Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Yubi


__ADS_3

Zela dan Brayen kini sudah berada di mobil. Dengan persaan senang Zela terus tersenyum karena setelah perdebatan cukup sengit dan panjang tadi, akhirnya Brayen menyetujui untuk membelikannya kucing, meskipun dengan beberapa persyaratan yang Brayen tujukan untuknya, tapi tidak masalah untuk Zela, toh membelinya saja Zela sudah merasa senang.


Kucing berwarna abu-abu beserta kandangnya kini sudah berada di jok mobil Brayen, jahat memang Brayen meletakan kucing yang baru beberapa menit ini menjadi milik istrinya. Tapi itu salah satu persyaratan dari Brayen, bahwa Zela tidak boleh dekat-dekat dengan kucing yang baru di belinya itu.


" Kak." Panggil Zela kepada Brayen.


" Apa sayang?." Jawab Brayen membuat pipi Zela bersemu merah, meskipun sudah tidak ada kecanggungan di antara mereka tapi tetap saja jika Brayen bersikap romantis atau memanggilnya dengan sebutan " Sayang ", hati Zela masih saja berdebar.


" Gimana kalau kucing itu kita kasih nama?." Usul Zela yang hanya di angguki oleh Brayen.


" Emm siapa ya?." Ucap Zela sembari memikir nama yang cocok untuk kucingnya.


" Cebo." Jawab Brayen singkat membuat Zela menoleh ke arah Brayen.


" Nggak mau, nanti di ledekin cebok lagi sama yang lain pas main ke rumah." Jawab Zela membuat Brayen tersenyum.


" Zink aja gimana? Dia kan cowok." Usul Zela yang kembali di angguki oleh Brayen.


" Setuju, biar wangi terus kayak nama sampo." Jawab Brayen membuat Zela membrengut kesal.


Pasalnya Zela memang sedang tidak bercanda apa lagi iklan untuk produk orang lain.


" Nggak lucu ya." Jawab Zela dengan nada kesalnya.


" Emang nggak, yang lucu kan kamu yang." Jawab Brayen membuat Zela memanyukan bibirnya tapi kemudian tersenyum.


Sampai akhirnya mereka sudah sampai di depan rumah Zafano. Brayen segera turun dari mobilnya. Lalu dengan buru-buru dia menyuruh asisten rumah tangganya untuk mengangkut kucing yang sudah dia bawa ke rumahnya.


Zela masih berdiam diri di dalam mobil. Dia masih memikirkan nama yang pas untuk kucingnya.


" Sayang ayo turun." Ajak Brayen yang sudah membukakan pintu mobil Zela.


Zela menoleh ke arah Brayen tanpa expresi, membuat Brayen menghela nafasnya.


" Mau aku gendong?." Tawar Brayen karena tidak dapat tanggapan dari Zela.


" No." Jawab Zela singkat tapi juga masih anteng duduk di sebelah kemudi.


Brayen menatap Zela dengan gemas, lalu tanpa berkata lagi Brayen segera menggendong Zela yang sekarang sudah begitu terasa berat.


astaga... Gue nggak nyangka istri gue sekarang seberat karung isi beras gini Batin Brayen.


Dasar konyol Brayen, memangnya dia pernah mengangkat karung berisi beras? Jangankan karung belanjaan saja dia mau angkat jika belanjaan Zela.


Zela lebih berat dari karung isi berat kali Ray Haha..


" Yubi gimana yang?." Tanya Zela masih dengan pikirannya tentang nama kucingnya.


Brayen mengangguk, lalu mendudukan Zela di sofa ruang tengah. Tentu saja karena Zela yang sudah terasa begitu berat, rasanya Brayen tidak akan sanggup jika naik tangga sampai ke kamar mereka. Lagian Zela juga tidak meminta Brayen untuk itu.


" Eh... Kok udah sampai?." Tanya Zela terkejut karena dirinya yang sudah berada di dalam rumah.


" Kamu gendong aku yang?." Tanya Zela kepada Brayen.


" Enggak, tadi kamu terbang sendiri." Jawab Brayen membuat Zela tersenyum.


" Ih lucu deh Kak Ray." Jawab Zela yang tiba-tiba genit.


Mood Zela berubah baik lagi karena sudah menemukan nama yang cocok untui kucing mereka.


" Dimana Yubi?." Tanya Zela kepada Brayen.


" Di belakang deket taman, biar di situ aja ya yang? Aku nggak suka dia sampai main-main sama kamu." Jelas Brayen membuat Zela mengangguk dengan terpaksa.


" Harusnya kan beli dua Kak, biar Yubi ada temennya." Ucap Zela membuat Brayen menatapnya tidak percaya.


" Boleh dua atau bahkan 10." Jawab Brayen membuat mata Zela langsung berbinar senang.


" Tapi besok kalau anak-anak kita udah besar." Sambung Brayen membuat Zela membrengut kesal.


Anak-anak sudah besar itu kapan dan berapa tahun lagi, sedangkan satu saja sekarang belum lahir apa lagi untuk besar, sungguh memikirkan hal itu membuat Zela bertambah kesal sendiri dengan Brayen.

__ADS_1


Zela berlalu pergi meninggalkan Brayen yang masih duduk di sofa untuk menemui Yubi.


" Mau kemana yang?." Tanya Brayen melihat Zela yang sudah pergi.


" Nemuin Yubi." Jawab Zela tanpa menoleh ke arah Brayen.


Mendengar Zela yang akan menemui Yubi membuat Brayen langsung berdiri dan menghampiri istrinya, menurut Brayen dengan adanya Yubi malah akan membuat kesabaran Brayen menghadapi Zela yang sedang hamil saat ini semakin bertambah.


Awas aja Lo kucing kalau sampai bikin gue perang sama istri gue Batin Brayen konyol karena mengancam kucing yang tidak tau apa-apa itu.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Kini sudah sebulan lebih dari hari yang di janjikan untuk Zela melanjutkan pendidikannya dengan home schooling. Dan ini hari terakhir dia masuk ke sekolah. Bahkan Vera sudah lebih dulu berhenti masuk ke sekolah dan melanjutkan home schooling nya.


Usia kandungan Zela sudah memasuki 7 bulan lebih, atau lebih tepatnya 8 bulan jalan, perut Zela yang makin membesar membuatnya semakin kesusahan melakukan sesuatu, termasuk memakai seragam apa lagi sepatu sekolahnya.


Bahkan sering kali Brayen yang memakaikan sepatu sekolahnya. Dan itu sudah berlanjut dari beberapa minggu terakhir ini.


Tian sudah kembali ke New York seminggu yang lalu. Bahkan setelah kejadian di kamar mandi. Baik Tian ataupun Vani sudah tidak bertemu lagi, karena Vani yang selalu menolak ajakan Xelo jika mereka akan jalan bersama dengan adanya Tian.


" Kak Ray!!." Panggil Zela setengah berteriak.


" Ada apa sayang?." Jawab Bunda Wina yang baru saja ke luar dari arah dapur.


" Yubi Bun." Jawab Zela manja.


" Kenapa Yubi?." Tanya Bunda Wina menoleh ke arah kucing lucu Zela yang sedang duduk bersantai.


Bahkan Yubi semakin gendut dari terakhir dia membeli di Petshop. Yubi begitu menggemaskan.


" Yubi belum di kasih sarapan Bun." Jawab Zela membuat Bunda Wina menggelengkan kepalanya dengan senyuman manisnya.


" Biar Bunda panggiling Brayen ya, kamu tunggu di sini saja Nak." Jelas Bunda Wina yang di angguki oleh Zela.


Sejak kedatangan Yubi di rumahnya. Brayen jadi semakin sibuk, karena Zela hanya ingin yang memberi makan Yubi Brayen bukan asisten rumah tangga mereka. Awalnya Brayen menolak tapi karena tidak tega melihat Zela yang begitu meminta, akhirnya Brayen menyetujuinya dengan persyaratan Brayen hanya bertugas memberi makan saja tanpa memnersihkan kandang apa lagi memandikan Yubi.


Brayen dan Yubi seperti musuh dalam diam, karena Yubi selalu membuat repot Brayen dengan terus bersuara, jika Yubi bersuara Zela selalu meminta Brayen untuk memberinya makan, padahal Brayen tau jika Yubi ingin ke luar dari kandangnya, tapi sampai saat ini jika Zela sedang berada di dalam rumah Yubi tidak akan berada di luar kandang. Tetapi jika Zela sedang bersekolah atau ke luar. Yubi akan di keluarkan dari kandangnya.


" Kenapa sayang?." Tanya Brayen ketika sudah sampai di depan Zela.


" Yubi mau sarapan Kak." Jawab Zela membuat Brayen menghela nafasnya.


Pagi ini baru jam 5:45 tapi Zela sudah bangun dan langsung pergi ke kandang kucing kesayangannya. Meskipun tidak pernah bermain bersama tapi Zela cukup perhatian dengan Yubi sampai membuat Brayen yang repot.


" Yubi masih tidur yang, masih pagi ini." Jawab Brayen yang sebenarnya masih sedikit ngantuk dan malas untuk memberi makan kucing istrinya.


" Udah bangun kok, tuh dia udah melek gitu, tadi udah meow-meow minta sarapan." Jelas Zela kepada Brayen.


" Kucing ya memang gitu yang bunyinya, dia masih kenyang juga bakal meow-meow." Jawab Brayen membuat Zela menautkan alisnya.


" Yubi Kak jangan panggil dia kucing." Jelas Zela tidak terima jika Brayen menyebutnya Kucing bukan Yubi nama yang Zela berikan.


Padahal Yubi kan memang kucing, nggak ada yang salah dengan Brayen yang menyebutnya kucing, tapi begitulah Zela sekarang begitu menyayangi binatang peliharaannya meskipun tanpa menyentuhnya.


" Iya Yubi sayang...." Jawab Brayen dengan senyum yang di paksakan.


Membuat Zela tersenyum ke arah Brayen dengan manis.


" Senyum ke arah Yubi juga dong Kak." Pinta Zela membuat Brayen melotot tidak percaya.


Yubi benar-benar musuh terbesar Brayen, smeua gara-gara Yubi kucing menggemaskan yang menurut Brayen begitu mengesalkan.


Karena permintaan Zela tidak bisa Brayen tolak, akhirnya Brayen tersenyum ke arah Yubi yang sedang santainya duduk di kandangnya.


" Meow...." Satu kata yang Yubi katakan ketika Brayen tersenyum ke arahnya. Sungguh itu terdengar seperti ejekan dari Yubi untuk Brayen.


Padahal Brayen sendiri tadi yang bilang jika kucing ya memang bersuara seperti itu, satu kata untuk sejuta makna dalam bahasa kucing.


" Nah kan Yubi bilang Kak Ray ganteng karena udah senyumin dia." Jelas Zela membuat Brayen semakin gemas saja dengan istri cantiknya.


" Dia cuma sekali saja meownya, nggak mungkin yang muji aku sampai segitunya." Jelas Brayen membuat Zela terkikik.

__ADS_1


" Oh... Iya, berati Yubi bilang ganteng ke suamiku." Jelas Zela yang membuat hati Brayen luluh dan tidak lagi kesal.


" I know, kamu siap-siap dulu yang, besok bisa liatin Yubi sepuasnya, tapi ingat nggak boleh pegang kalau mau Yubi masih tetap di sini." Jelas Brayen yang langsung di angguki oleh Zela.


" Yubi aku sekolah dulu ya? Besok kita bisa main sepuasnya." Pamit Zela kepada Yubi.


" Meow." Jawab Yubi seakan mengerti apa yang Zela katakan, membuat Zela tersenyum dan berlalu pergi, tapi baru berapa langkah Zela kembali lagi.


" Ada yang lupa." Ucap Zela.


Cupp..


Zela mencium pipi Brayen sekilas, lalu sekarang benar-benar berjalan ke atas menuju kamarnya. Sedangkan Brayen menggelengkan kepalanya sembari menatap kepergian istrinya.


" Lo liat kan dia sayang Gue? Jadi Lo jangan coba-coba caper ma istri Gue." Ucap Brayen seperti memberi peringatan kepada Yubi.


Yubi menjawabnya dengan bersuara meow lagi, bahkan ternyata Brayen sama konyolnya dengan Zela yang mengajak Yubi berbicara, apa lagi Brayen sampai memberi peringatan kepada Yubi yang di rasa Brayen Yubi cukup mengancam dirinya dengan selalu cari perhatian kepada Zela.


" Kalau macam-macam Gue nggak akan kasih Lo makan lagi." Sambung Brayen lagi sembari memberi makanan untuk Yubi.


Dan lagi-lagi Yubi hanya menjawabnya dengan suara meownya lagi, sampai membuat beberapa asisten rumah tangga yang melihat tingkah Tuan mudanya ini terkikik geli.


Setelah selesai memberi makan Yubi, Brayen menuju ke kamarnya sebelumnya dia sudah cuci tangan terlebih dahulu di bawah.


Brayen membuka pintu kamar yang tidak di kunci, menampilkan Zela yang sedang memakai seragam sekolahnya. Bahkan seragam Zela sudah di ganti sampai beberapa kali karena perut Zela yang semakin hari semakin membesar.


" Yubi udah di kasih makan Kak?." Tanya Zela sembari berkaca pada cermin besar di depannya, membuat Brayen menghela nafasnya.


kucing si*lan sampai membuat istri gue bener-bener lupa akan gue, oke sabar ray Batin Brayen mengumpat kesal pada Yubi.


" Udah." Jawab Brayen singkat dengan nada yang juga sedikit tidak enak di dengar oleh Zela.


" Kak Ray kenapa?." Tanya Zela kepada Brayen.


" Nggak papa." Jawab Brayen singkat membuat Zela menjawabnya dengan hanya ber oh ria saja.


Sungguh Zela benar-benar tidak peka, baru juga dia tadi membuat Brayen sedikit senang dengam morning kiss yang Zela berikan di depan Yubi, tapi kembali ke mode yang membuat Brayen gemas dan ingin menerkam Zela.


" Aku mandi dulu yang, kamu tunggu di bawah." Suruh Brayen yang di jawab Zela dengan anggukan kepala tanpa menjawabnya.


Tapi baru juga Brayen akan membuka pintu kamar mandi. Brayen membalikan badannya dan menatap Zela yang masih berada di depan kaca.


" Yang." Panggil Brayen membuat Zela menoleh ke arah Brayen.


" Apa sayang?." Jawab Zela membuat Brayen tersenyum, pasalnya Zela mengatakan itu sama persis dengan apa yang dia ucapkan juga dengan nada suara yang sama.


Brayen mendekat ke arah Zela, lalu memeluk Zela dari arah belakang, wajahnya bersandap pada pundak Zela.


Sungguh pemandangan yang sangat indah jika fotografer yang melihatnya.


" Kamu lebih sayang aku apa Yubi?." Tanya Brayen yang sukses membuat Zela menautkan alisnya bingung.


" Maksud Kak Ray?." Tanya Zela dengan bingungnya.


" Ya kamu lebih sayang sama aku kan dari pada kucing itu?." Tanya Brayen membuat Zela sedikit kesal.


" Yubi Kak bukan kucing itu." Jelas Zela kepada Brayen.


" Iya si Yubi." Jawab Brayen membuat Zela tersenyum.


" Kak Ray jealuose sama Yubi?." Tanya Zela balik kepada Brayen.


" Hah jealuose.? Tanya Brayen yang di angguki oleh Zela.


" Nggak masuk akal yang." Jawab Brayen yang langsung mengelak.


" Emang enggak sih, tapi sikap Kak Ray aneh gitu, dan akan lebih aneh dan lucu kalau Kak Ray beneran jealuose sama Yubi." Jelas Zela kini sudah berbalik dan menatap Brayen.


Zela sengaja merangkul Brayen, dan tersenyum ke arah Brayen, membuat Brayen menatap Zela dengan seksama.


" Aku lebih suka Kak Ray, karena Kak Ray lebih buas dari Yubi." Bisik Zela yang membuat Brayen menatap Zela tidak percaya.

__ADS_1


Sedangkan Zela buru-buru melepas rangkulan tangannya dan pergi ke bawah. Sebelum Brayen melihat rona merah di pipinya, Zela akan malu karena berkata sedikit vulgar kepada suami tampannya.


__ADS_2