
Siang ini di kediaman Zafano sudah rame karena kedatangan pasangan Dimas Seli dan Xelo Vani. Setelah pulang kuliah dan Sekolah tadi mereka langsung menuju ke rumah Zafano. Bahkan Seli dan Vani tadi sempat membeli baju bayi yang sangat lucu untuk baby Arsha.
Baik Seli maupun Vani begitu menyayangi anak dari sahabatnya itu, mereka selalu merasa kangen dengan si embul Arsha.
Dan sekarang mereka semua sedang duduk bersantai di ruang tengah. Sambil menunggu pangeran kecil bangun karena masih terlelap dengan tidur siangnya.
" Zel... Bangunin ponakan Gue dong." Pinta Vani kepada Zela.
Seli langsung menatap Vani sedikit tajam, tidak lama dia menjitak kening Vani pelan, tapi tetap saja membuat Vani mengaduh sakit.
" Auw... Lo tuh sama Gue jahat banget tau nggak, Nyokap Gue aja nggak galak kayak Lo." Adu Vani kepada Seli sembari tangannya mengelus keningnya.
" Makanya jangan aneh-aneh Lo, biarin dong si embul istirahat, bentar lagi juga bangun mainan sono sama Yubi." Jawab Seli membuat Vani mengerucutkan bibirnya, sedangkan Zela menggelengkan kepalanya juga tersenyum.
" Beb Seli ngeselin nih." Ucap Vani mengadu kepada Xelo pacarnya, yang kebetulan juga sedang bermain playstation dengan Brayen dan juga Dimas di depan ketiga gadis cantik itu.
Para cowok tampan itu menoleh ke arah mereka, lalu tersenyum, hanya Brayen yang menoleh tanpa expresi lalu kembali fokus pada layar besar di depannya.
" Biarin aja Beb nanti biar Dimas yang kasih pelajaran." Jawab Xelo ambigu membuat Vani menatap Seli bingung.
" Sialan Lo man bawa-bawa Gue." Jawab Dimas yang berlagak tidak terima, padahal aslinya Dimas akan dengan senang hati memberi pelajaran pacarnya itu.
Tentu saja pelajaran yang Dimas berikan kepada Seli ialah pelajaran kasih sayangnya.
" Shok nggak mau Lo bambank." Ledek Xelo yang akhirnya dapat pukulan dari Dimas di lengannya.
" Udah sih pada berantem aja, kayak anak kecil kalian." Jelas Brayen yang akhirnya bersuara.
" Dih... Gaya Lo mentang-mentang udah jadi Ayah." Jawab Xelo yang tidak di tanggapi oleh Brayen.
Tidak lama Brayen berdiri dan menghentikan bermainnya, membuat Dimas dan Xelo menatapnya bingung, begitu juga dengan Zela, Seli, dan Vani yang menatap ke arah Brayen.
" Mau kemana Lo?." Tanya Dimas kepada Brayen.
" Bukan urusan Lo." Jawab Brayen membuat Xelo terkekeh.
" Rasain kena semprot Lo." Ledek Xelo membuat Dimas menatap tajam ke arah Xelo.
" Diem Lo bambank." Kesal Dimas menirukan panggilan Bambank seperti Xelo tadi, membuat Xelo semakin terkikik.
__ADS_1
Melihat Brayen yang mulai berjalan pergi membuat Zela ingin tau dan juga ikut bertanya kepada suaminya.
" Kak Ray mau kemana?." Tanya Zela kepada Brayen.
" Ke atas dulu yang nengokin baby, kamu di sini aja nemenin anak-anak kutil itu." Jelas Brayen membuat Zela mengangguk dengan senyum.
Yang di maksud Brayen anak kutil ialah Dimas dan Xelo, tapi tetap saja Seli dan Vani juga merasa seperti anak kutil, pasalnya Brayen tidak menjelaskan secara spesifik.
" Dih kita juga anak kutil dong." Gumam Vani yang terdengar oleh Zela.
" Dari pada anak conda." Sambung Zela membuat Seli tertawa.
" Ih... Ngeselin Lo Zel sama kayak suami Lo, yang nyenengin cuma baby Arsha." Jawab Vani membuat Zela dan Seli semakin terkikik.
" Uh... Masa sih?." Tanya Seli dengan muka shok imutnya.
Vani mengangguk tanpa menjawab, membuat Zela dan Seli saling pandang lalu dengan gemas mencunit pipi Vani.
" Auw.. Zezel Cecel, awas ya kalian." Ucap Vani shok menantang, tapi nyatanya tidak melakukan apa-apa.
Vani masih kesal sembari mengelus pipinya, Zela dan Seli semakin tertawa melihat muka merah Vani karena menahan kesal akibat ulah mereka.
" Zel jangan di nakalin dong bebeb Gue, nanti Arsha Gue sunatin." Ucap Xelo melihat pacarnya yang sedang di bully oleh kedua sahabatnya.
" Ngaco aja Kak Dimas sama Kak Xelo, Gue usir nanti." Ucap Zela kesal, tapi malah semakin membuat Dimas dan Xelo tertawa.
" Ampunn Mommy Alcha." Ucap Dimas dan Xelo barengan yang terdengar begitu menyebalkan dan mereka semakin tertawa menjadi.
Seli dan Vani saling pandang, lalu dengan segera mereka berdiri dan menghampiri kedua cowok tampan yang sedari tadi asik bermain playstation tapi juga meledek ketiga gadis cantik itu dengan perkataannya.
Dengan segera Seli menarik telinga Dimas sampai membuat Dimas terkejut dan merasa sakit di telinganya, begitu juga dengan Vani yang menarik telinga Xelo sampai membuat Xelo merasakan sama seperti apa yang Dimas rasakan, sedangkan Zela tertawa jahat melihat Dimas dan Xelo yang terlihat seperti kucing takut pada tikus.
Dan kini Brayen sudah tertidur di samping Arsha, tadi Arsha memang di baringkan di ranjang Zela dan Brayen, tidak lama terasa ada pergerakan dan sentuhan pada wajah Brayen.
Brayen membuka matanya pelan, lalu terlihatlah bayi tampan dan montok yang sedang memandanginya dari samping, bahkan Arsha memainkan tangannya pada wajah Brayen, seakan membangunkan Daddy nya.
Arsha sudah bisa berbalik ke kanan dan kiri, sedikit-sedikit dia juga sudah bersuara, sungguh membuat keluarga Zafano dan Adafsi semakin terasa hangat dan bahagia dengan kehadirannya.
" E...ae...." Ucap Arsha tidak begitu jelas, bahkan suara Arsha masih terdengar seperti gumaman.
__ADS_1
Brayen tersenyum lalu mencium pipi Arsha dengan penuh kasih.
" Apa sayang? mau apa anak Daddy? hmm?." Tanya Brayen yang sedang berbicara kepada anaknya.
Arsha tidak membalas lagi, tapi dia tersenyum sangat manis, bahkan Arsha yang masih 2 bulan saja sudah terlihat begitu tampan, bagaimana nanti kalau dia sudah besar? Ah... Sepertinya Brayen akan lewat dengan pesona Arshaka.
" Haus ya anak Daddy?." Tanya Brayen sembari menciumi tangan Arsha yang tadi usil bermain di wajahnya, dan lagi-lagi Arsha menjawabnya dengan senyuman.
" Jagoan Daddy kok senyum terus? jangan tebar pesona gitu dong sayang, nanti kalau Mommy lihat Arsha ganteng gini menurun dong pesona Daddy ." Ucap Brayen seakan khawatir Zela menganggap Brayen tidak lagi tampan, tentu saja karena ada jagoan kecilnya yang lebih menggemaskan dan tampan darinya sekarang.
" Ehem... Takut banget Mommy berpaling, Arsha Daddy ternyata nggak percaya dirian ya?." Cletuk Zela yang ntah sudah berapa lama berada di kamar.
Brayen menoleh ke arah Zela yang sedang mengamati dirinya dan Arsha sembari tersenyum.
" Kalau dengan kamu aku memang kurang PD yang, meskipun aku tau wajah gantengku tidak terbantahkan lagi." Jawab Brayen songong, dan tentu saja agar dia tidak malu karena tadi sudah di pergoki oleh Zela tentang percakapannya dengan Arsha tadi.
Zela hanya menjawabnya dengan anggukan kepala juga tersenyum, lalu dia menggendong Arsha yang sedari tadi senyum-senyum melihat Mommy dan Daddy nya secara bergantian.
" Duh... Cayang-cayang, haus ya anak Mommy?." Tanya Zela kepada Baby Arsha.
Arsha kembali tersenyum, tapi kali ini juga menjulurkan lidahnya, membuat Arsha terlihat begitu menggemaskan, Zela mencium Arsha sembari tangan kecil Arsha dia tuntun untuk memegang pipinya.
Arsha tersenyum, senyuman yang begitu lebar karena bahagia dengan kasih sayang orang tua dan keluarganya untuknya.
Cekrek
Bunyi kamera yang baru saja di ambil oleh Brayen dari ponselnya, Zela menatap ke arah Brayen dengan sedikit kesal.
" Kebiasaan deh ambil foto kita nggak bilang-bilang." Ucap Zela kepada Brayen.
" Salah siapa kalian menggemaskan." Jawab Brayen sembari menunjukan hasil fotonya kepada Zela.
" Ih kok lucu sih Kak? padahal kita kan nggak bergaya ya sayang?." Ucap Zela sembari berkata kepada Arsha.
" Nggak usah dengan gaya juga kalian memang lucu, bukan hanya lucu tapi juga istimewa." Jawab Brayen mulai dengan kata rayuannya.
Zela tersenyum, Brayen memang selalu bisa mengambil hatinya, membuat Zela begitu merasa bahagia dengan jalan hidup yang sudah Tuhan tentukan untuknya, jalan hidup yang benar-benar membuat Zela banyak-banyak bersyukur, meskipun Zela tau banyak godaan yang akan menjadi rintangan di luar sana, tapi selama Brayen bisa menjaga hatinya dan tidak mengecewakannya, itu tidak menjadi masalah untuknya.
Yuhu gaes " My Naughty Brother " Sudah up ya... Silahkan baca, jika kalian suka tinggalkan jejak, karena aku bakal lebih sering up lagi.
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Comment and Vote ya Kak
Big Thanks 🙏🙏😘😘