Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Kencan Mereka 2


__ADS_3

Setelah selesai berdansa mereka kembali menuju mobil masing-masing. Tentu saja karena belum begitu malam jadi masih ada waktu untuk melanjutkan ke bioskop.


Sedari tadi Brayen sebenarnya sudah sedikit hilang konsentrasi karena Zela yang begitu menggoda dirinya. Meskipun Zela tidak melakukan apa-apa tapi Brayen tetap saja tergoda oleh istri cantiknya.


Brayen menatap Zela yang sedang sibuk dengan ponselnya. Zela sedang membalas pesan singkat dari Bunda Wina yang mengabarinya jika besok akan di adakan rapat mengenai bagaimana Sekolah Vera. Tentu saja Bunda Wina dan Pak Riko sebagai pemilik Sekolah akan ikut hadir di acara rapat para Guru di sekolah.


Hufh... Zela menghela nafasnya, jujur saja ada rasa kasian dengan Vera, meskipun Vera selalu bersikap menyebalkan kepada Zela, tapi Zela tidak pernah menyimpan rasa benci ataupun dendam dengan Vera.


Brayen yang melihat kegelisahan pada wajah Zela mengernyitkan keningnya bingung, Brayen ingin tau apa yang membuat Zela jadi seperti sekarang itu.


" Kenapa yang? " Tanya Brayen membuat Zela menoleh dan menggeleng ke arah Brayen yang sedang menyetir.


" Nggak papa kok Kak" Jawab Zela santai.


" Jangan bohong, keliat banget bis buka chat jadi gelisah gitu" Sambung Brayen menjelaskan kepada Zela.


Ternyata Brayen memanglah tidak bisa di bohongi, mau tidak mau Zela memang harus menceritakan kepada Brayen secara detail tentang Vera.


" Besok ada rapat Guru di sekolah" Jelas Zela membuat Brayen mengangguk.


" Terus kenapa kamu yang gelisah? " Tanya Brayen ingin tau.


" Ini masalah Vera Kak." Jawab Zela lagi.


" Owh.." Jawab Brayen singkat, membuat Zela mengerucutkan bibirnya sedikit kesal dengan jawaban singkat Brayen.


Hufh....


" Gini ya Kak.. Vera itu hamil" Jelas Zela yang kembali hanya di angguki oleh Brayen.


" Dia itu udah pernah ketahuan sama kita pas di parkiran Mall, juga sama anak-anak yanh sering liat Vera ganti-ganti cowok" Jelas Zela lagi yang sukses membuat Brayen ngerem mendadak.


Sssssstttttt....


Mobil Brayen berhenti di tengah jalan. Sontak saja membuat Zela juga sedikit terkejut.


" Sorry yang.. Kamu nggak papa kan? " Tanya Brayen khawatir yang di angguki Zela.


" Kakak kenapa? " Tanya Zela melihar expresi wajah Brayen yang berubah.


" Kamu kata siapa dia hamil? " Tanya Brayen penasaran.


" Bunda sama anak-anak juga sih, emang kenapa sih Kak..? Kok Kak Ray jadi aneh gitu?" Tanya Zela dengan nada sedikit kesal.


" Nggak papa sayang, cuma aneh aja masih sekolah udah hamil, kamu bilangin Vani sama Seli yang, bair nggak aneh-aneh kalau pacaran sama dua cunguk itu" Jelas Brayen berusaha agar Zela tidak curiga lagi.


Dan beruntung Zela memang tidak curiga lagi, Zela menganggukan kepalanya dengans senyuman.


" Kak Rya ternyata juga perhatian ya sama sahabat aku" Jawab Zela senang.


" Biar gimanapun kan Seli sama Vani sahabat yang kamu sayang yang.. Kalau terjadi yang tidak di inginkan dengan mereka kamu sudah pasti ikut sedih, dan aku tidak mau itu terjadi" Jelas Bryaen lagi yan akhirnya membuat Zela gemas dan menarik pipi Brayen.


Brayen hanya tersenyum diperlakukan seperti itu oleh Zela. Dia merasa lega jika Zela tidak menanyakan lagi seperti tadi.


Brayen kembali melajukan mobilnya. Pikirannya kembali mengingat ponsel Sandro yang pernah dia Chek waktu itu. Ada beberapa foto wanita tanpa busana yang seperti dia kenal atau dia pernah bertemu. Dan itu selain foto Zela di ponsel Sandro. Bahkan ada beberapa video dewasa juga di ponsel Sandro, tapi tentu saja waktu itu Brayen tidak membukanya, Brayen terlalu risih dan muak.


Dimas.. iya dimas pasti lebih tau ini Batin Brayen.


Jujur saja Brayen tidaklah ingin ikut campur tentang urusan Vera yang hamil dan akan di keluarkan dari sekolahnya atau tidak. Hanya saja kehamilan Vera sudah pasti ada hubungannya dengan Sandro, atau lebih tepatnya Sandro mengetahui tentang hal ini.


Dan Brayen yakin itu.


Urusan Misha dan Sandro memang harus benar-benar di selesaikan terlebih dahulu, banyak sekali rahasia Sandro yang tidak di ketahui oleh Brayen, meskipun itu privasi Sandro sendiri, tapi mengingat sekarang ini Sandro juga tanggung jawabnya, Brayen harus tau semua terlebih dulu tentang Sandro.


Jangan sampai Sandro menyimpan rahasia besar dari Brayen yang sebenarnya juga harus di lururskan.

__ADS_1


Sampai akhirnya, mobil Brayen berhenti tepat di parkiran Mall. Dengan segera Brayen dan Zela turun dari mobil, begitu juga dengan pasangan Dimas Seli dan juga Xelo Vani.


" Ray.. Lo yakin nggak akan bikin heboh pengunjung Mall? " Tanya Dimas tidak yakin kepada Brayen.


Brayen mengernyitkan keningnya malas, jujur saja dia juga sedikit khawatir akan hal itu, tapi Brayen tidak ingin mengecewakan Zela yang begitu terlihat bahagia melakulan double date bersama kedua sahabatnya.


" Kenapa memangnya Kak? " Tanya Vani seperti biasa yang sudah kembali di mode telmi.


" Sayangku.. Cantiku.. Vaniku.. Planktonku.. Brayen itu bukan hanya di kagumi oleh para gadis saja tapi juga Ibu-ibu yang kadang maha benar itu.." Jelas Xelo sambil menarik pipi Vani pelan, membuat Vani menganggukan kepalanya.


Brayen menatap Dimas tajam, sudah pasti Dimas yang menceritakan kepada Xelo, tentang kejadian terakhir kali di Mall waktu itu, ketika Brayen dan Dimas membelikan jam tangan untuk Zela dan di serbu beberapa Ibu-ibu juga para wanita yang melihat kedatangan Brayen.


Sedangkan Zela dan Seli saling pandang bingung, mereka masih menyimak saja karena memang belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, meskipun Zela cukup sadar jika kedatangan Brayen ke Mall sudah pasti akan membuat heboh fans-fansnya yang lebay itu menurut Zela.


" Sorry Ray.. Gue gatel kalau nggak berbagi cerita sama ikan Hiu " Jelas Dimas yang sudah mendapat tatapan tajam dari Brayen.


" Sialan Lo bilang ikan hiu, yang boleh panggil Gue ikan hiu cuma Bebeb Vani dong" Jelas Xelo membuat Vani tersenyum malu dan menarik hidung Xelo gemas.


Sedangkan yang lain menggelengkan kepalanya dengan pasangan baru itu yang begitu romantis tanpa malu-malu.


" Cieeee.. Vani udah berani ya.. Udah nggak ser-ser lagi kalau deket Kak Xelo" Ledek Zela membuat Vani tersenyum malu.


Sedangkan Brayen menatap Zela sedikit tajam, pasalnya Zela mengatakan ser-ser, dan itu terdengar begitu ambigu menurut Brayen.


Zela yang di tatap Brayen seperti itu jadi sedikit salah tingkah. Zela mengarahkan wajah Brayen ke arah lain.


" Justru sekarang Gue tambah ser-seran Zel sama Kak Xelo.." Jawab Vani membuat Xelo terkejut tapi juga tersenyum senang.


Sedangkan yang lain tertawa, hanya Brayen yang masih bersikap sedikit tenang seperti biasanya tanpa kekonyolannya.


Vani begitu lantang tanpa malu mengatakan hali itu kepada Xelo, padahal tadi juga dia sempat malu-malu menahan kentutnya. Dasar Vani memang tidak jauh beda dari Zela yang mudah sekali berubah.


Mereka masuk ke dalam Mall, tentu saja Brayen yang sudah memakai jaket juga masker, bahkan Brayen juga memakai topi untuk lebih menutupi wajahnya.


Semua bisa bernafas dengan lega setelah duduk di kursi bioskop. Banyak juga pasangan muda mudi yang sudah berada di sana untuk menyaksikan Film yang akan di putar di layar besar depan mereka.


" Sayang film apaan sih yang akan di putar sekarang? " Tanya Brayen kepada Zela.


Aneh memang, Brayen yang merencanakan untuk menonton di bioskop. Tapi dia tidak tau sama sekali film apa yang akan mereka tonton, tentu saja karena dalam hal ini Brayen sudah menyerahkannya kepada Dimas.


" Horor sih Kak kata Kak Dimas " Jawab Zela santai yang sukses membuat Brayen sedikit terkejut.


Brayen mengepalkan tangannya kuat, dia tau jika Dimas sengaja melakukan ini padanya. Karena hanya Dimas yang tau jika Brayen yang datar dan dingin sangatlah takut dengan hal-hal yang berbau mistis atau horor. Dan ini kesempatan untuk mengerjai Brayen tentunya buat Dimas.


" Ingat nggak? Dulu kita udah pernah nonton film horor bareng? " Sambung Zela lagi menanyakan kepada Brayen, yang di jawab Brayen dengan menganggukan kepalanya pertanda mengiyakan pertanyaan Zela barusan.


Jujur saja Brayen mulai tidak nyaman saat ini, tapi sebisa mungkin dia menyembunyikannya dari Zela. Brayen akan merasa sangat malu jika Zela sampai mengetahui kekonyolannya yang begitu takut dengan film horor ataupun hal mistis.


" Zel ini " Ucap Vani yang duduk di kursi sebelah Zela.


Vani dan Xelo memang bertugas untuk membeli makan dan juga minum.


" Thank ya Van " Jawab Zela yang di acungi jempol oleh Vani.


Vani melirik Brayen yang hanya diam saja di sebelah Zela, terlihat jika Brayen sedang menyembunyikan sesuatu, tapi ntah apa itu Vani tidak ingin tau dan Vani tidak begitu peduli. Karen Vani sendiri tidak begitu yakin.


Sampai akhirnya lampu bioskop di padamkan. Film di depan layar akan segera di putar, semua yang duduk sudah mulai tegang karena terlihat beberapa cuplikan Film dengan adegan yang begitu mengerikan.


Bahkan beberapa pengunjung wanita juga ada yang mulai menjerit.


Brayen menatap Zela yang terlihat begitu tenang dan santai menatap layar lebar di depan mereka. Bahkan sama sekali tidak ada rasa takut pada diri Zela.


Gue mendingan liatin wajah cantik loe yang, dari pada liatin layar di depan. Batin Brayen sambil senyum-senyum sendiri.


Dan benar saja, sepanjang film di putar Brayen terus saja memandang wajah cantik istrinya, bahkan Brayen terasa tuli mendengar jeritan mengerikan pada film yang sedang di putar di bioskop. Semakin Brayen memandang lama Zela, semakin membuat Brayen begitu ingin menyelam ke dalam lautan cinta yang akan membuat mereka terbang seperti di atas awan. Sampai akhirnya suara Zela mengejutkannya.

__ADS_1


" Kak.. Serem ih" Ucap Zela kepada Brayen.


" Nggak usah liat yang kalau serem.. Mending kamu liat aku,, aku liat kamu" Jawab Brayen membuat Zela menyipitkan matanya.


" Kita ke sini kan buat lihat film Kak, bukan buat saling pandang" Jawab Zela membuat Brayen tersenyum kikuk.


Zela kembali menatap layar besar di depannya.


Sedangkan Dimas sedari tadi mengamati gelagat Brayen, yang samar-samar terlihat dari kejauhan jika Brayen sama sekali tidak melihat layar besar di depannya. Brayen terus menatap ke arah gadis cantik di sebelahnya, siapa lagi kalau bukan Zela istrinya.


Dimas terkikik melihat tingkah konyol Brayen saat ini, beruntung Zela tidaklah sadar dengan Brayen yang sebenarnya begitu tidak nyaman dengan film yang sedang di putar sekarang ini.


" Kak.. Takut.." Ucap Zela lagi kepada Brayen.


" Kalau takut kita bikin film sendiri aja yuk yang" Usul Brayen membuat Zela mengernyitkan keningnya bingung.


" Maksud aku bikin film di kamar" Bisik Brayen lagi yang kini membuat Zela terkejut.


" Kak Ray emmm" Ucap Zela terpotong karena sudah di bekam oleh mulut Brayen.


Seketika Zela melotot, suami tampannya ini benar-benar sudah hilang akal melakukannya di tempat umum. Beruntung semua orang fokus dengan film yang sedang di putar di layar depan mereka. Jika tidak mungkin adegan mereka saat ini akan menjadi Viral lagi, sama seperti ketika pengumuman pernikahan mereka sampai membuat semua orang tau dan para wanita lebih menggilai Brayen.


Hanya satu orang yang melihat adegan tidak senonoh mereka, tentu saja Dimas yang sedari tadi curi pandang melihat tingkah konyol Brayen.


Dimas menggelengkan kepala dengan tingkah Brayen saat ini.


Gila lo ray.. dalam keadaan takut masih aja mesum Batin Dimas melihat tingkah Brayen.


Tiba-tiba muncul ide jail dari Dimas. Dengaj segera Dimas mengambil ponselnya yang berada di saku, tentu saja untuk menghubungi Brayen agar tidak melanjutkan adegan itu di tempat umum.


" Bi jangan main ponsel dong" Ucap Seli melihat Dimas yang sedang sibuk dengan ponselnya.


" Bentar Mi, urusan penting ini" Jawab Dimas yang dapat anggukan kepala dari Seli tapi dengan wajah cemberutnya. Dimas mengacak rambut Seli sebentar, sedangkan Seli kembali fokus dengan layar besar di depannya.


Dimas mulai mengirim pesan singkat kepada Brayen, tentu saja hanya untuk sekedar mengganggu aktifitas Brayen dan Zela saat ini.


Bahkan terlihat Zela yang kembali menatap layar besar di depannya. Sedangkan Brayen asik mencumbu leher Zela.


Sesekali Zela juga memejamkan matanya menikmati sapuan hangat dan lembut bibir Brayen pada lehernya.


Dasar mesum memang Brayen, tapi ya sudah bairkan saja, asal masih aman tanpa ada orang yang melihat kecuali Dimas.


Tidak ada tanda-tanda Brayen membuka pesan yang Dimas kirimkan kepadanya, membuat Dimas kembali menggelengkan kepalanya.


Dasar lo ray nggak bisa banget tahan sebentar nunggu pulang Batin Dimas lagi kepada Brayen.


Dengan segera Dimas menelfon Brayen, tapi apa yang di dengarnya membuat Dimas terkejut, Brayen dengan sengaja mematikan ponselnya, membuat Dimas lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan sikap Brayen yang benar-benar sudah seperti orang tidak waras lagi.


Dimas memandang Seli yang sedang fokus dengan film yang berada di layar besar di depannya. Membuat Dimas tersenyum senang, mungkin jika nanti dia dan Seli sudah menikah, sikap Dimas bisa saja berubah seperti Brayen sekarang ini sejak menikah dengan Zela.


Dimas tersenyum dan menggeleng, lalu tangannya menggenggam tangan Seli kemudian dia kecup dengan begitu lembut. Membuat Seli menoleh ke arah Dimas dengan terkejut, tapi tentu saja Seli tidaklah menolak, karena sebenarnya mereka juga sudah melakukan lebih dari hanya sekedar itu.


Gaes... Tolong Ya Ikuti Alur Ceritanya Aja !!Kalau Kalian Bosan Atau Nggak Suka Sama Cerita Ini Mending Stop Baca Deh !!


Kadang Aku Kesel Sama Readrs Yang Selalu BERASUMSI SENDIRI !!! SEAKAN SUDAH TAU ENDING CERITANYA SEPERTI APA.


Yang Bikin Cerita Aku, Jadi Sekali Lagi Tolong Ikuti Aja Alur Ceritanya.


Dan buat kalian yang suka sama cerita ini Jangan Lupa buat Like, Comment and Vote ya


Aku tunggu lho.....


Vote gaes.. Biar aku semangat lanjutin ceritanya oke?


Semoga hari kalian menyenangkan.. 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2