
Brak....
Xelo menjatuhkan benda pipih yang baru dipegangnya, bukan menjatuhkan lebih tepatnya membantingnya.
Benda pipih itu bukan miliknya, melainkan milik cowok SMa yang masih sama seperti tadi, dalam keadaan ketakutan, bahkan sekarang terlihat semakin ketakutkan.
Xelo mengepalkan tangannya erat, kemudian dia melihat ke arah Sandro yang masih terduduk simpuh sambil tertunduk.
Xelo baru tau kenapa Brayen sampe melakukan hal sejauh ini, bukan karena Pak Septa saja yang melakukan kesalahan di kantor Zafano.
Bahkan anaknya lebih parah dari Bapaknya, anak SMA yang terlihat cupu ini ternyata adalah cowok brengs*k.
Bahkan Xelo sendiri merasa emosi saat tau jika wajah Zela difotonya digunakan untuk hal hal yang tidak baik, Xelo cukup mengerti apa yang Brayen rasakan.
Tanpa Brayen dan Dimas mengecek isi ponselnya mereka sudah tau, jika isi ponsel Sandro hanya gambar gambar yang akan membuat Brayen khilaf benar benar membunuh Sandro saat ini juga.
" You Crazy..." Ucap Xelo sambil mencengkram dagu Sandro lalu segera menghempaskan dengan kasar.
Dimas masih diam, tapi dia menatap tajam Sandro yang masih tertunduk, ingin rasanya dia membanting Sandro kelantai bawah, mengingat sekarang mereka di lantai yang cukup tinggi, mungkin Sandro tinggalah nama jika Dimas benar benar melakukannya.
Berbeda dengan Brayen yang masih menatap pemandangan luar, setelah tadi memberi beberapa pesan kepada Zela tapi tak juga dibalasnya, Brayen tau jika istrinya sudah tertidur.
" Loe nggak bunuh aja ini anak kampret..?? " Tanya Xelo kepada Brayen.
" Zela lagi hamil.. Gue nggak boleh bunuh binatang apapun itu.." Jawab Brayen datar membuat Xelo menoleh ke arahnya dengan senyum seringai.
Begitu juga dengan Dimas yang ikut tersenyum licik.
Deg...
Zela hamil..batin Sandro begitu terkejut.
" Gue yang tanggung dosanya ray.. Loe nggak bisa biarin anj*ng seperti ini melecehkan Zela.." Ucap Xelo benar benar emosi.
" Sante Xel.. Brayen punya kejutan untuknya.." Jawab Dimas mencoba menenangkan Xelo.
Membuat Xelo mengerutkan keningnya, sedangkan Sandro yang mendengar penuturan Dimas semakin bringsut ketakutan.
" Kak maaf.. Aku kira Zela sim.." Omongan Sandro terputus karena tatapan tajam dari Brayen.
Membuat nyalinya menciut untuk meneruskan ucapannya.
Brayen mendekat ke arahnya, membuat Sandro semakin ingin mati saja, dia tidak lagi bisa mengembalikan keadaan seperti semula.
Sandro benar benar sudah membuat seorang Brayen Zafano marah besar, bukan marah lagi bahkan Brayen benar benar murka.
Meski terlihat tenang dibanding dengan Dimas, tapi sebenarnya Brayen sangatlah kejam, hanya saja sisi baiknya terkadang lemah melihat nasib keluarga yang terkena imbasnya hanya karena kesalahan satu seseorang didalam keluarga tersebut.
" Teruskan.." Suruh Brayen kepada Sandro.
Membuat Sandro benar benar kelu untuk mengucapkan kata kata, bahkan tangannya terus gemetar, tidak berani menatap Brayen yang sekarang berada di depannya.
" Loe denger nggak..??? Bentak Dimas kepada Sandro.
Membuat Sandro terjengat kaget karena bentakan Dimas.
" A...aku k...kira Zela sim..panan Ka..kak Ray.." Jelas Sandro tergagap juga dengan jantung yang berdebar, bahkan rasanya barusan dia seperti tidak sadar mengucapkan kata kata seperti itu karena saking takutnya.
Brayen tersenyum kecut, dia mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarahnya, lain halnya dengan Dimas dan Sandro yang sedikit terkejut dengan penuturan berani anak curut ini.
Benar benar membuat Singa jinak menjadi buas lagi pikir mereka.
" Kalau Zela simpanan gue, loe mau apa..??? " Tanya Brayen masih tenang tapi terdengar begitu menakutkan untuk Sandro.
Sandro hanya bisa menggeleng, tidak lagi berani menjawab, membuat Brayen kembali tersenyum miring.
" Dim.. Pastikan anak ini besok tidak lagi sekolah di SMA xxxx.. Suruh Pak Rendy untuk mengurus kepindahannya juga tempat tinggalnya.." Suruh Brayen kepada Dimas.
Kini Xelo yang mendengar penuturan Brayen begitu kaget, pasalnya menurut Xelo Brayen terlalu baik untuk cowok yang sudah melecehkan Zela, meskipun tidak secara langsung.
" Loe beruntung Brayen nggak bunuh loe.. Tapi gue yang bakal matahin tulang tulang loe.." Ucap Dimas penuh penekanan kepada Sandro.
Sandro hanya diam, ntah dia harus senang atau sedih karena tidak dapat amukan dari Brayen, hanya saja dia benar benar harus meninggalkan sekolah yang menjadi favorit semua siswa siswi dikotanya itu.
Bahkan dia terancam untuk pergi dari kota ini meninggalkan keluarga dan hidup sendiri dikota orang lain.
Dengan memberanikan diri Sandro berucap kepada Brayen.
" Kak ray.. Terimakasih banyak sudah memafkan saya.." Ucap Sandro gugup.
" Gue nggak maafin loe.. Gue bisa saja menjarain loe kapan saja, gue hanya menghargai ibu loe.." Jawab Brayen dan kini benar benar berlalu.
" Loe berani coba ganggu Zela lagi.. Gue bakal matahin tulang tulang loe..." Ancam Dimas yang juga pergi dan berlalu.
Sedangkan Xelo hanya menatap tajam dan menyusl Brayen dan Dimas untuk pergi, tapi sebelumnya dia kembali menatap Sandro tajam dan memukul tembok, membuat Sandro bergidik ngeri.
__ADS_1
Tapi Sandro sangat bersyukur Brayen masih begitu baik kepadanya, Kini dia hanya bisa pasrah dengan nasibnya.
Sandro memungut Benda pipih yang sudah remuk, hancur, bahkan terlihat seperti rongsokan dan tak bisa lagi digunakan, Sandro menghela nafas panjangnya.
Malam sudah semakin larut, dengan rasa yang masih ketakutan, Sandro memutuskan untuk pulang dan menanyakan kepada Bapaknya.
Ada hubungan apa antara Brayen dan Zela..?? Sandro masih penasaran akan hal itu, mungkin Bapaknya tau pikir Sandro.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Dengan rasa yang begitu melelahkan Brayen melajukan mobilnya, diperjalan tengah tengah kota untuk menuju kerumah martuanya, dimana sekarang Zela sedang tidur tanpa dirinya.
Jalanan yang sudah cukup sepi, meskipun masih ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang, tapi seakan membuat pikirannya tak bisa lepas dari istri cantiknya.
Meskipun dalam keadaan lelah, masih saja Brayen terlihat tampan, jika saja Zela berada disisinya saat ini mungkin ceritanya akan berbeda.
Zela pasti akan selalu terpesona dengan wajah rupawan yang Brayen miliki, memang benar jika dia adalah idola, bahkan bukan hanya Idola Kampus maupun sekolah Zela.
Tapi juga Idola dihati Zela, superhero untuk Zela, sudah menyelamatkan Zela dari monster bringas yang akan memakan Zela, meskipun tanpa Zela tau dan memang itu sudah kewajiban Brayen sebagai suami Zela untuk melindunginya.
Tapi jika Zela tau, sudah dipastikan Zela akan menganggap Brayen sebagai superheronya.
Keren bukan..??
Ya begitulah Brayen, selain tampan , datar dan cuek sikapnya juga penuh kejutan.
Mobil Brayen sampai dipelataran rumah megah keluarga Adafsi, dengan rasa yang lelah juga kantuk, Brayen turun dari mobilnya.
Terlihat asing dengan mobil yang terparkir rapih di teras rumah, Brayen ingin menanyakan kepada satpam, tapi dia urungkan.
Brayen masuk kedalam tanpa tau jika diruang tv ada seseorang yang sedang beronda tapi juga tertidur disana.
Brayen terus melangkah ke atas sampai kedepan kamar Zela, dia membuka pintu dengan pelan, terlihat Zela yang sudah tertidur dengan pulas, dengan keadaan yang meringkuk.
Sangat manis pikir Brayen.
Brayen menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, sebelum akhirnya ikut bergabung untuk kealam mimpi disebelah Zela.
Mencium kening Zela, mencium perut Zela lalu mengelus pelan perut Zela.
" Baik baik son..." Ucap Brayen kepada calon anaknya yang masih berada di perut rata Zela.
Sering sekali Brayen mengatakan itu kepada calon anaknya, dia benar benar tidak sabar ingin bertemu dengan jagoan kecilnya nanti.
Jagoan kecil yang sangat dia nantikan juga keluarganya, tentu saja akan merubah hidupnya dan juga Zela nantinya.
Tentu saja jika Zela sudah bersedia, Brayen tidak ingin lagi jika istri cantiknya dipandang oleh cowok brengsek seperti Sandro.
Tidak ingin lagi sampe kejadian seperti yang Sandro lakukan terulang lagi.
Matahari menampakan sinarnya, menembus celah jendelan dikamar Zela.
Zela mengerjap ngerjapkan matanya, terasa sedikit berat dan tak leluasa.
Ditengoknya seseorang yang masih tertidur dibelakangnya sambil memeluk Zela.
Zela tersenyum, ternyata Brayen berada disisinya, bahkan Zela sendiri tidak tau jam berapa Brayen pulang.
Zela menggeser posisinya untuk menatap suami tampannya yang masih terlelap.
Akh... Selalu saja Zela jadi terpesona oleh wajah rupawan Brayen, wajah yang membuat para gadis terpesona, bahkan bermimpi untuk memiliki juga menyentuhnya.
Membuat Zela tanpa sadar menyentuh lembut pipi Brayen, mengusapnya dan membuat dia tersenyum sendiri.
Brayen yang mendapat sentuhan dari Zela membuka matanya, tersenyum tampan untuk istri cantiknya.
" Morning..." Ucap Brayen kepada Zela dengan senyuman mautnya.
" Morning too.." Jawab Zela juga dengan senyum manisnya.
Cup...
Brayen mengecup bibir Zela sekilas, lalu kembali menatap Zela, menikmati wajah ayu pada istrinya.
Seharusnya bukan hanya dirinya yang menjdi Idola, tapi Istrinya juga.. Zela begitu cantik dan menawan untuk Brayen, apa lagi untuk para lelaki diluar sana.
Akh... shit... Brayen baru ingat jika Zela memang idola, bahkan kedua sahabatnya pernah memiliki rasa untuk Zela, membuat Brayen tersenyum senang, karena pada akhirnya dia yang mendapatkan bidadari cantik ini.
Tidak ada yang bisa mengalahkan seorang Idola seperti Brayen Zafano.
Zela yang melihat Brayen tersenyum aneh menjadi bingung.
" Kenapa..?? Ada yang aneh..??? Tanya Zela kepada Brayen sambil meraba wajahnya, takut jika mungkin ada kotoran diujung matanya.
Atau kotoran kecil yang berada dihidung, akh konyol memang pemikiran Zela saat ini.
__ADS_1
Brayen hanya menggeleng masih dengan tersenyum membuat Zela semakin merasa aneh dengan sikap suaminya.
" Thanks yang.. Udah mau hidup denganku.." Bisik Brayen kepada Zela.
Membuat Zela merasa sensasi yang berbeda, pasalnya suara Brayen begitu terdengar sexy, bahkan hembusan nafasnya begitu terasa di kulit Zela.
Membuat Zela meremang, lagi lagi seperti sengatan listrik yang membuat Zela terpana hanya dengan kata kata manis Brayen.
Tapi sungguh Zela sangat senang diperlakukan Brayen seperti ini.
Zela hanya mengangguk sambil tersenyum sekilas, lalu menatap Brayen kembali, tatapan mereka yang kembali bertemu.
Zela memejamkan matanya saat Brayen semakin mendekatkan bibirnya untuk menyentuh bibir ranum itu.
Pagi ini Brayen benar benar sudah membuat Zela melayang, melayang dengan hangatnya sentuhan Brayen, melayang dengan cinta yang Brayen berikan untuknya.
Saat mereka sedang menikmati cumbu*an satu sama lain, tiba tiba pintu kamar terbuka, membuat keduanya terkejut juga langsung melepaskan ciuman mereka.
Astaga... Selalu saja tledor mereka, jika ingin melakukan hal yang dilakukan oleh orang dewasa setidaknya jangan lupa untuk mengunci pintu, tapi tentu saja baik Zela maupun Brayen sudah tidak ingat akan hal itu.
Mereka sama sama terbuai oleh kehangatan juga kenikmatan yang mereka berikan satu sama lain.
" Astaga dek.." Ucap Zifa ketika melihat pemandangan di pagi hari yang membuat dirinya ingin langsung menerkam Jova.
Tentu saja hal seperti yang Brayen dan Zela lakukan bisa saja Zifa lakukan saat ini, mengingat Jova yang masih berada di rumahnya, bahkan Jova sudah menunggu mereka untuk sarapan pagi bersama.
Zela tersenyum kikuk, sedangkan Brayen hanya bersikap biasa, akh.. Hanya sebatas ciuman menurut Brayen tidak masalah, lagi pula Brayen dan Zela ini suami istri, mereka bisa melakukan apa saja hanya saja harus berhati hati agar tidak lagi kepergok oleh siapapun itu.
" Sarapan dulu... Lanjutin ntar bisa kan..??? Goda Zifa kepada mereka sambil tersenyum jail.
" Kak Zifa....!!! " Teriak Zela kesal sambil melempar bantalnya ke arah pintu, tapi tentu saja Zifa sudah kabur terlebih dulu sebelum Zela mengamuk.
Kini tinggalah mereka berdua dikamar, Zela tampak canggung dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Brayen masih bersikap biasa, Brayen menatap Zela dengan senyum jail.
Zela tampak manis ketika salah tingkah seperti sekarang ini, sungguh menggemaskan pikir Brayen.
" Ayo kebawah..." Ajak Brayen dengan senyum tampannya.
Zela hanya mengangguk sambil tersenyum, mereka menuju kebawah untuk sarapan, tentu saja masih dengan sama sama muka bantalnya.
Bahkan mungkin nanti setelah sarapan mereka harus mandi bersama untuk menyingkat waktu.
Sampai di meja makan, sudah ada Zifa dan Jova yang terlihat sudah rapih.
" Kak Jova..." Ucap Brayen sedikit bingung dengan adanya Jova.
" Hallo Ray..." Jawab Jova sambil bersalaman kepada Brayen ala lelaki gantle.
Brayen mengangguk mengerti dengan mobil yang tadi malam dilihatnya didepan.
" Kenapa kak..?? Tanya Zela kepada Brayen.
" Jadi tadi malam Kak Jova nginep disini..??? Tanya Brayen memastikan, Zela mengangguk.
" Iya tadi malam gue harus bertugas jaga dua bidadari, ya.. Sekali kali jadi satpam it's oke lah.." Jawab Jova dengan candaan.
Membuat Brayen tersenyum senang, begitu juga dengan Zela dan Zifa.
" Satpamnya Kak Zifa kali... Gue ma dikamar ya.." Jawab Zela mengelak, tapi tentu saja hanya sebuah candaan.
" Ish.. Nggak ngehargai banget loe dek ma usaha gue... Lagian yang bikin kencan kita batal siapa...??." Tanya Jova membuat semua tertawa.
" Ha..ha..ha.. Iya deh.. Sorry kakak ipar.." Jawab Zela membuat Zifa sedikit malu tapi juga senang.
Akh rasanya Zifa ingin cepat cepat menikah dengan lelaki tampan yang sudah bisa mengambil hatinya juga keluarganya.
" Tadi malam Kak Jova juga beliin aku coklat yang.. Thanks kak Jova.." Sambung Zela kepada Brayen, juga mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Jova.
Jova mengacungkan jempolnya karena dia sudah mulai memakan sarapannya.
" Benarkah..??? " Tanya Brayen yang dianggukin oleh Zela.
" Tadi malam nih anak nangis ray.. Gila nggak kayak mau ditinggal lama aja ma loe.." Sambung Zifa menjelaskan membuat Zela melotot ke arah Zifa.
" Beneran yang.. Sampe nangis..?? Tanya Brayen tak percaya kepada Zela, membuat Zela mengangguk pelan dengan rasa sedikit malu.
Brayen tersenyum senang, menatap Zela juga mengacak rambut Zela gemas.
" Nanti aku kasih surprise yang.." Bisik Brayen kepada Zela.
Membuat Zela terkejut tapi juga tersenyum manis kepada Brayen.
Senyuman yang begitu teduh dan hangat, membuat Brayen ingin cepat cepat menyelesaikan sarapannya dan kembali keatas, ke kamar untuk memberi istrinya tenaga.
Padahal Brayen sendiri sebenarnya yang ingin sekali mengisi tenaga, tenaga cinta untuk dirinya, setelah tadi malam yang Brayen lalui begitu menguras pikiran dan hatinya.
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Comment dan Vote ya kak
Please... Vote kak.. Biar author semangat buat up setiap harinya sampe happy ending nanti.. 😊😊🙏🙏