Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Sedikit Lega


__ADS_3

Kini kantin sudah dalam keadaan sangat ramai, ya...ramai karena anak anak sudah mengisi ruangan kantin penuh untuk mengisi perut mereka masing masing, bahkan ada yang tidak kebagian tempat duduk, padahal mereka tau dipojok ada beberap tempat duduk yang kosong, tapi tentu saja mereka tidak akan berani untuk menempati.


Tau lah ya itu tempat duduk siapa..


" Pesen kayak biasa kan..?? Tanya Vani yang diangguki oleh Seli, sedangkan Zela melamum dengan pikirannya.


" Zel... Syuutt... Zezel...!!! " Teriak Vani seketika membuyarkan lamunan Zela.


Zela menoleh ke arah Vani kesal.


" Paan sih Van.. Ngagetin deh.." Jawab Zela kesal.


" Mau pesen apa..?? Tanya Vani lagi kepada Zela.


Sedangkan Seli masih diam menyimak, tapi dia juga mengamati gelagat Zela, Seli tau ada yang di sembunyikan oleh sahabatnya ini.


Ntah Zela memikirkan apa, yang jelas ada hubungannya dengan cowok yang mencoba untuk bunuh diri itu, meski Seli tau jika Zela memang tak mengenalnya sama sekali, tapi ada something di balik semua ini, dan Seli yakin itu.


" Seperti biasa aja deh.. Tolong bilang Buk Kantin asinnya tambahin ya.. Pengen yang asin asin nih.." Jawab Zela yang memang lagi pengen makan yang asin asin.


Vani segera mengacungkan jempolnya, pertanda setuju.


" Cowok nih keponakan gue..." Timpal Seli membuat Zela melotot ke arahnya.


" Ssttttt.... Jangan kenceng kenceng napa.. Berabe kalau ada yang denger..." Jawab Zela mencoba untuk mengingatkan Seli, membuat Seli tertawa karenanya.


" Iya tuh dengerin.. Kayak ember mulut loe.." Sambung Vani sengaja meledek Seli.


" Kalau gue ember loe panci deh Van.." Jawab Seli sambil nyengir.


" Serah loe deh... Gue pesenin bentar.." Jawab Vani yang juga berlalu untuk memesan makanan mereka.


Seli mengamati Zela yang kembali merenung, Seli tau kalau pasti Zela memikirkan sesuatu dan tentu saja ada hubungannya dengan cowok saiko itu, siapa lagi kalau bukan Sandro.


" Ehem.. Nggak baik bumil ngelamun.." Ucap Seli terjeda kemudian berbisik kepada Zela.


Zela menoleh ke arah Seli, kemudian tersenyum, senyuman yang begitu manis dan teduh membuat Seli tidak tega jika harus menyangka Zela yang tidak tidak.


" Menurut loe.. Kak Ray kenal nggak sih sama tuh cowok..?? Tanya Zela tiba tiba kepada Seli, tentu saja membuat Seli begitu terkejut dengan pertanyaan Zela.


Zela mengutarakan isi pikirannya kepada Seli, ntah lah Zela sudah tidak sanggup jika harus menyimpannya sendiri.


Seli juga Vani adalah sahabat Zela dan Zela mempercayai semuanya kepada mereka, begitu juga masalah yang menjadi pikirannya saat ini.


" Gue nggak tau Zel.. Tapi..." Jawab Seli menggantung membuat Zela semakin penasaran.


" Kita ngomong ditempat lain aja.. Ada yang pengen gue omongin sama loe.." Sambung Seli seketika mereka berdua berdiri meninggalkan dan berlalu meninggalkan kantin.


Juga meninggalkan sahabat mereka Vani, ya mereka meninggalkan Vani sampe ketika Vani kembali dengan pesanan mereka masing masing..


Zela dan Seli sudah tidak ada ditempatnya, membuat Vani terkejut, pasalnya tidak biasanya mereka berdua pergi tanpa mengabarinya terlebih dahulu.


" Eh.. Kalian udah pesen belum..?? Tanya Vani kepada beberapa teman sekolahnya di kantin.


Mereka menjawab dengan gelengan kepalanya.


" Sip.. Nih udah gue pesenin..." Jawab Vani yang langsung menyerahkan nampan penuh dengan makanan dan langsung pergi meninggalkan Kantin.


Vani mencari Zela dan Seli sampe ke kelasnya, Vani pikir jika mereka kembali kekelas tapi ternyata tidak ada mereka.


" Pada kemana sih.." Kesal Vani yang mulai jengah mencari keberadaan kedua sahabatnya.


Ting.


Ponsel Vani berbunyi, ternyata pesan dari Seli yang memberitahukan jika mereka sedang berada di taman depan.


Vani menepuk jidatnya, kenapa sedari tadi dia tidak kepikiran tempat keren yang satu ini di sekolahnya.


Dengan segera Vanimenyusul mereka berdua, tapi sebelumnya dia membalas pesan Seli untuk menjawabnya jika dia sedang menuju kesana.


Di taman depan, Seli sudah memberitahukan kepada Zela tentang apa yang dia lihat tentang Sandro, ya tatapan mata Sandro untuk Zela yang tak seperti biasanya sepertu teman teman mereka pada umumnya.


Zela memanglah banyak penggemar, tapi Seli melihat masih dalam hal yang wajar, bahkan sering sekali mereka mengungkapkan perasaanya secara langsung kepada Zela juga di depan Seli maupun Vani.


" Beneran Sel..??? Tanya Zela tidak percaya.


" Gue nggak tau kebenarannya gimana Zel.. Tapi yang gue liat, tuh cowok ada rasa ma loe.. Dari cara dia melihat loe tuh beda dari yang lainnya.." Jelas Seli membuat Zela semakin penasaran.


Zela seperti memikirkan sesuatu, dia belum begitu yakin dengan yang dipikirnya saat ini, tapi Zela juga harus mencari tahu.


" Menurut loe ada hubungannya nggak sih sama semua ini..?? Tanya Zela tidak yakin kepada Seli.


" Gue juga bingung Zel.. Tapi lebih baiknya loe tanya langsung sama kak Ray.. Dari pada jadi pikiran loe.. Nggak baik buat calon keponakan gue.." Jelas Seli yang juga mencoba untuk mencairkan suasana.


Zela tersenyum ke arah Seli, sahabat yang satu ini memang paling dewasa dalam bertindak maupun berfikir, tapi tetap Seli juga sama konyolnya dengan Zela juga Vani.


Ingat meskipun sifat mereka berbeda beda, tapi ada satu kesamaan di antara mereka, sama sama konyol...


Tak lama Vani datang dengan nafas yang sudah ngos ngosan persis seperti baru mengejar maling.


Iya... Malingnya Kak Xelo.. Yang udah mulai mencuri hati Vani...Cieeeee....


Hufh...fhuhh...fhuhhh...


" Kalian toge banget ma gue.." Ucap Vani sambil mengatur nafasnya.


" Tega...." Jawab Zela dan Seli barengan juga mengingatkan kata kata Vani yang keliru.


" Hish..." Decak Vani kesal karena Zela juga Seli tidak bisa di ajak becanda.


Tapi malah membuat mereka tertawa melihat muka kesal Vani.


Apa apaan mereka, tidak ada yang lucu malah ketawa aneh.. Pikir Vani.

__ADS_1


" Kenapa malah pada kesini sih..?? Tanya Vani kepada mereka berdua.


" Pengen cari angin..." Jawab Zela membuat Vani tidak puas dengan jawaban Zela, sedangkan Seli hanya tersenyum.


." Kalau mau cari angin.. Bilang ke gue kek.. Kan gue bisa ngasih.." Jawab Vani ngawur.


Sungguh jawaban Vani sangatlah konyol.


Zela menaikan kedua alisnya bingung.


" Maksud loe kipas hello kitty loe itu..?? Tanya Seli menunjuk Kipas angin kecil yang sedang dibawa oleh Vani.


Ya.. Bahkan Vani tidak bisa lepas dari kipas mininya itu.


" Nggak lah.. Angin produksi dari gue sendiri.." Jawab Vani sambil nyengir.


Membuat Zela juga Seli bertambah bingung dengan kata teka teki Vani.


" Maksud loe.....?? Tanya Seli bingung sambil menautkan alisnya.


Duuuddhh......


Suara kentut Vani yang tiba tiba terdengar oleh Zela juga Seli.


What...??? Jadi maksud Vani ini..???


Kentutnya sebagai angin buatannya..??


Dasarr bocah gila..!!! Pikir Zela juga Seli.


" Vani... Gila loe..." Kesal Seli yang sudah menutup hidungnya.


" Sumpah Van.. Jorok banget loe.." Sambung Zela yang juga sudah menutup hidungnya.


Sedangkan Vani yang sedang di protes oleh kedua sahabatnya, hanya nyengir tanpa dosanya.


" Ha..ha..ha... Kesel gue ditinggal, ya udah gue bom aja kalian.." Jawab Vani membuat Zela dan Seli menggelengkan kepalanya.


Sumpah sahabat terkampret yang selalu mereka sayang.


Tak lama bell berbunyi, tapi menandakan berkumpulnya para murid, bukan bell masuk ke kelas.


" Ada apaan ya gaes..?? Tanya Vani penasaran.


" Mana kita tau.. Kita kan bukan guru.." Jawab Seli masih sedikit kesal dengan Vani, membuat Vani hanya nyengir saja.


" Tapi Van.. Gue suka deh suara kentut loe barusan... Baunya aja yang nggak suka.." Jawab Zela jujur.


What..?? Zela suka suara kentut Vani, benar benar bumil yang aneh.


Seli melotot tak percaya, sedangkan Vani semakin terkikik geli karenanya.


Sungguh aneh.. Cewek secantik Zela kalau sedang hamil bisa menyukai suara kentut Vani yang terdengar merdu mungkin menurut Zela.


" Zela Vani stop deh.. Malah bahas kentut.. Ikh.." Kesal Seli yang merasa risih dengan pembahasan kedua sahabatnya ini.


Membuat Zela dan Vani sama sama tertawa karena kekonyolan mereka.


" Ayo.. Ke lapangan upacara.." Ajak Seli kepada kedua sahabatnya.


Tanpa dijawab oleh keduanya, Seli sudah menarik tangan Zela dan juga Vani, mereka berjalan menuju kelapangan upacara.


Sambil berjalan mereka masih saja berceloteh, Seli sengaja membuat Zela melupakan sebentar permasalahannya dan sepertinya berhasil.


" Kalau Kak Xelo tau.. Pasti loe malu banget kan ma perbutan loe barusan.." Ucap Seli memprovokasi.


" Ish.. Ngapain gue malu, emang siapa dia..?? Elak Vani yang sebenarnya tanpa Seli kasih tau juga dia akan malu dengan perbuatannya jika sampe Xelo mengetahuinya.


Tapi aman Van.. Xelo nggak akan tau, selama kedua sahabatnya ini tidak sedang bermulut ember.


" Beneran Van..?? Tanya Zela meyakinkan, membuat Vani mengangguk ragu.


" Kalau gitu.. Kita kasih tau Zel.." Usul Seli yang langsung di jawab Zela dengan anggukan kepala juga mengacungkan jempolnya.


" Jangan....!!! " Cegah Vani langsung kepada keduanya.


Membuat mereka tertawa bersama, tawa lepas sampai membuat Zela lupa akan masalahnya saat ini.


Dan ini sungguh membuat Seli tersenyum senang.


Sampai di lapangan ternyata sudah banyak sekali siswa siswi, mereka segera bergabung menuju barisan kelasnya.


Ternyata Guru mengumpulkan para siswa siswi untuk menjenguk Sandro di Rumah sakit Zafano.


Sandro di rawat di sana, meskipun tidak terjadi apa apa tapi keluarga Zafano ini memanglah terkenal sangat baik dan dermawan, dan itu sudah banyak sekali buktinya.


Jika saja Brayen memberitahukan kesalahan yang sudah Sandro dan Bapaknya perbuat mungkin akan lain lagi ceritanya.


Setelah selesai, semua kembali menuju kelas masing masing, hanya yang satu kelas saja dengan Sandro yang di ijinkan untuk menjenguknya.


" Buat apa coba dikumpulin, kalau ujung ujungnya masuk kelas lagi nggak jadi pulang cepet.." Ucap Vani kesal.


Sekarang ini mereka bertiga juga siswa siswi yang lain sudah berada di dalam kelasnya.


" Ya.. Kali aja pelajaran sekarang kosong, kan lumayan.." Jawab Seli malas.


Karena sebenarnya dia juga sama halnya dengan Vani menginginkan pulang cepat.


Sedangkan Zela sedang berfokus pada ponselnya, jika benar pelajaran kali ini kosong, Zela akan pulang untuk menemui suaminya.


Sudah cukup lama memang belum ada guru yang masuk dikelas mereka, fix.. Mapel sekarang ini memang kosong.


Ting..

__ADS_1


Pesan masuk dari Brayen, membuat Zela tersenyum senang, Zela segera mengambil tasnya dan beranjak dari duduknya.


" Gue cabut ya gaes.. Udah ditungguin Kak Ray.." Pamit Zela kepada kedua sahabatnya.


Tentu saja dengan suara yang pelan.


Seli mengangguk, sedangkan Vani tampak protes kepada Zela.


" Yee... Kebiasaan loe.." Protes Vani yang tidak ditanggapi oleh Zela karena sudah keluar dari kelasnya.


Membuat Vani mendengus kesal.


Teman teman kelasnya yang melihat hanya diam tidak berani protes kepada cewek Idola di Sekolahnya itu.


Mereka bisa apa memang..?? Dan sudah menjadi kebiasaan jika Zela selalu bolos dijam pelajaran kosong.


Bahkan jam pelajaran yang ada Gurunya juga dia lumayan sering bolos, so.. biarkan.


Zela sudah berada di depan gerbang sekolah terlebih dahulu sebelum akhirnya Mobil mewah Brayen terlihat mengahmpirinya.


Dengan segera Zela masuk kedalam mobil Brayen, duduk di sebelah Brayen yang menatap Zela sekilas memberi senyuman dan kembali menjalankan mobilnya.


Jika dilihat Brayen seperti tak menyembunyikan apapun dari Zela, bahkan terlihat sangat tenang.


Berkali kali Zel ingin bertanya kepada Brayen, tapi berkali kali juga dia urungkan.


Dan itu sangat terlihat jelas oleh Brayen, dia seperti bisa membaca mimik wajah Zela yang terlihat sangat gusar sekarang ini.


" Kenapa Yank..?? Tanya Brayen mencoba memulai percakapan di antara keduanya.


Zela menatap Brayen dengan senyum manisnya, pandangan mereka bertemu untuk seperkian detik sebelum akhirnya Brayen kembali fokua pada setirnya.


" Apa ada yang ingin Kak Ray katakan..?? " Tanya Zela ragu kepada Brayen.


Brayen menautkan kedua alisnya, kemudian dia paham dengan pertanyaan Zela.


" Kenapa memangnya..?? Tanya Brayen berbalik bertanya kepada Zela.


Mulai deh mode menyebalkannya.


Zela menggeleng karena begitu ragu, akh... Dia benar benar ragu apakah harus bertanya langsung atau menunggu sampe Brayen bercerita sendiri.


Tapi ini sungguh menjadi masalah di otaknya, dan lagi Brayen terlihat sangat santai seperti biasanya, seperti tidak terjadi sesuatu.


Atau jangan jangan suaminya ini malah belum dengar jika teman sekolahnya ada yang mencoba bunuh diri di Hotel Zafano.


" Kak.. Kakak denger nggak ada yang mencoba bunuh diri..?? Tanya Zela pelan karena benar benar ragu.


" Di hotel bokap.." Jawab Brayen seperti menjelaskan.


Deg...


Hati Zela berdebar, Brayen tau akan hal ini tapi dia tenang begitu saja.


Zela mentap Brayen bingung, Zela bingung ingin melanjutkan pertanyaannya atau tidak.


" Tenang yank.. Ini murni kesalahannya juga keegoisannya.." Lanjut Brayen menjelaskan.


Brayen sendiri terkejut ketika mendengar Sandro mencoba bunuh diri.


Tapi dia tenang, karena jika dia mengungkapkan yang sebenarnya, justru Sandro sendiri yang akan mendapat masalah, atau justru malah bisa kena pasal dan di penjara.


Anak Bodoh. Pikir Brayen untuk Sandro.


Zela menggenggam tangan Brayen, mata mereka kembali bertemu,kemudian dia tersenyum, senyuman manis dan hangat untuk Brayen.


Kini perasaanya sedikit lega hanya dengan penjelasan sedikit dari Brayen, tapi dia yakin jika Brayen tidak ada sangkut pautnya, jika iya Zela tetap yakin Brayen tidak bersalah sama sekali.


Brayen menepikan mobilnya, mobil mereka berhenti di gedung parkiran bawah tanah.


Ternyata Brayen membawanya ke apartemen, mereka akan pulang ke apartemen, tapi Zela belum menyadari akan hal itu.


" Kena..??? Ucapan Zela terhenti.


Cup...


Bibir manis Zela sudah dibungkam oleh bibir Brayen, kecupan manis dan lembut yang begitu singkat Zela rasakan.


Tapi sungguh mampu menggetarkan jiwanya, hatinya, juga hasratnya..


Tatapan mata mereka kembali bertemu, Zela benar benar menatap wajah tampan Brayen, wajah yang membuatnya selalu gelisah, selalu ingin di jamahnya, wajah yang selalu Zela rindukan jika tak bersamanya sedetik saja.


Mungkin ini begitu lebay, tapi sungguh ini yang Zela rasakan untuk Brayen, tak mampu dan tak akan bisa jika harus berlama tanpa seorang Brayen.


Zela tidak bisa akan hal itu, dan Zela tak akan sanggup.


Ntah dorongan dari mana, Zela memeluk Brayen erat, bahkan begitu erat, saking eratnya sampe membuat Brayen sendiri terkejut.


Tapi tentu saja Brayen membalas pelukan Zela dengan begitu penuh kasing sayang, bahkan Brayen mencium puncuk kepala Zela berkali kali.


" I Love you.." Ucap Brayen di sela sela pelukan mereka.


" I Love you too.." Jawab Zela masih tak ingin melepas pelukannya.


Membuat Brayen tersenyum, gadis cantiknya ini benar benar sangat agresif pikir Brayen, tapi Brayen senang, dan Brayen tidak akan pernah mempernasalahkan bagaimanapun sikap Zela padanya.


Justru dengan Zela seperti ini, malah membuatnya semakin bertambah dan bertambah terus rasa cintanya untuk seorang Azela.


Hanya Zela dan selamanya akan tetap Zela seorang di hati Brayen.


Jangan Lupa Like, Comment dan Vote ya kak..


Vote.. Vote.. Vote..

__ADS_1


VOTE... Big Thanks 🙏🙏😘😘


__ADS_2