
Zela kini sudah berada di kelasnya. Bahkan dia datang lebih awal dari Seli dan Vani yang biasanya datang lebih dulu darinya. Zela duduk sambil terus tersenyum dengan tangannya yang sibuk mengelus perutnya, membayangkan kejadian tadi pagi membuat Zela rasanya tidak sabar ingin segera melahirkan dan menimang anaknya.
Hufh....
Zela menghela nafas panjangnya.
" Gue harus makan lebih banyak biar dedek di perut cepat besar." Gumam Zela masih terus senyum-senyum sendiri.
Bahkan tangannya masih saja mengelus perutnya, yang kembali berkedut seperti tadi pagi, tentu saja membuat Zela terkejut tapi juga senang.
" Tuh kan kamu gerak lagi? Mulai usil ya sekarang." Gumam Zela kembali berbicara dengan calon anaknya yang masih berada di perutnya.
Bahkan suara Zela terdengar begitu menggemaskan saat bergumam pada calon anaknya. Sedangkan Seli dan Vani saling pandang bingung melihat tingkah Zela yang pagi-pagi sudah begitu aneh.
Kedua sahabat Zela itu sudah datang sejak tadi dan berdiri di depan pintu melihat Zela yang terus saja senyum sendiri. Dengan segera Seli dan Vani menghampiri Zela yang sudah duduk sambil terus tersenyum, sadar akan kedatangan kedua sahabatnya, Zela tambah bersemangat karena sudah ingin bercerita tentang calon anaknya yang sudah mulai aktif di dalam perutnya.
" Cepetan sini pada duduk." Suruh Zela kepada Seli dan Vani.
" Ih... Apaan sih Zel, Lo aneh banget tau nggak dari tadi kita liatin?." Tanya Vani yang hanya dapat cengiran dari Zela.
" Bentar... Kok tumben sih Lo dateng duluan dari kita?." Sambung Seli bertanya sambil menatap Zela.
Sedangkan Zela yang sudah di brondong pertanyaan oleh kedua sahabatnya hanya tersenyum tapi tidak juga menjawab pertanyaan kedua sahabatnya.
" Ye... Malah cengar-cengir Lo, ada apaan? Jangan bikin kita ngeri deh Zel ma tingkah Lo pagi ini, pagi-pagi udah senyam-senyum sendiri nggak jelas banget tau." Sambung Vani lagi karena masih juga belum di jawab oleh Zela.
" Makanya duduk dulu, dengerin Gue, jangan banyak tanya." Ucap Zela yang di angguki oleh kedua sahabatnya yang juga sudah duduk dengan tenang, sambil menunggu apa yang akan Zela katakan kepada mereka.
" Perut Gue, udah kedutan gaes." Jelas Zela singkat tapi mampu membuat Seli dan Vani saling pandang dan terkejut.
" What?." Tanya mereka bersamaan dengan terkejut. Membuat Zela mengangguk dengan semangat.
" Seriusan Lo?." Tanya Seli yang membuat Zela kembali mengangguk sama seperti tadi.
" Wuih... Udah pinter dong ya ponakan Gue." Sambung Seli yang lagi-lagi di angguki oleh Zela.
" Coba sini Gue mau rasain kedutan ponakan Gue Zel." Pinta Vani dengan muka yang langsung berubah dengan imutnya.
" Pelan-pelan tapi." Ucap Zela mengingatkan Vani, yang tentu saja di jawab Vani dengan anggukan kepalanya juga mengacungkan jempolnya.
" Jangan deh Van, nanti ponakan Gue malah takut kalau di pegang ma Lo." Jelas Seli membuat Vani seketika melotot kesal ke arah Seli.
" Enak aja, nggak mungkin lah secara Gue kan cantik mana mungkin si baby nolak." Jawab Vani songong.
" Serah Lo deh, tapi kalau sampai perut Zela kenapa-napa karena Lo, Gue nggak ikutan ya? Soalnya kalau yang ngeraba bukan yang biasanya, bisa berakibat fatal." Jelas Seli dengan di buat seserius mungkin. Padahal jujur dalam hatinya sudah ingin tertawa melihat muka terkejut Vani yang bisa saja dia bohongi.
" Emang iya ya Zel? Nggak jadi deh, Gue nggak mau terjadi apa-apa sama ponakan Gue." Jawab Vani yang membuat Zela menggelengkan kepalanya dengan sikap Vani yang benar-benar lagi di mode awal telmi.
Sedangkan Seli dengan susah payah menahan tawanya karena Vani yang begitu polos tentang kehamilan, bukan polos sebenarnya, melainkan Vani yang mendadak amnesia tentang kehamilan perempuan, padahal dulu yang paling tau tentang masalah kehamilan sampai Bumil yang sedang ngidam ialan Vani yang sudah berguru kepada Maminya, tapi ya begitu Kiara Tivani mudah sekali lupa akan sesuatu hal, kecuali 2 sahabatnya dan seseorang yang bernama Xelo, cowok tampan yang sekarang sudah resmi menempati hati Vani.
" Astaga Vani....! Lo itu bener-bener ya pengen Gue makan rasanya, nggak papa dong Van, kayak nggal tau Seli aja Lo." Jawab Zela yang dengan gemasnya tangannya menuntun tangan Vani untuk meraba perutnya.
Vani yang memang begitu ingin merasakan gerakan dari calon ponakannya menurut saja apa yang di katakan oleh Zela, dengan begitu lembut Vani mengusap-usap perut Zela.
Dan benar saja tidak lama setelah Vani mengusap perut Zela, perut Zela kembali berkedut seperti tadi, merasa ada gerakan pada perut Zela sampai membuat Vani melotot tidak percaya.
" Astaga Zel, ini beneran di perut Lo ada baby nya." Ucap Vani masih dengan rasa takjubnya sampai tidak percaya.
Vani menatap Zela yang sedang tersenyum bahagia ke arahnya, tapi tiba-tiba air mata Vani meluncur begitu saja, sampai membuat Zela dan Seli bingung dengan Vani yang tiba-tiba menangis.
__ADS_1
" Lo kenapa Van?." Tanya Zela khawatir.
Sedangkan Seli masih dengan diamnya, dia sudah bisa menebak apa yang akan di katakan oleh Vani nantinya, sekali lagi di antara mereka memang Seli yang paling mengerti sikap-sikap sahabatnya itu. Sikap bar-bar anak SMA.
" Gue terharu Zel, Hu...hu...hu...." Jawab Vani yang ntah kenapa malah semakin deras saja air matanya.
Bahkan beberapa siswa ataupun siswi yang baru saja masuk ke kelas sampai bingung melihat sikap aneh Vani sekarang. Yang tidak ada air tidak ada hujan tiba-tiba menangis begitu saja.
" Bener tebakan Gue." Gumam Seli yang dapat tatapan sedikit tajam dari Zela, tapi tentu saja yang di tatap Zela malah nyengir begitu saja.
Seli memanglah pasangan serasi dengan Dimas, sifat keduanya hampir sama.
" Udah dong Van... Jangan nangis, Gue juga tadi pas tau terharu banget sama kayak Lo." Jelas Zela sambil memeluk Vani menenangkan agar Vani tidak lagi menangis.
Zela menyeka air mata Vani yang masih menetes, sungguh Vani sangatlah mudah sekali mengeluarkan air matanya karena terharu.
" Gue nggak nyangka sebentar lagi Lo akan jadi Ibu Zel." Ucap Vani lagi yang sontak kali ini membuat Seli menatap Zela dan Vani bergantian.
Seli mendekat ke arah mereka, lalu dengan segera merangkul kedua sahabatnya itu.
" Bagaimanampun kehidupan kita nanti setelah menikah, janji best friend forever ya gaes." Ucap Seli yang langsung di angguki oleh Zela dan Seli.
Tanpa mereka sadari semua siswa siswi sudah berada di kelas. Begitu juga dengan Guru mapel sekarang ini yang sedang menatap ketiga gadis cantik yang masih berpelukan tanpa peduli dengan semua yang ada di sekitar mereka.
" Ekhem... Sudah lanjutkan nanti dramanya." Ucap Pak Wahid yang sontak saja membuat ketiga gadis cantik itu tersentak kaget dan menoleh ke asal suara. Dimana Guru mereka sudah berdiri di depan kelas.
Ketiga gadis cantik itu menatap Guru mereka bergantian dengan teman-teman kelasnya yang sudah duduk untuk mengikuti pelajaran.
Zela, Seli dan Vani cekikikan melihat semua yang berada di kelasnya menatap mereka bertiga. Tapi tentu saja tidak ada yang berani menegur mereka selain ketua kelas. Mereka gadis-gadis cantik yang begitu di segani di sekolah. Terlebih ketika mereka tau jika Zela merupakan istri dari seorang Brayen Zafano, dan menantu dari Pak Riko dan Bunda Wina yang merupakan pemilik Sekolah itu. Tentu saja rasa segan mereka bertambah yang membuat Seli dan Vani juga kecipratan dari Zela.
Dan kini Zela dan Brayen sudah berada di kamar. Tadi setelah menjemput Zela mereka memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Padahal Zela sudah mengajak Brayen untuk pergi ke rumah sakit saja untuk memeriksa kandungan anak mereka.
Sedangkan kini di ruang tengah. Bunda Wina dan Mamah Hana sedang duduk bersantai sambil menunggu Dokter yang akan memeriksa Zela. Karena Pak Riko dan Pak Adam yang memang sedang tidak bisa meninggalkan pekerjaan kantornya sekarang ini.
Tidak lama dokter yang mereka tunggu datang dengan satu asistennya, juga beberapa alat yang dia butuhkan untuk memeriksa Zela nantinya.
Dengan segera Bunda Wina menuju ke atas untuk memanggil Zela dan Brayen.
Tok....
Tok....
Tok....
" Sayang keluar! Dokternya udah datang!." Teriak Mamah Hana memanggil Zela agar segera keluar.
Tidak lama pintu terbuka. Zela keluar kamar tanpa Brayen, Bunda Wina menatap Zela yang keluar seorang diri tanpa suaminya yang biasanya berada di sebelahnya atau membuntuti di belakangnya.
" Bund, udah dateng ya Dokternya?." Tanya Zela setelah menutup pintu kamarnya.
" Sudah sayang, ayo kita turun." Ajak Bunda Wina yang di angguki oleh Zela.
" Ray tidur Nak?." Tanya Bunda Wina kepada Zela.
" Iya Bund... Kak Ray kayaknya capek banget." Jawab Zela menjelaskan kepada Ibu martuanya.
" Kebiasaan tuh anak, kalau hal-hal yang penting malah ketiduran." Jelas Bunda Wina membuat Zela tersenyum.
Sampai akhirnya Zela dan Bunda Wina sampai di bawah, terlihat Mamah Hana yang sedang asik mengobrol dengan Dokter yang akan memeriksa kandungannya.
__ADS_1
" Lho Mamah di sini?." Tanya Zela membuat Mamah Hana dan Bu Dokter itu menoleh ke arah Zela.
Zela menyalami Mamah Hana dan Bu dokter itu.
" Iya sayang... Mamah juga pengen tau dong perkembangan cucu Mamah." Jawab Mamah Hana membuat Zela tersenyum.
" Mamah kamu juga sama seperti Bunda, sudah tidak sabar ingin menimang cucu." Sambung Bunda Wina menjelaskan membuat yang berada di ruangan itu tertawa, termasuk Dokter dan asistennya yang juga ikut tertawa.
Sedangkan Zela tersenyum senang tapi juga malu.
" Nak Zela sudah besar ya perutnya, terakhir ketemu masih rata sekarang sudah mulai terihat." Jelas Bu Dokter membuat Bunda Wina dan Mamah Hana tersenyum bahagia.
" Iya Dok, suka banget makan aku." Jawab Zela jujur yang langsung di jawab Dokter itu dengan anggukan kepalanya.
" Tidak apa suka makan, itu malah lebih baik, asal jangan kebanyakan coklat ataupun es juga minyak-minyak ya." Jelas Dokter yang di jawab Zela dengan mengangguka kepalanya.
" Ya sudah mari saya cek dulu dedek bayinya." Ajak Dokter kepada Zela.
Zela dan Bu Dokter masuk ke dalam kamar tamu yang memang berada di bawah. Di ikuti Bunda Wina, Mamah Hana dan asisten dokter itu sendiri.
Setelah mengecek tensi dan yang lainnya, lanjut memeriksa perut Zela yang di kasih Gel dalam alatnya.
Terdengar detak jantung dedek bayi yang berada dalam perut Zela, begitu terdengar jelas sampai membuat Bunda Wina dan Mamah Hana saling pandang dengan menggenggam tangan dan tersenyum bahagia.
" Cucu kita Han." Ucap Bunda Wina yang di angguki oleh Mamah Hana dengan haru.
" Nak Zela, bayinya sehat ya, kalau sudah memasuki 5 sampai 9 bulan harus rajin di periksa ya, sebulan sekali minimal, nanti mendekati persalinan 2 minggu sekali harus di periksakan." Jelas Bu Dokter yang di angguki oleh Zela.
" Dok, pengen nanya." Ucap Zela sedikit ragu.
" Silahkan sayang, tanya saja apa yang ingin kamu tanyakan." Jawab Bu Dokter yang begitu ramah itu.
" Baby nya cowok apa cewek ya Dok?." Tanya Zela yang sukses membuat Dokter itu terkejut dan menggelengkan kepalanya dengan senyuman manisnya.
Pertanyaan Zela seakan Zela ini sedang amnesia tentang jenis kelamin yang bisa di lihat dari USG dari kehamilan berusia 6 bulan ke atas.
" Kalau masalah itu belum terlihat sayang, tapi sepertinya cowok, kita tunggu 2 bulan lagi ya lebih jelasnya untuk di USG kembali." Jelas Bu Dokter membuat Zela mengangguk.
Sedangkan Bunda Wina dan Mamah Hana sudah semakin bahagia mendengar jenis kelamin cucu mereka cowok. Tentu saja karena suami kedua besan itu menginginkan cucu pertama mereka berjenis kelamin laki-laki.
Pak Riko dan Pak Adam sudah tidak sabar untuk mengenalkan cucu pertama mereka kepada rekan bisnis kantornya.
Setelah Dokter itu selesai memeriksa kandungan Zela, juga memberikan beberapa vitamin dan obat penambah darah untuk Zela, Dokter dan asisten itu pamit untuk pulang.
Mobil Dokter keluar dari gerbang rumah mewah Zafano. Bebarengan dengan mobil Dara yang juga masuk ke dalam rumah itu untuk menjemput Mamah Hana. Tentu saja itu juga menjadi kesempatan Dara untuk lebih mengerti bagaimana kehidupan Zela dan Brayen.
Meskipun Dara termasuk seseorang yang mencintai dengan diam, tapi perasaan Dara untuk Brayen begitu susah untuk di hilangkan, hanya saja Dara tidak ingin menyakiti Zela yang merupakan sepupu dia sendiri.
" Sayang... Mamah boleh pegang perut kamu kan?." Tanya Mamah Hana yang langsung di angguki oleh Zela dengan senyum.
Mamah Hana mengelus perut Zela dengan begitu lembut, dan benar saja tidak lama ada pergerakan dari dalam perut Zela, meskipun baru berupa kedutan tapi sungguh rasanya membuat Mamah Hana begitu bahagia.
Mamah Hana tersenyum bahagia, anak gadis yang kemarin masih begitu bandel dan susah di atur itu, sekarang sudah mengandung calon cucunya, sebentar lagi anak bandelnya akan menjadi seorang Ibu, membuat Mamah Hana tidak lagi bisa menahan air mata harunya.
Gaes.., Mungkin cerita ini nggak sampai 1 bulan lagi ya... Bisa saja seminggu atau 2 minggu lagi end 🤭
Jangan Lupa Like, Commen and Vote ya gaes... Vote... gaes... Please...
Big Thanks... 🙏🙏😘😘
__ADS_1