
Masih di depan kandang kucing kesayangannya. Zela masih saja terus bercerita tentang masalah yang sedang dia hadapi, bukan masalah besar memang, tapi Zela butuh teman curhat dan Yubi ialah teman curhat yang paling aman menurut Zela.
Karena Yubi tidak akan meledek apa lagi sampai bercerita dengan orang lain, jelas karena Yubi adalah seekor binatang peliharaan.
" Gue salah nggak kalau meluk cowok lain? tapi jangan salah paham dulu, Gue meluk dia sebagai tanda perpisahan." Jelas Zela yang kembali di jawab Yubi dengan suara " Meow" lagi.
Dan Zela mengangguk, dia menyimpulkan jika jawaban Yubi ialah Zela salah karena sudah memeluk lelaki lain, meskipun hanya sebatas untuk tanda perpisahan saja.
" Oh jadi Gue harus minta maaf gitu ya sama Kak Ray? Tapi Gue malu, gimana dong?." Tanya Zela lagi.
Tapi kali ini Yubi menjawabnya dengan suara meow nya lagi sampai beberapa kali, membuat Zela mengangguk seperti mengerti apa yang Yubi katakan padanya, meskipun dengan bahasa kucing, satu suara tapi berjuta makna.
Zela terus berceloteh, sedangkannya di belakangnya Brayen dan Bunda Wina sedari tadi sudah menahan tawanya. Zela begitu lucu dan unik pikir Brayen.
" Bha...ha...ha...." Tawa Brayen pecah karena sudah tidak bisa lagi menahannya.
Bunda Wina segera menyiku lengan Brayen, karena tawa Brayen terdengar seperti ledekan, begitu juga dengan Zela yang langsung menoleh ke belakang. Zela menatap Bunda Wina tersenyum, sedangkan Brayen di tatap oleh Zela dengan tatapan permusuhan, tadinya Zela akan minta maaf ke Brayen, tapi sepertinya akan Zela urungkan, atau mungkin malah Zela sudah lupa dengan rencana itu.
" Yubi Gue tinggal dulu ya." Pamit Zela kepada Yubi kesayangannya.
Zela menghampiri Bunda Wina yang masih berada di belakangnya tadi.
" Bund Zela ke kamar dulu ya." Pamit Zela juga kepada Ibu martuanya.
Bunda Wina mengangguk sambil tersenyum, lalu tanpa kata Zela benar-benar pergi tanpa pamit terlebih dahulu kepada suami tampannya yang sekarang sedang melongo karena Zela sama sekali tidak pamit atau mengajak dirinya.
Jangankan untuk pamit, atau mengajak berbicara dengan Brayen saja Zela tidak, dia malah lebih memilih untuk ke kamarnya meninggalkan Brayen.
" Semangat Ray, tunjukan jurus maut anak Bunda." Ucap Bunda Wina menggoda Brayen.
Lalu Bunda Wina pergi meninggalkan Brayen yang masih berdiri mematung karena kedua wanita yang paling di sayanginya.
Zela istrinya yang sedang marah, juga Bundanya yang malah dengan sengaja menggoda Brayen.
Brayen menatap Yubi yang juga sedang menatap Brayen. Yubi sedang duduk santai di kandangnya.
" Ini semua gara-gara Lo." Ucap Brayen sembari menunjuk ke arah Yubi.
" Meow." Ucap Yubi seperti menjawab apa yang Brayen katakan barusan.
__ADS_1
Brayen segera ke atas untuk menuju kamarnya. Sampai di kamar dia tidak melihat keberadaan istrinya. Tapi samar-samar terdengar suara gemricik air dari kamar mandi mereka yang berada di dalam kamar.
Brayen tau pasti Zela sedang mandi di dalam kamar mandi. Dengan semangat 45 Brayen membuka pintunya, dia berencana akan menggoda Zela dengan jurus mautnya yang tadi Bundanya katakan.
Tapi seakan dewi fortuna sedang tidak berpihak kepadanya, pintu kamar mandi ternyata di kunci dari dalam. Membuat Brayen sedikit frustasi karena tidak bisa melakukan ide gilanya.
" Shit." Umpat Brayen kesal tapi dengan nada suara yang begitu pelan.
Hufh...
Brayen menghela nafasnya.
" Oke Gue harus usaha... Tunggu kedatanganku yang." Ucap Brayen dengan semangat yang kembali berkobar.
Saat Brayen akan kembali membuka pintu kamar mandi juga berniat untuk memanggil Zela dari arah luar. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Membuat Brayen yang tidak siap hampir saja terjatuh. Beruntung Brayen sigap dengan dirinya.
Pintu kamar mandi semakin terbuka dan menampilkan wanita cantik yang sepertinya baru mandi.
Zela sudah memakai kimono handuknya, Dia juga sempat melirik Brayen sekilas, lalu kembali akan melangkah ke depan. Tapi Brayen buru-buru menarik tangannya, membuat Zela kembali menoleh ke arah Brayen.
" Apa?." Tanya Zela dengan nada sedikit kesal.
Zela semakin kesal karena Brayen bersikap menyebalkan seperti ini, padahal Zela ingin Brayen meminta maaf, tapi ya sudah sepertinya Brayen memang tidak akan minta maaf kepadanya, lagian memang tidak ada tanda-tanda Brayen menyesal.
Yang ada sekarang Brayen malah terlihat mesum karena terus menatap Zela dengan tatapan elangnya, bahkan jakunnya yang beberapa kali terus naik turun.
Jika saja Zela sedang tidak hamil, mungkin Zela sudah langsung terpesona dan tahluk, tapi sekarang beda, jika Zela sedang marah ya akan tetap marah.
" Yang aku kangen baby." Ucap Brayen membuat Zela memejamkan matanya sebentar.
Brayen tau ini kelemahan Zela, jika Zela sedang kesal, selalu saja dia menggunakan jurus jitunya seperti ini.
" Ya terus?." Tanya Zela pura-pura tidak mengerti dengan maksud Brayen.
Brayen malah tersenyum sambil menaik turunkan alisnya, sungguh wajah tampan Brayen sekarang begitu terlihat menyebalkan, ingin rasanya Zela memukulnya saja tapi sayang kalau sampai wajah tampan suaminya berkurang.
Meskipun sedikit saja, sepertinya Zela tidak akan rela.
" Terus kita dansa di kasur, dan nanti kamu bisa mandi lagi." Jelas Brayen memnbuat Zela semakin ingin menerkam Brayen.
__ADS_1
Ucapan Brayen terlalu berbelit menurut Zela, sekarang malah sikap Zela dan Brayen seperti tertukar, Zela yang dulu ialah Brayen yang sekarang, sedangkan Brayen yang dulu ialah Zela yang sekarang atau saat ini, sejak Zela hamil sikap pasangan suami istri ini unik dan aneh.
Tidak ada jawaban dari Zela, karena dia memang bingung harus menjawab apa, Zela kesal dengan Brayen, tapi dia juga tidak mungkin menolak ajakan Brayen.
Karena tidak ada jawaban membuat Brayen langsung melancarkan aksinya, Brayen mencium Zela dengan lembut, yang di balas juga oleh Zela, meskipun kesal, tapi kalau sudah di beri sentuhan cinta Brayen, nyatanya Zela juga luluh, bahkan Zela malah begitu menikmati, tapi baru juga Brayen akan memperdalam ciuman mereka, tiba-tiba pintu kamar mereka di buka.
Brayen dan Zela terkejut dan langsung melepaskan ciumannya, mereka menoleh ke arah pintu yang ternyata berdiri sosok wanita cantik paruh baya yang kini sedang bersikedap sambil tersenyum karena apa yang baru saja di lihat olehnya.
Bunda Wina yang di depan pintu mereka. Bunda Wina berniat memanggil mereka untuk turun ke bawah. Karena ada kedua sahabat Zela yang sudah menunggu.
Tapi apa yang baru saja Bunda Wina lihat ternyata membuatnya ingin tertawa meledek. Meledek kedua pasangan yang begitu unik, pasalnya tadi baik Zela maupun Brayen sedang dalam ke adaan tidak baik-baik saja atau marahan, tapi nyatanya baru berapa menit mereka sudah kembali bergairah lagi untuk bersama.
Dan itu membuat Bunda Wina menahan tawanya di depan Zela dan Brayen.
" Bunda." Ucap Zela sedikit malu.
" Nggak papa sayang, maaf ya Bunda ganggu." Jawab Bunda Wina yang langsung di jawab Zela dengan gelengan kepalanya.
" Oh ya sayang, Seli sama Vani udah di bawah lagi nunggu kamu." Jelas Bunda Wina dengan tujuannya ke kamar mereka.
Mendengar nama kedua sahabat istrinya, membuat Brayen mengepalkan tangannya.
Karena jurus jitunya tertunda gara-gara datanganya dua mahluk yang tidak di undang itu, Seli dan Vani yang tanpa mereka sadari sudah mengganggu rencana Brayen untuk berbaikan dengan Zela.
" Baik Bund, Zela ke bawah." Jawab Zela yang masih menggunakan kimono handuknya ke bawah.
Sedangkan Bunda Wina menatap Brayen yang masih berdiri mematung di tempatnya. Lalu dengan jailnya Bunda Wina mengacungkan jempolnya ke arah Brayen yang kemudian diturunkan juga olehnya.
Brayen menatap Bundanya tidak percaya, astaga... Bunda Wina baru saja meledek Brayen.
Setelah Bunda Wina pergi menyusul Zela, Brayen menghempaskan dirinya di kasur.
" Awas aja kamu yang aku masih punya jurus terjitu, dan kamu pasti kena." Gumam Brayen sembari tersenyum smirk.
Bukan Brayen namanya jika tidak memiliki berbagai cara untuk menahlukan Zela, istri cantiknya, meskipun sekarang sikap keduanya berubah dan seperti tertukar tapi jiwa pesona Brayen tetap melekat pada dirinya.
Sorry gaes maleman ✌️✌️
Jangan Lupa Like, Comment and Vote ya... Big Thanks
__ADS_1