Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Pengen Kucing


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul 10 malam lebih, tapi Zela masih asik dengan ponselnya, membaca beberapa pesan yang Vani kirimkan di grup chatnya bersama kedua sahabatnya itu, grup chat yang beranggotakan Zela, Seli, dan juga Vani.


Sedangkan Brayen duduk di sebelahnya, dengan tangannya mengelus perut buncit Zela, kini calon anak mereka sudah sering sekali menandakan aktifnya dengan menendang perut Zela.


Brayen tersenyum, kemudian dia mencium perut buncit Zela, membuat Zela menoleh ke arah suaminya dengan senyum tapi kembali fokus pada ponsel yang sedang di pegangnya.


" Yang kenapa tadi Vani pulang dulu?." Tanya Brayen kepada Zela.


" Sakit perut katanya, ni katanya juga masih bolak balik toilet." Jawab Zela membuat Brayen mengangguk.


Vani memang beralasan jika dia sakit perut dan sampai sekarang masih saja bolak balik ke toilet. Padahal kenyatannya Vani hanya tidak mau bertemu dengan Tian dan malu jika Tian sampai bercerita ke sahabatnya dan juga Xelo pacaranya, sekali lagi Vani terlalu malu dengan kejadian itu.


" Udah dong yang main ponselnya." Ucap Brayen membuat Zela menoleh kembali ke arah Brayen, lalu tersenyum melihat wajah tampan suaminya yang sedang cemberut.


Dengan segera Zela meletakan ponselnya di meja kecil sebelah tempat tidurnya. Lalu memeluk Brayen yang sedari tadi sudah ingin di manjanya.


" Yang kangen baby." Ucap Brayen manja.


" Terus?." Tanya Zela pura-pura tidak mengerti maksud Brayen.


" Kiss me." Perintah Brayen yang kali ini terdengar tidak ada romantisnya sama sekali tapi Zela cukup tau apa yang di inginkan oleh suaminya.


Dengan lembut Zela mencium Brayen, yang di balas Brayen dengan kecupan panas sampai berlanjut menjadi malam yang panjang untuk mereka di malam ini.


Hari ini hari senin, setelah selesai upacara para siswa siswi masuk ke dalam kelas. Belum ada Guru yang masuk di kelas Zela. Membuat ketiga gadis cantik itu memutuskan untuk pergi ke kantin terlebih dahulu.


" Belum pada sarapan kalian?." Tanya Zela kepada kedua sahabatnya.


" Udah dong Gue." Jawab Seli kepada Zela.


" Lo Van?." Tanya Zela tapi tidak mendapat jawaban dari Vani.


" Vani!!!." Panggil Seli dengan nada cukup tinggi sampai membuat Vani tersadar dari lamunannya.


" Apaan sih?." Jawab Vani kesal.


" Malah melamun, kenapa sih Lo nggak kayak biasanya? Itu di tanyain Zela Lo udah sarapan belum?." Jelas Seli membuat Vani tersenyum kikuk.


" Udah dong, tapi kalau kamu mau traktir nggak papa Gue sarapan lagi Zel." Jawab Vani tanpa malunya.


" Dih... Gratisan aja Lo cepet, awas perut Lo sakit lagi tau rasa." Ucap Seli membuat Vani menatap kesal ke arah Seli.


" Udah deh berantemnya, kalau pengen tinggal pesen aja, Lo juga Sel." Jawab Zela yang langsung di angguki Vani dengan semangat.


" Gue minum aja deh Zel... Perut Gue bukan karet kayak perut Vani." Jawab Seli meledek.


" Kampret Lo emang." Jawab Vani tidak terima membuat Seli terkikik begitu juga dengan Zela yang menggelengkan kepalanya.


Zela memesan soto ayam dan juga batagor plus minumannya, sedangkan Vani hanya memesan soto ayam beserta jus mangga, Seli seperti tadi dia hanya memesan teh hangat untuk menemani kedua sahabatnya sarapan, Seli sendiri tidak habis fikir dengan Vani yang masih pagi sudah memesan minuman dingin, padahal sering sekali perutnya tidak terkendali sampai membuatnya kentut berkali-kali dengan bau yang amat tidak enak.


" Btw Zel Lo selama jadi istri Kak Ray dapat jatah dari Kak Ray nggak?." Tanya Vani di sela-sela makan mereka.


" Dapat lah Van, kalau nggak mana bisa bunting Zela sekarang, ngaco aja Lo." Jawab Seli yang membuat Zela dan Vani saling pandang lalu tertawa.


" Ha...ha...ha.... Pikiran Lo terlalu jauh Sel." Ledek Vani membuat Seli menautkan alisnya.


" Maksud Gue tuh jatah, Money astaga.... Kebanyakan micin Lo." Sambung Vani meledek Seli.


" Sialan Lo." Jawab Seli tapi tidak di pungkiri Seli merasa pikirannya memang terlalu jauh menganggap jika jatah itu hanya berbau ranjang saja untuk suami istri.


" Gimana Zel dapet?." Tanya Vani sekali lagi kepada Zela.


" Dapat dong." Jawab Zela singkat.

__ADS_1


" Berapa? Kepo dong Gue." Tanya Vani lagi, kali ini Seli juga mengangguk.


" 50 juta sebulan, tapi nggak pernah Gue ambil." Jawab Zela yang membuat mata Seli dan Vani melotot karena takjub.


Pasalnya biarpun Zela sudah di jatah 50 juta oleh Brayen perbulannya, tapi tetap biaya Sekolah dan makan serta keperluan Zela lainnya masih saja Brayen yang nanggung, jadi jatah 50 juta perbulan Zela bisa di bilang sampai menumpuk di rekeningnya.


" Parah sih itu,, Lo ngalahin artis Zel." Jawab Vani.


" Ngaco Lo, artis lebih banyak kali dari Gue." Jawab Zela yang tidak membenarkan apa yang Vani katakan.


" Mungkin jatah artis perbulan emang lebih banyak dari Lo Zel, tapi kan jatah mereka di pake buat ini itu, sedangkan Lo di biarin numpuk di rekening, menurut Gue sih Lo lebih uwu dari artis." Jelas Seli yang di jawab Zela dengan gelengan kepala.


" Setuju Gue Sel sama Lo, so Gue boleh nambah kan Zel?." Ucap Vani dengan senyum kikuknya.


" Astaga... Nggak tau diri banget emang ya Lo?." Ucap Seli kepada Vani.


" Biarin, teman kita banyak duit juga." Jawab Vani tidak mau kalah, Seli hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Zela memanggil Buk Kantin untuk memesan satu porsi soto lagi untuk Vani.


Di tempat lain, Brayen sedang duduk sendiri di kelasnya. Banyak teman kelasnya yang sedari tadi sengaja duduk di kelasnya untuk sekedar memandangi wajah tampan suami Zela itu. Terkhusus untuk para wanita tentutnya.


Tidak lama Dimas dan Xelo datang menghampiri Brayen yang sedang membalas pesan Tian.


" Tumben Lo duluan?." Tanya Dimas kepada Brayen, yang di jawab Brayen dengan menatap Dimas sebentar lalu kembali fokus pada ponselnya.


" Kayak nggak tau aja kalau hari senin bininya upacara." Xelo yang menjawab membuat Dimas mengangguk, Dimas lupa kalau hari ini hari senin, pantas saja tadi pagi ketika bangun tidur sudah banyak sekali panggilan tak terjawab dari Seli.


Tiba-tiba ada 2 mahasiswi yang menghampiri mereka, lalu dengan genitnya memberikan coklat kepada Brayen.


" Buat calon hot Daddy." Ucap mereka yang langsung berlalu pergi. Tapi dengan berjalan yang sengaja di buat untuk menarik perhatian Brayen.


Tidak ada respont dari Brayen, karena Brayen menganggap kedua gadis tadi yang baru saja memberinya coklat itu tidak ada. Brayen masiu bersikap santai dan tenang seperti baru saja tidak terjadi apa-apa.


" Gila... Udah mau jadi Ayah masih aja ada yang suka." Cletuk Xelo tidak percaya.


" Buat kalian itu." Ucap Brayen kepada kedua sahabatnya.


Dengan senang hati Xelo mengambilnya, Xelo berniat untuk di kasihkan kepada Vani pacar kesayangannya. Sedangkan Dimas sekarang sudah sedikit berubah tidak sekonyol dulu, ketika Brayen menerima banyak barang Dia dan Xelo yang akan dengan senang hati menerimanya.


" Kalau mau buat Vani, mending Lo beli sendiri Bro." Ucap Brayen seperti tau isi pikiran Xelo. Tentu saja Xelo terkejut tidak percaya, dia menggelengkan kepalanya dengan senyum.


" Udah kayak cenayang Lo Ray." Jawab Xelo yang dapat senyuman dari Brayen.


Siang menjelang sore hari ini Zela ikut Brayen untuk ke kantor Zafano terlebih dahulu sebelum mereka pulang. Meskipun Brayen lebih suka dengan bisnis hotelnya. Tapi sekarang Brayen harus belajar agar menguasai berbagai bisnis di bidang apapun. Setelah memarkirkan mobilnya Zela dan Brayen masuk dengan tangan Brayen merangkul Zela.


Karena memang Zela yang jarang sekali ikut Brayen ke kantor membuat beberapa karyawan Kantor cukup terkejut melihat perut buncit Zela yang begitu besar, bahkan mereka mengira jika Zela bukan sedang hamil di usia kandungan 6 menuju 7 bulan, melainkan sudah 8 bulan.


" Itu beneran baru 6 bulan?." Bisik salah satu karyawan yang tadi melihat perut Zela ketika melewati mereka.


" Katanya sih gitu." Jawab singkat yang lainnya.


" Gue nggak yakin hamil 6 bulan segede gitu." Sambungnya lagi.


" Udah nggak usah bahas itu, kita liat aja berapa bulan lagi istri Tuan Muda Brayen melahirkan." Jawab karyawan yang lainnya yang di angguki oleh teman-temannya.


Jujur saja banyak karyawan di kantor Zafano yang iri dengan posisi Zela saat ini. Di usia Zela yang masih sangat muda tetapi kehidupannya sudah begitu mapan dan terjamin kebahagiannya, terlebih Zela yang mendapatkan lelaki tampan seperti Brayen Zafano, lelaki yang banyak di gilai oleh wanita. Termasuk karyawan Kantor Orang Tuanya.


Zela dan Brayen masuk ke dalam ruangan Brayen. Tidak lama seorang OB membawakan minuman untuk mereka. OB itu cukup terkejut melihat Zela yang masih memakai seragam sekolahnya dengan perut yang sudah membesar. Pasalnya dia baru di kantor Zafano. Dan dia termasuk orang yang ketinggalan berita karena belum mengetahui berita tentang pernikahan bos di tempatnya bekerja, apa lagi berita kehamilan Zela.


Setelah pamit OB itu segera keluar dari ruangan bos besarnya.


" Ya ampun... Benar-benar akhir zaman, saya bersyukur meskipun tidak punya apa-apa." Gumamnya sambil mengelus dadanya di depan pintu ruangan Brayen. Lalu dengan segera OB itu pergi kembali ke belakang.

__ADS_1


OB itu mengira jika orang kaya bisa berbuat sesuka hatinya, seperti apa yang di lakukan oleh anak bosnya sekarang ini, menghamili gadis yang masih SMA dan membawanya ke kantor Ayahnya. Dan itu sungguh membuat OB itu merasa bersyukur terlahir bukan dari keluarga yang kaya raya.


Zela melihat-lihat ruangan suaminya. Sudah cukup lama memang Zela tidak ikut Brayen ke kantor. Zela tersenyum melihat foto mereka yang di pajang di dinding ruangannya.


" Kak mau tidur." Ucap Zela yang merasa ngantuk.


" Ayo." Ajak Brayen menggandeng Zela untuk mengantarkan ke ruangan istirahatnya ketika di kantor. Padahal masih satu ruangan dengan tapi yang namanya bucin ya seperti Brayen saat ini.


" Aku tinggal kerja dulu ya yang." Ucap Brayen yang di angguki oleh Zela.


Brayen mengecup kening Zela, setelah itu dia kembali ke meja kerjanya. Bukannya tidur dan istirahat, Zela malah mengambil ponselnya dan memainkannya.


Mata Zela berbinar saat melihat berbagai foto bayi lucu-lucu di medsos ignya. Tanpa sengaja dia mengelus perutnya lalu tersenyum.


" Nggak sabar Gue." Gumam Zela yang merasa sudah tidak takut lagi ketika akan melahirkan nanti.


Kembali Zela melihat foto-foto di akun medsosnya, kali ini matanya berbinar melihat foto kucing yang terlihat begitu menggemaskan.


" Gue minta Kak Ray boleh kali ya." Gumam Zela semangat.


Zela berniat untuk meminta Brayen membelikan kucing yang lucu itu, Zela berfikir sebelum anaknya lahir dia akan bermain-main dulu dengan kucing gendut yang terlihat menggemaskan itu tadi di medsosnya.


Dengan semangat Zela menghampiri Brayen yang sedang fokus dengan beberapa kertas di meja kerjanya.


" Kak Ray." Panggil Zela lirih, tapi mampu membuat Brayen terkejut bahkan hampir saja jantungan, meskipun suara Zela pelan tapi karena Brayen tadi sedang fokus tetap saja membuat Brayen terkejut.


" Sayang." Jawab Brayen menoleh ke arah Zela.


Zela tersenyum kemudian dia merangkul Brayen dari belakang, dengan setengah jongkok karena Brayen masih dengan posisi duduk di kursinya.


" Kak Ray." Panggil Zela lagi dengan suara lirih dan tepat di telinga Brayen.


" Apa sayang...?." Tanya Brayen membuat Zela tersenyum.


Zela paling suka jika Brayen memanggilnya dengan sebutan Sayang bukan hanya dengan sebutan yang saja, karena menurtu Zela terdengar kurang romantis meskipun sebenarnya panggilan Zela untuk Brayen sangat-sangat tidak romantis, Zela memang sudah berniat akan mengganti panggilannya nanti kepada Brayen setelah anak mereka lahir.


Jika sekarang Zela masih nyaman memanggil Brayen dengan sebutan " Kak ".


" Pengen kucing." Ucap Zela manja, dan kali ini membuat Brayen memutarkan kursinya untuk menghadap istri cantiknya.


" Untuk?." Tanya Brayen masih belum mengerti maksud Zela.


" Ya pengen aja untuk nemenin aku main, boleh ya sebelum anak kita lahir?." Pinta Zela dengan nada manja agar Brayen mengiyakan permintaannya.


" Nggak." Jawab Brayen singkat dan jelas, yang langsung membuat wajah Zela menampilkan kekecewaannya. Zela fikir Brayen akan mengiyakan permintaannya tapi ternyata dia salah, sangat jauh dari perkiraannya.


" Pelit." Jawab Zela dengan nada yang sudah kesal.


Zela berdiri dan berlalu menuju ke jendela ruangan Brayen di mana dia bisa melihat gedung-gedung tinggi lainnya dan juga jalanan yang begitu padat.


Brayen menghampiri Zela, dia menggenggam tangan Zela, tidak ada penolakan dari Zela, dia membiarkannya.


" Aku cuma tidak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa yang, bulu kucing itu tidak baik untuk wanita yang sedang hamil." Jelas Brayen membuat Zela menoleh ke arahnya.


Tapi tetap dengan tatapan kesalnya, Zela masih ingin memelihara kucing, dan mungkin ini juga keinginan anak mereka bukan sepenuhnya Zela sendiri yang ingin.


" Oke kita akan melihara kucing, tapi dengan sayarat." Ucap Brayen yang kali ini membuat Zela menoleh dengan mata yang sudah berbinar, tanpa ragu Zela menganggukan kepalanya, pertanda dia setuju dengan syarat apapun yang akan Brayen ajukan.


" Kamu nggak boleh sampai nyentuh itu kucing, dia harus di kandang." Jelas Brayen yang membuat Zela melotot tidak percaya.


Persyaratan macam apa itu, jika Zela tidak boleh menyentuh atau malah kucingnya harus di kandang. Bukankah dia menginginkan untuk memelihara kucing agar bisa bermain dengan kucing sebelum anak mereka lahir? Terus untuk apa kalau mereka memelihara tapi kucingnya harus di kandang? Itu sama saja Brayen menyuruh Zela untuk melihatnya saja.


Zela menatap Brayen dengan kesal, sedangkan Brayen sedang menatapnya dengan senyuman tampannya tapi terlihat begitu menyebalkan menurut Zela, Brayen menaik turunkan alisnya menunggu jawaban dari Zela yang saat ini begitu kesal dengan syarat yang Brayen ajukan.

__ADS_1


Sorry gaes sore lagi, nggak dapet banget ya feelnya di episode kali ini? soalnya aku masih tumbang, doain ya biar cepet sembuh dapet ide cerita yang bikin kalian baper.


Seperti biasa jangan Lupa Like, Comment and Vote.. Please.. Vote, dikit banget yang Vote 😭


__ADS_2