Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

Malam ini setelah makan malam bersama, Zela dan Brayen bermain dengan Arshaka di ruang tengah. Mereka sedang bermain bola dengan bayi tampan dan menggemaskan itu.


Arsha sudah mulai berdiri, tetapi memang belum melangkahkan kakinya untuk berjalan, jika dia mencoba mengangkat kakinya untuk maju ke depan, alhasil Arsha akan terjatuh.


" Sini sayang lempar ke Mommy bolanya." Ucap Zela menyuruh Arsha untuk melemparkan bolanya.


Arsha tertawa menatap Zela, kemudian bergantian menatap Daddy nya yang berada di sebelah kanannya.


" Mumy." Ucap Arsha dengan senyuman menggemaskannya.


Arsha mencoba melempar bolanya ke arah Zela, tapi bolanya malah mengarah ke Daddy nya, membuat Zela dan Brayen saling pandang dan tertawa.


Lucu sekali anak mereka itu, kecil-kecil sudah bisa ngeprank.


Brayen mengangkat Arsha, kemudian duduk di sofa untuk beristirahat.


" Baru segini aja Daddy udah nyerah ya sayang." Ucap Zela sembari menyibakan rambut Arsha.


" Bukan nyerah yang, tapi simpan energy buat nanti malam." Jawab Brayen sembari menaik turunkan alisnya menatap Zela.


" Dih... Mulai deh." Jawab Zela sembari mencubit lengan Brayen pelan.


Arsha yang melihat interaksi kedua orang tuanya tertawa, kemudian dia ikut mencubit lengan Daddy nya, meskipun tangan kecil Arsha seperti menepuk lengan Brayen saja, tapi Zela dan Brayen yakin jika Arsha itu mengikuti apa yang Zela lakukan kepada Brayen.


" Tuh yang Arsha ngikutin kamu, jangan kebiasan nyubit di depan dia deh." Jelas Brayen membuat Zela terkikik.


" Malah ketawa." Sambung Brayen sembari menarik hidung Zela pelan.


" Tuh Kak Ray juga kan cubit hidung aku." Jawab Zela dengan nada merajuknya.


" Mana ada hidung di cubit, lucu kamu." Jawab Brayen membuat Zela tertawa.


" Ucu cu." Ucap Arsha mencoba menirukan kata terakhir yang Brayen ucapkan barusan.


" Kamu ngegemesin banget sih sayang." Ucap Zela sembari mencium pipi anaknya.


" Apa lagi Bapaknya." Jawab Brayen dengan wajah menyebalkannya.


Zela kembali mencubit Brayen, tapi bukan di lengannya lagi melainkan di perut rata Brayen agar Arshaka tidak melihat dan tidak lagi menirukan. Keluarga muda dan bahagia itu tertawa bersama dengan bayi tampan mereka.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Pukul 7 pagi. Zela sudah berada di kantin bersama kedua temannya, seperti biasa mereka akan menunggu bel masuk di kantin Sekolah. Meskipun hanya menikmati kopi atau jus saja untuk menemani pagi mereka, karena ketiga gadis cantik itu sudah sarapan di rumah terlebih dahulu ketika akan berangkat Sekolah.


" Lo kenapa sih Van dari tadi diem terus?." Tanya Seli yang melihat Vani tidak seperti biasanya.


Tidak ada jawaban dari Vani, karena Vani malah sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Ntah dia sedang memikirkan apa, tapi yang jelas pagi ini Vani tidak terlihat seperti biasanya yang selalu ceria dan cerewet.


Zela melirik Seli menanyakan apa yang terjadi dengan sahabat yang satunya itu, tapi Seli segera menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Zela lewat tatapan isyaratnya. Seli memang tidak tau apa yang terjadi dengan sahabat yang satunya itu.


" Gaes nanti pulang sekolah ke mall yuk? Bunda juga sudah memperbolehkan bawa Arsha ke tempat umum." Ajak Zela kepada mereka, sengaja memang agar Vani tidak lagi diam seperti sekarang ini.


Biasanya Vani yang paling semangat jika di ajak ke mall. Dia sendiri malah yang paling sering mengajak Zela dan Seli untuk berbelanja. Apa lagi jika ada si tampan Arshaka yang di anggap Vani sebagai suami kecilnya itu. Vani orang nomor satu yang akan dengan semangat menyetujuinya.


" Siap, Gue udah nantiin banget hangout bareng pacar kecil Gue." Jawab Seli membuat Zela tertawa.


Tapi tidak dengan Vani dia masih saja berdiam diri, membuat Zela dan Seli semakin penasaran apa yang terjadi dengan sahabat mereka itu.


Ini bukanlah Vani yang biasanya, apa jangan-jangan ada hubungannya dengan Xelo semua ini? Pikir Zela dan Seli sama.


" Van!." Panggil Zela setengah berteriak.


Fuhh....


Zela menghela nafasnya sembari menatap Vani serius.


" Lo ada apa? Kenapa beda? dan nggak mau cerita sama kita?." Tanya Zela membuat Vani kembali terdiam.


Vani bingng harus menjawab apa, dia takut kalau kedua sahabatnya akan memarahi atau bahkan lebih parahnya lagi Zela dan Seli tidak mau lagi mengenalnya.


Ketakutan yang sekarang sedang Vani rasakan, tapi dia mencoba untuk bersikap biasa saja meskipun tetap saja sulit untuknya.


Ini kesalahan besar dan Vani tidak tahu lagi harus bagaimana menyelesaikan, bahkan tadi ketika Xelo menelponnya Vani enggan untuk mengangkatnya.


Vani merasa marah tapi juga tidak bisa jika meninggalkan Xelo.


Zela mencoba menggenggam tangan Vani, begitu juga dengan Seli, tatapan Zela dan Seli sangat lembut, berharap Vani segera bercerita dengan mereka.


Vani menatap kedua sahabatnya yang begitu tulus menyayanginya, tapi malah membuatnya semakin bersalah dan berdosa.

__ADS_1


" Gu-Gue ke kelas dulu." Jawab Vani melepaskan genggaman tangan Zela dan Seli, lalu berdiri dan keluar kantin meninggalkan Zela dan Seli yang sedang menatap kepergiannya dengan segudang pertanyaan.


Jujur saja melihat kedua sahabatnya membuat Vani rasanya ingin menangis saja, Vani malu karena sudah mengecewakan kedua sahabatnya itu.


fix ada sesuatu yang Vani rahasiakan dari mereka, dan sepertinya mereka harus menanyakan kepada Xelo tentang hal ini, siapa tahu Xelo mengetahui apa yang membuat seorang Vani berubah menjadi pendiam seperti sekarang ini.


" Kita temuin Kak Xelo." Usul Zela yang langsung di angguki oleh Seli.


Mereka tidak mau sampai ada masalah yang menimpa Vani, apa lagi jika mereka tidak mengetahuinya dan membantu permasalahan yang sedang Vani hadapi.


Seli segera menelpon Xelo meminta untuk bertemu di perpus depan.


Tidak lama mereka sudah berada di perpus depan. Zela dan Seli menatap Xelo tajam, bahkan kedua gadis cantik itu terlihat sangat menyeramkan kalau sedang di mode mengintimidasi seperti sekarang ini.


" Vani mana?." Tanya Xelo yang tidak melihat keberadaan pacar kesayangannya itu.


Zela dan Seli saling pandang dan bingung, apa Xelo juga tidak tahu apa yang membuat Vani berubah hari ini, pikir mereka.


" Kak Xelo tahu nggak ada apa dengan Vani? Dia hari ini beda, lebih banyak diamnnya." Jelas Seli membuat Xelo menautkan alisnya.


" Maksud kalian?." Tanya Xelo malah penasaran dengan apa yang terjadi dengan pacarnya.


Vani bahkan tidak memberitahukan apa-apa dengannya, tapi memang dari tadi pagi Vani sudah berbeda, dia tidak mengangkat panggilan Xelo untuk mengajaknya berangkat bersama.


" Jadi Kak Xelo nggak tahu?." Tanya Zela membuat Xelo menggelengkan kepalanya.


" Dia tadi pagi nggak angkat telpon Gue." Jelas Xelo membuat Zela dan Seli terdiam.


" Apa yang sedang Vani rahasiakan dari kita semua?." Gumam Zela sembari berfikir bagaimana caranya membujuk Vani untuk bercerita.


" Biar nanti Gue yang ngomong sama dia." Jelas Xelo membuat Zela langsung menggelengkan kepalanya.


" No Kak, kalau dia tidak mengangkat telepon dari Kakak, itu seperti dia ngehindar dari Kakak bukan sih?." Jelas Zela membuat Xelo berfikir sejenak.


" Oke Gue tahu, Kalian coba nanti tanyakan ke dia ya? Gua butuh bantuan kalian." Jelas Xelo yang di jawab Zela dan Seli dengan anggukan kepala.


Setelah itu mereka kembali ke tempat masing-masing. Zela dan Seli masuk ke kelasnya. Terlihat Vani yang sedang menatap kosong ke arah depan. Mereka merasa sedih melihat Vani terus murung seperti itu.


" Baby nanti bantuin Mommy bujuk onty Vani ya sayang." Gumam Zela kepada Arshaka yang sedang berada di rumahnya.

__ADS_1


Zela menatap Vani yang masih terlihat murung, dia tersenyum ke arah Vani yang sedang tidak melihatnya.


__ADS_2