
Setelah mengembalikan Arshaka pada Bunda Wina, Brayen dan kedua sahabatnya langsung mencari keberadaan Zela dan juga kedua sahabatnya.
Sedangkan Tian memilih untuk menuju ke hotel Zafano untuk beristirahat.
Brayen semakin panik karena Zela belum juga bisa di hubungi, dia tidak bisa untuk melihat lokasi istrinya sekarang ini.
" Kacau, kacau, kacau!!" Ucap Xelo kesal, dia masih terus berusaha mengubungi Vani.
Tapi hasilnya nihil, sama seperti Brayen, mereka sama-sama frustasi mencari keberadaan tiga bidadari cantik yang ntah nyasar kemana karena naik angkot.
" Bunda tau Ray kalau bini Lo ilang?." Tanya Xelo yang langsung mendapat gelengan kepala dari Brayen.
" Mati lah kita kalau Bunda Wina sampai tau." Jawab Dimas sembari fokus menyetir mobil.
" Lo kok nggak panik Dim si Seli ilang?." Tanya Xelo melihat Dimas yang tampak tenang dan fokus dengan jalanan.
" Bege, kalau Gue panik kita nggak akan ketemu mereka lagi, masih ilang gini harus di cari sampai ketemu dulu." Jawab Dimas yang dapat cengiran dari Xelo, tapi kemudian wajah Xelo kembali tegang dan panik menatap layar ponselnya yang belum ada tanda-tanda Vani menghubunginya.
Brayen masih terus berusaha menghubungi Zela, tapi masih sama Zela tidak bisa di hubungi.
Sampai akhirnya ponsel Brayen berbunyi, Tian menghubungi Brayen untuk memberikan informasi yang sangat Brayen dan kedua sahabatnya butuhkan saat ini.
Sedangkan kini di hotel Zafano. Zela, Seli, dan Vani sedang makan di restoran hotel. Mereka makan sore karena tadi siang memang belum sempat makan, tentu saja karena ketiga gadis cantik itu menunggu Brayen CS yang tidak kunjung datang dan memberi kabar.
Mereka sudah berganti baju, bahkan tadi juga sudah sempat tidur meski hanya satu jam saja, tapi itu sudah cukup bagi mereka untuk istirahat.
" Zel, Sel, Gue kangen sama Kak Xelo." Ucap Vani seraya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
" Ya udah sana Lo temuin Kak Xelo." Suruh Seli membuat Vani mengembungkan pipinya.
" Bukan itu maksud Gue, Gue tuh kangen tapi masih malas buat ketemu." Jelas Vani membuat Zela dan Seli berfikir sejenak.
Sebenarnya Zela juga sama halnya dengan Vani, dia sudah tidak tahan menahan rasa rindu dengan baby Arshaka, tapi dia juga masih sedikit kesal dengan suaminya. Zela memang sudah mempunyai anak sekarang, tapi sikap bar-barnya belum sepenuhnya hilang dari dalam dirinya, maklum saja dia masih begitu muda dan juga masih sekolah. Di tambah kedua sahabatnya yang juga tingkahnya masih sangat konyol dan bar-bar. Tentu saja membuat Zela susah untuk menghilangkan sifat kekanakan di masa remajanya.
" Gue ada ide." Usul Zela membuat kedua sahabatnya langsung menatapnya.
" Apa?." Tanya Seli dan Vani barengan.
" Kita kasih tau aja dimana kita sekarang, tapi dengan syarat mereka harus ajak kita jalan-jalan minggu besok gimana?." Usul Zela yang langsung di angguki oleh kedua sahabatnya dengan semangat.
Niatnya memang ingin mengerjai Brayen CS, tapi nyatanya mereka sendiri yang uring-uringan tidak bisa menahan rindu, memang dasar gadis-gadis unik.
__ADS_1
" Nanti kalau mereka datang ke sini, kita pura-pura pasang muka jutek dan kesal dong?." Tanya Seli yang di acungi jempol oleh Zela dan Vani.
" Tapi sayang kita udah di sini sekarang." Ucap Xelo dari belakang mereka.
Sontak saja ketiga gadis cantik itu langsung menoleh ke asal suara.
Glek
Pupus sudah harapan mereka untuk mengerjai ketiga cowok tampan yang kini sudah berada di hadapan mereka. Bahkan meskipun wajah mereka tampan tapi sekarang terlihat sangat menyebalkan.
Dengan segera Brayen langsung memeluk Zela yang masih duduk di tempatnya, jelas apa yang di lakukan oleh Brayen membuat sahabat mereka terkejut.
" i am sorry dear." Ucap Brayen memeluk Zela erat.
Zela diam tak bergeming, Dia terkejut tapi juga senang di perlakukan seperti itu, bahkan Brayen terlihat sangat sweet dan lucu.
Tian yang melihat kebucinan Brayen sampai geleng-geleng kepala, dia tidak menyangka saja seorang Brayen benar-benar bisa di takhlukan oleh gadis cantik yang masih remaja itu. Meskipun tidak di pungkiri Zela ini memanh gadis yang sangat cantik.
Dan kini mereka semua akhirnya pulang dengan pasangan masing-masing, Dimas dan Seli pulang dengan menggunakan taxi. Begitu juga dengan Xelo dan Vani, Sedangkan Brayen tadi sempat berterimakasih dengan Tian yang sudah memberitahukan tentang keberadaan istrinya dan kedua sahabatnya.
Brayen langsung mengajak Zela untuk pulang karena Arshaka sudah ingin bertemu dengan mereka. Kini mereka sudah berada di mobil mewah Brayen.
" Sayang sorry." Ucap Brayen melirik Zela yang sedari tadi masih diam.
Brayen menghela nafasnya, dari tadi ketika Brayen datang memeluknya, Zela sama sekali belum mengatakan sepatah katapun kepadanya, Dia tidak menolak ajakan Brayen, tapi dia juga tidak berbicara dengan Brayen.
Sittt...
Tiba-tiba Brayen ngerem mendadak, membuat Zela mengumpat kesal, dan memang ini yang Brayen inginkan, mendengar suara istrinya yang sedari tadi terus terdiam, meski umpatan yang keluar dari mulut Zela, tapi setidaknya Zela tidaklah terus membisu setelah menunggunya lama tadi siang.
" Kak Ray!!." Umpat Zela kesal.
" Apa sayang?." Jawab Brayen sembari memberikan senyum terbaiknya, berharap agar Zela bisa luluh dan melupakan rasa kesalnya.
" Ih." Ucap Zela kesal seraya tangannya bersikedap, tadinya Zela akan protes karena Brayen sudah ngerem mendadak, dan hampir membuatnya jantungan, tapi niatnya dia urungkan, karena inilah aksi demo yang sesungguhnya untuk mengerjai Brayen, dengan Zela membiarkannya dan membuat Brayen puasa sebulan untuk bisa bermesraan dengannya.
Brayen masih berdiam diri, dia sengaja tidak melajukan mobilnya kembali.
1 menit
2 menit
__ADS_1
3 menit
4 menit
5 menit sampai akhirnya....
15 menit sudah mereka berdiam diri di dalam mobil tanpa melakukan apa-apa. Zela mulai bosan, dia juga kesal dengan sikap egois Brayen yang tidak mau mengalah untuk dirinya.
" Egois." Ucap Zela dengan nada kesal.
" Kamu." Jawab Brayen membuat Zela akhirnya mau menatapnya.
Zela menatap Brayen dengan sebelah alisnya terangkat. Dengan pelan Zela menunjuk dirinya, yang di jawab Brayen dengan anggukan kepala dengan sangat yakin.
" Dengerin dulu, aku mau jelasin." Ucap Brayen yang tidak di jawab oleh Zela.
Brayen menatap Zela yang masih menatap lurus ke depan.
Sialan memang, dari samping saja wajah istrinya sangatlah cantik, Brayen tidak mau jika Zela sampai mengucapkan kata yang akan membuatnya galau berkepanjangan, Brayen tidak mau sampai Zela menghukumnya dengan berpuasa lama untuk tidak menyentuhnya dan merasakan kenikmatan surga dunia.
" Tadi kita main di apartemen Dimas, sama Arsha juga sampai lupa waktu karena saking asiknya, dan Tian juga lagi ada masalah dia sangat butuh kita, jadi tolong banget kamu maafin aku yang." Jelas Brayen kepada Zela.
Jujur saja mendengar nama Arsha di sebutkan membuat hati Zela meronta-ronta ingin segera bertemu dengan bayi tampan dan montok itu.
" Iya, ayo cepetan pulang." Rengek Zela meminta agar Brayen segera melajukan mobilnya.
Brayen tau jika sebenarnya Zela sudah sangat kangen dengan bayi tampannya, tapi dia sengaja menggoda Zela agar tidak lagi kesal dengannya, selain maaf juga Brayen kan tidak mau di cueki oleh istri cantiknya, apa lagi sampai harus di hukum untuk tidak nananina, no Brayen tidak akan kuat.
" Cium dulu." Suruh Brayen membuat Zela tanpa pikir panjang langsung mencium pipi Brayen.
" Kok pipi yang?." Protes Brayen.
" Kak Ray mintanya cium kan? Nggak nyuruh buat cium dimananya." Jelas Zela, membuat Brayen mengangguk tanpa protes lagi.
" It's okay honey, but nananina no holidays." Jawab Brayen tersenyum penuh kemenangan.
Zela melotot tidak percaya, suaminya ini pintar sekali mencari alasan ataupun ide yang membuatnya jadi kalah dalam hal seperti ini. Dengam gemas dan sedikit rasa kesal, Zela mencubit perut Brayen yang terasa keras karena sering berolahraga. Meskipun Brayen pura-pura mengaduh sakit, tapi sebenarnya cubitan Zela terasa seperti gelitikan saja di perut rata Brayen.
Yuhuu gaes... Gimana kalau cerita ini aku skip biar Arshaka cepet gede? tetapi nanti cerita Arshaka di novel lain dengan judul berbeda.
Aku kasih sedikit bocoran, nanti Arsha tinggal dengan Oma, Opanya di indonesia. Karena Mommy dan Daddynya tinggal di luar negri mengurus bisnis perhotelannya. Dan hanya sebulan sekali atau dua kali saja pulang ke indo untuk menemui anaknya, Udah itu ya..
__ADS_1
Kira-kira setuju nggak nih kalau cerita ini aku skip aja? Comment di bawah ya 👇 Like dan Vote juga gaes aku tunggu lho 😊
" My Naughty Brother " Juga sudah up ya, baca jangan sampai tidak, makin seru lho 🤗