
Bell istirahat sudah berbunyi, tetapi ketiga gadis cantik itu masih berada di dalam kelasnya. Mereka belum ke kantin seperti hari biasanya. Jelas karena Zela sekarang sedang menarik telinga Vani agar sahabatnya itu tersadar dari kegilaannya kepada anaknya.
" Ampun dong Mom sakit tau." Ucap Vani mengaduh kesakitan.
" Mau nakal lagi nggak?." Tanya Zela kepada Vani, persisi seperti Emak yang sedang menanyakan kepada anak nakalnya.
" Nggak lagi Mom ampun, kapok deh kapok." Jawab Vani yang akhirnya membuat Zela melepaskan tarikan tangannya pada telinga Vani.
Seli menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabatanya, dia juga mengagumi Arshaka yang tampan dan menggemaskan itu, tapi tidak segila Vani yang sampai berkeinginan untuk menunggu Arshaka besar, bisa perang dunia sebenarnya jika hal itu sampai terdengar oleh Xelo pacar Vani.
" Lo tuh udah kayak Emak-Emak tau nggak, pakai narik telinga Gue segala." Kesal Vani kepada Zela.
" Salah siapa Lo nggak waras." Jawab Zela enteng, tapi sukses membuat Vani melongo menatap Zela.
" Astaga Zel... Jiwa Emak emang Lo sekarang." Jelas Vani yang melihat jika Zela tidak bisa di ajak bercanda seperti dulu.
Sebenarnya Zela tau Vani hanya iseng saja, tapi tetap saja Zela tidak suka jika Vani mengagumi bayi tampannya berlebihan.
" Biarin, makanya Lo tuh sadar diri udah tua nunggu yang masih bayi." Cibir Zela membuat Vani menggelengkan kepalanya dengan ucapan Zela yang menyayat hati, tapi tetap saja mereka semua hanya sebuah candaan saja.
" Udah deh, kenapa kalian jadi kaya Tikus sama Kucing sih? Gue berasa jadi orang baik kalau kayak gini." Jelas Seli membuat Zela dan Vani saling pandang.
Zela dan Vani saling pandang sembari memberi kode, secara bersamaan mereka kompak menoyor kepala Seli bersamaan, sampai membuat Seli terkejut dan tidak terima dengan perlakuan sahabatnya itu.
Sudah berusaha meleraikan, malah dia yang kena, emang dasarnya konyol semua mereka itu.
" Ayo kita isi perut dulu." Ajak Seli sembari menjewer telinga Zela dan Vani.
" Ampun Ami... Ampun." Ucap Zela dan Vani barengan.
__ADS_1
Kalau seperti sekarang ini mode Emaknya Seli yang kumat, biarpun di antara mereka yang sudah menjadi seorang Ibu adalah Zela, tapi tetap saja jiwa Emak-Emak mereka kadang keluar jika sudah kesal seperti sekarang ini.
Semua gara-gara ide gile Vani, yang memberikan kado untuk Arshaka berupa foto berukuran besar, dua pasangan kekasih yang memakai gaun pernikahan dan di edit dengan wajah dirinya dan Arshaka, jelas itu sangatlah konyol menurut Zela, sahabatnya yang bernama Vani itu benar-benar sudah gila.
Meskipun Vani tidak hanya memberikan itu saja kepada Arshaka, dia nemberlika sebuah motor pespa kecil untuk Arshaka, tapi tetap saja kado yang satunya itu sangatlah gila.
Sedangkan di tempat lain, Brayen dan Dimas kembali ke rumah Zafano. Begitu juga dengan Xelo yang ikut bolos kuliah dengan kedua sahabatnya. Tentu saja tanpa sepengetahuan ketiga gadis cantik itu, yang mereka tau lelaki tampannya sedang kuliah di kampus depan.
Mobil mereka bertiga berhenti tepat di depan rumah Zafano. Halaman rumah yang luas memang bisa untuk di parkir banyak mobil.
Ketiga cowok tampan itu turun dari mobil mereka masing-masing sudah seperti boy band yang berangkat ke konser terpisah saja.
" Di mana si jerk?." Tanya Dimas kepada Brayen.
Yang di maksud Dimas ialah Tian.
" Palingan lagi ngegoda Bunda." Jawab Brayen membuat Dimas tersenyum.
Dimas menggelengkan kepalanya dengan sikap Xelo yang sepert tidak tau malu itu, sedangkan Brayen hanya tersenyum miring, mereka memang cowok tampan dan cool , tetapi tetap saja konyol semua.
" Hei bastard." Sapa Dimas melihat Tian yang sedang bermanja dengan Bunda Wina.
Ah sungguh berada di dekat Bunda Wina Tian merasa sangat bahagia, bahkan Mamahnya sendiri saja tidaklah pernah memanjakannya, apa lagi sejak perpisahan kedua orang tuanya 1 tahun yang lalu, Tian merasa seperti tidak punya orang tua lagi. Semua kehidupannya berubah, harta berlimpah tapi kasih sayang tidak pernah dia dapatkan.
Bunda Wina langsung bediri dari duduknya, dia menghampiri Dimas dan langsung menarik telinganya.
" Apa tadi bilang Tian apa?." Tanya Bunda Wina kepada Dimas.
" Aduh ampun dong Bun." Aduh Dimas merasa nyeri pada sekitaran telinganya.
__ADS_1
" Syukurin Lo Dim, makanya di depan orang Tua itu bicara yang sopan, m*mpus!." Cibir Xelo melihat Dimas yang sedang terkena azab langsung dari Bunda Wina.
" Xelo kamu juga ke sini Nak." Suruh Bunda Wina dengan senyum manisnya.
Xelo menurut dengan ucapan Bunda Wina, dia menghampiri Bunda Wina dan beridir di depannya. Sama sekali tidak ada kecurigaan kepada Bunda Wina yang juga akan melakukan hal yang sama kepada dirinya seperti kepada Dimas.
" Auw... Kenapa Bunda narik telinga Xelo?." Keluh Xelo sembari nyengir menahan rasa sakit pada telinganya.
"Salah siapa kalian berbicara tidak sopan." Jelas Bunda Wina.
" Namanya juga anak muda Bund, dari pada kita bilang anj*y nanti kena pasal." Cletuk Xelo yang semakin membuat Bunda Wina menarik telinga keduanya.
Dimas dan Xelo semakin mengaduh sakit, kalau seperti sekarang ini, mereka sama sekali tidak terlihat cool, meski tetap tampan tapi mereka malah terlihat seperti tikus yang sedang ketakutan.
Brayen dan Tian tertawa melihat kedua sahabatnya sedang terkena musibah, mereka lebih memilih untuk pergi ke ruangan bermain dimana sekarang Arsha berada.
" Lo bolos hmm?." Tanya Tian yang di angguki oleh Brayen.
Bagaimanapun Tian ini adalah sahabat baiknya, sama seperti Misha dulu, dia tau jika Tian sampai ke indo berati memang sedang ada masalah, hanya saja Brayen belum ingin menanyakan kepada Tian sekarang, biar Tian nanti yang bercerita sendiri.
Sampailah mereka di ruangan tempat bermain Arshaka.
" Hallo baby." Sapa Brayen menghampiri Arsha yang sedang bermain dengan Baby sitter nya.
Arsha menatap Daddy nya, dia tersenyum dan langsung merangkak menghampiri Brayen. Jelas bayi tampan itu sudah paham jika Brayen adalah Daddy nya.
Tian yang melihat itu tersenyum tipis, kehidupan Brayen benar-benar sangat beruntung, sangat jauh dengan kehidupan dirinya.
Kedua Baby sitter Arsha menatap ke arah Brayen, dan bergantian ke arah Tian yang sedang beridir di depan mereka.
__ADS_1
Astaga... Kenapa keluarga Zafano banyak sekali lelaki tampannya, tidak hanya Tuan Muda Brayen, Dimas, dan Xelo saja ternyata, sekarang di tambah satu lagi yang terlihat sangat wow sekali.
Orang-orang yang berada di sekitar Tuan mudanya itu seperti para pemeran di novel-noveo saja, berwajah tampan tanpa celah. Dan mereka yang hanya sebagai baby sitter sudah pasti sangat merasa beruntung bisa bekerja di rumah yang memiliki banyak lelaki tampan.