
Selesai dengan sarapannya, Zela dan Brayen bergegas untuk menuju ke atas, sedangkan Zifa dan Jova duduk santai karena sudah sama sama rapih.
Mereka menikmati suasana pagi bersama, sebelum akhirnya Zifa berangkat ke kampus di antar oleh Jova tentunya.
" Yank mandi bareng aja kita.." Usul Brayen kepada Zela.
Zela yang merasa usulan Brayen itu pasti ada maunya menjadi bingung, Zela menolak karena ini sudah terlalu siang, dan Zela akan telat jika Brayen harus mengerjainya terlebih dahulu.
" Kak ray mandi duluan aja.. Aku bisa mandi di kamar mandi bawah.." Jawab Zela yang mencoba memberi saran untuk menolak ajakan Brayen.
" Nggak bisa sayang... Kita harus mandi bareng..." Jawab Brayen tegas yang langsung menggendong Zela menuju kamar mandi.
Zela yang belum siap dengan perlakuan Brayenpun mau tak mau akhirnya menurut saja.
Sekitar 20 menit mereka selesai dengan mandi bersamanya, tidak terjadi apa apa memang, dan Brayen benar dengan omongannya.
Hanya saja bekas kiss mark di leher juga dada Zela kini semakin banyak, tidak terjadi apa apa menurut Brayen karena dia belum sempat membuat Zela terkulai lemas tak berdaya.
Tapi tentu saja Brayen tidak menyia nyiakan untuk mengisi tenaganya agar lebih semangat lagi hari ini.
Dan Zela, dia senang tapi juga kesal, lagi lagi kulit putihnya diberi noda cinta oleh Brayen, kesal karena harus menutupinya lagi, dan ini sangatlah banyak menurut Zela.
Sambil merapihkan diri dicermin, juga menutupi bekas kiss mark yang Brayen berikan untuk Zela.
Zela sedikit memanyunkan bibirnya, juga bergumam tak jelas, gumaman kesal, yang membuat Brayen seketika tersenyum.
Senyum senang dan juga lucu mendengar ocehan Zela, Brayen mendekatkan dirinya ke arah Zela tentu saja dengan tampang jailnya.
" Masih kurang yank...?? " Tanya Brayen tanpa dosanya kepada Zela, seketika membuat Zela terkejut karena Brayen sudah berada di belakanganya juga dengan tangan melingkar dipinggangnya.
" Astaga kak ray.. Jangan nakal deh.. Aku udah telat ini.." Jawab Zela yang tidak menghiraukan ulah Brayen.
Zela tetap fokus pada lehernya dan menutupi belas kiss mark yang Brayen berikan.
Jangan lupakan jika sebenarnya Zela juga sedikit gugup karena perlakuan Brayen kepada dirinya.
Brayen tersenyum melihat tanda merah di leher Zela begitu banyak, membuat Brayen senang pastinya.
" Nggak usah ditutupi malah sexy yank.." Ucap Brayen lagi lagi membuat Zela semakin kesal.
Please... Deh suami yang ganteng.. Pagi pagi jangan membuat bumil ngamuk.
" Kak ray mau aku di gosipin satu sekolahan..?? Tanya Zela ketus.
" Mana berani mereka gosipin kamu yank.." Jawab Brayen enteng.
Astaga...Suaminya ini benar benar bikin Zela kesal tapi jug gemas.
" Mereka hanya tau kita pacaran kak.. Mereka taunya aku pacar kakak.. Bukan istri seorang Brayen Zafano, tentu saja mereka berlomba untuk tetap mendapatkan hati Kak Ray, kalau tau leher aku seperti macan tutul gini pasti akan menjadi senjata mereka buat jatuhin aku supaya putus sam Kak Ray.." Jelas Zela panjang lebar membuat Brayen geleng geleng kepala.
Ternyata pikiran istrinya ini sangatlah jauh, bahkan kejauhan menurut Brayen, berbeda dengn cowok yang selalu simple dalam hal apapun termasuk cara berpikir mereka.
" Tapi kamu kan istri aku bukan pacar aku, biar nggak ada gosip kita umumin aja yank pernikahan kita, sekalian sama kehamilan kamu.." Jawab Brayen memberi usul tapi tentu saja Brayen juga dengan nada becanda.
" Belum saatnya Kak.. Nanti nunggu perut aku mancung kedepan ya kak.." Jawab Zela lebih enteng dari ucapan Brayen tadi.
Brayen nyengir dan menggelengkan kepala karena perkataan Zela.
" Hidung kamu nih yang mancung..." Jawab Brayen lalu menarik hidung Zela gemas.
" Emang hidung aku mancung..." Jawab Zela songong, membuat mereka berdua tertawa bersama.
Juga Brayen mengacak rambut Zela gemas, pagi ini memang sangatlah indah untuk mereka berdua mengawali hari.
Sampai mungkin mereka berdua akan sama sama telat datang ke Sekolah juga kampus.
Tapi itu tidak akan menjadi masalah tentunya untuk keduanya, anak Sultan mah bebas mungkin itu yang cocok untu mereka berdua.
Tapi sungguh, di antara mereka tidak ada yang menggunakan kekuasaan orang tuanya untuk bersikap seenaknya ketika berada dikampus juga Sekolah.
Setelah selesai semuanya, mereka semua turun kebawah untuk berangkat, tapi di bawah sudah sepi hanya ada asisten rumah tangga yang sedang melakukan pekerjaan masing masing.
Mungkin Zifa dan juga Jova sudah pergi pikir mereka berdua.
Brayen dan Zela saling pandang dan tertawa, mereka segera masuk ke mobil untuk berangkat.
Jam sudah menunjukan pukul 7 lebih, sudah dipastikan Zela akan telat, didalam mobil Zela terus berceloteh tak jelas kepada Brayen, berceloteh kesal sampe membuat Brayen hanya bungkam dan tidak menanggapi sama sekali.
Benar benar aneh, tadi sebelum masuk kedalam mobil Zela masih dalam keadaan mood yang baik sambil bergandengan tangan dengan Brayen, tapi seketika berubah saat Zela melihat jam yang berada didalam mobil.
__ADS_1
Suasana yang tadi romantis, berubah menjadi gaduh karena celotehan Zela.
Sekali lagi benar benar bumil yang mudah sekali moodnya berubah.
" I Love you too sayang..." Ucap Brayen yang sebenarnya tidak nyambung sama sekali dengan celotehan Zela.
" Hmm..??? " Jawab Zela sambil melirik Brayen bingung.
Brayen hanya tersenyum, tapi ucapa Brayen barusan seperti sihir karena benar benar membuat Zela bungkam tidak lagi kesal dengan celotehannya.
Tapi sungguh skill Brayen dalam menyetir mobil juga tidak diragukan lagi, tanpa Zela sadari mereka sudah sampai di depan gerbang.
Juga belum telat karena masih banyak para siswa siswi yang baru juga berangkat.
Zela terkejut ketika sadar jika mereka sudah sampe, Zela menatap Brayen dengan muka manis yang sangat lucu.
Bengong, yup... Zela masih terbengong sambil menatap Brayen.
" Kita udah sampe kak..?? Tanya Brayen kepada Zela, dan dijawab Brayen dengan anggukan kepala.
" Tadi kita naik mobil apa terbang sih..?? Sambung Zela lagi masih tak percaya.
" Tadi kita terbang.. Nih masih dipesawat..." Jawab Brayen mencoba melawak.
Dan sukses membuat Zela memukul pelan lengan Brayen, karena Zela juga sadar jika mereka berada didalam mobil, bukan di pesawat.
" Duluan ya kak.. Dan ini keren banget..." Pamit Zela sambil memuji Brayen karena tidak membuatnya telat.
Tapi ketika Zela akan berbalik untuk keluar dari mobil, Brayen buru buru mencegahnya.
" Bayar dulu dong.." Ucap Brayen kepada Zela.
Zela menaikan kedua alisnya bingung.
" Oh... Jadi aku harus bayar..? " Tanya Zela yang dijawab Brayen dengan anggukan kepala, juga tampang menyebalkannya tapi sungguh ketampanan Brayen tak berkurang sama sekali meskipun dalam mode menyebalkan seperti sekarang ini.
" Berapa..??? Tanya Zela kepada Brayen.
" 1 kali cukup.. Tapi ditengah juga yang lama ya yank.." Jawab Brayen benar benar lebay menurut Zela.
Ntah lah suami tampannya ini mungkin sudah ketularan Dimas juga Xelo, yang biasanya dingin juga datar, sekarang berubah seperti bukan dirinya.
Lebih hangat juga terkadang ada selera humorisnya, aneh menurut Zela atau mungkin karena Zela sedang hamil jadi hanya dia sendiri yang merasa aneh dengan sikap Brayen, akh.. Sudahlah lupakan.
Tatapan mata yang selalu membuat Zela tidak bisa menolak dan mendebarkan hatinya.
Cup......
Zela mencium bibir Brayen sekilas, ya hanya sekilas padahal Brayen berharap kiss menjadi kissing wkwk.
Tapi ciuman sekilas yang sungguh terasa, terasa hangat dan nikmat, nikmat yang tidak begitu lama tapi cukup untuk membuat mereka sama sama bersemangat menjalani hari ini.
" Nanti aku lunasin dirumah ya Kak.." Ucap Zela yang langsung ngacir keluar dari mobil saking gugup dan malunya karena perkataanya barusan.
Brayen tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, gadis kecilnya ini benar benar sudah bisa membuatnya menunggu hutang yang belum dilunasi oleh Zela, ya hutang ciuman yang lama.
Sungguh konyol pasangan ini tapi romantis dong.
Zela berjalan menuju kekelasnya, melewati setiap lorong kelas yang lain, banyak juga siswa siswi yang sedang mengobrol, ntah obrolan apa Zela sendiri tidak ingin tau, tanpa di sengaja Zela berpapasan dengan Vera.
Zela acuh dan terus berjalan tanpa melirik sedikitpun ke arah Vera, sungguh Zela sangat malas jika harus berurusan dengan gadis simpanan om om ini.
Gadis yang selalu mencari masalah dengannya, juga berusaha merebut suaminya, tapi Vera memang tidak ada apa apanya dibanding dengan Zela.
Berbeda dengan Zela, Vera sedari tadi menatap Zela tajam, tatapan penuh kebencian, bahkan sampe Zela tak terlihat Vera mengepalkan tangannya kuat kuat.
" Gaes..." Sapa Zela kepada kedua sahabatnya yang sedang heboh dengan ponsel masing masing.
" Zel... Sini deh ada berita heboh.." Ucap Vani yang langsung menarik Zela untuk duduk.
" Apaan sih Van..?? Tanya Zela mulai penasaran.
" Loe belum buka ponsel..?? Tanya Seli yang di jawab Zela dengan gelengan kepala.
" Loe inget nggak cowok cupu yang kemarin sempet nabrak gue. ?? " Tanya Vani kepada Zela, Zela berfikir seperti mengingat ingat.
Kemudian Zela mengangguk pelan.
" Kenapa memangnya..?? Tanya Zela kepada Vani juga Seli.
__ADS_1
" Buka ponsel loe gih biar tau.." Suruh Seli kepada Zela.
" Akh.. Malas gue nggak penting, ceritain aja.." Jawab Zela dengan cengiran.
" Yee.. Ni anak.. Giliran Kak Ray aja yang diberita pasti heboh.." Sindir Vani membuat Zela lagi lagi nyengir.
" Tadi malam katanya tuh anak mau bunuh diri.. Mugkin kalau nggaka ada yang nolong tuh anak tinggal nama aja.." Jelas Vani membuat Zela sedikit terkejut.
" Dan.. Anehnya tuh anak pas mau ngelakuin itu di Hotel Zafano Zel..." Sambung Seli membuat Zela semakin terkejut.
" Hah..?? Serius loe..??? Tanya Zela semakin penasaran.
Seli dan Vani mengangguk bersamaan.
Zela teringat dengan Brayen yang tadi malam tiba tiba pergi karena telp dari Dimas, Brayen pergi kemana Zela juga tidak tau, tapi sungguh perasaan Zela mulai tak tenang sekarang.
Bahkan Brayen pulang jam berapa Zela sendiri tidak tau, Zela mulai gusar, dia khawatir juga ingin tau apa yang sebenarnya dilakukan oleh suaminya tadi malam.
Kepentingan apa yang membuat Brayen buru buru..??
Tapi jika dipiki pikir rasanya tidak mungkin jika Brayen ada hubungannya dengan cowok cupu itu, dan lagi dari tadi pagi Brayen terlihat seperti biasanya, tidak ada yang aneh juga janggal menurut Zela.
" Yeee... Malah bengong nih anak.." Timpal Vani.
" Terus tuh cowok gimana..?? Tanya Zela.
" Sandro maksut loe..?? Tanya Seli.
" Ya mungkin kalau itu namanya.." Jawab Zela yang memang tidak tau namanya.
" Ck.." Decak Vani karena Zela sama sekali tidak tau nama cowok yang mencoba bunuh diri.
" Biasa aja kali Van.. Gue kan emang nggak kenal tuh cowok apa lagi tau namanya.." Jelas Zela kepada Vani.
" Iya deh paham.. Tuan putri mah mana kenal ma cowok buluk gitu.. Yang bening bening aja deh yang kenal.." Jawab Vani cekikikan.
" Sialan loe.." Jawab Zela kesal, membuat mereka bertiga tertawa.
" Terus terus gimana..?? Tanya Zela lagi ingin tau.
" Katanya sih ditolong Kak Xelo sama Kak Dimas.. Gue juga nggak tau kejadiannya gimana, tapi kalian ngrasa aneh nggak sih..?? " Jelas Seli membuat Zela semakin terkejut bukan main.
Fix... Ini pasti ada yang tidak beres atau ada yang Brayen rahasiakan darinya, pikir Zela.
" Aneh apanya sih Sel.. Justru Kak Xelo sama Kak Dimas itu sweet banget tau nggak sih.. Nolongin orang mau mati.. Apa lagi gue bayanginnya tuh cowok udah mau jatuh terus ditarik sama mereka kayak adegan adegan di tv gitu.. Aduh...." Jelas Vani panjang lebar sambil membayangkan adegan seperti yang ia katakan.
" Coba ada Kak Ray wuih... Tri superhero.." Sambung Vani cekikikan.
Tapi malah membuat Zela benar benar terus kepikiran, Zela semakin merasa aneh dan ada yang janggal.
" Emang cuma Kak Xelo sama Kak Dimas yang nolongin..?? " Tanya Zela memastikan.
" Yaa iyalah Zel.. Emang siapa lagi, bukannya Kak Ray lagi bobo bareng ma loe.." Ledek Vani tapi sungguh semakin membuat Zela penasaran.
Juga banyak sekali pertanyaan di pikirannya, bukannya tadi malam Brayen bilang ingin menemui Dimas..?? Terus kenapa tidak ada Brayen juga di sana..?? Apa jangan jangan Brayen yang melakukan..???
Astaga... Seketika Zela menutup mulutnya karena pikiran konyolnya.
" Loe kenapa sih Zel..?? Tanya Seli melihat muka terkejut Zela.
" Nggak papa kok.." Jawab Zela berbohong.
" Loe tau Sandro..?? Tanya Seli menyelidik dan Zela hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
" Ya nggak lah Sel.. Tadi kan Zela udah bilang nggak kenal apa lagi tau ikh.." Vani yang menjawab membuat Seli mendesah, karena memang benar begitu adanya.
Seli tau jika Zela tidak mungkin kenal dengan cowok seperti Sandro, tapi Seli juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Mengingat sering sekali Sandro menatap Zela dengan tatapan yang susah di artikan, dan Seli sudah memergoki itu beberapa kali.
Baik Zela maupun Seli benar benar penasaran dengan teman sekolahnya yang mencoba bunuh diri, cowok yang tidak pernah mereka tau, cowok cupu yang tiba tiba menggegerkan Sekolah karena aksinya, dan lebih heboh lagi karena ditolong oleh Dimas juga Xelo yang berada di Hotel Zafano.
Suatu kebetulan atau ada sesuatu mereka tidak bisa memastikan saat ini, tapi mungkin mereka harus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, dan mereka harus siap apapun yang terjadi nanti.
Terkhusus Zela tentunya, dia harus siap jika Brayen mengatakan semuanya, tentang anak curut brengs*k itu.
Jangan Lupa Like, Comment dan Vote ya kak
Vote... Vote... Vote.. Big Thanks
__ADS_1
Ow ya.. Jangan mengira kalau Brayen diblik semua ini.. Next episode pasti akan terjawab kok..
Aku sayang kalian.. 😘😘