
Brayen Zafano, lelaki tampan dan tajir yang beberapa bulan ke depan setatusnya akan menjadi seorang Ayah, lelaki yang banyak di gilai wanita, tapi dia juga hanya menggilai satu orang wanita yang sekarang menjadi istri dan calon Ibu untuk anaknya, dia sedang duduk di kursi ruangan kantornya. Matanya menatap lurus ke depan, tangan satunya memainkan ballpoint ( bolpen ).
Brayen tersenyum, mengingat tadi pagi Zela yang menyiapkan segala keperluannya, Zela bangun lebih pagi darinya tidak seperti biasanya, bahkan Zela sampai menyuapi Brayen karena Brayen yang bangun begitu siang.
Semakin ke sini Zela semakin dewasa, meskipun perutnya semakin buncit, tapi malah membuat Zela semakin rajin terlihat siap untuk menjadi seorang Ibu, dan itu yang membuat Brayen sedari tadi terus tersenyum mengingat istri cantiknya.
" You are s special woman yang." Gumam Brayen kembali tersenyum.
Bahkan Brayen berniat untuk menghubungi Zela, tapi Brayen tau di jam segini Zela sedang sibuk di kelasnya mengikuti pelajaran Sekolah. Mengingat Zela yang masih sekolah membuat Brayen kembali tersenyum dan menggeleng.
" Gila... Gue nggak pernah ngebayangin rumah tanggan Gue bakal seindah ini." Gumam Brayen lagi.
" Ha...ha.... Dulu aja nggak mau, sekarang jadi kamu bersyukur kan dengan perjodohan ini?." Ucap Pak Riko yang ntah sudah berapa lama di ruangan Brayen, membuat Brayen menatap Ayahnya terkejut.
" Ayah." Jawab Brayen terkejut dengan adanya Pak Riko, dan Brayen semakin terkejut karena Pak Riko di sana tidak sendiri. Pak Riko datang bersama sahabat yang kemarin baru saja di temuinya, sahabat yang diam-diam memiliki rasa untuk istri cantiknya, dia adalah Tian yang sedang cekikikan mendengar gumaman Brayen tadi.
" Ngapain Lo ke sini?." Tanya Brayen dengan kesal.
" Tenang Ray, Gue nggak akan ganggu Lo yang sedang berimajinasi dengan lamunan, Gue ke sini karena ada hal penting." Jawab Tian membuat Brayen manatap Tian kesal.
" Sudah saya tinggal ya kalian, dan kamu Ray... Jangan usir Tian, kasihan dia jauh-jauh ke sini cuma buat nemuin kamu." Ucap Pak Riko membuat Brayen semakin kesal dengan sahabat yang satunya ini. Sedangkan Tian tersenyum smirk ke arah Brayen.
" Tian sengaja gangguin pekerjaan Ray Yah." Jawab Brayen mencoba menjelaskan kepada Pak Riko.
" Tidak masalah, Tian itu sahabat kamu." Jawab Pak Riko berlalu pergi.
" Thanks Om!." Teriak Tian yang di acungi jempol oleh Pak Riko.
" Ah... Lo terlalu kaku Ray, Om Riko aja asik gitu." Cletuk Tian yang membuat Brayen kembali menatapnya dengan kesal.
Merasa di tatap Brayen seperti itu membuat Tian tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
" Lo masih dingin kayak es kutub Ray, kapan cairnya?." Tanya Tian yang belum begitu tau tentang perubahan Brayen sekarang.
" Gue dingin sama Lo doang." Jawab Brayen sekenanya, membuat Tian kembali tersenyum.
" Btw, Lo sibuk banget nggak?." Tanya Tian yang di jawab Brayen dengan gelengan kepala.
" Di deket sini ada caffe kan Ray?." Tanya Tian kepada Brayen.
" Ada dan Lo mau ajak Gue ke sana." Jawab Brayen yang langsung di angguki oleh Tian.
" Tepat, no**w?." Tanya Tian yang di angguki oleh Brayen.
Mereka berdua memutuskan untuk keluar sebentar menikmati segelas coffe**e di caffe dekat kantor. Tapi sebelumnya Tian sudah mengirim pesan kepada Dimas untuk menyusul mereka di caffe.
Dan sekarang duduklah dua lelaki tampan di caffe dekat Kantor Zafano. Caffe yang sering Brayen dan Dimas kunjungi. Juga caffe yang pemiliknya sangat dekat dengan Brayen.
Tian mengeluarkan bungkus rokok dari saku jasnya, membuat Brayen menatap Tian dan tersenyum miring.
" Lo masih ngerokok?." Tanya Brayen yang di jawab Tian dengan senyuman.
" Gue udah berhenti, tapi beberapa bulan ini Gue ngerokok dan minum lagi." Jawab Tian sembari menyesap rokoknya.
" Orang seperti Lo akan susah berubah." Ledek Brayen tapi terdengar tidak ada lucunya sama sekali.
" 4 bulan lalu, Gue balik ke sini." Ucap Tian dengan nada suara yang sudah berbeda, seperti menahan amarah dan juga kesedihan.
Brayen menatap Tian seksama untuk mendengarkan apa yang akan sahabatnya katakan.
" Bonyok Gue udah pisah Ray, 4 bulan yang lalu Gue balik hanya untuk menghadiri sidang Nyokap sama Bokap." Jelas Tian yang cukup membuat Brayen terkejut, pasalnya Brayen kenal dengan Orang Tua Tian yang sangat baik dan terlihat tidak ada masalah sedikitpun.
Hufh...
Brayen menghela nafasnya, dia menatap Tian yang masih menikmati rokok di tangannya.
" Lo udah bukan anak kecil lagi, Lo bisa bersikap lebih bijak dari keputusan yang udah orang Tua Lo pilih." Jelas Brayen membuat Tian tersenyum miring.
" Gue terima keputusan mereka Ray, tapi Gue nggak terima Nyokap Gue nikah lagi." Ucap Tian yang sukses membuat Brayen terkejut.
Brayen tau, di sini yang menjadi masalah ialah karena Ibunya Tian yang sudah memiliki pasangan lain.
__ADS_1
" Lo boleh marah, tapi tidak seharusnya Lo seperti itu, Lo boleh tinggal di hotel Gue sampai Lo bosen, Gue tau Lo pasti malas untuk pulang ke Rumah sekarang." Jelas Brayen yang mendapat tepukan di pundaknya dari Tian.
" Thanks Brother." Ucap Tian yang dapat anggukan dari Brayen.
Brayen tidak akan begitu ikut campur dengan masalah keluarga Tian, dia tau Tian bisa mengatasinya sendiri, hanya saja Brayen tidak suka jika Tian masih minum-minuman seperti dulu ketika dia masih berada di New York.
Tidak lama datanglah Dimas dengan beberapa kantong plastik kecil, Brayen dan Tian menatap Dimas bingung.
" Bawa apa Lo?." Tanya Brayen kepada Dimas.
" Pesenan Seli." Jawab Dimas jujur dan membuat Brayen menggeleng, sedangkan Tian tertawa.
" Wuih salah satu bucin Lo." Ucap Tian yang di jawab Dimas dengan tertawa ringan.
" Bucin itu bukan Gue, tapi seseorang yang di sebelah Lo." Jawab Dimas, membuat Tian menoleh ke arah Brayen yang sedang duduk tanpa expresi.
" Ray?." Tanya Tian dan di angguki langsunh oleh Dimas.
" Ha...ha...ha...." Tawa Tian pecah.
" Tapi Gue juga pasti bucin parah kalau dapat bini seperti bini Brayen." Cletuk Tian yang langsung dapat tatapan tajam dari Brayen.
" just kidd Ray." Ucap Tian dengan tawanya, juga Dimas yang ikut tertawa.
Sedangkan Brayen hanya menatap mereka malas.
Gue sungguh-sungguh ray, lo beruntung banget Batin Tian yang sebenarnya memang mengatakan apa yang dia rasakan.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Sedangkan kini di sekolah Zela, Seli, dan Vani sedang duduk di kantin. Meskipun perut Zela sudah besar tapi tidak ada yang berani membicarakannya.
Begitu juga dengan perut Vera yang sudah cukup terlihat, tapi tidak sebesar perut Zela, bahkan Vera hanya akan sekolah beberapa minggu lagi, Vera merasa malu karena meskipun dia tidak lagi di bully oleh teman-temannya, tapi banyak siswi yang melihatnya dengan tatapan jijik kepada Vera.
Selama ini Vera hanya bersikap acuh dengan siswi yang kadang masih menyindir tentang apa yang terjadi kepada dirinya, meskipun teman-tema Vera selalu membelanya, tapi Vera cukup tau diri jika memang seharusnya dia memutuskan untuk tidak bersekolah lagi karena perutnya yang kian hari kian terlihat jelas.
" Gaes, Kak Tian ganteng juga ya?." Ucap Vani membuat Zela da Seli menatap Vani malas.
" Ye... Tapi emang iya kan ganteng?." Sambung Vani lagi kepada mereka.
" Ganteng sih tapi tetap yang paling ganteng suami Gue." Jawab Zela songong. Meskipun pada kenyataannya Brayen memang yang paling tampan dan populer di antara mereka.
" Sama, menurut Gue juga Kak Dimas paling Ganteng." Sambung Seli.
" Abi kali Sel." Cletuk Zela dan Vani barengan, membuat Seli tertawa.
" Iya...iya... Abi Dimas." Jawab Seli tertawa membuat Zela dan Vani juga ikut tertawa.
" Gue juga, Kak Xelo tetep yang paling ganteng di hati dan mata Gue." Jelas Vani membuat Zela dan Seli menggelengkan kepalanya.
Pasalnya apa yang Vani katakan sangatlah bullshit, sebentar bilang A nanti sudah bilang C.
Tidak lama Bintang dan teman-temannya datang, baik Bintang maupun Dara hanya tinggal beberapa bulan lagi sekolah di SMA itu. Sebelum nanti akhirnya ujian dan lulus.
Bintang masih menyimpan rasa untuk Zela sampai saat ini, tapi sebagai laki-laki yang baik dan dewasa, Bintang mencoba untuk menerima dengan lapang dada, bahwa kenyataannya Zela memang bukan jodohnya, terlebih Bintang memang tidak begitu berushaa untuk mendapatkan Zela dari awal, itu semua karena sikap Zela yang sedikit cuek tidak terlalu menanggapinya, Bintang tau tentang masalah Sandro.
Misha yang sudah menceritakan semuanya kepada Bintang, dan Bintang juga yang meminta agar Misha tidak lagi menganggu rumah tangga Zela dan Brayen. Bintang tau bagaimana Misha menginginkan Brayen, bagaimana Misha begitu menggilai Brayen, bahkan hanya Bintang yang tau bagaimana keadaan Misha saat ini.
Bintang menatap Zela yang sedang tertawa dengan kedua sahabatnya, melihat Zela yang bahagia cukup membuat Bintang juga bahagia. Setelah lulus SMA nanti, Bintang akan meneruskan kuliah di Canada. Juga untuk lebih mendalami aktingnya sebagai seorang aktor.
" Always happy my girl." Gumam Bintang dan berlalu untuk memesan makanannya.
Pulang Sekolah hari ini, ketiga gadis cantik itu masih berada di kelasnya. Semua teman-teman kelasnya sudah pulang. Tinggal mereka yang masih berada di kelas untuk sedikit merapihkan penampilan dan juga mempercantik wajahnya dengan mengoleskan bedak yang tipis.
Meskipun pada dasarnya jika Zela, Seli, dan Vani memang sudah cantik alami bahkan tanpa bedak sekalipun. Tapi jika ingin bertemu dengan orang tersayang, mereka tidak begitu merasa percaya diri jika wajahnyabenar-benar polos tanpa balutan bedak tipis.
Hanya Zela yang tidak begitu heboh seperti kedua sahabatnya, Zela sudah terbiasa di depan Brayen dengan wajah polos tanpa balutan make up sedikitpun.
Zela, Seli, dan Vani memakai jaket yang mereka bawa tadi, dengan masih memakai seragam sekolahnya.
" Kok nggak ngabarin lagi sih?." Ucap Seli kesal, sembari melihat ponsel berharap jika Dimas mengirim pesan jika sudah menunggu di depan.
__ADS_1
" Gue coba telepon Kak Xelo deh." Usul Vani yang di angguki oleh Seli.
Sedangkan Zela sedang sibuk memakan jajanan yang tadi di kasih oleh Buk Kantin.
" Lo nggak capek apa Zel ngunyah terus?." Tanya Seli yang di jawab Zela dengan gelengan kepala.
" Justru Gue capek kalau mulut Gue nggak gerak." Jawab Zela sekenanya membuat Seli menggelengkan kepalanya.
" Dih... Awas aja ya kamu kalau udah lahir, aunty unyel-unyel." Jawab Seli sembari mengelus perut Zela.
" Jahat Lo ama anak Gue." Jawab Zela yang dapat cengiran dari Seli.
" Kayaknya anak Lo bibit unggul deh Zel." Ucap Seli yang di jawab Zela dengan menyombongkan diri.
" I know." Jawab Zela songong membuat Seli gemas, dan merebut jajanan yang sedang Zela bawa.
Zela hanya melirik Seli malas tanpa berkata, membuat Seli tertawa dan langsung memakan jajanan yang tadi Zela makan.
Seli melotot tidak percaya dengan rasa jajanan yang begitu asin, tapi Zela memakannya terlihat biasa saja tadi, Seli baru ingat jika sejak Zela hamil, Zela jadi suka makanan yang asinnya di luar batas lidah normal.
Sedangkan Vani masih sibuk dengan ponselnya, karena tidak kunjung ada jawaban dari Xelo membuat Vani kesal, dan menaruh ponselnya di dalam tasnya.
" Capek Gue nggak di angkat juga, udah cantik gini lagi hufh, sini bagi." Ucap Vani kesal, sembari tangannya merebut jajanan yang ada di tangan Seli.
Dengan segera Vani memakannya, dan seketika itu juga Vani melotot tidak percaya dengan apa yang dia makan, sama seperti Seli tadi.
" Astaga... Gue makan garam berupa jajan." Ucap Vani yang langsung mengeluarkan makanannya dari mulutnya.
Zela dan Seli tertawa melihat Vani yang kelabakan.
" Ha...ha...ha... Kena juga Lo." Ucap Seli.
" Lidah Lo mati rasa ya Zel?." Tanya Vani kepada Zela.
" Lidah Gue biasa aja, kalian aja yang lebay." Jawab Zela masih dengan tawanya.
" Eh bentar, perut Gue." Ucap Vani sambil memegang perutnya.
" Kenapa Van?." Tanya Zela dan Seli barengan.
Broooth..
Suara kentut Vani yang terdengar begitu besar, membuat Zela dan Seli saling pandang dan tertawa tapi juga kesal dengan Vani yang selalu saja kentut tanpa berpindah tempat dulu.
" Vani....!!! Kebiasaan Lo, jorok tau." Kesal Seli sambil menutup hidungnya dengan tangannya.
" Kelepasan Sel." Jawab Vani kikuk.
" Nggak papa Van, kali ini kentut Lo nggak bau kok." Ucap Zela yang sukses membuat Seli melotot tidak percaya.
" Tuh denger Zela aja nggak masalah kok." Jawab Vani yang merasa dapat pembelaan dari Zela.
" Astaga... Bukan cuma lidah Lo aja yang aneh tapi hidung Lo lebih buruk Zel." Kesal Seli kepada kedua sahabatnya.
" Seli ih, ngatain Zela gitu, hidung Zela mancung tau." Sambung Vani membela Zela.
" Serah Lo pada deh, Gue pusing sama kalian yang jorok, kentut sembarangan." Jawab Seli masih dengan rasa kesalnya.
" Orang kentut emang tempatnya di mana?." Tanya Vani dengan polos.
" Tuh di depan Kak Xelo, Lo kalau kentut di depan Kak Xelo pasti kentut Lo yang busuk bau wangi Van." Jelas Seli membuat Zela tertawa, sedangkan Vani masih dengan bingungnya.
Ah... Vani kembali ke mode telmi nya.
Dan tiba-tiba terdengar suara tawa dari depan kelas mereka. Betapa terkejutnya Zela, Seli, dan Vani setelah mendapati Brayen, Dimas, Xelo dan juga Tian sedang tertawa mendengar debat antara ketiga gadis cantik yang mempunyai segudang kekonyolan, termasuk mempernasalahkan kentut yang baru saja Vani berikan untuk mereka.
Brayen dan sahabatnya sudah datang sedari tadi, mereka tidak bisa lagi menahan tawanya setelah mendengar perdebatan bidadari cantik mereka yang mempermasalahkan masalah kentut.
Sedangkan Tian seperti mengingat sesuatu, tapi dia masih bingung dan lupa tentang hal itu. Dia hanya sedikit familiar dengan bau kentut busuk yang baru saja menyeruak masuk ke dalam hidungnya.
Memikirkan hal itu membuat Tian tersenyum dan menggeleng, Tian merasa begitu konyol jika memikirkan bau kentut yang seperti di kenalinya, memangnya ada orang sekonyol dirinya yang mengenali bau kentut orang lain.
__ADS_1