Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Kabar Pertama


__ADS_3

Mobil Seli melesat menuju mall terbesar yang ada di Kota mereka, bahkan sedari tadi Vani terus berusaha menghibur Zela dengan bernyanyi mengikuti alunan musik yang Seli nyalakan di dalam mobilnya.


Meskipun pada dasarnya suara Vani tidaklah enak jika didengarkan ketika bernyanyi, tapi itu cukup membantu untuk mengurangi rasa kegalauan pada diri Zela saat ini.


" Gaes.. Mau ngeborong apa nih..?? " Tanya Vani kepada Zela dan juga Seli.


" Makan dulu aja deh.." Jawab Zela cepat yang memang akhir akhir ini nafsu makannya bertambah.


Seli dan Vani saling pandang, mereka menggelengkan kepala tapi kemudian tertawa.


" Oke.. Kita cari makan dulu... Setelah itu temenin Gue cari cari baju... Gimana...??? " Tanya Seli kepada Zela dan Vani.


" Siap... Cecel..." Jawab Zela dan Vani kompak, yang sontak membuat Seli melotot kesal.


Sedangkan Zela dan Vani tertawa dengan kekompakan mereka, tidak menyangka juga jika mereka masih ingat dengan panggilan untuk Seli dulu.


Tapi Seli selalu saja marah dan tidak suka jika di panggil dengan sebutan " Cecel " , mengingat tetangganya memang ada yang namanya Cecel dan dia menjadi gila gara gara tidak jadi menikah.


Tentu saja Seli tidaklah mau jika sampai bernasip sama seperti tetangganya itu, hanya karena sebutan mereka yang sama.


" Gue nggak suka ya kalian sebutin nama itu.." Tegas Seli kepada kedua sahabatnya.


" Hehe.. Sorry Sel.. Keceplosan.." Jawab Vani sambil cengengesan.


" Udah yuk akh.. Kita cari makan dulu.. Laper nih perut Gue.." Sambung Zela mengajak kedua sahabatnya untuk segera mencari makanan.


" Gue rasa anak Lo cowok deh Zel.." Ucap Vani tiba tiba membuat Zela mengernyitkan keningnya.


" Shok tau deh Lo.." Jawab Zela kepada Vani.


" Yeee.... Di bilangin nggak percaya... Biasanya kalau bumil suka yang asin asin sama makannya jadi banyak tuh ya anaknya Cowok...." Jelas Vani membuat Zela menoleh ke arah Vani.


" Loe tau dari mana..?? " Tanya Seli menyelidik.


" Ya dari Mami Gue lah.. Gini gini Gue juga udah belajar ya.." Jawab Vani songong.


" Pacar aja nggak punya udah belajar begituan aja Lo.." Ledek Seli membuat Vani memberengut kesal.


" Sialan Lo.." Jawab Vani singkat tapi juga tidak terima.


Mereka akhirnya berhenti di caffe yang berada di lantai paling atas mall, setelah memesan makanan, mereka kembali mengobrol.


Tentu saja obrolan yang tidak jauh jauh dari ledekan satu sama lain.


Bahkan baik Seli maupun Vani sengaja tidak memainkan ponsel mereka satu sama lain, karena tujuan mereka mengajak Zela jalan jalan agar Zela tidak terlalu merasa kesepian karena ditiggal oleh suaminya, siapa lagi kalau bukan Brayen Zafano.


" Btw kalian tadi belum denger berita hot di sekolah kan..?? " Tanya Vani tiba tiba membuat Zela dan Seli menatapnya serius.


" Palingan juga Vera..." Jawab Seli menebak.


" No..." Jawab Vani singkat.


" Kak Bintang..?? " Tanya Seli lagi, tapi di jawab Vani dengan gelengan kepala.


" Siapa sih Van..?? Serius deh Lo tuh kayak host gosip di tv tau nggak.. Apa apa tau..." Jawab Zela membuat Vani tertawa renyah.


" Gue emang bakat jadi host gosip di acara insortt.." Jawab Vani songong.


" Udah.. Nggak usah ngomongin bakat Lo yang nambahin dosa itu Van.. Cepetan kasih tau.." Sambung Seli yang sudah begitu penasaran.


" Ish... Lo nyuruh Gue buat kasih tau Lo beritanya juga sama aja nambahin dosa kali Sel.. Kan jadi ngomingin orang.." Jawab Vani tidak terima.


" Iya.. Iya.. Kita sama sama dosa Van.. Udah buruan gih.. Kasih tau..." Jawab Seli lagi yang emang udah penasaran.


Sedangkan Zela masih diam menyimak mereka, tentu saja Zela juga penasaran, tapi dia memang paling tidak heboh jika mengenai berita yang lagi hot di sekolahnya itu di banding dengan kedua sahabatnya.


" Nungguin ya..?? " Tanya Vani menggoda Seli.


Membuat Seli rasanya ingin menimpuk Vani saat ini juga, padahal mati matian Seli mencoba agar tidak menjitak kening Vani seperti biasanya, tapi sungguh sikap Vani ini memang yang meminta untuk di jitak keningnya kadang.


" Astaga.. Lama bener kasih tau aja.. Keburu dateng nih makanannya.." Jelas Seli tidak sabaran.


" Iya.. Ya Gue kasih tau.." Jawab Vani serius, lalu melirik Seli bergantian melirik Zela juga, Vani terkikik geli.


Membuat Zela dan Seli benar benar gemas dan kesal karena tingkah Vani.


" Buruan..." Suruh Seli kepada Vani.


" Ha...Ha..Ha... Lo mirip Kak Dimas Sel kalau lagi ngambek.." Ucap Vani malah yang sengaja bermain main.


Membuat Seli yang sudah tidak tahan dengan sikap Vani akhirnya mengeluarkan jurus terjitunya.


" Kalau Lo masih main main.. Bayar sendiri.. Gue nggak mau bayarin.." Jelas Seli mencoba untuk mengancam Vani.


" Astaga.. Jadi sekarang ini Lo yang bayar..?? Serius kan..?? " Tanya Vani yang di jawab Seli dengan anggukan kepala.


" Beneran Zel..?? Emang Seli yang mau bayarin kita..?? " Tanya Vani kepada Zela, karena masih tidak percaya dengan perkataan Seli, lagian sedari tadi juga belum ada obrolan tentang Seli yang akan membayar makanan mereka.


Zela mengangguk sambil tersenyum.


" Oke Gue kasih tau.." Jawab Vani akhirnya.


Membuat Zela dan Seli kembali serius menatap dan mendengarkan apa yang akan Vani katakan.


" Sandro.." Ucap Vani singkat tapi sukses membuat Zela dan Seli terkejut.

__ADS_1


" Sandro..??? " Tanya Zela yang diangguki oleh Vani.


Sedangkan Seli seperti memikirkan sesuatu, dia tau kalau terjadi sesuatu dengan Sandro, tapi apa itu Seli jugalah tidak tau yang dia tau semua ini juga ada kaitannya dengan Zela.


" Itu anak katanya udah keluar dari Sekolah... Nggak tau juga sih kenapa.." Jelas Vani yang membuat Zela mengangguk pelan.


" Lo kata siapa Van tuh cowok keluar dari Sekolah..?? " Tanya Seli yang juga penasaran.


" Anak anak dong tadi yang ngomong... Gue rasa dia malu mau Sekolah lagi, karena bunuh dirinya nggak sampe mati.." Jelas Vani sambil menyruput minumannya.


Sedangkan Seli masih dengan pikirannya, apa mungkin Sandro waktu itu ingin bertemu Zela untuk mengucapkan salam perpisahan, tapi untuk apa juga, diantara mereka tidak ada apa apa, bahkan Zela sendiri juga tidak mengenal Sndro.


Sungguh banyak sekali pertanyaan pada diri Seli.


Setelah selesai makan, mereka mulai berkeliling mall, bahkan di dalam perjalanan tadi tidak hentinya Zela terus membeli makanan ringan, hal itu tentu saja membuat Seli dan Vani geleng-geleng kepala.


Sampai akhirnya saatnya mereka untuk pulangpun tiba, tentu saja karena hari sudah semakin sore, Zela juga merasa tidak enak jika harus berlama lama di luar rumah, dia sendiri belum mengabari Bunda Wina tadi.


Zela melangkahkan kakinya kedalam rumah, rasa sepi yang tadi hilang karena Seli dan Vani kini mulai hadir lagi, bahkan terasa begitu hampa Zela rasakan.


Huuffhh...


Lagi lagi Zela menghela nafasnya untuk menguatkan dirinya, tapi sungguh rasa sesak didadanya begitu membuat dia tidak taham untuk tidak menumpahkan air matanya.


" Sayang udah pulang..?? " Tanya Bunda Wina yang di angguki Zela dengam senyuman.


Bunda Wina tau jika menantu cantiknya ini sedang sedih, tentu saja karena kepergian anaknya ke negri orang.


Tapi Bunda Wina juga mengerti jika Zela butuh waktu untuk sendiri, Bunda Wina tidak ingin membuat Zela merasa tidak nyaman karena tanpa adanya seoang sumi disisinya, dan ini untuk pertama kali untuk Zela dan Brayen berpisah dengan jarak yang begitu jauh.


" Bund... Zela masuk kamar dulu ya.." Pamit Zela yang diangguki oleh Bunda Wina dengan senyum manisnya.


" Istirahat ya nak.. Nanti Bunda panggil buat makan malam.." Teriak Bunda Win kepada Zela yang udah mulai naik tangga menuju ke kamaranya.


" Baik Bund..." Jawab Zela menoleh ke arah Bunda Win sebentar, lalu kembali menuju ke atas.


Sampai di kamar Zela melihat seisi ruangannya, begitu tercium bau parfum Brayen, bahkan rasanya sosok Brayen seperti masih berada di sisinya, tapi itu hanya perasaan Zela saja.


Zela masuk kedalam kamar, lalu menutup pintunya, Zela membaringkan tubuhnya di ranjang, kembali dia menghela nafasnya begitu dalam.


" Kak Ray.. Aku kangen...." Ucap Zela dengan buliran air mata yang sudah membasahi pipi.


Zela tidaklah secengeng ini, tapi berpisah jarak dengan Brayen adalah sesuatu yang tidak pernah Zela bayangkan sebelumnya, dan itu rasanya sungguh begitu menyiksa dirinya.


Sampai akhirnya dia teringat dengan ponselnya, Zela mengambil ponselnya yang berada di dalam tas Sekolahnya tadi, tapi masih sama seperti tadi, belum ada kabar dari Brayen sama sekali.


" Kak Ray jahat... Jahat... Bikin Aku kangen gini... Kak Ray nggak boleh pergi lagi tanpa aku.." Ucap Zela lagi semakin merasa rindu dengan sosok Brayen.


Brayen yang selalu membuatnya kesal akhir akhir ini, tapi juga begitu sabar menghadapinya, Brayen yang selalu melakukan hal tak terduga untuk dirinya, dan Zela kangen itu, Zela kangen semua perlakuan Brayen yang hari ini tidak bisa dia rasakan.


Sampai akhirnya Zela tertidur, masih dengan seragam sekolahnya, mungkin karena terlalu lelah menangis membuatnya mengantuk dan melupakan makan malamnya.


Dan itu semu Bunda Wina lakukan agar Zela tidaklah begitu merasa kesepian, tapi sayang ketika Bunda ingin membangunkan Zela untuk acara surprise kecil itu, Zela sudah tertidur dengan mata yang begitu sembab, membuat Bunda Wina tidak tega dan mebiarkannya.


Bunda Wina tau jika Zela telah menangis.


" Gimana Win..?? " Tanya Mamah Hana yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak bungsunya.


" Udah tidur Han.. Kita biarkan saja ya.. Surprisenya besok aja..." Jelas Bunda Wina yang di angguki oleh Mamah Hana.


" Zela udah tidur Bund..?? " Tanya Vani kepada Bunda Wina.


Seli dan Vani juga sudah berada di sana untuk menemani Zela, tentu saja Bunda Wina tidak ingin Zela merasakan kesepian yang berlarut larut.


" Udah.. Kalian ayo makan dulu.. Nanti kalian ke atas aja ya.. Tidur di kamar Zela sam Ray nggak papa.. Sekalian bawain makanan, siapa tau Zela terbangun ya nak.." Jelas Bunda Wina yang diangguki oleh Seli dan Vani.


Mereka akhirnya makan malam bersama, tanpa adanya Zela yang sudah tertidur tentunya.


Setelah selesai makan Seli dan Vani masuk kedalam kamar yang di tempati oleh Zela dan juga Brayen, jujur saja mereka sedikit terpesona dengan ruangan yang belum pernah mereka lihat itu, merek masuk kedalam dengan sangat hati hati.


Menghampiri Zela yang sudah tertidur sejak tadi.


" Ya ampunn ni anak molornya masih pakai seragam gini...." Ucap Vani melihat keadaan Zela.


" Namanya juga lagi galau Van.. Biarin aja lah.." Jawab Seli membuat Vani tersenyum.


Mereka akhirnya membaringkan tubuh di sebelah Zela, tapi masih mata mereka melirik ke sana kesini melihat isi kamar Zela, dan betapa terkejutnya Seli saat melihat foto Zela dan Brayen sedang berciuman di pasang di pojokan lemari.


" Astaga... Gila mereka.." Gumam Seli membuat Vani menoleh ke arahnya bingung.


" Apaan sih Sel..?? " Tanya Vani yang penasaran.


" Bukan apa apa... Udah ayo tidur..." Jawab Seli membuat Vani membrengut kesal.


Sebenarya mereka belumlah tidur beneran, tentu saja mereka sibuk dengan ponsel masing masing, bahkan sedari tadi Vani terus cekikikan dengan ponselnya, yang dijawab Seli dengan gelengan kepala melihat tingkah Vani.


Sedangkan di pesawat, Brayen beberapa kali melihat arloji ditangannya, penerbangannya masih beberpa jam lagi, jujur saja dia sudah sangat ingin mengabari istrinya, dia sangat rindu dengan Zela, hahkan untuk tertidur nyenyakpun Brayen tidaklah bisa.


" Shit... Gue nggak akan tinggalin Lo lagi yank.." Gumam Brayen kesal sendiri.


" Tidur Ray.. Bangun nanti kita udah sampai.. " Suruh Dimas kepada Brayen.


Brayen hanya melirik Dimas sekilas, gampang sekali Dimas mengtakan hal itu.


" Lo bisa tidur karena Lo nggak ninggalin istri.." Jawab Brayen yang sukses membut Dimas membuka matanya.

__ADS_1


" Fine.. Lo emang lagi di randa rindu yang begitu berat.." Jawab Dimas yang kembali memejamkan matanya.


Sampai akhirnya 20jam lebih Brayen dan Dimas di dalam pesawat, mereka turun menghirup udara yang di rasa tidak seperti di negara mereka.


" Akhhhh.... Akhirnya...." Ucap Dimas sambil meregangkan tangannya.


" Buruan ayo.." Ajak Brayen yang sudah sangat ingin menuju ke hotelnya untuk mengabari Zela.


Tidak lama mobil yang bertugas menjemput mereka datang.


" Gila.... Anak sultan..." Sindir Dimas kepada Brayen.


" Gue anak Ayah bukan anak Sultan.." Jawab Brayen masih bisa bergurau.


" Ha..ha..ha.. Gue heren Ray.. Lo kayak raya tapi kenapa nggak pakai jet pribadi aja sih.. Kan lumyana waktunya nyingkat lah..." Jelas Dimas sembari masuk kedalam mobil jemputan mereka.


" Biar Gue ngerasain yang namanya rindu, dan rindu itu berat ternyata.." Jawab Brayen yang sukses membuat Dimas tertawa terbahak.


" Udah kayak Dilan aja Lo.." Jawab Dimas masih dengan tertawanya.


Mobil mereka melesat menuju ke hotel Zafano, di mana hotel bintang 5 yang terdapat di kota New york A****merika , dan itu yang mempunyai adalah lelaki muda yang begitu sukses dalam bisnis perhotelan siapa lagi kalau bukan Brayen Zafano si pemilik hotel.


Bahkan Brayen sendiri sedang membangun sebuah hotel di California tidak ada yang tau selain dirinya dan Ayahnya, bahkan Dimaspun belum mengetahuinya.


Setelah sampai Brayen langsung menuju ke kamarnya, dia harus mengabari istrinya terlebih dahulu, mungkin di Indonesia sekarang sudah pukul 4 pagi, Zela sudah pasti masih tertidur tapi dengan segera Brayen tetap memencet tombol hijau untuk menghubungi istrinya.


Zela terbangun karena suara ponsel yang begitu berisik ditelinganya, ini masih begitu pagi , masih jam 4 kurang tapi akhirnya Zela mengambil ponselnya juga.


Betapa terkejutnya Zela ketika tau siapa yang menghubungi, tentu saja seseorang yang sudah membuatnya galau setengah mati.


Brayen meminta Zela untuk bervideo call dengan cepat Zela langsung menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


Terpampanglah wajah tampan yang begitu di rindukannya.


" Kangen... " Satu kata yang langsung Zela utarakan untuk menggambarkan perasaannya saat ini.


Brayen tersenyum mengamati wajah ayu Zela pada ponselanya.


" Aku lebih kangen yank dari kamu.." Jawab Brayen masih dengan senyum tampannya.


Bahkan sebenarnya wajah Brayen begitu terlihat letih karena tidak bisa tidur, tentu saja Brayen yang terus memikirkan Zela.


Tapi dengan melihat wajah Zela sudah membuat rasa lelahnya berkurang.


" Kapan pulang..?? " Tanya Zela yang langsung membuat Brayen tertawa renyah.


" Aku usahain secepatnya ya.. Sorry ganggu tidur kamu ya yank..?? " Tanya Brayen yang lansung mendapat gelengan kepala dari Zela.


" I Love You Kak.. Cepet pulang.." Ucap Zela mengutarakan isu hatinya.


" I Love You Too sayang... Sabar ya.." Jawab Brayen yang diangguki oleh Zela.


" Kamu nangis yank..?? " Tanya Brayen melihat mata Zela yang sembab.


" Nggak kok.. Tadi aku kelilipan Kak.." Jawab Zela berbohong.


" Bohong.. Mana ada orang lagi tidur kelilipan Zel.." Jawab seseorang di belakang Brayen, siapa lagi kalau bukan Dimas yang masuk ke kamar Brayen begitu saja.


" Kak Dimas ikh.." Kesal Zela yang dapat tawaan dari Dimas.


" Nggak ada orangnya ada suaranya.." Kesal Zela lagi.


Membuat Dimas semakin tertawa.


" Ya udah kamu tidur lagi aja yank.. Aku juga mau istirahat dulu.. Nanti aku kabari lagi ya... Ingat.. Jaga diri baik baik... Love You my wife.." Ucap Brayen membuat Zela mengngguk tapi juga menangis.


" Yank... Hei.. Jangan nangis... Nanti aku kabari lagi ya.." Ucap Brayen.


" Iya Kak.. Love You too.. Kakak juga jaga diri baik baik ya disitu.." Jawab Zela yang juga di angguki oleh Brayen.


" Jaga mata juga Zel.. Kalau macam macam biar aku yang tonjok Brayen..." Goda Dimas lagi lagi tidak ada orangnya tapi terdengar suaranya.


" Nggak usah di dengerin Dia yank.. Kamu pasti merasakan apa yang aku rasakan.." Jelas Brayen membuat Zela mengangguk sambil tersenyum.


Zela percaya Brayen tidaklah akan mengecewakannya, Brayen dan Zela merasakan perasaan yang sama.


Sampai akhirnya mereka mematikan sambungan video callnya meskipun di antara mereka sama sama berat, tapi Zela tau jika suaminya memang harus istirahat dulu setelah perjalanan cukup jauh.


Hufh...


Zela menghela nafas panjangnya dia begitu bahagia sudah bisa melihat Brayen dan tau kabar Brayen meskipun hanya lewat sambungan Video call , tapi itu cukup mengobati kegalaunnya.


Zela terus saja senyam senyum sendiri, bahkan dia sampai mencium ponselnya beberapa kali.


Membuat Seli dan Vani yang sedari tadi sudah bangun terkikik geli.


" Cieee... Yang udah terobati kegalauannya.." Ucap Seli yang sukses membuat Zela menoleh ke arah suaranya.


" Kalian...???? " Ucap Zela tekejut melihat keberadaan dua sahabatnya yang sudah berada di kamarnya.


Bahkan wajah Seli dan Vani sama sepertinya, wajah wajah orang baru bangun tidur.


Astaga... Sungguh kedua sahabatnya ini seperti hantu saja.. Muncul tiba tiba.


" Kita jadi satpam Lo mulai sekarang, 24jam.." Jelas Vani membuat Zela tertawa.

__ADS_1


Zela memeluk kedua sahabatnya yang selalu ada untuknya, bahkan di saat Dia sedang merasa kesepian karena ditinggal oleh Brayen, Seli dan Vani akan selalu ada untuknya.


Seperti biasanya ya Kak.. Minta Like, Comment and Vote.. Big Thanks.. 😘😘


__ADS_2