
Mobil Xelo akhirnya berhenti di pinggir jalan.Tentu saja karena Vani yang terus meminta untuk di turunkan sebentar, dengan segera Vani keluar dari mobil Xelo. Awalnya Xelo ingin mengikuti Vani untuk turun dari mobilnya. Tapi tentu saja dengan segera di cegah oleh Vani.
" Beb.. Mau ngapain? " Tanya Xelo yang penasaran.
Astaga... Tadi sayang sekarang Beb, tapi ya sudahlah tidak apa, Vani tidak akan mempernasalahkan itu, yang terpenting sekarang adalah dia harus jauh dari Xelo terlebih dahulu.
" Mau cari angin bentar, Kak Xelo di sini aja, awas ya nggak boleh turun dari mobil. " Tegas Vani membuat Xelo mengernyitkan keningnya bingung.
Untuk apa Vani sampai harus turun jika memang ingin mencari angin, bukankah mobil Xelo sama sekali tidak bau? Atau kalau memang ingin mencari angin Vani tinggal menurunkan kaca mobil saja dan itu sudah beres, tapi Xelo tidak ingin bertanya lebih, Xelo hanya menggelengkan kepalanya sambil menoleh ke belakang di mana Vani yang sudah berjalan agak jauh darinya.
Padahal yang sebenarnya, Vani bukanlah ingin mencari angin, melainkan untuk buang angin ha..ha..ha..
Vani menoleh ke arah mobil Xelo yang sudah cukup jauh darinya. Melihat mobil Xelo yang sudah jauh membuat Vani bernafas lega, karena mungkin ini saatnya dia akan mengeluarkan kumpulan angin yang sedari tadi sudah mendesak untuk keluar.
" Aman.... Oke ini saatnya.." Gumam Vani yang juga melepaskan kumpulan angin pada ujung tanduk pant*tnya.
Duuuoodddhhhh.....
Hach... Vani bernafas lega, dia juga terkikik geli dengan tingkah konyolnya barusan, karena terlalu lama di pendam sampai mengeluarkan suara yang lumayan besar dan sedikit bau.
Vani sampai mengibas ngibaskan tangannya sambil cekikikan sendiri.
" Astaga.. Gue parah banget sih" Gumam Vani lagi sambil berlalu untuk menemui Xelo.
" Ekhem..." Suara deheman yang membuat Vani terlonjak kaget. Vani menoleh ke asal suara.
" Astaga..." Ucap Vani tidak percaya melihat seorang lelaki yang ternyata sedang duduk di pinggir jalan dan di belakangnya. Sudah di pastikan lelaki itu tau semua dengan tingkah konyol Vani baru saja.
Dan jangan lupakan jika lelaki itu duduk tepat di belakang Vani. Otomatis dia yang menerima serangan bom atom dari Vani dengan suara yang cukup besar. Tidak membuat luka lekaki itu memang serangan Vani. Tapi serangan Vani termasuk polusi udara pada hidung mancungnya.
Tanpa menunggu lama Vani langsung ngacir pergi untuk menemu Xelo lagi, Vani sangatlah malu dan Vani berharap tidak akan bertemu dengan lelaki itu lagi.
Sungguh jika sampai Vani bertemu lelaki itu lagi, tamatlah riwayat Vani sebagai gadis cantik di sekolahnya.
" Cantik-cantik buang kentut sembarangan" Gumam lelaki itu dengan terus menatap Vani yang sudah mulai jauh, dan akhirnya masuk ke dalam mobil.
Lelaki itu tersenyum, lalu melempar sebotol wine yang sedari tadi menemaninya untuk merasakan malam yang begitu sunyi untuknya, kehidupan yang begitu tidak adil menurutnya.
Vani duduk di sebelah Xelo, sebisa mungkin dia menyembunyikan kegugupannya di depan Xelo.
" Beb.. Ngapain sih? " Tanya Xelo membuat Vani sedikit gugup, Vani tau jika Xelo sudah pasti akan menanyakan hal itu, dan sepertinya terbukti sekarang.
Beruntung Vani sudah mempunyai alasan yang sedikit masuk akal dari pada tadi.
" Tadi kamu nggak lihat Kak kalau di sana ada orang minta-minta ? " Jawab Vani membuat Xelo menoleh ke belakang.
Dan benar saja yang di katakan oleh Vani barusan, ada seseorang memang yang sedang duduk di pinggir jalan bahkan terlihat menyedihkan. Meskipun tidak begitu terlihat jelas karena jarak yang sedikit jauh juga penerangan yang begitu minim.
" Jadi tadi kamu? " Tanya Xelo yang langsung di angguki oleh Vani.
Jujur saja Vani masih sedikit gugup karena dia harus berbohong kepada Xelo.
" Iya tadi aku ke sana buat beri dia, kasian " Jelas Vani sedikit canggung dan menggantung, tapi membuat Xelo mengangguk juga membelai rambut Vani pelan.
" Nggak salah emang aku pilih kamu beb.. Selain cantik tapi kamu juga baik" Puji Xelo dengan senyum tampannya, yang di jawab Vani juga dengan senyuman cantiknya.
" Ayo Kak jalan lagi.. Nanti keburu Zela sama yang lain duluan " Ajak Vani yang di angguki oleh Xelo.
Dengan segera Xelo melajukan mobilnya lagi. Sedangkan Vani malah dengan pikirannya sendiri yang benar-benar sudah berbuat begitu konyol.
Semakin Vani mengingat, semakin Vani menahan tawanya, yang di maksud Vani memberi kepada lelaki yang sedang duduk di pinggir jalan ialah, Vani yang sudah memberi kentut plus baunya kepada lelaki itu. Jauh seperti yang Xelo pikirkan.
Sedangkan di mobil lain, tidak kalah mesra dan konyolnya, pasangan Dimas dan juga Seli yang sama-sama sedang bernyanyi sambil menikmati perjalanan mereka sebelum sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Dimas dan Seli sedang mendengarkan lagu-lagu dangdut, jujur saja jika Zela dan Vani mengetahui ini sudah di pastikan Seli akan di tertawai tujuh hari tujuh malam oleh mereka karena Seli yang memang penikmat segala genre musik, kecuali keroncong dan campur sari yang tidak begitu dia sukai.
Dan rahasia besar Seli dari kedua sahabatnya ialah Seli yang juga menyukai musik dangdut.
" Bi.. Ganti yang kuda goyang dong " Pinta Seli kepada Dimas.
Panggilan sayang Seli dan Dimas ialah " Abi dan Ami ", bahkan panggilan mereka lebih romantis dari panggilan Zela dan Brayen yang sudah menikah.
Tentu saja karena Zela yang sudah agak canggung jika memanggil Brayen dengan sebutan yang lain, mungkin nanti jika anak mereka sudah lahir, panggilan keduanya akan menjadi lebih romantis dari sekarang.
Tapi jika mereka sedang berdua saja memanggil dengan sebutan itu, jika sedang berkumpul dengan yang lain, mereka akan memanggil dengan sebutan seperti biasa.
" Emang ada kuda goyang? " Tanya Dimas sengaja jail kepada Seli.
" Itu lho yang nyanyiin penyanyi pantura" Jawab Seli menjelaskan kepada Dimas.
Dimas menggelengkan kepalanya mendengar apa yang di katakan oleh Seli barusan, Dimas tidak menyangka jika ternyata Seli begitu paham dengan musik dangdut, bahkan sampai mengerti penyanyi pantura.
" Mi.. Ternyata kamu legend juga dengan musik dangdut " Jawab Dimas membuat Seli tersenyum malu.
" Gimana nggak legend coba kalau setiap Ayah pulang kerja disuguhkan dengan musik dangdut " Jawab Seli membuat Dimas tertawa.
Ayah Seli memang begitu menyukai musik dangdut, bahkan Zela dan Vani juga tau tentang hal itu, hanya saja mereka tidak tau jika kesukaan Ayah Seli dengan musik dangdut sampai turun ke anak perempuannya.
" Setelah kita nikah nanti bakal goyang terus nih pasti" Cletuk Dimas yang sukses membuat Seli menatap ke arahnya kesal.
" Bi kok mesum sih? " Kesal Seli membuat Dimas tertawa.
Yang dimaksud Dimas dengan goyang ialah, karena pasti Dimas juga akan sering mendengarkan musik dangdut kesukaan Seli jika nanti mereka sudah menikah dan tinggal bersama. Sedangkan Seli mengira jika yang di maksud Dimas goyang ialah goyangan yang tidak jauh-jauh dari pengantin baru.
Konyol memang, tapi itulah mereka.
" Jangan ngeres kamu Mi, Loove you deh Mi" Ucap Dimas tersenyum ke arah Seli, membuat Seli menggelengkan kepalanya, cowok tampan di sebelahnya ini memang selalu pintar berkata-kata.
Seli tersenyum bahagia mengingat hubungannya dengan Dimas yang sudah ada kepastian, di tambah Vani yang juga sudah mempunyai kekasih, dan Zela yang beberpa bulan lagi akan menjadi seorang Ibu. itu sungguh membuat rasa bahagia Seli bertambah kali lipat rasanya.
Mobil ketiga cowok tampan yang membawa pasangannya masing-masing berhenti di depan sebuah Vila. Sontak saja Zela, Seli dan Vani mengernyitkan keningnya bingung, karena ternyata mereka di bawa ke sebuah Vila yang begitu bagus. Dan mungkin jika di lihat pagi hari atau siang hari akan terlihat lebih indah pemandangannya.
Brayen, Dimas dan Xelo hanya ingin mengajak mereka untuk dinner di vila. Mungkin nanti jika hari sabtu tiba mereka akan menginap di sana. Brayen sudah merencanakan ini semua, jika nanti masih ada waktu dan belum terlalu malam, ketiga gadis cantik itu juga akan di ajak untuk nonton di bioskop bersama.
Malam ini, ketiga cowok tampan itu hanya ingin menikmati dinner romantis dengan pasangan mereka.
Setelah turun dari mobil. Brayen menggandeng Zela untuk masuk ke dalam Vila tersebut. Di ikuti pasanga Dimas Seli dan juga Xelo Vani, mereka melewati ruangan itu begitu saja membuat ketiga gadis cantii itu semakin bingung.
Sampai akhirnya kebingungan mereka terjawab setelah mereka sampai di pinggir kolam renang dengan banyak lilin di pinggirnya. Tidak lupa ada sebuah meja yang cukup besar dengan beberapa makanan yang sudah tersaji dengab rapih, juga lilin di atas meja untuk menambah keromantisan suasana.
" Ayo yang " Ajak Brayen yang juga mempersilahkan Zela untuk duduk, di ikuti Dimas Seli, dan juga Xelo Vani yang juga duduk di meja itu.
Ketiga gadis itu masih bingung, mereka saling pandang, kemudian menatap ke pasangan mereka masing-masing.
Tiba-tiba suara musik terdengar dengan beberapa orang yang datang dengan peralatan musik mereka, dan juga bernyanyi dengan alunan musik yang begitu romantis untuk menemani mereka makan malam.
Sontak saja membuat ketiga gadis cantik itu semakin terkejut, tapi rasa bahagia tidak bisa lagi mereka tahan, Zela langsung memeluk Brayen, begitu juga dengan Seli yang memeluk Dimas, di ikuti Vani yang juga memeluk Xelo dengan senyum harunya.
" Ini berlebihan Kak " Ucap Zela masih dengan memeluk Brayen.
" Ini tidak seberapa dengan apa yang sudah kamu beri untuk aku yang, terimakasih sudah menjadi bagian hidup aku" Jawab Brayen mengelus rambut panjang Zela. Membuat Zela tersenyum begitu bahagia.
Brayen mencium puncuk kepala Zela, lalu kembali memeluknya dengan pelukan yang begitu hangat.
Mereka makan malam dengan di temani alunan musik yang begitu romantis, tentu saja mereka sama-sama merasakan kebahagiaan yang berlebih di malam ini.
" Boleh request nggak sih? " Tanya Vani di sela-sela makan mereka.
__ADS_1
" Tinggal bilang aja Beb.." Jawab Xelo membuat Vani tersenyum senang.
" Dih.. Bebeb ya sekarang" Goda Zela membuat mereka tersenyum malu, sedangkan yang lain tertawa.
" Mau request lagu apa sih Van? Dari tadi enak-enak kok lagunya" Sambung Seli bertanya kepada Vani.
" Pengen dengerin lagunya Babang Ariel Menghapus Jejakmu " Jawab Vani membuat yang lain terkejut.
" Astaga Van " Gumam Zela tidak percaya.
" Kenapa? " Tanya Vani dengan bingungnya.
" Beb.. Masa baru jadian udah mau Menghapus jejaku sih?? " Tanya Xelo dengan nada suara sedikit frustasi.
" Iya.. Lo jahat tau nggak" Sambung Seli lagi membuat Vani menyipitkan matanya.
Sedangkan Brayen dan Dimas masih menyimak. Menurut mereka tidak masalah memang.
Sebenarnya tidak masalah jika memang Vani hanya ingin mendengarnya, tapi sebagai wanita Zela dan Seli sudah pasti akan mempernasalahkan hal kecil seperti itu, begitu juga dengan Xelo yang cukup terkejut dengan permintaan Vani. Xelo dan Vani baru saja jadian, dan tiba-tiba Vani meminta lagu seperti itu, bukanhkah terkadang sebuah lagu mewakili perasaan seseorang?
Hufh...
Vani menghela nafasnya, dia tersenyum manis ke arah Xelo yang terlihat sudah mulai gelisah.
" Beb.. Aku suka lagu itu, itu jauh dari apa yang aku rasakan, hanya sekedar suka saja" Jelas Vani menggenggam tangan Xelo. Membuat Xelo menatap Vani tapi masih tanpa expresi.
" Coba kalau Gue lagi pengen denger lagunya Aura Kasih Mari Bercinta, apa itu aku juga meminta seperti lagu itu? " Sambung Vani lagi membuat yang lain terdiam, sedangkan Brayen dan Dimas tertawa terbahak.
" Ha..ha.. Bener tuh kata Vani, cuma lagu aja kalian ribet " Jelas Dimas membuat yang lain kesal.
Memang benar sih apa yang di katakan oleh Vani, tapi tetap saja Vani ingin mendengar lagunya Babang Ariel di waktu yang tidak tepat menurut Zela dan juga Seli.
" Sudah.. Kita lanjutkan makan dulu " Suruh Brayen membuat yang lain mengangguk dan menurut.
Mereka akhirnya melanjutkan makan malam romantis yang tadi sempat tertunda karena permintaan konyol Vani.
Setelah selesai dengan makan malamnya, mereka melanjutkan berdansa dengan di iringi musik yang begitu romantis.
" Sayang.. I Love You " Bisik Brayen kepada Zela.
Zela tersenyum ke arah Brayen, mereka masih dalam keadaan sedang berdansa.
" I Love You Too Hubby " Jawab Zela membuat Brayen tersenyum tampan ke arahnya.
Brayen mencium kening Zela begitu lembut, Zela memejamkan matanya, dan kembali mereka berdansa.
Tapi sepertinya Brayen mulai menginginkan lebih saat gerakan dansa mereka menjadi sedikit exotic. Brayen ingin menikmati malam yang panjang bersama Zela istri cantiknya.
Brayen mengecup leher Zela sekilas, tentu saja karena gerakan dansa mereka yang mendukung untuk melakukan hal itu.
Zela memejamkan matanya, sentuhan bibir Brayen sangatlah lembut, bahkan mampu menggetarkan jiwanya, tapi ini bukan waktu yang tepat, Zela tidak ingin mengecawakan kedua sahabatnya yang sedang menikmati moment romantis dengan kekasih mereka.
" Sayang..." Bisik Brayen lagi kepada Zela, dengan nada suara yang sudah berbeda.
Zela mengerti jika Brayen menginginkannya, tapi tidaklah mungkin mereka akan meninggalkan sahabat-sahabat mereka sekarang untuk melanjutkan malam panjang mereka sebagai suami istri.
" Kak.. Nanti ya.. Kita bisa melakukannya setelah kencan ini" Jawab Zela sambil mengecup sekilas bibir Brayen, berharap Brayen akan mengiyakan permintaanya.
Brayen menatapa Zela, dengan tatapan yang sangat sulit Zela artikan.
Astaga... Brayen ini benar-benar mudah sekali tergoda dengan tubuh Zela. Beruntung Zela adalah istrinya jadi dia bebas melakukan apa saja sesuka dirinya.
Yuhuu.. Gaes... Like, Comemnt and Vote ya.. Pelase.. Vote, Vote, Vote..
__ADS_1
Big Thanks 🙏🙏😘😘