
Suasana sejuk dan asri membuat kedua pasangan suami istri muda itu larut dalam keromantisan cinta mereka, kini mereka sudah berada di salah satu kamar yang Brayen sewa untuk melampiaskan hasrat dengan istri cantiknya.
Sangat di sayangkan memang, jika mereka jauh-jauh ke puncak. Bahkan sampai Zela bolos di hari pertamanya masuk sekolah tidak mengarungi samudra cinta di dalam kenikmatan dunia yang akan mereka rasakan dan gapai sama-sama.
Kedua pasangan itu sudah sama-sama di mabuk cinta dengan sentuhan hangat mereka satu sama lain, hanya tinggal menyatukan dan akan berlanjut sampai apa yang mereka inginkan tergapai. Tapi beberapa kali ponsel Brayen dan Zela berbunyi, dengan terpaksa Brayen mengangkat telepon yang ternyata dari Bundanya, Bunda Wina memang menghubungi Brayen dan Zela karena Kepala Sekolah Zela memberitahukan jika Zela tidak masuk ke sekolah hari ini. Hal itu jelas membuat tanda tanya besar pada diri Bunda Wina.
Kemana anak dan menantunya?
" Bunda yang." Ucap Brayen memberitahukan Zela jika yang sedari tadi yang menelfonnya ialah Bunda Wina.
Zela menghela nafasnya, dia tau jika Bunda Wina pasti sudah tau mengenai dirinya yang tidak jadi berangkat Sekolah.
" Angkat saja Kak." Jawab Zela menyuruh Brayen untuk mengangkat teleponnya.
Brayen menurut, tapi baru saja Brayen akan mengangkatnya panggilan dari Bunda Wina sudah di matikan, tapi tidak lama ponselnya kembali berbunyi, dan sekarang Bunda Wina bukan hanya ingin melakukan panggilan telefon saja, tapi juga melakukan video call untuk melihat keberadaan Brayen dan Zela sekarang.
Sedangkan Zela sedang mengecek ponselnya, kedua sahabatnya juga terus menghubunginya sedari tadi, pasti bertambah heboh dengan menghilangnya dirinya di sekolah.
Brayen menekan tombol hijau pada layar ponselnya, dan kini tampaklah wanita paruh baya yang sedang menatapnya dengan serius.
" Bunda." Panggil Brayen sembari tersenyum ke arah Bunda Wina.
" Pakai baju dulu Ray." Jawab Bunda Wina melihat dada Brayen tanpa baju yang melekat.
Sontak saja membuat Brayen terkejut, tapi bukannya memakai baju dia malah tersenyum ke arah Bunda Wina, terlihat jelas Bunda Wina yang menggelengkan kepalanya dengan tingkah anaknya itu.
" Bunda mau ngomong sama menantu Bunda." Ucap Bunda Wina membuat Brayen sedikit bingung pasalnya Zela juga sudah sama-sama melepas bajunya.
Bisa di bayangkan jika Zela melakukan video call dengan Bunda Wina tanpa bajunya, Zela tidak akan berani menatap Ibu martuanya itu, meskipun tidak akan mungkin seorang Bunda Wina marah dengan Zela hanya karena masalah seperti itu.
Dengan bahasa isyarat Brayen menyuruh Zela untuk memakai bajunya terlebih dahulu. Setelah itu Zela menghadap martuanya lewat layar ponsel suaminya.
__ADS_1
" Sayang." Sapa Bunda Wina kepada Zela.
" Iya Bun, maaf." Jawab Zela langsung meminta maaf kepada Bunda Wina.
Zela tau betul apa yang sudah di perbuatnya memanglah salah, harusnya Zela tidak melakukan itu, meskipun pada dasarnya dia sangat senang dengan ajakan Brayen untuk bolos dan ke puncak.
" Tidak apa sayang, Ray yang tidak benar mengajarkanmu." Jawab Bunda Wina dari layar ponsel Brayen.
Zela tersenyum lega karena Bunda Wina sama sekali tak memarahinya, meskipun sebenarnya dia masih merasa begitu salah, bagaimanapun juga tidak sepenuhnya salah Brayen, karena Zela juga mau saja di ajak oleh Brayen untuk bolos di hari pertamanya masuk kembali ke sekolah.
Bunda Wina hanya ingin tau kebenarannya, dan semua sudah terjawab setelah melihat keberadaan Zela dan Brayen sekarang, sejujurnya ada rasa kecewa pada diri Bunda Wina, bukan kecewa dengan Zela, melainkan dengan Brayen yang malah dengan sengaja membawa istrinya ke puncak.
Bunda Wina tau betul jika Brayen sudah sangat ingin menghabiskan waktu bersama dengan Zela, dan hanya mereka berdua, karena sejak kehadiran Arsha, Zela memang lebih sering menghabiskan waktu dengan bayi montok itu.
Setelah sambungan video call dengan Ibu martuanya di matikan, Zela menatap Brayen dengan serius, sedangkan Brayen yang di tatap malah memberi senyum tanpa berdosanya.
Memang dosa apa Brayen jika meminta haknya kepada Zela sekarang ini? Meskipun Brayen tidaklah tau waktu mengajak Zela ke puncak di jam Sekolah. Bahkan Zela juga masih memakai seragam sekolahnya sekarang.
Brayen langsung menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju, jelas Brayen tidak setuju jika mereka jauh-jauh ke puncak hanya melakukan for play saja tanpa berperang yang sesungguhnya.
" Perang dulu sayang." Jawab Brayen membuat Zela menautkan alisnya.
" Perang?." Tanya Zela yang di angguki langsung oleh Brayen.
" Pemimpin Wakand* baru saja meninggal Kak, masa iya kita mau perang?." Jawab Zela sengaja ngelantur supaya Brayen melupakan keinginannya.
Tapi jawaban Zela ternyata membuat Brayen malah tertawa dan semakin gemas dengan istrinya.
" Dih sengaja banget bikin aku tambah gemas." Jawab Brayen yang membuat Zela menggeleng sembari menatap Brayen tidak percaya.
Maksud Zela bukan itu, tapi memang Zela ingin menunda dulu pergulatan dengan Brayen sekarang ini.
__ADS_1
Brayen semakin mendekat, dan membuat Zela tidak lagi bersuara apa lagi bergerak.
" Lanjutin sekarang, dan nggak ada penolakan." Bisik Brayen sembari mencium tengkuk leher Zela.
Jelas kalau sudah begini Zela akan kalah telak dengan Brayen, tidak mungkin Zela membuat dosa besar dengan menolak ajakan Brayen.
Oke kali ini Brayen menang, Zela benar-benar di bawah kendali dan kuasa seorang Brayen Zafano. Bahkan mereka melakukannya bukan hanya sekali saja tapi sampai beberapa kali, seakan tidak ada puasnya Brayen terus membuat Zela menjerit sampai terkulai lemas di bawahnya.
Brayen mencium kening Zela yang sudah memejamkan mata karena begitu lelah dengan pergulatan mereka kali ini.
" Thank you my wife, you are the best." Bisik Brayen di telinga Zela yang sudah memejamkan matanya.
Zela tidak menjawab, tapi dia sempat mengecup bibir Brayen sebentar.
" Istirahat dulu, kita akan pulang setelah kamu istirahat." Ucap Brayen yang di jawab Zela dengan senyuman sekilas.
Zela tidak menjawab, tapi dia masih mendengar apa yang Brayen katakan barusan, begitu juga dengan Brayen yang ikut memejamkan matanya di samping Zela.
Sedangkan di tempat lain, tampak Pak Riko terus tertawa mendengar cerita Bunda Wina tentang kaburnya anak dan menantunya hari ini, bahkan di hari pertama masuk sekolah. Zela mau saja di ajak Brayen ke puncak.
" Jadi mereka ke puncak Bun?." Tanya Pak Riko dari sambungan teleponnya.
" Iya yah... Apa lagi tadi mereka sudah berada di kamar bukan di perkebunan lagi." Jawab Bunda Wina menjelaskan kepada suaminya.
Penjelasan Bunda Wina semakin membuat Pak Riko tertawa, sungguh ternyata anaknya itu sudah tidak tahan di angguri lama oleh Zela, pikir Pak Riko.
" Biarkan saja Bun, itung-itung mereka sedang berbulan madu yang sempat tertunda." Jelas Pak Riko membuat Bunda Wina menggelengkan kepalanya.
Jelas suaminya tidak beda jauh dengan anak tampannya.
" Bunda sih nggak masalah Yah, kalau di bikinin cucu sebanyak-banyaknya yang lucu seperti ini." Jawab Bunda Wina sembari mencium pipi baby Arsha yang sedang di pangkunya.
__ADS_1
Pak Riko tertawa mendengar penuturan istrinya, apa lagi sesekali mendengar suara ocehan cucu tampannya, semakin membuat Pak Riko ingin cepat-cepat pulang dari kantornya dan bermain dengan baby Arshaka.