
Zifa kini ikutan duduk bersama ketiga gadis cantik SMA itu, siapa lagi kalau bukan Zela, Seli dan juga Vani.
Zifa menghembuskan nafas panjangnya pelan, lalu menggenggam tangan Zela, membuat Zela menatap Zifa dengan tatapan seperti meminta penjelasan.
Begitu juga dengan Seli dan Vani yang masih setia menemani Zela.
" Ada apa Kak..?? " Tanya Zela yang sudah sangat penasaran, membuat Zifa tersenyum kepada Zela.
" Dengerin Kakak ya Dek... Loe harus hati hati dari sekarang.. Terutama kalau loe ketemu sama temen kampus Kakak.." Ucap Zifa membuat Zela mengernyitkan keningnya.
Tapi Zela segera mengerti apa yang dimaksud oleh Kakanya, siapa lagi kalau bukan Misha, ya temen kampus yang dimaksud Zifa ialah Misha.
Memang siapa lagi yang berani membuat Zifa secemas ini terhadap adiknya Zela.
" Sorry ya Kak.. Apa yang Kakak maksud itu Kak Misha..?? " Tanya Zela meyakinkan dirinya.
Sontak saja membuat Seli dan Vani saling pandang dengan diamnya, tapi menurut mereka berdua ada benarnya jika Mishalah yang harus Zela khawatirkan, atau lebih tepatnya Zela harus lebih hati hati.
Mengingat apa yang sudah pernah Misha lakukan, juga Misha yang begitu menginginkan Brayen.
" Zel loe nggak usah takut, jangan jadi beban pikiran juga.. Kakak hanya menyarankan agar loe lebih hati hati..." Jawab Zifa masih dengan menggenggam tangan Zela.
Zela mengangguk juga tersenyum, Zela bersyukur jika sekarang Zifa benar benar sudah menjadi sosok Kakak yang begitu baik padanya.
" Kak Zifa tenang aja.. Gue pasti hati hati kok..." Jawab Zela mantab, membuat Zifa kembali tersenyum ke arahnya.
" Sel...Van.. Tolong titip Zela ya.. Jagain adek gue.." Ucap Zifa dengan senyum manisnya kepada Seli dan Vani.
" Siap Kak Zifa..." Jawab Seli dan Vani barengan.
Setelah apa yang Zifa katakan kepada Zea cukup, Zifa kembali ke kampusnya.
Sebenarnya masih ada beberapa hal yang ingin Zifa katakan, tapi mengingat Zela yang sedang mengandung, Zifa mengurungkan niatnya, Zifa tidak ingin Zela jadi banyak pikiran.
Merepotkan memang mempunya suami yang di gilai banyak wanita pikir Zifa.
Sedangkan Zela, Seli dan juga Vani kembali menuju kelas mereka, karena sedari tadi bel masuk juga sudah berbunyi, hampir saja mereka telat, untung saja mereka memasuki kelas lebih dulu dari Gurunya.
Ketiga gadis cantik itu kini sedang berjalan di lorong kelas, melewati kelas yang lain juga teman teman sekolah yang sudah keluar dari kelasnya.
Siang ini cukup panas memang, matahari begitu terik, membuat orang orang yang tidak berada di ruangan ber AC sudah pasti merasa gerah, bahkan saking gerahnya, Zela dan Seli sampai rebutan kipas mini Vani.
Dan itu sukses membuat Vani terkikik melihat tingkah konyol keduanya.
" Zela ikh... Gue juga gerah tau.. Gantian napa.. Loe mau gue buka baju disini.." Ucap Vani yang sudah tidak tahan dengan panasnya.
" Ya udah buka aja napa Van.. Gue juga nggak tahan.. Ampun deh ini panasnya.." Jawab Zela yang masih setia dengan kipas Vani ditangannya.
" Kita balik kelas aja yuk lumayan numpang AC gratis.." Usul Seli yang juga sama seperti mereka merasa kepanasan.
" Ogah..." Jawab Zela dan Vani kompak, membuat Seli mengerucutkan bibirnya kesal.
" Kalau nggak mau.. Ya ayo cepetan jalannya kita ngadem dulu di mobil.." Usul Seli yang seketika membuat Zela dan Vani terbengong, lalu tanpa kata berlari menuju parkiran meninggalkan Seli yang juga masih terbengong melihat kepergian mereka.
" Huffh.. Kebiasaan deh main kabur aja..." Gumam Seli, lalu berjalan untuk menghampiri kedua sahabatnya yang sudah lebih dulu pergi.
Saat Seli hampir sampai parkiran sekolah, tangan kekar menariknya, tentu saja Seli sangat terkejut, Seli menoleh ke arah seseorang yang menarik tangannya.
Tapi sayang Selii tidak bisa dengan jelas melihat wajahnya, karena ia memakai masker juga topi, yang Seli tau jika seseorang ini adalah pria, tapi siapa...???
Seli terus ditarik tangannya menuju ketoilet, sangat disayangkan juga jika aksi lelaki tersebut sama sekali tidak dilihat siswa siswi yang lain.
Seli mencoba untuk memberontak, tapi mulutnya sudah dibekam olehnya, membuat Seli dan cowok itu akhirnya sampai di toilet.
" Emmmm........" Ucap Selu mencoba memberontak, membuat cowok itu akhirnya melepaskan bekamannya di mulut Seli.
" Too...." Teriak Seli yang langsung kembali dibekam olehnya.
Tangan cowok itu gemetar, dan Seli bisa merasakan itu, jujur saja Seli juga merasa takut tapi dia juga sangat ingin tau siapa sebenarnya cowok yang dihadapannya ini, rasa penasaran Seli sangatlah tinggi dari rasa takutnya.
Cowok itu menatap Selu tajam, tapi dapat dilihat dari sorot matanya, jika cowok itu seperti menginginkan sesuatu, ntah itu Seli sendiri belum mengerti.
Dengan pelan cowok itu melepaskan bungkamannya lagi dari mulut Seli, kali ini Seli tidak lagi ingin berteriak, dia juga menatap cowok itu dengan seksama.
" Siapa loe..?? " Tanya Seli pelan kepada cowok didepannya.
Dengan pelan, dia membuka topinya, lalu membuka masker yang dipakenya, membuat seketika mata Seli melotot dengan tajam.
Cowok ini..batin Seli.
" Apa yang loe inginkan..??? " Tanya Seli dengan volume naik satu oktaf.
Sontak saja membuat cowok itu kembali membekam mulut Seli.
Tapi kemudian melepaskannya lagi.
" Please.. Bantuin gue.." Ucap cowok itu memohon kepada Seli, membuat Seli mengernyitkan keningnya.
" Bantuin..?? Maksud loe..?? " Tanya Seli dengan bingungnya.
" Gu.... Gue pengen ketemu Zela..." Jawab Cowok itu dengan nada gemetar.
__ADS_1
Sungguh untuk mengucapkan nama seseorang yang sangat dia inginkan, membuat hatinya bergejolak, rasa bersalah dan penyesalan yang begitu dalam sangat dia rasakan sekarang.
" Loe..?? Ketemu Zela..?? Untuk apa..??? Tanya Seli masih dengan bingungnya.
" Gu..gue..." Ucap cowok itu menggantung karena ponsel Seli yang sudah berbunyi.
Seli melirik ponselnya, panggilan dari Vani yang menghubunginya, dan Seli tau jika kedua sahabatnya sekarang sedang menunggunya.
Tapi dengan segera cowok itu merebut ponsel Seli, sebelum Seli sempat mengangkatnya.
" Apa sebenarnya mau loe..?? " Tanya Seli sekali lagi, karena merasa tidak yakin dengan jawaban cowok di depannya.
" Gue cuma mau ketemu Zela... Untuk yang terakhir kalinya... Setelah itu.. Gue nggak akan muncul lagi dihadapan kalian.." Jelas cowok itu, membuat Seli terdiam.
Ya dia adalah Sandro, tadinya dia berniat untuk menemui Zela, tapi melihat Zela dan Vani berlari meninggalkan Seli, membuat muncul ide diotaknya untuk meminta bantuan kepada Seli.
Karena jika Sandro menemui Zela secara langsung, Sandro sendiri masih bingung dan tak yakin, tapi mengingat besok dia sudah berangkan ke New York, membuat dirinya harus menemui Zela terlebih dahulu.
Sandro ingin meminta maaf atas apa yang dilakukannya kepada Zela, meskipun dia tidak berniat untuk menceritakan apa yang sudah dilakukannya kepada Zela.
" Oke... Gue bakal kasih kesempatan buat loe ketemu sama Zela, tapi tolong jangan lakukan hal yang akan membuat orang rugi nantinya.." Jelas Seli yang mulai mengerti dengan tujuan Sandro.
Sandro langsung mengangguk dengan ucapan Seli.
" Baik.. Gue janji.. Thanks sebelumnya..." Jawab Sandro dengan senyum yang ntah kenapa membuat Seli bergidik ngeri.
Sandro kembali memakai topi dan maskernya, kemudian dengn perlahan, dia membuka pintu toilet.
Sandro berjalan keluar diikut Seli, dan sekarang Seli berjalan terlebih dahulu dengan Sandro di belakang Seli, mengikutinya menuju parkiran Sekolah.
Baru Selu melangkahkan kakinya menuju parkiran, terlihat Vani yang sudah berjalan menghampirinya.
Tadinya baik Zela dan Vani sama sama khawatir dengan Seli yang tidak kunjung menyusul mereka.
" Sel.. Loe dari mana aja.. Kita khwatir tau..??" Tanya Vani yang masih tidak sadar jika di belakang Seli ada seseorang.
" Sorry gue tadi ada perlu..." Jawab Seli pelan, membuat Vani akhirnya menyadari dengan cowok yang berdiri dan menunduk di belakang Seli.
" Loe.. Sama siapa..?? " Tanya Vani menyelidik.
" Nanti gue ceritain.., Zela masih dimobil kan..?? " Tanya Seli seketika membuat Vani mengingat Zela yang tadi sempat mengeluhkan sakit di perutnya.
" Akh.. Iya.. Ayo kita segera kemobil.." Jawab Vani langsung menarik tangan Seli, diikuti Sandro yang juga merasa cemas mendengar Zela sakit diperutnya.
Sampai dimobil, Zela terlihat sangat pucat, dan itu sukses membuat kedua sahabatnya semakin panik sampe tidak bisa berfikir jernih.
Begitu juga dengan Sandro yang merasa khawatir melihat keadaan Zela, tapi baik Zela maupun Vani masih tidak tau cowok yang dibawa oleh Seli itu.
" Gue nggak papa kok.. Loe lama banget sih Sel..." Jawab Zela masih mencoba untuk biasa saja.
" Kenapa loe nggak telp Kak Ray apa Bunda atau Mamah Hana gitu..??" Kesal Seli kepada Vani.
" Tadi gue mau telp, tapi Zela mencegahnya..." Jawab Vani merasa bersalah.
" Akh... Sudah kita kerumah sakit dulu..." Ajak Seli frustasi.
" No..." Jawab Zela cepat membuat Seli dan Vani menatap Zela diam.
" Tunggu apa lagi ayo..." Ajak Sandro yang sukses membuat Zela menoleh ke arahnya.
" Dia..?? Siapa..?? " Tanya Zela dengan bingung dan juga suara lemah.
Tak lama Zela sudah tidak sadarkan diri, membuat Seli dan Vani kalang kabut karena begitu kalut.
Dengan cepat Sandro menuju kekemudi, membuat Seli dan Vani saling pandang bingung.
" Girls buruan.. Sepertinya Zela dehidarasi.. Kita harus bawa dia keklinik terdekat.." Jelas Sandro membuat Seli dan Vani mau tidak mau langsung menurutinya.
Sandro yang mengemudi mobil Seli, sedangkan ketiga gadis cantik itu berada di belakang dengan keadaan menopang badan Zela, karena sudah tidak sadarkan diri.
" Akh... Shitt.... Kenapa juga sih.. Nggak ada minuman di mobil gue.." Kesal Seli merutuki dirinya yang tidak menyiapkan minuman botol di dalam mobilnya.
" Iya.. Tumben banget sih.. Biasanya juga ada..." Jawab Vani kepada Seli.
" Mungkin ini suatu kebetulan.." Ucap Sandro dari depan.
Tentu saja Seli dan Vani saling pandang diam, tapi mereka juga tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Sandro.
Mereka sampai diklinio terdekat, tentu saja dengan Sandro yang mengemudi mobil dengan skill tinggi.
Jam segini dimana jalanan begitu padat dengan kendaraan, tapi melihat Zela yang terkulai lemas sungguh membuat Sandro mampu mengemudikan mobil dengan keahlian yang begitu tinggi.
Sandro memarkiran mobilnya di depan klinik, lalu dengan cepat dia menuju ke belakang dimana ada Zela, Seli dan juga Vani.
Terlihat Seli dan Vani yang begitu kewalahan mengangkat Zela.
" Biar gue bantu.." Ucap Sandro membuat Seli dan Vani langsung mengiyakan.
Tentu saja karena keadaan yang begitu darurat, jika saja tidak dalam keadaan seperti ini, tentu saja mereka tidak akan menyetujuinya.
Dengan segera Sandro mengangkat Zela menuju kedalam, diikuti Seli dan Vani dari belakang.
__ADS_1
Kini Seli, Vani dan juga Sandro berada di depan ruangan, dimana Zela sedang ditangani.
Sedari tadi Seli dan Vani terus mondar mandir karena cemas, sedangkan Sandro duduk dengan kedua tangan yang menyangga dahinya.
" Gue telp Kak Ray dulu deh.. Bisa gawat ini.." Ucap Vani tiba tiba mengusulkan.
Membuat Seli terdiam, kemudian menoleh ke arah Sandro yang sudah menatap Vani.
" Jangan dulu deh Van.. Kita harap nggak terjadi hal yang serius sama Zela.." Jawab Seli membuat Vani mengernyitkan keningnya.
Sedangkan Sandro sedikit bernafas lega karenanya.
" Tapi kalau sampe Zela kenapa napa gimana..?? Gue takut Sel.. Gue takut Zela kenapa napa..." Jelas Vani yang sudah mulai sesenggukan.
" Percaya Van.. Semua akan baik baik saja.." Jawab Seli sambil menepuk pundak Vani yang sudah mulai sesenggukan di pelukan Seli.
Tidak lama Bidan di klinik itu keluar, dengan segera Seli dan Vani langsung menghampiri Bidan tersebut, begitu juga dengan Sandro yang langsung berdiri dari duduknya.
" Bu.. Bagaimana keadaan teman kita..?? Tanya Seli kepada Ibu bidannya.
Ibu Bidan itu menatap Seli dan Vani, kemudian menatap Sandro yang merupakan lelaki satu satunya di antara mereka.
" Temen kalian tidak apa apa.. Dia hanya butuh energi saja, dan juga cairan..." Jawab Bidan itu sopan.
" Apa kalian masih sekolah..?? Tanya Bidan itu yang dijawab langsung oleh Seli dan Vani dengan anggukan kepala.
" Apakah kalian tau, jika teman kalian sedang mengandung..?? Tanya Bidan itu lagi.
Kembali Seli dan Vani mengangguk bersamaan, membut Bidan itu menarik nafasnya panjang.
" Apa dia suaminya..?? " Tanya Bidan itu yang langsung membuat Seli dan Vani menoleh ke arah Sandro.
Kembali Seli dan Vani menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.
Membuat Bidan itu berfikir jika Zela hamil diluar nikah, tapi dengan segera Vani langsung menjelaskan kepada Bidan itu tentang Zela.
" Bu.. Teman kita yang di dalam itu, istri dari Brayen Zafano, menantu dari Pak Riko Zafano.. Apa Ibu pernah mendengarnya..?? Jelas Vani membuat Bidan itu terkejut.
" Astaga.. Jadi yang didalam itu.. Azela..?? Tanya Bidan itu yang baru sadar jika siswi cantik yang baru saja ia tangani itu, adalah siswi yang sedang menjadi perbincangan hangat dikalangan berita.
Kembali Seli dan Vani mengangguk bersamaan.
" Tolong jangan kasih tau siapa siapa dulu ya Bu.. Ini permintaan Zela sendiri..." Jelas Vani kepada Bidan tersebut.
" Baik.. Saya tau.. Kalau begitu silahkan kalian temui teman kalian.. Saya permisi dulu..." Jelas Bidan itu lalu pergi.
Membuat Seli dan Vani langsung masuk kedalam untuk menemui Zela, tanpa menghiraukan Sandro tentunya.
Sedangkan Sandro masih berdiam diri ditempatnya, Sandro bingung ntah apa yang akan dia lakukan sekarang.
" Zela....!! " Teriak Vani girang melihat Zela yang sudah sadar dari pingsannya.
Hampir saja Vani ngakak melihat pemandangan yang begitu konyol menurutnya, pasalnya Zela sedang disuapi oleh seseorang yang merupakan pegawai klinik tersebut.
" Sorry.. Udah bikin kalian khawatir.." Ucap Zela merasa tidak enak kepada kedua sahabatnya.
" Nggak papa lagi Zel.. Tapi sumpah ya tadi gue hampir pingsan juga gara gara loe.." Kesal Vani kepada Zela, membuat Zela hanya tertawa renyah menanggapinya.
" Loe udah baikan kan..?? Tanya Seli memastikan.
" Seperti yang loe liat.." Jawab Zela dengan senyum mengembang.
" Loe nggak diinfus Zel..?? " Tanya Vani melihat Zela yang hanya sedang disuapi oleh pegawai klinik juga dengan beberapa minuman.
" Nggak lah.. Gue tadi cuma kelaperan sama kurang minum aja.. Tapi kata Bidannya nggak diinfus juga nggak papa asal banyak minum.." Jelas Zela membuat Seli dan Vani mengangguk mengerti.
" Malu maluin banget loe.. Istri Brayen Zafano sampe kelaperan..." Ledek Vani membuat Zela dan Seli juga tertawa.
Begitu juga dengan pegawai yang sedang menyuapi Zela ikut tertawa mendengar celotehan Cewek cewek cantik di depannya.
" Btw... Yang tadi itu siapa..?? " Tanya Zela tiba tiba membuat Seli teringat dengan Sandro yang masih menunggu di depan.
Juga meminta bantuan kepadanya untuk bertemu dengan Zela terakhir kali, tentunya sebelum Sandro di depak oleh Brayen ke negri orang.
Begitu juga dengan Vani yang tadi tidak memperhatikan juga menanyakan kepada Seli tentang cowok yang ikut dengan mereka, tentu saja karena Vani sudah begitu cemas akan keadaan Zela, yang ternyat karena kelaperan.
Padahal Zela tidaklah pernah telad makan, atau kekurangan makan, tapi ya begitulah ibu hamil bentar bentar bentar merasa lapar, meskipun usia kandungan Zela yang dibilang masih cukup muda.
Dan jangan lupakan juga karena ketelmian Vani sampai dia melupakan cowok yang Seli bawa...
Bagaiman kisah selanjutnya..?? Akankah Sandro benar benar menemui Zela tanpa sepengetahuan Brayen..??
Ataukah Sandro akan pergi begitu saja sebelum menemui Zela terlebih dahulu...
Di tunggu next episodenya..
Tapi jangan Lupa buat Like, Comment and Vote..
Vote Vote Vote...
Kasih rating juga dong Kak biar author juga semangat..
__ADS_1
Big Thanks.. 🙏🙏😘😘