
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dan waktupun terus berjalan dengan begitu cepat, tidak terasa 1 tahun sudah mereka merasakan indahnya menjadi senior berada di kelas 3 SMA.
Hari ini dimana mereka akan melepaskan masa SMAnya. Para orang tua wali murid juga sudah hadir di Sekolah. Semua siswa/siswi kelas 3 SMA bersuka cita merayakan kelulusan mereka.
Zela membawa Arshaka ke Sekolahnya. Kini baby Arsha sudah bisa berjalan, bahkan semakin hari semakin terlihat tampan. Rupanya wajah tampan Arsha yang masih kecil sudah mampu membuat fans-fans Brayen berpindah. Jelas Arsha akan menjadi calon idola baru nantinya di saat dia sudah dewasa.
" Oty." Panggil Arsha kepada Seli dan Vani.
Kedua wanita cantik yang hari ini memakai kebaya seperti Zela itu mendekat ke arah lelaki tampan yang masih kecil itu.
Seli menggendong Arsha lalu menciumnya.
" Apa sayang?." Tanya Seli membuat Arsha tersenyum.
" Onty Li, Onty Ani buty." Ucap Arshaka membuat semua orang yang berada di sana tertawa.
Maksud dari perkataan Arshaka ialah, Onty Seli dan Onty Vani beauty. Tapi karena dia masih kecil jadi belum begitu jelas cara mengucapkannya.
" Kamu juga sangat tampan suami kecilku." Jawab Vani seraya mencium pipi Arshaka.
" Ehemm... Arsha terus yang di cium nih." Sindri Xelo dan Dimas yang baru datang menemui mereka.
" Telad, sudah selesai acaranya." Jawab Vani sedikit merajuk kepada Xelo pacarnya.
" Sorry Beb, aku sibuk banget." Jawab Xelo seraya mengacak rambut Vani pelan.
Xelo dan Dimas memang menyiapkan kejutan untuk Seli dan Vani nanti malam di hotel Zafano. Mereka akan membuat kedua gadis cantik itu tidak akan pernah melupakan kejutan yang mereka berikan nanti.
Brayen yang juga baru datang bersama kedua sahabatnya menghampiri Zela yang hari ini terlihat sangat cantik dengan kebaya pas di tubuhnya. Hari ini acara perpisahan di SMA mereka memang bertema pakaian adat, dan mereka memilih pakaian adat dari jawa untuk di kenakan.
Tidak lama datanglah para Orang tua menghampiri mereka semua. Melihat Mami Vani yang datang, dengan segera Xelo menghampiri dan langsung memberi salam dengan mencium punggung tangan Mami Vani. Begitu juga dentan Dimas yang langsung mencium punggung tangan Mamahnya Seli.
Brayen jangan di tanya lagi, dia juga mencium punggung tangan Mamah Hana, bahkan sampai membuat Bunda Wina menggelengkan kepalanya dengan tingkah ketiga lelaki tampan yang begitu patuh dan sopan melihat para calon martuanya, kecuali Brayen tentunya.
" Sama Oma sayang?." Tanya Bunda Wina kepada Arsha yang sedang berada di gendongan Seli.
__ADS_1
Arsha mengangguk dengan tertawa, Bunda Wina langsung mengambil alih untuk menggendong cucunya itu.
" Wah... Baby Arsha sudah besar ya, semakin tampan seperti Daddy nya, kamu kapan Van nyusul Zela?." Tanya Mami Vani yang sukses membuat Vani melotot tidak percaya dengan ucapan Maminya.
" Sabar dulu Tan, eh Mi, sebentar lagi akan segera kami proses." Jawab Xelo membuat semua yang berada di sana tertawa.
Sedangkan Vani mengerucutkan bibirnya karena malu.
" Kalian jangan mau kalah ya sama Vani dan Xelo." Ucap Mamah Seli yang juga membuat Seli melotot dan malu karena ucapan dari Mamahnya.
" Mamah tenang saja, segera mungkin akan kami laksanakan, lebih dulu malah dari mereka." Jawab Dimas seraya melirik Xelo, sontak saja semua yang berada di sana kembali tertawa.
Seli hanya menatap Dimas kesal, tetapi tidak dipungkiri jika dia memang juga sudah ingin menjalani rumah tangga dengan Dimas. Menurut Seli kuliah dengan mengurus rumah tangga tidak akan menjadi masalah.
Malam harinya seperti yang tadi siang Xelo dan Dimas katakan. Baik Seli ataupun Vani di suruh datang ke Hotel Zafano. Mereka mengira jika mereka pasti akan di kasih kejutan dengan makan malam bersama.
Tetapi baik Dimas ataupun Xelo merencanakan sesuatu yang lebih dari itu.
" Menurut kalian Kak Dim sama Kak Xel mau kasih kejutan apa?." Tanya Seli seraya menyetir mobilnya.
Seperti biasa Seli yang akan menjadi sopir jika mereka jika satu mobil.
" Bisa jadi." Jawab Vani setuju.
" Ah... Malas terlalu biasa menurut Gue." Jawab Seli membuat Zela dan Vani saling pandang seraya menautkan alisnya.
" Maksud Lo?." Tanya Vani bingung.
" Ya apa gitu kek yang wow, dinner romantis udah terlalu sering." Jawab Seli terkekeh.
" Lo mau yang wow Sel?." Tanya Vani yang di angguki Seli seraya fokus dengan setir mobilnya.
" Gampang Sel nanti tinggal minta Kak Dimas buat nginap di Hotel Zafano aja, pasti wow tuh." Jawab Vani sekenanya tapi langsuny di setujui oleh Seli.
" Nah itu maksud Gue... Pinter Lo." Jawab Seli sembari terekeh.
__ADS_1
" Hah? Gila." Ucap Zela dan Vani barengan.
Seli hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya yang terkejut karena ucapannya.
" Just kidding baby, Gue masih tahan kok sampai Kak Dimas nikahin Gue, tapi emang udah pengen sih, Gimana sih Zel rasanya?." Tanya Seli tersenyum nakal.
Vani melotot mendengar pertanyaan Seli yang begitu transparan tanpa basa basi.
" Ih... Kelamaan di gantungin Kak Dimas omes Lo Sel." Cibir Vani yang membuat Seli terkikik.
Seli jadi membayangkan ketika kemarin dia dan Dimas hampir saja kelepasan. Beruntung Dimas masih sadar dan menghentikan aktifitasnya, jika tidak mungkin saat ini Seli tidak seceria dan sepenasaran seperti sekarang ini gimana rasanya, tapi jelas dia akan sangat kecewa dengan dirinya jika benar-benar sampai melakukannya.
" Ya gitu deh, Gue nggak mau ngomong biar kalian rasain aja sendiri gimana rasanya nanti, tapi ingat nikah dulu jangan kawin dulu baru nikah." Goda Zela seraya tertawa.
" Gue tahu rasanya enak banget, kayak mimpi Gue dulu." Jawab Vani membuat Zela dan Seli tertawa dan ingin menoyor kepala Vani saja rasanya.
Masih ingat saja Vani dengan mimpi konyolnya. Bahkan rasanya yang katanya begitu nikmat seperti nyata.
Seli terus melajukan mobilnya menuju Hotel Zafano. Dimana di sana sudah ada seseorang yang sedang menunggu mereka.
Sepanjang perjalanan mereka terus bercerita juga janjian untuk tetap melanjutkan pendidikan di satu Universitas yang sama. Apa lagi pacar mereka juga satu Kampus. Mungkin mereka akan melanjutkan di Kampus Zafano yang berada di depan SMA mereka.
Tapi akan sangat menantang jika mereka berbeda Kampus dengan Brayen CS.
Dan sampailah mobil Seli di depan gedung tinggi hotel Zafano. Setelah memarkirkan mobilnya. Mereka turun dari Mobil. Zela di bantu oleh pegawai Hotel untuk menggendong Arsha yang masih tertidur.
" Kok jantung Gue berasa mau lompat ya." Ucap Vani merasa begitu gugup.
" Gue juga... Nggak biasanya Gue segugup ini." Jawab Seli seraya meramas jari-jarinya.
" Kalian tarik nafas... Dan buang pelan-pelan." Suruh Zela yang di turuti oleh kedua sahabatnya.
" Okay, udah tenang sekarang?." Tanya Zela lagi yang di angguki oleh Seli dan Vani.
" Ayo masuk." Ajak Zela menarik tangan kedua sahabatnya.
__ADS_1
" Tunggu Zel, Gue pengen kentut." Ucap Vani lirih sembari tersenyum kikuk.
Zela dan Seli saling pandang sembari menggelengkan kepalanya, kebiasaan deh Vani kalau sedang gugup bawaaannya mau kentut mulu, nanti kalau sudah menikah dengan Xelo dan akan melakukan malam pertama bagiamana jadinya jika dia meras gugup dan ingin buang angin terus?.