
Zela, Seli dan Vani berangkat sekolah dengan di antarkan Xelo menggunakan mobilnya. Sedari tadi tidak hentinya Zela dan Seli terus bercerita tentang Zela yang mengerjai Brayen.
Sedangkan Vani tidak seperti biasanya, kali ini dia lebih pendiam, mungkin karena keberadaan Xelo dan tragedi tadi pagi ketika dia pingsan yang membuantnya jadi sedikit canggung.
" Terus gimana Zel Kak Ray..?? " Tanya Seli kepada Zela.
" Ya.. Gitu deh.. Tapi wajah Kak Ray sampai pucat gitu.." Jelas Zela kembali membuat mereka tertawa.
" Gila.. Gue nggak nyangka sih cowok setampan Kak Ray bisa bucin banget sama Lo.." Jelas Seli kembali membuat mereka tertawa.
" Ha..ha..ha.. Kak Ray nggak bucin Sel ma Gue.. Dia tuh parnoan.." Jelas Zela kembali membuat mereka tertawa.
Sedangkan Xelo sedari tadi hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar celotehan tiga gadis SMA itu, bahkan yang biasanya Xelo akan heboh juga kali ini sama diamnya dengan Vani.
Fix... Di antara Vani dan Xelo memang mulai ada something yang belum terpecahkan haha.
" Nggak papa kali Zel parnoan dari pada pornoan " Sambung Vani yang seketika membuat Xelo melirik ke arahnya.
Sedangkan Vani langsung menutup mulutnya, Zela dan Seli saling pandang lalu kembali tertawa.
" Horee... Vani kembali.." Ucap Seli senang.
" Ish... Lebay Lo.." Jawab Vani singkat yang dapat cengiran dari Seli.
Jujur saja Vani sekarang ini rasanya begitu canggung. Dia sendiri merasa bukan dirinya yang seperti biasanya.
gue aneh banget sih sekarang... Batin Vani pada dirinya sendiri.
Vani melirik Xelo, bertepatan dengan Xelo yang juga melirik Vani, untuk seperkian detik pandangan mata mereka kembali bertemu, tapi hanya sebentar saja karena Xelo harus fokus dengan setir kemudinya.
Vani jadi senyum sendiri, begitu juga dengan Xelo yang juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Vani rasakan saat ini.
Sampai akhirnya mobil Xelo sampai di depan gerbang Sekolah SMA. Zela dan Seli yang duduk di belakang segera turun, sedangkan Vani ketika dia akan turun, Xelo sudah mencegahnya.
Membuat Vani menoleh ke arahnya dengan bingung, tentu saja Vani juga merasa gugup karena hal itu.
" Jaga diri baik-baik, jangan sampai pingsan lagi.." Ucap Xelo yang sukses membuat Vani melotot, sedangkan Xelo menanggapinya dengan senyuman tampannya.
Jangan di tanya, Zela dan Seli tentu saja sudah gaduh karena perkataan Xelo barusan.
" Cieee... Cieeee mulai baper baperan nih ye...." Goda Seli kepada Vani dan Xelo.
" Kayaknya bakal ada kisah romantis antara Ikan Hiu dan Plankton deh Sel..." Sambung Zela menggoda mereka.
" Kak Xelo.. Gue mewakili Vani ini y.a.." Ucap Seli yang membuat Vani dan juga Xelo mengernyitkan keningnya bingung.
Xelo mengangguk, pertanda mempersilahkan apa yang akan Seli ucapkan.
" Ikan Hiu goyang goyang.. Vani Love You Kak Xelo sayang..." Ucap Seli yang langsung ngacir pergi, di ikuti oleh Zela.
Sontak saja Vani melotot dengan apa yang Seli ucapkan barusan, sungguh Vani semakin geram saja rasanya dengan kedua sahabatnya itu. Dia segera turun dari mobil Xelo.
" Kak.. Thanks ya.." Ucap Vani kepada Xelo, membuat Xelo mengangguk dengan senyuman tampannya.
" Van... Gue boleh jawab apa yang Seli ucapkan tadi..?? " Tanya Xelo yang sukses membuat Vani terdiam.
Deg...
Deg..
Deg..
Jantung Vani terpompa semakin cepat, rasanya dia seperti lemas meskipun berdiri.
" Vani saranghaeyo.." Ucap Xelo yang sukses membuat Vani terkejut dan semakin lemas saja rasanya.
Astaga... maksud kak xelo apa ini..??? Batin Vani kepada dirinya.
" Lo boleh jawab kapanpun.. Gue duluan ya.." Pamit Xelo sambil menunjukan kedua jarinya pertanda cinta, Lalu melajukan mobilnya menuju kampus depan.
Sontak saja Vani kembali terkejut bahkan sampai terbengong dengan apa yang di lakukan oleh Xelo barusan, meskipun konyol tapi begitu romantis.
" Oppa.." Gumam Vani tanpa sadar.
" Dorrr...." Teriak Zela dan Seli yang mengagetkan Vani.
" Oppaa..." Jawab Vani reflek membuat Zela dan Seli semakin tertawa.
" Ha..ha..ha.. Ternyata oppa oppanan mereka.." Ledek Seli membuat Vani memberengut kesal.
" Padahal lebih seru Ikan hiu sama Plankton lho Van.. Terdengar beda gitu panggilan sayang kalian.." Sambung Zela membuat Vani semakin melotot.
" Paan sih kalian.. Ngaco deh..." Jawab Vani mengelak.
Tentu saja karena Vani masih malu, Dia dan Xelo juga belum mendeklarasikan hubungan mereka, hanya saja di antara mereka sekarang sudah tau perasaan satu sama lain.
" Dih... Malu..." Ledek Zela sambil menoel pipi Vani.
" Kalian.. Stop deh..." Jawab Vani malu yang berlalu meninggalkan Zela dan juga Seli.
Zela dan Seli segera mengejar Vani yang sedang di mode malu tapi mau itu.
" Van... Kita bahagia.." Ucap Zela kepada Vani.
" Kita dukung Lo.." Sambung Seli lagi membuat Vani menghentikan langkahnya.
Vani menghadap ke arah Zela dan juga Seli yang sedang tersenyum tanpa hentinya ke arah Vani.
__ADS_1
Huufhh...
Vani menghela nafas panjangnya.
" Kalau Gue jadian ma Kak Xelo... Lo nanti jomblo sendirian Cecel... Gue nggak tega.." Ucap Vani yang sukses membuat Zela dan Seli terkejut.
Astaga... Vani bena benar berubah dalam waktu sekejap, sejak Dia pingsan ketelmian dan kekonyolan Vani seperti hilang begitu saja, tentu saja itu semua karena Xelo.
" Van... Lo keren.." Puji Seli yang malah membuat Vani mengernyitkan keningnya.
" Maksud Lo Sel..?? " Tanya Vani bingung.
" Lo jadiannya ma Kak Xelo nanti aja nunggu Kak Dimas pulang.. Biar anivnya kita barengan..." Jelas Seli sambil menaik turunkan alisnya, membuat Zela dan Vani saling pandang dan menggeleng.
" Astaga...Cecel..." Jawab Zela dan Vani yang langsung kabur, karena tau Seli sudah pasti akan marah di panggil dengan sebutan Cecel.
Sedangkan kini Brayen sedang tersenyum miring mendapat chat dari Xelo yang memberitahukan jika Zela sengaja mengerjai Brayen dengan berpura pura marah padanya.
Awas kamu yank.. Batin Brayen.
Sedangkan Sandro masih diam duduk di depan Brayen, dia sendiri merasa lega dengan kedatangan Brayen. Baginya sekarang Brayen seperti pahlawan untuknya.
" Lo sempet nemenin Misha minum..?? " Tanya Brayen yang di angguki oleh Sandro.
" Siapa yang memesan minuman.?? " Tanya Brayen lagi kepada Sandro.
" Kak Misha.." Jawab Sandro dengan nada sedikit takut.
" Kalau Lo nggak salah Lo nggak usah takut.." Sambung Dimas yang duduk di sebelah Brayen.
Kembali Sandro hanya mengangguk.
" Dim sudah semua kan..?? " Tanya Brayen kepada Dimas.
" Beres Ray.." Jawab Dimas mantab.
" Lo... Harus di rehab dulu untuk beberapa waktu, nggak usah takut Lo nggak akan di penjara, tapi ingat di persidangan nanti Lo harus kasih kesaksian yang jujur, jangan pernah takut sama siapapun selagi Lo benar termasuk Misha.." Jelas Brayen kepada Sandro.
" Baik Kak Ray.. Terimakasih banyak Kak.. Terimakasih..." Jawab Sandro kepada Brayen.
Hanya itu yang mampu Sandro katakan saat ini untuk Brayen, Sandro begitu berhutang budi kepada Sang Idola Kampus dan juga Idola wanita, siapa lagi kalau bukan Brayen Zafano.
" Semua sudah Gue urus, nanti Lo di temani Mr. Richard, Gue harus balik ke Indo karena ada hal penting yang harus Gue selesaikan, Gue usahain di persidangan nanti Gue ke sini.. Ingat jangan langsung percaya dengan seseorang yang baru Lo kenal.. Kalau Lo nggak mau kejadian seperti ini terulang lagi.." Jelas Brayen lagi membuat Sandro mengangguk sambil terus mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Brayen.
Sedangkan Dimas tampak terkjut dengan perkataan Brayen barusan, bagaimana mungkin mereka akan langsung kembali tanpa menikmati kota New York yang indah ini.
Kini Brayen dan Dimas sudah berada di dalam mobil lagi, mereka akan menuju ke hotel untuk beristirahat sebelum nanti bersiap siap untuk kepulangan mereka ke indo.
" Ray.. Lo gila.." Ucap Dimas kepada Brayen, membuat Brayen menoleh ke arah Dimas dengan mengernyitkan keningnya bingung.
" Kita baru sehari di sini man.." Jelas Dimas kepada Brayen.
" Fix.. Lo emang bucin parah karena Zela.." Jelas Dimas kesal kepada Brayen.
Percuma juga Dimas berdebat dengan orang seperti Brayen, tidak akan bisa melawan Brayen seseorang yang sebenarnya begitu keras kepala.
Brayen hanya bisa di kalahkan oleh Zela seorang, dan Dimas tahu itu.
" Terserah Lo.." Jawab Brayen santai.
Bahkan Brayen malah sibuk memikirkan apa yang harus di lakukan kepada istri cantiknya itu.
Dimas melirik Brayen sekilas, terlihat Brayen yang sedang memikirkan sesuatu, tapi tentu saja Dimas tau yang sedang Brayen pikirkan tidak lain dan tidak bukan ialah Zela.
" Lo mikirin Zela..?? " Tanya Dimas yang di jawab Brayen dengan senyum tampannya, tapi begitu terlihat menyebalkan untuk Dimas.
" Gue mau ngerjai dia.." Ucap Brayen membuat Dimas terkejut.
" Lo tau kan tadi Gue udah gegana seperti apa karena mikirin kemarahan Zela, yang ternyata cuma mainain Gue Dim.." Jelas Brayen yang membuat Dimas menggelengkan kepalanya.
" Lo mau balas itu..?? Astaga Ray.. Lo emang udah nggak waras.." Jawab Dimas yang lagi-lagi hanya dapat senyuman dari Brayen.
Membuat Dimas menggelengkan kepalanya dengan tingkah Brayen yang aneh, bentar-bentar senyum dan itu sudah di pastikan karena Zela istrinya yang sedang jauh darinya.
" Lo pura-pura mati aja Ray.." Ucap Dimas sekenanya.
" Ide bagus..." Jawab Brayen senang membuat Dimas semakin terkejut saja dengan sikap Brayen.
Bertahun tahun mengenal Brayen, dan ini untuk pertama kalinya Dimas melihat seorang Brayen dari sisi yang lain, Brayen yang konyol dan aneh, bahkan seperti bukan Brayen yang biasanya.
" Lo harus bantuin Gue.." Ucap Brayen kepada Dimas.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Zela, Seli dan Vani masih saja bergurau, mereka sama sama curhat tentang ketiga cowok tampan yang menjadi Idola di hati mereka masing masing, siapa lagi kalau bukan Brayen, Dimas dan juga Xelo.
Tapi tiba-tiba ponsel Seli berbunyi, dan Dimas yang menelfonnya.
" Kak Dimas telp Gue.." Ucap Seli girang kepada Zela dan Vani.
" Angkat.. Angkat..." Suruh Zela dan Vani kepada Seli.
Seli mengangguk dengan semangat, bahkan dia sampai menghela nafasnya, dan ekhem.. ekheemm... Seli berdehem agar suaranya enak di dengar, dasar konyol.
" Hallo Kak Dimas.." Jawab Seli dari sebrang telp.
Ntah apa yang di bicarakan Dimas kepada Seli, terlihat wajah Seli yang tekejut dan manatap Zela dengan tatapan mata yang begitu sendu.
__ADS_1
Sontak saja membuat Zela dan Vani saling pandang, bahkan sekarang ini perasaan Zela sekarang mulai tidak enak.
Seli menutup telpnya, dia menatap Zela dalam, lalu memeluk Zela dengan begitu erat, buliran air mata Seli keluar begitu saja.
Membuat Zela dan Vani saling pandang bingung.
" Sel.. Ada apa..?? " Tanya Zela yang sudah begitu penasaran.
Tidak ada jawaban dari Seli selain memeluk Zela dengan erat dengan buliran air mata yang terus menetes.
" Sel... Jangan bikin kita takut.. Kenapa...?? " Tanya Vani yang begitu penasaran.
" Kak Brayen Zel.." Ucap Seli pelan, membuat Zela menatap Seli meminta untuk mengasih tau kepadanya.
" Kenapa dengan Kak Ray..?? " Tanya Zela yang sudah mulai takut.
Bahkan jantungnya mulai berdetak cepat.
Seli bingung harus mengatakan bagaimana kepada Zela, Seli tidak tega melihat Zela.
" Sel... Katakan.." Suruh Zela lagi kepada Seli dengan suara yang sedikit gemetar.
" Kak Ray.. Kak Ray kecelakaan Zel.." Jawab Seli ragu, yang sukses membuat Zela seperti tersambar petir di malam hari ini.
Bahkan Zela tidak bisa menangis, rasanya seperti mimpi mendengar berita itu, Zela menahan sesak di dadanya, dunia yang begitu indah untuk dirinya sejak kehadiran Brayen, berubah menjadi gelap begitu saja karena kabar yang membuatnya seperti di jatuhkan dari ketinggian.
Zela masih dalam diamnya, dengan tatapan mata yang kosong, Zela mengingat tadi pagi dia dan Brayen masih bertatap wajah meskipun endingnya mereka marahan karena ulah Zela.
Zela merasa sakit di dadanya, sakit yang begitu dalam karena sudah membuat Brayen mengira jika Dia benar-benar marah kepadanya.
Zela tersenyum, senyuman yang begitu pahit, sekuat apapun Zela tapi akhirnya air mata itu jatuh juga di pelupuk mata indanya.
Seli dan Vani sudah memeluk Zela sedari tadi, mereka juga tidak bisa berkata selain hanya bisa menangis, dan memberi pelukan untuk menguatkan Zela.
" Kak Ray pasti akan baik-baik saja Zel.." Ucap Seli mencoba untuk menenangkan Zela.
" Kak Ray nggak akan tinggalin Lo.." Sambung Vani menguatkan.
Zela mengangguk masih dengan tangisnya, Zela percaya Brayen akan baik-baik saja, Brayen akan pulang untuk dirinya dan juga calon anak mereka.
Tuhan... tolong jaga kak brayen untuk aku batin Zela memohon.
Tapi tetap saja air mata Zela tidak bisa berhenti untu menangis, bahkan Zela dan kedua sahabatnya seperti hilang akal, mereka hanya terus menangis tanpa memberitahukan ini semua kepada Bunda Wina dan juga Pak Riko.
Mereka terlalu shok dengan kabar yang Dimas beritahukan, Seli dan Vani merasakan kesedihan seperti apa yang Zela rasakan.
" Biar Gue yang kasih tau Bunda Wina.." Ucap Vani akhirnya.
Seli hanya mengangguk, sedangkan Zela masih diam dalam tangisnya dengan tatapan matanya yang kosong.
Vani keluar dari dalam kamar Zela untuk memberitahukan kepada Bunda Wina dan juga Pak Riko, terlihat Bunda Wina dan Pak Riko yang masih duduk di depan tv sambil tertawa.
Tentu saja Vani tidak tega melihat kedua Orang Tua paruh baya itu dengan kabar tentang Brayen.
Ponsel Seli berbunyi lagi, pesan chat dari Dimas, Seli masih enggan untuk mengambil ponselnya, tapi terus saja berbunyi membuat Seli akhirnya membuka pesan itu.
Dan betapa terkejutnya Seli ketika membuka beberapa pesan chat yang Dimas kirimkan, Dimas memberitahu jika ini hanyalah akal akalan Brayen saja untuk mengerjai Zela, mereka baik-baik saja, bahkan sekarang sudah dalam perjalanan untuk pulang. Dimas juga memberitahukan jika Dia dan Brayen mungkin pagi besok sudah sampai di Indonesia. Tentu saja karena Brayen yang menggunakan jet privatenya.
Dimas baru menyadari jika Zela sedang hamil, dan dia takut jika terjadi sesuatu dengan kandungan Zela, tanpa sepengetahuan Brayen Dimas memberitahukan semuanya.
" Astaga.. Kak Ray bener-bener gila.." Gumam Seli membuat Zela menoleh ke arah Seli dengan bingung.
" Lo harus lihat ini.." Ucap Seli menyerahkan ponselnya kepada Zela.
Zela terkejut bukan main, dia mengepalkan tangannya kuat.
" Sabar Zel.. Kak Ray bucin parah sama Lo.." Ucap Seli yang diangguki oleh Zela.
Tapi sorot mata Zela sudah mengibarkan bendera peperangan kepada Brayen.
Tidak lama Vani dan kedua Orang Tua Brayen datang, mereka langsung menghampiri Zela.
" Sayang..." Ucap Bunda Wina kepada Zela.
" Zela tidak apa Bund.." Jawab Zela yang sebenarnya sudah sangat murka dengan ulah Brayen.
" Ray tbaik-baik saja.." Jelas Bunda Wina yang diangguki oleh Zela.
Tentu saja karena Brayen yang sudah memberitahukan kepada Bundanya jika dia sudah dalam perjalanan pulang, dan akan memberi kejutan untuk Zela.
" Iya Bund.. Zela tau.." Jawab Zela lagi.
Sedangkan Vani yang belum mengerti apa-apa semakin bingung.
" Bunda punya rencana untuk membuat anak bandel itu kapok... Berani sekali Dia sampai membuat menantu Bunda yang cantik ini menangis.. Awas saja Kamu Ray.." Ucap Bunda Wina sambil mengusap pelan air mata Zela karena ulah konyol Brayen.
Bunda Wina memeluk Zela, lalu mencium kening Zela dengan sayang.
Sungguh Brayen benar-benar konyol karena Zela, bahkan dia tidak bisa berfikir dengan jernih lagi.
tunggu pembalasan aku kak.. Batin Zela semangat.
Sorry Gaes siang upnya..
Jangan Lupa, Like, Comment and Vote ya..
Aku tunggu... And
__ADS_1
Big Thanks 🙏🙏😘😘