Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Penasaran


__ADS_3

Zela tertidur di ranjang yang berada diruangan VIP caffe tempat biasa Brayen dan Dimas nongkrong.


Begitu juga dengan Brayen yang sekarang ikut berbaring disebelah Zela, setelah sebelumnya menyelesaikan tugas kuliah terlebih dahulu, tapi Brayen tidak tidur melainkan hanya berbaring dan terus menatap Zela yang sudah tertidur pulas.


Brayen tersenyum memandangi Zela, matanya terus memandangi setiap lekuk wajah istrinya, terlihat lebih berisi memang Zela sekarang di banding dengan yang dulu ketika pertama mereka bertemu.


Padahal hanya beberapa bulan saja pertemuan mereka dan sampai sekarang ini pernikahan mereka, tapi sangat terlihat perubahan pada diri Zela.


" Loe bahagia ma gue yank..?? " Gumam Brayen menanyakan kepada Zela yang masih tertidur.


Brayen tersenyum, sambil mengelus dengan lembut pipi Zela, kemudian mencium kening Zela.


" Baik baik son.. Daddy udah nggak sabar pengen ketemu kamu..." Gumam Brayen lagi mengelus perut rata Zela.


Tak lama Brayenpun ikut tertidur disamping Zela, masalah sekolah Zela sudah ia bereskan tadi,, begitu juga dengan kuliahnya yang ternyata Brayen tidak berangkat, setelah bertemu dengan Dimas tadi, dia langsung menjemput Zela untuk meminta menemaninya.


Mereka tertidur dengan Brayen memeluk Zela, sedangkan Zela meringkuk didada bidang Brayen, jika saja hal ini diketahui oleh teman sekolah atau teman kampus Brayen sudah pasti mereka akan merasa patah hati berjamaah.


Tapi tentu saja tidak akan mungkin, hehe


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Di sekolah Seli dan Vani masih mondar mandir tak karuan di depan kelas, karena Zela belum juga kembali, sedangkan bell sudah berbunyi sedari tadi, beruntung saja Guru mata pelajaran saai ini belum juga hadir.


" Kemana sih tuh anak... tadi bilangnya bentaran.. apaan ini udah sampe karaten gue..." Gerutu Vani kesal.


" Udah lah Van biarin aja.. ntar juga pasti balik..." Jawab Seli mencoba menenangkan Vani.


" Nggak bisa tenang gue kalau tuh anak belum juga nongol... mana di telp dari tadi nggak di angkat lagi..." Kesal Vani lagi.


" Zela tuh pergi ma kak Ray... jadi loe tenang aja nggak usah kayak cacing kepanasan gitu... Gue yakin dia baik baik aja.." Sambung Seli lagi menjelaskan kepada Vani.


" Bukan masalah dia baik baik aja atau nggak.. Gue juga yakin kalau ma kak ray nggak bakal terjadi apa apa ma Zela... tapi kalau tuh anak bolos mau alasan apa lagi kita ke Bu Eni..?? " Jelas Vani masih dengan nada kesalnya, tangan Vani terlipat di dada pertanda dia masih belum bisa tenang.


Hufhh...


Seli menghembuskan nafas kasarnya, lalu menarik Vani untuk menuju ke kelasnya, Vani menurut duduk masih dengan kesalnya.


" Gue yakin kak ray udah ijinin Zela, makanya dia berani bawa kabur Zela.." Jelas Seli lirih,


Takut terdengar teman teman sekelasnya, meskipun hampir semua teman kelas mereka sudah sadar kalau Zela sepertinya akan bolos lagi, sama seperti hari hari sebelumnya karena sudah tak terlihat di antara Seli dan Vani, mereka langsung bisa menebak.


" Hish... Bawa kabur.. Ya kalau ijinin kalau nggak gimana..?? Kita lagi kan yang repot harus bikin alesan.. Mana pelajaran Bu Eni lagi...akh..******..." Jelas Vani frustasi.


" Rempong loe..." Ejek Seli dan Vani hanya mennggapi dengan memonyongkan bibirnya.


Seli geleng geleng kepala melihat tingkah Vani yang konyol,, biasanya dia juga biasa aja.. Zela mau bolos atau nggak, karena mereka selalu punya alasan yang tepat, Tapi sekarang berbeda, mungkin Vani akan berusaha bersikap baik tak sekonyol biasanya karena adanya Bintang disekolahnya.


Meskipun tak satu kelas tapi jika ada kabar tak baik tentangnya, tentu siswa siswi yang berbeda kelas juga akan sampe mendengarnya begitu juga kakak kelas mereka.


Tak lama Bu Eni datang tapi terlihat biasa saja meskipun melihat bangku Zela yang kosong, Seli dan Vani saling pandang bingung merasa aneh.


Pasalnya Bu Eni tak menanyakan Zela sama sekali.


" Bu maaf Zela..." Ucap Seli terpotong oleh Bu Eni.


" Iya..saya sudah tau.. kalian tenang saja..." Jawab Bu Eni membuat Seli dan Vani bertambah bingung.


Tapi mereka juga merasa lega.


" Tuh kan apa gue bilang..." Ledek Seli pelan.


" Kampret tuh anak bikin jantung gue mau copot aja dari tadi.. awas aja Zel gue makan loe besok.." Gumam Vani gemas sendiri karena sedari tadi terus khawatir.


Setelah bel pulang berbunyi anak anak segera berkemas dan keluar dari kelas masing masing, begitu juga mereka berdua yang keluar tanpa adanya Zela.


Seli membawakan tas Zela yang tadi sempat ditinggalnya, Bintang terus menatap mereka berdua dari kejauhan, dia sangat penasaran kenapa gadis cantik yang membuat dia sangat ingin tau itu tidak bersama mereka.


Bintang mengira, kalau mungkin Zela ada sedikit masalah, sampe sampe tadi dia harus buru buru untuk pergi dari kantin dan tanpa kembali lagi.


Tapi wajah Zela tadi tidak menunjukan itu, akh... dia benar benar semakin di buat penasaran oleh gadis cantik yang bernama Azela.


Tak lama Vera datang tapi tanpa gengnya, dia menghampiri Bintang, di saat Bintang memutuskan untuk menanyakan kepada Seli dan Vani tentang keberadaan sahabat mereka yang satunya itu.


Langkah Bintang terhenti karena Vera, dan tanpa malu Vera seperti sudah kenal lama terhadap Bintang.


" Ehmmm...kak nyariin siapa sih..??? Tanya Vera shok tau.. Tapi kebetulan memang benar begitu adanya.


Bintang menatap Vera bingung, dilihatnya gadis didepannya yang cantik tapi sayang jauh dari tipenya.


" Loe siapa..?? Tanya Bintang karena dia memang belum berkenalan dengan Vera, jika sudah dia juga tidak akan begitu ingat namanya karena memang tidak penting juga.


Vera tersenyum dan segera memperkenalkan diri kepada Bintang.


" Kenalin gue Vera.." Ucap Vera yang juga menyodorkan tangannya.

__ADS_1


Bintang menanggapi sambil tersenyum biasa.


" Gue duluan ya.." Pamit Bintang kepada Vera,


Tapi Vera langsung mencegah, dia ingin tau kenapa Bintang sedari tadi terus menatap Seli dan Vani, tadinya Vera mengira kalau Bintang naksir salah satu dari mereka, tapi setelah diamati lebih ternyata Bintang mencari keberadaan Zela yang tak bersama kedua sahabatnya.


Dengan segera Vera langsung menghampir Bintang, jika dia tidak bisa mendapatkan Brayen setidaknya dia bisa mendapatkan Siswa baru sang artis ini pikirnya.


" Kak Bintang tunggu..." Teriak Vera segera mengejar Bintang.


Bintang kembali menatap Vera bingung.


" Ada apa..?? Tanya Bintang sedikit cuek.


" Gue nggak bawa mobil,, boleh sekalian nggak Kak..?? Tanya Vera seperti biasa alasan nggak bawa mobil, supaya bisa berduaan dengan orang yang dia suka.


Bintang berfikir sejenak, tapi kemudian dia mengangguk malas.


" Yess..." Gumam Vera pelan tanpa di dengar oleh Bintang.


Dari saat Vera berjalan bersebelahan dengan Bintang banyak pasang mata yang melihat, termasuk Seli dan Vani yang berada di parkiran.


" What...??? Tuh si bakwan ma kak Bintang..?? Kesal Vani melihatnya.


" Hah..?? Iya Van... sialan kita kalah star..." Sambung Seli juga dengan kesalnya.


" Eh...bentaran deh Sel.. kayaknya Kak Bintang mau kesini deh.." Ucap Vani lagi melihat Bintang yang seperti menuju ke arah mereka.


" Mau ngapain coba.. malas gue pasti si bakwan mau pamer..." Jawab Seli yang ntah kenapa jadi malas dengan Bintang karena mau di dekati oleh Vera.


Dan benar saja Bintang memang menghampiri mereka berdua di parkiran, sebenarnya Bintang juga menuju ke mobilnya tapi karena melihat keberadaan Seli dan Vani akhirnya dia memutuskan untuk menemui mereka terlebih dahulu.


Vera berjalan lenggak lenggok disampingnya, sangat terlihat jika Vera sengaja karena dilihat oleh Seli dan Vani.


" Hay...mau pulang kalian..?? Tanya Bintang yang sudah tiba di depan mereka.


" Iya kak.." Jawab mereka barengan.


Vani melihat Vera geram dia mengepalkan tangannya, rasanya ingin sekali dia meninju muka Vera yang seperti gorengan itu.


" Barengan aja yuk.." Tawar Bintang kepada mereka.


" Eh..nggak usah kak..lagian kita bawa mobil sendiri.." Tolak Seli berusaha sopan.


Bintang mengangguk mengerti, karena dia memang melihat mereka sudah berada di depan mobil masing masing.


Seli dan Vani bingung mau jawab bagaimana, karena memang aneh sekali jika ada sesuatu Zela sampai tidak membawa tasnya.


" Kak Bintang nggak tau ya kalau yang namanya Zela itu emang sering bolos, palingan juga dia lagi pacaran..." Jawab Vera membuat Seli dan Vani seketika memelototkan matanya ke arah Vera.


Sedangkan Bintang menyimak dengan bingungnya juga penasaran.


" Eh..diem ya.. mulut loe dijaga.." Kesal Seli, yang sudah tidak memperhatikan keberadaan Bintang dengan mereka.


Vera hanya tersenyum sinis.


" Mendingan loe pulang deh sana.. tuh mobil loe di sana nggak usah pake alasan nggak bawa mobil biar dapat tumpangan Kak Bintang,,.." Jelas Vani seketika membuat Vera sangat kesal, Vera mengepalkan tangannya dengan mata yang melotot ke arah Vani.


" Jadi loe bawa mobil..?? Tanya Bintang yang dijawab Vera dengan senyum kikuknya.


" Gue duluan ya.." Pamit Bintang kepada mereka dan langsung berlalu.


Ntah kenapa hari pertama sekolah Bintang sudah merasa kesal, ntah kesal karena Vera membohonginya atau kesal karena dia tak tau sama sekali tentang Zela.


fine.... masih banyak hari esok untung gue cari tau tentang loe girl... batin bintang kepada zela.


" Kak sorry..." Teriak Vera yang tak ditanggapi oleh Bintang.


Sedangkan Seli dan Vani cekikikan melihat muka kesal Vera.


" Rasaen loe..makanya nggak usah shok tau tentang urusan orang lain.." Ejek Vani.


" Loe berdua...awas ya.." Ancam Vera dan berlalu menuju mobilnya.


Seli dan Vani masih dengan ketawa puasnya melihat Vera yang sudah berlalu.


" Dasar loe telmi... pinter juga ternyata.." Ucap Seli mengejek Vani tapi juga memujinya.


" Siapa dulu Vani..." Jawab Vani songong.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Back to Zela And Brayen... 😁😁😁


Zela mengerjap ngerjapkan matanya, terasa sesak tak seleluasa tadi ketika dia akan tidur, dilihatnya wajah Brayen yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


Zela mengamati setiap lekuk wajah Brayen, Zela jadi tersenyum sendiri, karena sering sekali dia melakukan ini tanpa sepengetahuan Brayen.


Dilihatnya wajah Brayen yang begitu membuatnya tenang dan selalu memabukan memang, sangat tampan, pantas saja banyak yang menggilainya.


" Sayang... Daddy ganteng ya..?? Gumam Zela berkata pada calon anaknya sambil mengelus perut ratanya.


Cuppp....


Zela mencium kening Brayen, sama seperti apa yang Brayen lakukan tadi ketika Zela tertidur, benar benar jodoh mereka.


Zela melihat jam dipergelangan tangannya, yang ternyata sudah menunjukan pukul 4 Sore.


" Astaga...." Gumam Zela terkejut.


" Kak...kak ray..bangun.." Zela berusaha membangunkan Brayen pelan.


Brayen masih diam tak bergeming, masih terlihat sangat nyenyak dengan tidurnya.


" Kak ray.. bangun kak.. Udah sore..." Sambung Zela sekali lagi mencoba membangunkan Brayen.


Tapi masih tetap sama Brayen tak bergeming,


Zela bingung, kemudian dia mendekat dan ntah idel gila dari mana Zela segera mendaratkan ciumannya di wajah Brayen.


Seluruh wajah Brayen ia ciumi sampai tak terlewat sama sekali, Brayen yang merasa ada sesuatu yang sangat lembut diwajahnya segera membuka matanya, tanpa sepengatuhan Zela karena masih asik dengan aksi membangunkan Brayen dengan cara yang aneh itu, Brayen sangat terkejut karena ternyata Zela yang sedang melakukan itu.


Dengan sengaja Brayen kembali menutup matanya, dia malah sangat menikmati setiap ciuman kilas dari Zela.


Sedangkan Zela yang merasa tak ada perubahan dari Brayen segera menghentikan aksinha dengan kesal.


" Ikh...kebo banget sih kak ray.." Ucap Zela dengan sengaja menarik hidung mancung Brayen keras.


" Auw...." Pekik Brayen dan kembali membuka matanya.


Zela terkikik melihat Brayen yang kesakitan.


" Tau gini dari tadi gue langsung tarik hidung kakak aja biar bangun.." Jelas Zela membuat Brayen menahan senyum.


" Kenapa memang..?? Tanya Brayen pura pura tidak tau.


" Kak ray.. Dari tadi dibangunin susah banget.." Jawab Zela kesal tapi dengan nada sedikit manja..


" Masa sih..?? Tanya Brayen dengan tampang menggodanya.


" Ikh..nyebelin.." Jawab Zela kesal.


Brayen tersenyum, mengacak rambut Zela pelan.


" Harusnya loe cium biar gue langsung bangun.." Bisik Brayen membuat Zela sektika merasa malu.


Muka Zela terlihat sangat merah, Brayen tau kalau Zela pasti sedang menahan malunya, dia tersenyum gemas dengan tingkah Zela.


astaga...kak ray nggak tau aja tadi gue udah nglakuin itu,, batin zela malu sendiri.


" Kenapa bengong..?? Tanya Brayen sengaja.


" Ish... Siapa yang bengong..?? Ayo kak pulang...udah sore.." Ajak Zela kepada Brayen dan segera berdiri.


Tapi Brayen menarik tangan Zela sehingga Zela terjatuh tepat dipangkuannya.


Mata mereka kembali bertemu, seperti biasa tatapan Brayen selalu membuat degup jantung Zela tak karuan dan siap melompat keluar.


Brayen tersenyum dengan matanya yang masih menatap Zela, sedangkan Zela ntah kenapa malah ingin menjerit tak bisa menahan degup jantungnya karena senyuman Brayen.


astaga ..kak ray please..nggak usah pake senyum di saat genting kayak gini.. gue nggak bisa nahan sumpah.. gue nggak bisa... batin zela menjerit.


Brayen menangkup wajah Zela untuk lebih dalam menatapnya, tangannya menuntun tangan Zela untuk mengalungkan di lehernya.. Dengan tangan Brayen melingkar dipinggang Zela, Kembali lagi dia menatap Zela dalam, mereka sama sama bertatap mata jauh lebih dalam..


Hal itu sangat membuat Zela semakin tak karuan, Zela menatap Brayen dengan penuh keinginan ntah dia ingin Brayen melakukan apa.. Tapi sungguh perlakuan Brayen membuatnya semakin tak bisa berkosentrasi.


Yuhu..kak..Makasih udah baca cerita aku..


Nggak bosennya aku minta kakak semuanya untuk


Like,


Comment,


Vote...


Vote


Vote


Vote

__ADS_1


Big Thanks.. 🙏🙏😘😘😘


__ADS_2