Brayen pergi.


" Pasti sayang..." Jawab Brayen singkat, lagi lagi mencium puncuk kepala Zela.


" I Love You Kak.." Ucap Zela kepada Brayen.


" I Love You too sayang..." Jawab Brayen kepada Zela.


Mereka akhirnya melepaskan pelukan 5 menit yang terasa hanya 5 detik saja, Brayen mengapus air mata Zela dengan pelan dan begitu terasa lembut oleh Zela.


Setelah itu Brayen mencium kening Zela cukup lama, membuat Zela lagi lagi memejamkan matanya untuk menikmati perlakuan juga sisa sisa waktu kebersmaan dengan orang yang paling di cintainya itu.


Setelah melepaskan ciumannya di kening Zela, Brayen mengelus perut Zela, lalu menciumnya juga.


Membuat orang orang yang berlalu lalng cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Brayen, pasalnya Zela masih menggunakan seragam SMA.


Berbeda dengan orang orang yang sudah mengerti pernikahan Zela dan Brayen, mereka akan mengangguk sambil tersenyum ke arah Brayen.


" Baik baik ya sayang.. Jagain Mommy selama Daddy pergi ya.." Ucap Brayen kepada calon anaknya yang masih berada di perut Zela.


Sekali lagi Brayen mencium perut Zela, lalu berdiri mencium kening Zela dengan lembut dan penuh kasih sayangnya.


Dan ini sungguh membuat Zela semakin tak kuasa saja menahan haru, membuat Zela benar benar tak sanggup melepaskan Brayen.


Sampai akhirnya Dimas dan supir mereka datang, ini saatnya untuk mereka benar benar harus berpisah.


Ingat hanya beberpa waktu saja.. Dan tolong bersabarlah..


Sampai nanti waktunya tiba Zela dan Brayen akan bertemu lagi.


Gimana gaes..?? belum pada galau kan..?? Sabar.. Next episode akan author bikin kalian galau sama kayak yang Zela dan Brayen rasain..


Tapi Like, Comment dan Vote dulu ya..


Ingat Vote ya.. Biar author semangat oke..??


Kalian jahat kalau nyuruh author cepet up tapi nggak Vote.. Ha..ha..ha..

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan 😘😘


__ADS_2