Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Gundah


__ADS_3

Brayen dan Dimas menyesap coffenya yang sudah disuguhkan oleh pelayan caffe, mereka sudah berada di caffe biasa, caffe yang dekat dengn kantor Zafano.


Bahkan pemilik caffe juga sudah sangat mengenali mereka, bahkan tak jarang jika sang pemilik caffe sedang berada di caffenya, sering sekali menawari Brayen dan Dimas untuk sekedar menikmati coffe bersama tanpa harus membayar tentunya.


Brayen kembali membuka ponselnya, tapi belum ada kabar lagi dari menejer hotelnya.


" Apa gue kesana aja Ray..??? " Tanya Dimas kepada Brayen.


Brayen menatap Dimas, kemudian dia tersenyum miring.


" Kenapa..?? " Tanya Brayen singkat kepada Dimas.


" Gue pengen kasih pelajaran ke anak brengsek itu Ray... Gila itu anak nggak ada kapoknya..." Jelas Dimas masih dengan nada kesalnya.


Brayen lagi lagi tersenyum miring, Dia juga kesal dengan Sandro, bahkan bukan hanya kesal melainkan kecewa, setelah apa yang Brayen lakukan untuk Sandro, ternyata tidak membuat Sandro menjadi orang yang lebih baik.


Meskipun tanpa Brayen tau, sebenarnya masalah Sandro dengan barang haram tersebut, ada sesuatu yang janggal.


Dan Brayen juga baru menyadari hal itu, mengingat Sandro sudah pernah melakukan beberapa test dan hasilnya negatif Sandro tidak menggunakan barang haram, juga Sandro tidak terjangkit penyakit apapun, dia dinyakatak baik baik saja oleh Dokter.


Hanya penyakit hatinya yang salah menyukai istri orang, iya Sandro pernah begitu salah menyukai Azela istri dari Brayen.


Seseorang yang begitu berbesar hati memaafkan kesalahannya, memberi kesempatan untuk Sandro.


" Sabar dulu Dim.. Nunggu informasi dari Mr Richard, Lo ngerasa nggak sih ada yang nggak beres.." Ucap Brayen membuat Dimas mengernyitkan keningnya.


" Kalau emang tuh anak makai,, kenapa waktu itu hasilnya semua negatif Dim...?? " Jelas Brayen yang membuat Dimas cukup terkejut.


Apa yang di katakan oleh Brayen memang ada benarnya, sebelum Sandro dikirim ke New York juga Sandro udah melakukan beberapa test, tentang kesehatan juga bebas dari obat obatan, Sandro di nyatakan sehat oleh pihak Dokter.


Juga terbukti bebas dari barang haram atau obat obatan terlarang, ini sungguh membuat Brayen dan Dimas berfikir lebih jauh lagi.


Sudah dipastikan ada seseorang yang sengaja melakukan ini, tapi untuk apa..??? Dan siapa..???


Itulah yang ada dalam pikiran mereka saat ini.


" Gue yakin ada yang sengaja melakukan ini Dim.." Jelas Brayen kepada Dimas.


" Tapi siapa orang yang mengetahui tentang Sandro Ray..?? " Tanya Dimas kepada Brayen.


" Itu juga yang sedang Gue pikirkan.." Jawab Brayen kembali menyesap coffenya.


" Apa Ayah sudah tau tentang ini..? " Tanya Dimas kepada Brayen.


Brayen menggeleng, membut Dimas mengangguk mengerti.


" Selama Gue bisa atasi, Ayah nggak harus tau..." Jawab Brayen yang lagi lagi membuat Dimas mengangguk mengerti.


Mereka sama sama larut dalam pikiran masing masing, bahkan tanpa mereka sadari sudah cukup lama mereka berada di sana.


Sampai akhirnya pesan masuk di ponsel Brayen menyadarkan pikiran mereka masing masing.


Brayen membuka isi pesan yang ternyata dari Mr Richard, betapa terkejutnya Brayen setelah membuka isi pesan itu.


" Shit..." Gumam Brayen terdengar oleh Dimas.


" Kenapa Ray..?? Apa udah ada informasi lagi..?? " Tanya Dimas kepada Brayen.


" Sepertinya Gue memang harus kesana Dim..." Jawab Brayen dengan kesal.


" Why..??? " Tanya Dimas ingin tau.


" Gue harus menanyakan ini langsung sama tuh anak.. Gue juga harus mengecek sendiri cctv hotel.." Jelas Brayen membuat Dimas mengernyitkan keningnya.


" Apa ada yang sengaja menjebak Sandro..?? " Tanya Dimas yang di angguki oleh Brayen.


" Misha,, Mr Richard sempat bertemu dengannya di hotel...." Jelas Brayen yang sukses membuat Dimas terkejut bukan main.


" Astaga... Tuh cewek memang udah gila Ray.." Jawab Dimas kepada Brayen.


Hufh...


Brayen mengela nafas panjangnya, kemudian dia tersenyum miring.


" Gue ikut Lo.." Ucap Dimas akhirnya.


" Kantor..?? " Tanya Brayen kepada Dimas.


" Ayah nanti sore pulang Ray.. Gue harus nemenin Lo.. Percaya Gue sudah pasti di butuhkan Lo.." Jelas Dimas kepada Dimas.


" Terserah Lo.." Jawab Brayen membuat Dimas tersenyum.


Mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan caffe, Dimas mengurus persiapan untuk mereka besok berangkat ke New York, sedangkan Brayen menjemput Zela istrinya yang sedang sekolah.


Dalam perjalanan, Brayen terus berfikir bagaiaman dia akan mengatakan tentang kepergiannya kepada Zela, jujur saja itu cukup berat, Brayen tidaklah bisa jika harus berjauhan dengan Zela.


Dengan istri cantiknya yang sekarang sedang mengandung anaknya, yang selalu membuat Brayen rindu, gadis yang sudah merubah hidupnya, merubah dia menjadi lebih bisa mengenal banyak orang, merubah dia tak sedingin dulu.


Juga gadis yang akhir akhir ini mudah sekali menampakan kemarahannya padanya, mudah membuatnya gundah, sungguh mengingat itu membuat Brayen jadi kesal sendiri, kesal karena harus meninggalkan Zela.


" Astaga.. Shit.. Shit.. Shit..." Gumam Brayen kembali memukul setir mobilnya kesal.


Sampai tak terasa mobilnya sudah berada di depan gerbang Sekolah, dengan segera dia menelfon Zela untuk memberitahukan jika dia sudah berada di depan gerbang.


Tidak butuh waktu lama untuk menunggu, karena Zela sudah terlihat menghampirinya, dengan menenteng tas sekolahnya, Brayen melihat Zela dari dalam mobilnya.

__ADS_1


Zela sangat terlihat cantik, tiupan angin yang membuat beberapa anak rambut yang tak ikut terikat bergerak gerak di wajahnya, dan itu semakin membuat kecantikan pada wajah Zela.


" Kak Ray..." Sapa Zela yang juga langsung menyium pipi Brayen.


Dan itu membuat Brayen cukup terkejut, tidak biasanya Zela melakukan itu.


Tentu saja Brayen juga merasa semakin berat untuk meninggalkan Zela.


Sungguh hati Brayen semakin tidak rela jika harus berjauhan dengan gadis yang sekarang sedang tersenyum manis kepadanya.


" Malah bengong.. Ayo jalan.." Ucap Zela membuyarkan lamunan Brayen.


Brayen tersenyum mengacak rambut Zela pelan, lalu melajukan mobilnya meninggalkan sekolah.


" Kak.. " Ucap Zela membuat Brayen menoleh ke arahnya dengan senyum.


" Kenapa sayang..?? " Tanya Brayen akhirnya kepada Zela.


" Kenapa..?? " Tanya Zela berbalik kepada Brayen.


Zela melihat sikap Brayen tak seperti bisanya.


Jika Zela menciumnya lebih dulu, biasanya Brayen akan membalasnya dengan lebih dari itu, jika tidak juga pasti Brayen akan menggodanya, tapi hari ini Brayen tak seperti biasanya.


Dan Zela menyadari akan hal itu, Zela tau Brayen menyembunyikan sesuatu darinya, atau terjadi sesuatu dengan suami tampannya itu.


" Kenapa memangnya Yank..?? " Ucap Brayen lagi lagi berbalik bertanya kepada Zela.


Membuat Zela semakin yakin jika Brayen menyembunyikan sesuatu darinya.


" Kak Ray kenapa sih..??? " Tanya Zela kepada Brayen.


" Nggak papa yank..." Jawab Brayen singkat.


Jujur saja karena sikap Zela seperti sekarang ini malah membuat Brayen semakin tak rela jika harus meninggalkannya untuk beberapa waktu kedepan.


" Boong kan..?? Nggak biasanya Kak Ray seperti ini.. Kak Ray aneh tau nggak.." Jelas Zela membuat Brayen terdiam.


Dia tau jika Zela menyadari sesuatu pada dirinya.


" Itu hanya perasaan kamu aja Yank... Percaya nggak ada apa apa..." Jelas Brayen sembari tangannya menggenggam tangan Zela.


Zela menatap Brayen seakan mencari kebenaran, tapi tentu saja Zela tak menemukan apa apa, memangnya dia siapa..?


Peramal yang bisa membaca pikiran Brayen..??


No... Zela bukan peramal atau cenayang, dia adalah gadis yang sudah mengambil hati Brayen.


" Mau nonton nggak...?? " Tanya Brayen kepada Zela.


" Biar aku nggak nanyain itu lagi kan..?? " Tanya Zela yang membuat Brayen tertawa.


Bahkan hal begitu saja Zela tau apa yang di maksud olehnya, oke.. Zela memang benar, Brayen mengajaknya nonton untuk menghindari pertanyaan Zela lagi.


" So.. Beneran nggak mau nih..?? " Tanya Brayen sekali lagi.


Dan lagi lagi Zela menggeleng, membuat Brayen mau tak mau mengalah saja.


Mungkin memang seharusnya Brayen mengatakan saja kepada Zela.


Tapi Brayen menunggu sampai mereka sampai di rumah terlebih dahulu, jika di dalam mobil ini bukan ide yang bagus, Zela bisa saja marah dan memintanya menurunkan di tengah jalan, atau mungkin malah meminta pulang ke rumah Mamah Hana dalak keadaan kesal.


Sungguh itu sangatlah tidak baik.


Mereka sama sama terdiam dalam pikiran masing masing, tadinya Zela ingin bercerita tentang apa yang terjadi di Sekolah, juga tentang Vera yang di larikan ke Rumah sakit.


Tapi dia urungkan melihat Brayen yang tak seperti biasanya.


Sampai akhirnya mobil mewah Brayen memasuki pekarangan rumahnya, mereka masih sama sama diam, bahkan Zela turun dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Brayen.


" Kalau kayak gini gimana gue ngomongnya.." Gumam Brayen bingung sendiri.


Brayen berjalan menyusul Zela yang sudah dulu masuk kedalam kamarnya.


Bahkan saat Brayen masuk, Zela sedang duduk malas sambil memainkan ponselnya, dia masih memakai seragam sekolahnya.


Brayen menghampiri Zela, duduk di sebelah Zela, mengambil ponsel Zela yang sedang di mainkannya tadi, Brayen menaruhnya disamping Zela, lalu menggenggam kedua tangan Zela.


Tak ada penolakan dari Zela, dia membiarkan Brayen melakukannya, mungkin memang ada yang ingin Brayen katakan kepada Zela.


" Yank..." Ucap Brayen kepada Zela.


Zela masih terdiam, bahkan dia sama sekali tak menatap ke arah Brayen, dia masih enggan rasanya untuk menatap wajah tampan yang sedang mencoba merayunya.


Merayunya untuk tidak lagi marah kepadanya.


Brayen memegang dagu Zela, mengarahkannya untuk menatapnya.


" Ada yang ingin aku omongin.." Ucap Brayen lagi, kali ini membuat Zela menoleh ke arahnya.


Zela memukul dada bidang Brayen pelan.


" Katakan.. Aku nggak mau Kak Ray merahasiakan apapun dari aku.." Jawab Zela yang membuat Brayen semakin merasa bersalah.


Bersalah karena Brayen tidak jujur dengan apa yang sudah Sandro lakukan kepada Zela, Tapi Brayen melakukan itu semua untuk kebaikan Zela yang sedang mengandung anaknya.

__ADS_1


Brayen tidak mau terjadi apa apa dengan istri dan calon anaknya.


" Yank... Kamu tau kan hotel aku yang berada di New York..?? Dan sekarang di sana lagi ada problem..." Jelas Brayen terhenti.


Jujur saja dia tidak tega melihat wajah cantik istrinya yang mulai memerah.


" Kak Ray harus kesana..?? " Tanya Zela kepada Brayen.


Bahkan sekarang ini Brayen yang tidak sanggup menatap Zela, menatap wajah ayu yang membuatnya benar benar gundah saat ini.


Brayen mengangguk pelan, dia menguatkan dirinya untuk menatap Zela.


Cuppp


Brayen mencium kening Zela pelan dan begitu hangat.


" Hanya untuk beberapa hari saja.." Jawab Brayen membuat Zela menghela nafasnya.


Buliran air matanya mulai mengenang di pelupuk matanya, ini bukanlah Zela yang biasanya.


Zela tidaklah secengeng ini, tapi rasanya mendengar Brayen harus pergi meninggalkan dirinya begitu sakit, begitu membuat Zela merasa sesak di dadanya, meskipun hanya beberapa hari saja tapi ini sungguh sangat berat untuk Zela.


Bukan hanya Brayen yang merasa gundah, Zela juga merasakn hal yang sama, bahkan mungkin lebih dari Brayen.


Zela merasa tidak rela jika harus membiarkan Brayen pergi.


" Hei.. Jangan nangis... Ini tidak akan lama.." Ucap Brayen mencoba menenangkan Zela.


" 1 hari..?? " Tanya Zela membuat Brayen tersenyum.


Zela ini sangatlah lucu.. Masa iya ke New York hanya satu hari, pikir Brayen.


" Iya aku usahain 1 hari saja di sana.." Jawab Brayen yang sebenarnya belum tau akan memakan waktu berapa hari di sana.


Terlebih dia benar benar harus bertanggung jawab atas Sandro, juga membuat Misha jera.


Brayen menghapus air mata Zela dipipinya, mengusapnya dengn pelan, dengan penuh kasih sayang, lalu kembali mencium kening Zela pelan.


" Nanti kalau Baby udah lahir.. Kita kesana ya..?? " Ajak Brayen kepada Zela.


" Ke New York..?? " Tanya Zela yang diangguki oleh Brayen dengan senyuman tampannya.


" Boleh deh.. Aku emang belum pernah kesitu Kak.." Jawab Zela yang membuat Brayen menarik hidung Zela gemas.


Jika ke negara tetangga Zela sudah sering, bahkan sudah beberapa negara yang dia kunjungi, tapi kebetulan Zela memang belum pernah ke Amerika ,dan Zela juga sangat ingin mengunjungi kota kota yang ada di Amerika termasuk kota New York tentunya, dimana Suaminya pernah menempuh pendidikan cukup lama disana.


Juga mempunyai bisnis hotel yang dibilang cukup sukses untuk seorang Brayen Zafano yang masih sangat begitu muda.


" Janji jangan lama lama.. Nggak boleh genit.. Selalu kasih kabar.." Ucap Zela lagi mengingatkan Brayen.


" Pasti sayang..." Jawab Brayen dengan senyum manisnya.


" Kenapa aku nggak ikut aja sih Kak..?? " Tanya Zela tiba tiba membuat Brayen sedikit terkejut.


" Boleh.." Jawab Brayen singkat yang langsung membuat Zela begitu senang.


" Serius boleh..?? " Tanya Zela tak percaya.


" Boleh.. Tapi.. Besok kalau Baby udah lahir yank.. Perjalanan Indo New York kan nggak sebentar Yank.." Jelas Brayen seketika membuat Zela kembali membrengut.


" Besok kalau Baby udah lahiran.. Aku bakal ajak kalian keliling dunia.. Sekalian honeymoon, kita kan belum melakukan itu.." Jelas Brayen membuat Zela akhirnya tersenyum malu.


" Janji ya Kak.." Ucap Zela yang di angguki oleh Brayen.


Mereka berpelukan hangat, masalah yang membuat Brayen begitu gelisah sedarintadi sudah terselesaikan, tinggal nanti ketika Brayen meninggalakan Zela dia harus benar benar siap dan tega tentunya.


" I Love You..." Ucap Brayen masih dalam memeluk Zela.


" Kak Ray berangkat sama siapa..?? " Tanya Zela tiba tiba, tanpa menjawab pernyataan Brayen barusan.


Brayen menghela nafas panjangnya, menatap Zela gemas, ingin rasanya dia menggigit Zela saat ini juga.


" Sama Dimas sayang..." Jawab Brayen dengan gemas.


" Owh..." Jawab Zela singkat, membuat Brayen tersenyum terpaksa.


" I Love You Too Kak.." Jawab Zela dengan pernyataan Brayen yang tadi.


Membuat Brayen kali ini benar benar tak tahan ingin memakan langsung istri cantiknya.


Sungguh Zela sangatlah menggemaskan, membuat hidup Brayen lebih berwarna.


Membuat Brayen semakin tak bisa hidup tanpanya, tanpa seorang Azela yang sudah mengisi hati dan pikirannya, Brayen langsung melancarkan aksinya menggigit Zela dengan gemas tapi bibir Zela yang dia gigit.


Membuat Zela mengadu tapi juga menikmatinya.


Oke gaes... Next episode mungkin bakalan ada kegalauan yang melanda di antara mereka, secara kan dua sejoli ini akan di pisahkan dengn jarak yang terbentang begitu jauh.. Ha..ha..


Jangan Lupa Like, Comment dan Vote ya Kak..


Pelase dong Vote.. Seikhlasnya kalian.. Author akan sangat berterimakasih..


Author tau lho yang sering vote sama yang Nggak Ha..ha..ha..


Salam sayang untuk kalian.. 😘😘

__ADS_1


__ADS_2