Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Hampir Terlupakan


__ADS_3

Ketiga gadis cantik itu masih saling menyerang tanpa tahu keberadaan cowok-cowok tampan yang masih saja setia mengamati mereka.


Sampai akhirnya suara Arshaka membuat kegiatan mereka terhenti.


" Mumy." Panggil Arsha kepada Mommy nya.


Zela, Seli, dan Vani berhenti dan langsung menoleh ke asal suara.


" Astaga suami kecilku." Gumam Vani melihat Arsha yang sedang tertawa ke arah mereka sembari memamerkan giginya yang sudah tumbuh 4 sekarang.


Di bagian atas 2 dan bagian bawah juga ada 2, Arshaka terlihat sangat menggemaskan di usianya saat ini.


Zela langsung menghampiri jagoan kecilnya, di ikuti Seli dan Vani dari belakang, bahkan tidak hentinya Dimas terus menatap Seli dengan tatapan yang sangat susah di artikan, jelas tatapan Dimas membuat Seli jadi salah tingkah sendiri sekarang ini.


" Sayangnya Mommy." Panggil Zela seraya mengambil Arsha dari gendongan Brayen.


Brayen mengecup kening Zela sekilas, lalu Zela bertanya kepada Brayen dengan jarak mereka yang masih sangat dekat. " Kok nggak bilang Kak Ray kalau udah di sini?." Tanya Zela sembari mencium pipi baby Arsha.


" Lihat pertunjukan kalian dulu lah, siapa tahu ada yang sampai jungkir balik dan keliatan tuh isi di dalamnya." Jawab Dimas yang sontak saja membuat ketiga gadis cantik itu menautkan alisnya bingung dengan jawaban dari Dimas.


Sedangkan Brayen hanya menggelengkan kepalanya seraya menyentil kening Dimas.


" Dasar bast*rd." Ucap Brayen membuat Dimas terkikik.


" Emang di dalam isinya apa Kak?." Tanya Vani seperti biasa mulai kambuh ketelmiannya.


Tetapi kali ini Zela dan Seli juga masih belum begitu paham sih dengan ucapan Dimas.


" Roti empuk yang sangat enak Van, dan pastinya bikin ketagihan, iya nggak Ray?." Jawab Dimas kembali ngelantur, bahkan kali ini Dimas menanyakan kepada Brayen yang sudah sering menikmati roti empuknya.


" Roti empuk? Perasaan Gue dari tadi pagi belum makan roti deh." Gumam Vani bingung sendiri dengan jawaban Dimas.

__ADS_1


Sedangkan Zela dan Seli kini mulai paham maksud dari Dimas, Seli bertolak pinggang seraya menatap Dimas tajam.


" Jangan mesum deh." Ucap Seli seraya menarik telinga Dimas.


" Auw Mi sakit." Keluh Dimas yang tidak di perdulikan oleh Seli.


Zela dan Brayen tertawa melihat tingkah keduanya, sedangkan Vani masih bingung sendiri kenapa Seli tiba-tiba menarik telinga Dimas yang menurutnya tidak salah apa-apa, tetapi dia juga ikut tertawa karena menurutnya Dimas terlihat sangat lucu ketika meminta ampun kepada Seli untuk melepaskan tarikan di telinganya.


" No Oty." Suara Arshaka menyuruh Seli untuk menghentikan apa yang sedang di lakukannya terhadap Dimas.


" Eh... Barusan anak Mommy bilang apa?." Tanya Zela lagi membuat Baby Arsha tersenyum.


Vani langsung mengambil Arshaka dari gendongan Zela, dia mencium pipi bayi tampan itu dengan sedikit brutal, sampai membuat Brayen yang melihatnya melotot sedikit kesal dengan Vani, tapi dengan segera Zela menggeleng agar Brayen tidak bertindak kepada Vani yang sedang mencium anaknya itu.


Arsha juga senang di ciumi oleh Vani, dia tidak menangis sama sekali bahkan tertawa ntah karena gemas atau merasa geli terus di ciuk oleh Vani.


" Nah kalau gini Onty jadi sedikit lega sayang." Ucap Vani membuat Arsha kembali tertawa.


" Sayang jangan dong, nanti hidung Onty jadi tambah pesek." Jelas Zela yang langsung dapat tatapan tajam dari Vani.


Zela tertawa, begitu juga dengan yang lain melihat Vani yang tidak lagi bersikap aneh apa lagi sampai menangis seperti tadi.


" Xelo di mana kok nggak ada? Terus pintu kamu kenapa Van bisa jadi rongsok gini?." Tanya Dimas membuat mereka kembali teringat dengan Xelo yang pergi dengan keadaan marah dengan Vani.


" Astoge...!!." Gumam Vani melotot teringat dengan ikan hiu kesayangannya.


" Ayoo kita ke rumah Kak Xelo!." Ajak Zela seraya menarik tangan Seli dan juga Vani.


Mereka bertiga langsung keluar dari kamar Vani. Melewati Brayen dan Dimas yang masih berdiri dan menatap mereka cengo.


Sial Brayen dan Dimas terlihat seperti orant bod*h sekarang ini, itu semua karena ketiga gadis cantik yang mengabaikannya begitu saja, bahkan mereka belum tahu masalah Vani tadi pagi apa, sekarang sudah muncul masalah baru, dan itu Xelo sahabat mereka sendiri. Benar-benar berasa tidak berguna kalau seperti ini.

__ADS_1


Vani Masih menggendong baby Arsha yang sedang tertawa, karena di gendong Vani dengan keadaan Vani sedikit lari untuk menuju ke bawah. Mungkin di pikir Arsha mereka sedang mengajak bermain Arshaka seperti Oma dan Opanya ketika di rumah.


" Jangan bertingkah bod*h ada kita yang bisa jagain kalian!." Teriak Dimas kepada ketiga gadis cantik yang tadi kebingungan ingin memakai mobil yang mana untuk menunu ke rumah Xelo.


" Ayo cepetan Kak Dimas yang nyetir, kita pakai mobil Lo Sel yang gede." Suruh Zela yang langsung di setujui oleh Seli dan mereka.


Tanpa menunggu lama mereka langsung menaiki mobil Seli yang memang paling besar di antara mobil mereka. Cukup menampung mereka semua termasuk si kecil Arsha.


Sedari tadi Vani mencoba untuk terus menelpon Xelo, tetapi naas sekali ponsel Xelo sengaja di matikan untuk menghindari Vani dan sahabat-sahabatnya menelponnya.


Membuat Vani semakin frustasi saja rasanya, dia tidak hentinya kembali menangis seperti tadi, menyebutkan kata maaf untuk Xelo yang sama sekali tidak tahu kegelisahannya saat ini, ntah sudah berapa puluh kata Vani terus meminta maaf sembari menangis. Dan itu sukses membuat Brayen dan Dimas semakin heran, begini rupanya jika wanita sedang marahan dengan pacarnya. Menangis tiada henti.


Apa Zela pernah nangisin Gue sampai segitunya ya? Batin Brayen melirik ke arah istrinya yang duduk di belakangnya. Brayen tersenyum kemudian menggeleng melihat Zela yang sedang mencoba menenangkan Vani.


Sedangkan Arsha kini sudah berada di pangkuan Seli. Bayi tampan dan montok itu malah terlelap tidur setelah tadi di berikan Asi oleh Mommy nya.


" Gue coba hubungi si Xelo, bege banget dia pergi tanpa minta penjelasan dari pacarnya." Gumam Brayen seraya menekan kontak Xelo di ponselnya.


Sama seperti Vani, nomor Xelo tidak bisa di hubungi, bahkan kedua nomornya sama tidak ada yang bisa di hubungi, membuat Brayen menghela nafas dan ikut frustasi dengan sikap kekanak-kanakan Xelo.


" Shit!!." Gumam Brayen ikut kesal karena Xelo tidak bisa di hubungi.


Tetapi bukankah Brayen dan Dimas belum begitu mengerti sebenarnya masalahnya seperti apa? Karena mereka hanya menceritakan tentang Xelo yang salah paham dan pergi begitu saja, maklum cewek kan biasanya yang di ceritakan yang benarnya saja tentang dirinya.


" Van udah Van jangan nangis terus, jelasin masalahnya apa biar kita juga bisa bantu." Suruh Dimas seraya fokus dengan setir mobilnya.


Zela menatap Vani untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Vani menganggukan kepalanya memberikan ijin untuk Zela menceritakannya kepada dua lelaki tampan itu.


Zela bersiap untuk menceritakan semuanya, dan baik Brayen maupun Dimas juga bersiap mendengar apa yang akan di ceritakan oleh Zela.


Tidak lucu bukan kalau mereka menyalahkan Xelo tanpa tahu kebenarannya? Terlebih Xelo ini paling jarang marah kalau bukan masalah yang menyangkut hatinya.

__ADS_1


Hayooolohh... Kira-kira Xelo lagi di mana? Lagi ngelakuin apa ya gaes? 🤭


__ADS_2