
Mahasiswi yang sengaja menghentikan langkah kaki mereka mendekat tepat di depan Brayen dengan sangat perlahan.
Banyak juga mahasiswa dan mahasiswi yang melihat aksi nekatnya itu, termasuk Seli yang kini menyiku lengan Vani melihat apa yang di lakukan oleh salah satu teman Kampus mereka kepada suami sahabat mereka itu.
" Mau ngapain dia?." Tanya Seli pelan kepada Vani.
Vani mengangkat kedua bahunya seraya menatap ke arah mahasiswi itu.
" Kita lihat aja apa yang akan di lakukan olehnya." Jawab Vani seraya membenarkan posisinya menggendong Arshaka.
Mahasiswi itu menghela nafasnya pelan, dia tersenyum begitu manis ke arah Brayen, sontak saja apa yang di lakukan olehnya itu sangat membuat Zela kesal, meskipun hanya sebuah senyuman tetap saja Zela tidak suka.
" Kak Brayen Zafano bukan?." Tanya mahasiswi manis itu meyakinkan dirinya jika seseorang yang di lihatnya sekarang ini benar seorang Brayen Zafano.
" Iya, dia suamiku." Jawab Zela kepada mahasiswi itu, Zela memang sudah menahan rasa cemburunya, bisa-bisanya gadis di depannya itu berani menghentikan langkah mereka dan bertanya tentang suaminya.
Sedangkan Brayen tidak menjawab, dia juga terlihat biasa saja tanpa expresi dengan pertanyaan mahasiswi manis tadi kepadanya.
Mahasiswi itu tersenyum ke arah Zela seraya mengangguk, dia sebenarnya sudah lebih dulu tahu jika Zela ialah istri Brayen.
" Aku mau minta tanda tangan Kak Ray, boleh kan?." Tanya mahasiswi itu dengan sopan kepada Zela.
Dia lebih dulu meminta ijin kepada Zela untuk meminta tanda tangan Brayen, jelas karena Zela istri dari Brayen.
Tetapi apa yang di lakukan dan permintaannya itu cukup membuat teman-teman Kampusnya terkejut. Pasalnya gadis itu terkenal pendiam di kampus mereka, dan tiba-tiba sekarang begitu berani ketika bertemu dengan Brayen.
Jika di lihat dari penampilannya dia memang tidak seperti mahasiswi lain yang dengan sengaja menggunakan baju yang bisa memperlihatkan bagian tubuhnya, untuk membuat lawan jenia tertarik kepada dirinya, dia berbeda dari yang lain, tetapi terkadang yang berbeda justru yang berbahaya bukan?
Brayen menaikan satu alisnya, dia bingung kenapa teman kampus istrinya bisa bersikap seperti sekarang ini.
" Boleh." Jawab Zela singkat seraya menatap ke arah Brayen.
" Sayang." Ucap Brayen lirih, dia ingin menolak apa yang di minta oleh teman Kampus istrinya. Tetapi Zela mengangguk memperbolehkan apa yang di minta oleh mahasiswi yang kini sedang tersenyum senang di depan mereka.
__ADS_1
" Kak Ray tolong tanda tangan di sini." Pinta mahasiswi itu seraya melepas blazer jeans yang sedang di kenakan olehnya.
Mahasiswi itu meminta Brayen untuk memberikan tanda tangannya tepat di dadanya, sontak saja apa yang dia minta itu membuat Zela mengepalkan tangannya kuat untuk menahan amarah.
Zela sudah terlanjur memperbolehkan dirinya untuk meminta tanda tangan dari suaminya, tetapi gadis di depannya ini seperti berlebihan cara memintanya.
Zela melirik ke arah kedua sahabatnya yang sama-sama bingung harus berkata apa sekarang ini untuk membantu Zela.
Brayen tersenyum miring, dia paham gadis yang berada di depannya ini memang punya cara sendiri untuk menggoda lelaki.
" Istri Gue memperbolehkan tapi sorry Gue nggak minat." Ucap Brayen membuat Zela dan kedua sahabtanya terkejut, begitu juga para mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menyaksikan mereka.
Tetapi tentu saja Zela sangatlah lega Brayen menolak apa yang di minta oleh teman Kampusnya itu.
Mahasiswi itu tersenyum kecut, tetapi manik matanya menatap Brayen dengan lekat, bahkan sekarang dia begitu berani dengan seorang Brayen Zafano.
Zela sedari tadi terus mengamati apa yang di lakukan oleh teman Kampusnya itu ketika sedang menatap suaminya begitu dalam, dia tahu apa yang harus di lakukan kepada kerikil yang mungkin sedang mencoba masuk ke dalam rumah tangganya.
Tanpa membalas cibiran Zela, mahasiswi itu malah semakin mendekat ke arah Brayen, lalu tangannya bersikedap di dadanya.
" Kak Ray aku adik dari seseorang yang kamu buang ke New York Sandro." Bisik mahasiswi itu lalu melirik Zela sekilas yang kini sedang menatap dirinya dan Brayen dengan penuh curiga dan banyak pertanyaan.
Zela mendengar apa yang di katakan oleh mahasiswi itu, begitu juga dengan kedua sahabatnya Seli dan Vani.
Bukannya terkejut, Brayen malah tersenyum seraya menggeleng, menurut Brayen gadis yang baru saja meminta tanda tangan dan mengatakan tentang Sandro itu tidak tahu permasalahannya.
Tetapi Brayen bisa menyimpulkan jika gadis itu mungkin ada rasa kesal atau mungkin dendam dengan dirinya, mahasiswi itu ialah adik Sandro, namanya Oliv dia dulu sekolah di bandung. Jadi tidak tahu permasalahan yang menimpa keluarganya.
Termasuk apa yang sudah di lakukan oleh Sandro Kakaknya dan juga Bapaknya.
Zela masih menahan amarah dan banyak pertanyaan untuk Brayen, sedangkan Seli dan Vani kini saling pandang bingung.
Seli teringat dengan kejadian dulu di saat Sandro meminta dirinya untuk di pertemukan dengan Zela, juga kecurigaannya selama ini tentang hilangnya Sandro yang ternyata ada sangkut pautnya dengan Brayen.
__ADS_1
Seli berniat untuk menanyakan kepada Dimas calon suaminya, Seli yakin jika Dimaa juga tahu tentang masalah ini.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Setelah pulang Kuliah. Zela langsung berniat menemui Brayen di Kantornya. Tadi Arshaka memang kembali di bawa pulang oleh Brayen setelah menemui beberapa dosen di Kampus Zela.
Bahkan kedatangan Brayen tadi semakin membuat teman-teman Kampusnya heboh. Meskipun kini mereka sudah tahu siapa Zela dan Brayen sesungguhnya, tetapi mahasiswi dengan kategori centil tetap saja seperti di butakan oleh wajah rupawan Brayen, mereka masih mengagumi Brayen tanpa perduli setatus Brayen sekarang yang sudah menjadi seorang suami dan istri.
Bukan masalah hebohnya teman-tema Kampusnya yang akan Zela permasalahkan, karena Zela akui pesona Brayen memang sangat sulit untuk di biarkan begitu saja, Zela membiarkan teman-teman Kampusnya yang mengagumi atau mengidolakan suaminya, yang terpenting masih dalam hal yang wajar.
Tetapi masalah ucapan mahasiswi tadi pagi itu yang membuat Zela terus berpikir di otaknya.
" Sayang kok nggak minta jemput?." Tanya Brayen melihat Zela yang masuk ke dalam ruangannya.
" Nggak usah, tambah heboh dan masalah baru lagi nanti." Jawab Zela dengan nada sinis.
Brayen tersenyum, dia tahu jika Zela sekarang pasti sedang kesal karena kejadian tadi pagi, Brayen juga sudah menceritakan masalah itu dengan Dimas tadi.
Brayen mendekat ke arah Zela, lalu memeluk Zela yang kini sedang di mode singa kepada dirinya.
" Kenapa sayang?." Tanya Brayen sengaja menggoda Zela.
Zela menatap Brayen tidak percaya, Brayen masih bisa tanya kenapa melihat Zela sekarang yang sedang merah padam menaham amarahnya, benar-benar menyebalkan.
" Masih tanya kenapa?." Tanya Zela dengan nada yang sudah naik satu oktaf.
Brayen menautkan kedua alisnya, membuat Zela semakin kesal saja.
" Apa maksu.....mmmmm." Ucap Zela terpotong karena Brayen sudah lebih dulu membukam mulutnya dengan ciuman di bibir Zela.
Jika sedang berada di ruangan Kantornya. Brayen selalu ingin melakukan ena-ena dengan Zela, seperti sekarang ini meskipun mereka sedang tidak dalam keadaan baij-baik saja, tetapi rasanya untuk menahan Brayen tidaklah mampu.
Dia berniat nanti akan menjelaskan semuanya kepada Zela, tetapi nanti setelah hasratnya sudah tersalurkan, karena sekarang Brayen sedang sangat menginginkan, pokoknya ruangan di Kantornya seperti terdapat aliran yang membuatnya selalu ingin melakukan dan terus melakukan jika di temui oleh Zela.
__ADS_1