Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Menjenguk Vera


__ADS_3

Zela, Seli dan Vani menuju di mana siswa siswi sedang mengerubun gadia yang membuat sekolah cukup gaduh itu.


Terlihat gadis cantik yang dengan centilnya berjalan bak model melewati kerumunan siswa siswi.


Zela dan kedua sahabatnya saling pandang bingung, karena gadis cantik itu berjalan menuju ke arah mereka. Setelah sampai di depan mereka. Gadis cantik itu tersenyum manis ke arah Zela. Bahkan rasanya Zela seperti mengenalinya, tapi siapa ?? Zela mencoba untuk mengingatnya tapi tak juga dapat jawaban.


" Lupa sama Gue ? " Tanya gadis itu kepada Zela.


Seli dan Vani semakin bingung dan terkejut, begitu juga siswa siswi yang terkejut dengan apa yang mereka lihat, gadis cantik itu langsung menyapa Zela, gadis paling cantik di Sekolah mereka juga gadis yang menjadi istri Idola SMA juga kampus depan.


Zela mengernyitkan keningnya bingung, Zela berfikir gadis di depannya ini sangatlah sok kenal kepadanya.


" Ya ampun Zezel.. Gue Dara sepupu Lo " Sambungnya lagi membuat Zela terkejut bukan main.


Astaga.. Zela sampai melotot tidak percaya, bagaimana mungkin sepupunya bisa tiba-tiba muncul di Sekolahnya menjadi siswi baru. Bahkan Zela sendiri tidak tau kapan kedatangannya. Dan yang membuat Zela semakin syok ialah karena penampilan Dara yang sekarang begitu berbeda dengan yang dulu.


Dulu Dara gendut dan hitam, bahkan Dara terlihat gadis hitam manis yang sangat menggemaskan, sedangkan sekarang Dara sudah menjadi gadis yang sangat cantik, tidak lagi gendut dan hitam yang melekat pada dirinya.


" Astaga.. Serius ini Lo ? " Tanya Zela yang di angguki oleh Dara dengan senyum manisnya.


Zela dan Dara saling berpelukan menghilangkan rasa rindu, karena sudah sangat lama tidak bertemu, bahkan ketika lulus SD Dara memang sengaja di sekolahkan ke luar negri oleh orang tuanya. Dan itu membuat mereka jarang berkomunikasi apa lagi bertemu.


Sampai sekarang akhirnya mereka di pertemukan lagi.


" N*iiirrr keluarga beauty " Ucap salah satu siswa yang melihat Zela dan Dara sedang berpelukan.


" Gue rasa juga tadi tuh cewek masih produk yang sama dengan Zela, secara tuh cewek kan cantik kayak bidadari Zela " Jawab salah satu siswa lagi.


Sedangkan para siswi yang melihat Zela dan Dara semakin kesal saja.


" Gue nggak nyangka Lo sekarang beda banget Ra " Jawab Zela memuji penampilan Dara yang sekarang.


" Iya dong.. Dan Lo akan lebih nggak percaya lagi kalau Gue bilang sekarang Gue tinggal di rumah Lo " Jelas Dara membuat Zela semakin melotot.


" Hah..?? Serius Lo ?? Kok nggak ada yang kasih tau Gue sih ? " Ucap Zela terkejut.


" Gue emang sengaja kok suruh Tante sama Om juga Kak Zifa buat nggak kasih tau Lo, surprise gitu buat Lo " Jelas Dara membuat Zela kembali memeluk Dara dan tersenyum.


" Eh Ra.. Kenalin nih sahabat Gue.. Seli sama Vani " Ucap Zela kepada Dara.


" Hai Gue Dara " Ucap Dara berkenalan dengan Seli dan Vani.


" Seli "


" Vani " Jawab mereka kepada Dara


" Jadi Lo mau sekolah di sini ? " Tanya Zela lagi karena masih belum percaya.


" Iya lah Zel, Gue di suruh Bonyok buat lanjutin di sini " Jelas Dara yang di angguki oleh Zela.


" Bagus deh kalau gitu, Lo Kakak kelas Gue kan ? " Tanya Zela kepada Dara.


" Iya dong, masa Gue adik kelas Lo " Jawab Dara membuta mereka tertawa.


Sampai akhirnya bell masuk sudah berbunyi, dengan segerw Zela dan kedua sahabatnya pamit kepada Dara untuk menuju kelasnya. Begitu juga dengan Dara yang masuk ke dalam kelas barunya, dan sepertinya Dara satu kelas dengan Bintang.


Guru mapel pertama hari ini belum masuk ke kelas. Zela membuka pesan yang ternyata dari Ibu martuanya. Bunda Wina memberitahukan Zela jika nanti dia akan ke rumah sakit untuk menjenguk Vera, dan Bunda Wina mengajak Zela untuk ke sana, tentu saja tanpa sepengetahuan siswa siswi lain, karena kasus Vera ini memanglah sangat berat untuk di pertimbangkan lagi.


Baik Bunda Wina dan juga Pak Riko serta Guru-guru yang lain sudah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Bahkan akan di adakan rapat antara para Guru juga Pak Riko nantinya untuk membahas masalah Vera bagaimana ke depannya.


" Gaes " Ucap Zela kepada Seli dan Vani.


" Napa ? " Tanya Vani kepada Zela.


" Kalian mau ikut Gue nggak ? " Tanya Zela membuat Seli dan Vani mengernyitkan keningnya bingung.


" Lo mau kemana sih Zel ? Pake bisik-bisik segala " Tanya Seli merasa heran dengan Zela.


" Nih baca Chat Bunda, tapi jangan berisik kalian bacanya cukup dalam hati aja " Suruh Zela menyerhakan ponselnya kepada kedua sahabatnya.


Dengan segera Seli dan Vani membaca isi chat yang Bunda Wina kirimkan untuk Zela.


" Ikut !! " Teriak Seli dan Vani kompak.


Zela langsung melotot ke arah mereka berdua. Astaga.. Kedua sahabatnya ini memang bandel dan tidak bisa di bilangin.


" Kalian mau Gue timpuk ? " Kesal Zela yang dapat cengiran dari Seli dan Vani.

__ADS_1


" Sorry " Jawab Seli dan Vani kompak.


Sampai akhirnya pelajaran hari ini di sekolah sudah selesai. Bahkan Zela sudah meminta Brayen untuk tidak menjemputnya, tentu saja karena dia akan langsung pergi menemui Bunda Wina di Rumah sakit sebelum nanti mereka akan menjenguk Vera.


" Bunda udah di rumah sakit ? " Tanya Seli yang di angguki oleh Zela.


" Tadi sih Bunda chat Gue nunggu di depan " Jawab Zela yang di angguki oleh Seli.


Seperti biasa jika ketiga gadis cantik ini satu mobil. Sudah di pastikan Seli yang akan menjadi sopir mereka.


" Emang beneran nggak sih gaes kalau Vera tuh lagi hamil ? " Tanya Vani membuat Zela dan Seli terkejut.


" Jangan ngawur Lo Van " Jawab Seli mengingatkan Vani.


" Ye.. Gue denger dari anak-anak kali Sel, nggak percayanan sih Lo " Jawab Vani membela diri.


" Udah sih malah jadi berantem, kita lihat aja nanti gimana, kalaupun iya kita harus bisa jaga rahasia, jangan sampai anak-anak tau " Jelas Zela yang di angguki oleh Seli dan Vani.


Sampai akhirnya mobil Seli sampai di rumah sakit Zafano. Dengan segera mereka keluar dari dalam mobil untuk menemui Bunda Wina yang sedang menunggu anak-anak gadisnya datang.


" Bunda " Sapa ketiga gadis cantik itu melihat keberadaan Bunda Wina.


" Sayang.. Akhirnya pada datang juga kalian " Jawab Bunda Wina.


Zela, Seli dan juga Vani bersalaman terlebih dahulu kepada Bunda Wina.


" Ayo langsung aja ke ruangan teman kalian " Ajak Bunda Wina yang di angguki oleh Zela dan kedua sahabatnya.


Sepanjang perjalanan ponsel Vani terus berbunyi. Xelo yang terus menghubunginya karena ingin menjemput Vani, tentu saja karena Vani tadi lupa mengasih tau terlebih dahulu kalau dia akan ikut menjenguk Vera di rumah sakit.


" Siapa sih Van ? " Tanya Seli kepada Vani.


" Kak Xelo.. Gue tadi lupa nggak kasih tau kalau mau ke sini dulu " Jawab Vani membuat Seli terkikik.


" Kebiasaan jomblo jadi lupa kalau udah punya pacar " Ledek Seli membuat Vani melotot kesal ke arah Seli.


" Ekhem.. Kalian udah jadian sama Dimas dan Xelo tapi nggak kasih tau Bunda ya " Sambung Bunda Wina membuat Seli dan Vani malu.


Sedangkan Zela terkikik mendengarkan Ibu martua dan kedua sahabatanya. Tapi tangannya masih sibuk membalas caht Brayen yang terus memintanya untuk pulang cepat.


" He.. Ni mau sekalian curhat sama Bunda " Jawab Vani dengan kikuk.


" Besok harus pada main ke rumah lho kita rayain bersama, kasih tau Bunda ya kalau Dimas sama Xelo sampai berani macam-macam sama kalian " Jelas Bunda Wina kepada Seli dan Vani.


" Siap Bund " Jawab Seli dan Vani kompak.


" Martua Gue baik kan ? " Bisik Zela kepada Seli dan Vani.


" Semoga Maminya Kak Xelo kayak Bunda " Jawab Vani lirih.


" Wuhh.. Ngarep aja Lo " Ledek Seli kepada Vani.


" Biarin, syirik aja Lo " Jawab Vani membuat Zela dan Seli tertawa.


" Hush... Jangan berisik di rumah sakit, nanti di suntik Dokter lho " Sambung Bunda Wina membuat ketiga gadis cantik itu menahan tawa dengan senyuman mereka.


Mereka kembali berjalan, tentu saja sedari tadi banyak karyawan Rumah Sakit dan juga para Dokter yang mengangguk memberi salam kepada Bunda Wina. Pemilik Rumah Sakit Zafano.


Sampai akhirnya mereka sampai di depan ruangan di mana Vera sedang di rawat. Di depan ruangan Vera ada dua Orang paruh baya yang memang sedang menunggu kedatangan Bunda Wina. Siapa lagi kalau bukan kedua Orang Tua Vera.


Orang Tua Vera berdiri dan tersenyum kepada Bunda Wina. Juga ketiga gadis yang datang bersama Bunda Wina.


" Ibu Wina silahkan " Ucap Ibu Vera kepada Bunda Wina.


Bunda Wina mengangguk sambil tersenyum, mengikuti kedua Orang Tua Vera yang lebih dulu masuk ke dalam ruangan Vera. Begitu juga dengan ketiga gadis cantik yang mengikutinya dari belakang.


Bahkan Bunda Wina seperti membawa pasukan untuk menjenguk Vera. Sampai di dalam ruangan. Terlihat Vera yang masih berbaring lemah di ranjang pasiennya.


Vera memalingkan wajahnya melihat kedatangan Zela dan kedua sahabatnya. Tentu saja Vera sangat malu dengan apa yang terjadi dengannya, terlebih Zela adalah musuh bebuyutannya, meskipun sebenarnya Veralah yang selalu mencari gara-gara kepada Zela dan kedua sahabatnya.


" Nak.. Ada Ibu Wina Nak " Ucap Ayahnya Vera memberitahu.


Vera menghela nafasnya, jujur saja Dia begitu mali dengan apa yang sekarang ini dialami olehnya. Bahkan rasanya Vera sudah tidak ada lagi semangat untuk hidup di dunia. Vera masih terdiam tanpa menjawab perkataan Ayahnya, buliran air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya, sampai akhirnya tidak lagi bisa Dia tahan dan keluar begitu saja.


" Sayang " Sambung Ibunya Vera mencoba agar Vera mau menoleh ke arah mereka.


" Sudah Bu.. Biarkan saja, saya tau memang tidak mudah untuk Nak Vera dengan keadaannya seperti sekarang ini " Sambung Bunda Wina kepada kedua Orang Tua Vera.

__ADS_1


Bunda Wina meletakan beberapa bingkisan buah ke dalam meja yang berada di sebelah ranjang Vera. Lalu Bunda Wina lebih mendekat ke arah Vera. Saat ini posisi Vera masih membelakangi kedua Orang Tuanya, Bunda Wina, juga Zela dan kedua sahabatnya.


Bunda Wina mengusap pelan punggung Vera, Meskipun marah tapi Bunda Wina juga merasa kasihan dengan Vera yang masih begitu muda tapi salah dalam pergaluan sampai harus mengalami hal seperti sekarang ini.


" Nak.. Saya datang ke sini hanya untuk sekedar menengok kamu, ingin tau keadaanmu tanpa ada maksud lain, jika Kamu merasa tidak nyaman karena adanya menantu saya dan teman temannya, itu saya sendiri memang yang mengajak mereka untuk datang ke sini melihat keadaanmu " Jelas Bunda Wina sambil mengusap pelan pundak Vera.


Perlahan Vera berbalik ke arah Bunda Wina dan yang lain. Vera menatap Bunda Wina dengan senyum juga air mata yang kembali berlinang, dengan segera Bunda Wina menyeka air mata Vera dengan begitu lembut.


Membuat Vera merasa begitu bersalah dengan wanita paruh baya di depannya. Bersalah karena pernah berbuat salah dengan menantu kesayangannya. Dan membuat nama Sekolah tidak baik karena dirinya.


" Terimakasih banyak Bu " Ucap Vera begitu pelan.


" Sama-sama Nak " Jawab Bunda Wina dengan senyum manisnya. Bahkan Bunda Wina juga menyelipkan anak rambut yang berada di wajah Vera ke belakang telinga.


Perlakuan Bunda Wina yang begitu baik kepada Vera, membuat Vera tersenyum dan semakin merasa bersalah. Vera menatap kedua Orang Tuanya yang berdiri tidak jauh dari Bunda Wina. Lalu menatap Zela, Seli dan Vani yang berdiri di belakang kedua Orang Tuanya.


Vera tersenyum ke arah Zela, Seli dan Vani, membuat ketiga gadis cantik itu perlahan melangkahkan kakinya untuk maju ke depan lebih dekat dengan Vera yang masih terbaring di ranjang Rumah Sakit.


" Sayang sini " Ajak Bunda Wina yang diangguki oleh ketiga gadis yang menjadi pasukannya hari ini.


Zela berdiri di sebalah Bunda Wina. Sedangkan Seli dan Vani masih berdiri di sebelah kedua Orang Tua Vera.


Bunda Wina merangkul Zela dan tersenyum ke arah Zela bergantian dengan Vera.


" Zela, maafin Gue ya " Ucap Vera dengan suara pelan. Tentu saja karena Vera masih dalam keadaan pemulihan.


" Gue udah maafin Lo kok, kalau Gue, Seli sama Vani ada salah ma Lo, kita juga minta maaf ya " Jawab Zela yang juga meminta maaf kepada Vera.


Vera mengangguk dengan senyuman kepada Zela, lalu tersenyum ke arah Seli dan Vani yang berdiri di belakang Zela, membuat Seli dan Vani mengangguk sambil tersenyum.


" Lo cepet sembuh ya " Ucap Seli yang diangguki oleh Vera.


" Semangat Ver " Sambung Vani lagi membuat Vera tersenyum ke arah Vani.


Jujur saja Vera begitu malu kepada ketiga gadis cantik di depannya ini. Bahkan setelah apa yang sudah Dia lakukan kepada Zela juga kedua sahabatnya, nayatanya mereka masih mau menjenguknya di Rumah Sakit.


" Jangan lama-lama ya di sini " Ucap Zela kembali diangguki oleh Vera dengan senyumannya.


Bunda Wina dan kedua Orang Tua Vera merasa begitu senang melihat Zela CS dan Vera sudah baikan, dan semoga tidak ada lagi dendam di antara mereka pikir Bunda Wina.


Setelah pamit kepada kedua Orang Tua Vera dan juga Vera sendiri, mereka akhirnya pamit untuk pulang. Bahkan tadi di antara Zela, Seli dan Vani sempat berpelukan dengan Vera sebelum akhirnya mereka keluar dari ruangan itu.


Huffhh....


Ketiga gadis cantik itu menghela nafasnya secara bersamaan, membuat Bunda Wina tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan tingkah menantu cantiknya dan sahabatnya.


" Huch.. Tadi Gue sempet tegang tau nggak ? " Ucap Vani kepada mereka.


" Nonton horor kali Van yang bikin tegang " Jawab Seli kepada Vani.


" Barusan lebih dari horor tau Sel.. Nih pegang tangan Gue sampai keringetan gini " Jelas Vani sambil telapak tangannya di tempelkan ke telapak tangan Zela dan Seli.


" Astaga.. Vani.. Baru gitu aja Lo udah keringetan apa lagi nanti kencan perdana Lo ma Kak Xelo, jangan pingsan lagi ya " Jelas Zela sambil meledek Vani, membuat Seli tertawa terbahak begitu juga dengan Bunda Wina yang semakin tersenyum dengan tingkah gadis cantik itu.


" Sudah-sudah jangan berisik ini di Rumah Sakit Nak " Ucap Bunda Wina mengingatkan kepada mereka bertiga.


" Sorry Bund " Jawab mereka kompak juga dengan suara yang sudah di pelankan.


" Nak kamu apa mau sekalian periksain ke Dokter kandungan ? " Tanya Bunda Wina kepada Zela.


" Bo.." Ucap Zela terputus karena ponsel Bunda Wina sudah berbunyi.


Dengan segera Bunda Wina mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya tadi. Bunda Wina mengernyitkan keningnya bingung, pasalnya Brayen yang menelfonnya dan sudah bisa Bunda Wina tebak kalau anaknya menelponnya hanya untuk menanyakan menantu cantiknya yang sekarang sedang bersama dengannya.


Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Bunda Wina menatap Zela dengan senyum dan gelengan kepala, membuat Zela sedikit bingung tentunya.


" Suami kamu barusan yang telepon Bunda, katanya kamu di hubungi nggak aktif Nak, ayo kita pulang sebelum Tuan Muda ngamuk nanti " Jelas Bunda Wina membuat Zela, Seli dan Vani tersenyum. Yang dimaksud Bunda Wina Tuan Muda ialah Brayen, anaknua sendiri dan juga suami Zela.


Brayen sedari tadi sudah mondar mandir tidak jelas menunggu Zela, bahkan tadi Mamah Hana juga sudah menelponnya untuk meminta Zela dan Brayen makan malam bersama di Rumah Adafsi.


Ponsel Zela yang memang mati membuat dan tidak bisa di hubungi oleh Brayen, membuat Brayen semakin khawatir saja.


" Kebiasaan nggak pernah kasih tau Gue dulu " Gumam Brayen sedikit kesal dan juga cemas pastinya kepada Zela, istri cantiknya yang hampir membuatnya gila.


Gaes.. Like, Comment and Vote ya.. Please VOTE gaes


Big Thanks buat kalian, jangan lupa mampir ke novelku yang satunya ya " My Naughty Brother " Aku tunggu kalian di karyaku yang ini ya 😘😘

__ADS_1


__ADS_2