Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Terjawab


__ADS_3

Mobil mereka sampai di tempat tujuan. Karena besok hari senin dan harus sekolah. Jadi mereka memutuskan untuk ke restorant dan makan malam bersama.


Tadinya Brayen ingin mengajak mereka untuk ke puncak dan menginap di sana. Itu juga karena Tian yang menginginkan, tapi sepertinya waktunya akan sangat berkurang dan Braye menjanjikan lain waktu kepada Tian.


Beruntung Xelo mengajaknya untuk makan malam di restoran kedua orang tuanya yang langsung di setujui oleh Brayen, Dimas dan juga Tian.


Seli dan Vani turun dari mobil dengan wajah yang sudah di tekuk. Membuat Zela buru-buru menghampiri kedua sahabatnya dan menanyakan apa yang terjadi dengan mereka.


" Pada kenapa sih?." Tanya Zela kepada Seli dan Vani.


" Sebel kita." Jawab Vani membuat Zela menautkan alisnya.


" Kenapa?." Tanya Zela kepada kedua sahabatnya.


" Di suruh diam sama kita Zel." Jawab Dimas membuat Seli dan Vani manatap Dimas kesal.


Sedangkan Zela menatap Dimas dengan bingungnya, Brayen tersenyum karena dia sudah bisa menebak jika kedua sahabat istrinya pasti mengeluarkan suara teriakannya sampai membuat Dimas dan Xelo yang begitu menyayangi mereka menyuruh untuk diam.


Padahal jika kentut Vani saja Xelo tidak mempermasalahkan, dia akan dengan senang hati menerimanya, meskipun terkadang Vani yang sudah mati-matian untuk menahan kentutnya di depan Xelo. Hanya saja jika suara Vani yang sedang bernyanyi, Xelo akan angkat tangan dan menyerah untuk mendengarkan.


" Kalian nyanyi?." Tanya Zela yang langsung di angguki oleh kedua sahabatnya masih dengan wajah kesalnya.


" Ha...ha.... Good girls." Jawab Zela mengacungkan jari jempolnya. Tentu saja Seli dan Vani menatap Zela tidak percaya, mereka mengira Zela akan memarahi atau mengingatkan mereka untuk diam atau tidak bersuara dengan bernyanyi, tapi nyatanya mereka salah, Zela malah begitu mendukung mereka.


Begitu juga dengan para cowok tampan yang menggelengkan kepalanya karena ucapan Zela, merek fikir Zela akan mengingatkan kedua sahabatnya untuk tidak bernyanyi lagi di depan para cowok tampan itu, tapi nyatanya Zela sama saja, ketiga gadis cantik itu memang memiliki sifat yang sama-sama unik.


" Udah kita masuk aja, bahas itu terus nanti ayang beb nggak kelar-kelar marahnya." Ucap Xelo sambil berusaha tapi langsung Vani tolak. Mengingat mereka masih di situasi ketegangan yang sangat pasti.


Vani menggandeng Zela dan Seli untuk segera masuk meninggalkan para cowok tampan yang menyebalkan itu, hanya Tian yang mungkin tidak menyebalkan sekarang ini. Tapi jika Tian sudah mendengar suara mereka ketika sedang bernyanyi, sudah di pastikan Tian juga akan sama meledek seperti Brayen dan kedua sahabatnya.


" Sabar man, cewek itu emang gengsinya gede." Ucap Dimas yang terdengar seperti ledekan untuk Xelo.


" Diam Lo.' Jawab Xelo kesal sambil berlalu, membuat Brayen dan Tian tertawa sambil menggelengka kepalanya.


Dan kini mereka sudah di restorant dengan ruangan yang berbeda. Xelo memang meminta kepada pelayannya untuk menyediakan makanan juga ruangan speciap di restoran milik kedua Orang Tuanya.


Masih sama sepert tadi, Seli dan Vani masih dengan keadaan kesal kepada Dimas dan Xelo, bahkan tadi ketika Xelo berusaha mendekati Vani, tetap saja Vani berganti posisi duduk. Membuat Xelo harus lebih sabar dulu sampai gadis pujaan hatinya tidak marah lagi kepadanya.


" Van Lo pesen sebanyak itu?." Tanya Seli melihat pesanan Vani yang tidak kalah banyak dengan Zela, membuat Vani mengangguk dengan pasti.


" Iya, kan yang punya cowok Gue." Jawab Vani songong.


" Inget... Kalian itu lagi marahan, Lo nggak malu apa ama Kak Xelo? Tuh dari tadi liatin terus." Jelas Seli yang sontak membuat Vani langsung melirik ke arah Xelo, dan benar saja apa yang di katakan oleh Seli, Xelo sedari tadi sedang memandanginya sambil tersenyum ke arahnya.


Vani merasa tidak enak, dengan segera dia mengalihkan pandangannya dari Xelo.


Salting gue kalau Kak Xelo liatin gini terus Batin Vani.


Sedangkan Zela duduk di sebelah Brayen, meskipun dia mendukung aksi kedua sahabatnya tadi, tapi tetap saja Zela sedang tidak dengan keadaan marah dengan Brayen, jadi dia masih bersikap manis kepada suaminya.


Tiba-tiba perut Zela kedutan, sekarang lebih terasa seperti tendangan, bukan hanya sekedar berkedut saja.


Zela langsung mengarahkan tangan Brayen untuk merasakan gerakan calon anak mereka, Zela meletakan tangan Brayen di perutnya, bebarengan dengan calon anak mereka yang sedang menendang perut Mommy nya.

__ADS_1


" Baby." Ucap Brayen yang di angguki oleh Zela denga senyuman manisnya.


Begitu juga dengan Brayen yang menatap Zela dengan senyum tampannya, Brayen mengacak rambut Zela pelan, dan hal itu tidak luput dari pandangan Tian yang sedikit mengamati interaksi antara Brayen dengan istrinya.


Tian tersenyum, dia merasa sudah begitu salah jika mengagumi istri dari sahabatnya sendiri, meskipun ini untuk yang pertama kalinya Tian merasa ada debaran dalam hatinya karena seorang wanita, tapi Tian bukanlah lelaki pengecut yang mencintai wanita sudah bersuami.


" Kenapa Zel?." Tanya Seli kepada Zela.


" Ponakan Gue nendang lagi?." Sambung Vani bertanya, Zela mengangguk dengan senyum.


" Nggak sabar Gue pengen liat keturunan dua mahluk indah ini." Cletuk Dimas yang sukses mendapat tatapan dari mereka semua, tapi tidak lama mereka semua tertawa membuat Dimas menggelengkan kepalanya, dengan sikap orang-orang di sekitarnya yang begitu unik.


" Lo jangan ikutan aneh kayak merek An." Ucap Dimas kepada Tian, yang di jawab Tian dengan senyum tampannya.


" Mereka aneh juga karena Lo Dim." Jawab Tian yang sukses membuat yang lain tertawa, apa yang di katakan Tian memang ada benarnya.


" Gue yakin anak Zela sama Brayen mirip Gue." Jelas Dimas membuat Zela menautkan alisnya.


" Enggak dong mirip Daddy nya." Jawab Zela yang langsung menolak perkataan Dimas.


" Siapa Lo ngaku-ngaku, yang bikin juga Gue sama Zela." Sambung Brayen membuat Zela langsung mecubit pinggang Brayen.


Sedangkan yang lain tertawa, tapi Seli dan Vani hanya tersenyum malu dengan pembahasan mereka saat ini.


" Auw sakit sayang." Ucap Brayen mengadu, tapi hanya di jawab Zela dengan tatapan kesalnya.


Mereka melanjutkan makannya lagi, ada baiknya juga di antara pasangan Seli Dimas, dan Xelo Vani sedang marahan, jadi mereka tidak harus bersikap romantis di depan Tian yang saat ini sedang tidak ada pasangannya.


Sampai tidak terasa makanan yang berada di depan meja makan mereka telah habis. Kali ini Zela dan Vani yang paling bersemangat menyantap makanannya.


Astaga... Gawat banget, ini pasti karena gue terlalu banyak makan Batin Vani merasa ingin buang angin.


Selalu saja tidak bisa melihat kondisi dan situasi, jika Vani kembali kentut di depan mereka sudah di pastikan mereka akan kembali memperolok Vani, meskipun ada Xelo yang siap membantunya, tapi Vani saat ini tidak boleh konyol dengan mengeluarkan gas kadaluarsanya di depan sahabatnya.


Vani masih bingung dengan alasan apa dia akan pergi, sedangkan Tian sudah lebih dulu pamit ke toilet untuk menyesap rokoknya. Tian tidak mungkin merokok di depan Zela yang sedang hamil, juga karena memang ada larangan merokok di restorant kedua Orang Tua Xelo.


Karena tidak tahan dengan angin yang terus mendesak ingin ke luar, membuat Vani buru-buru berpamitan kepada mereka.


" Gue ke toilet bentar ya." Pamit Vani kepada mereka.


" Gue temenin Beb." Tawar Xelo kepada Vani.


" Nggak usah, bentaran kok." Ucap Vani dengan nada yang sudah tertekan, karena menahan buang gasnya.


Setelah itu Vani segera menuju ke toilet, di mana di sana sekarang tempat teraman untuk membuang gas kadaluarsanya.


" Pasti tuh anak mau buang zat padatnya." Gumam Seli yang sudah begitu mengerti bagaimana Vani jika makan terlalu banyak.


Vani dengan segera masuk ke salah satu toilet. Terdengar adanya seseorang di toilet sebelah. Dan Vani lupa jika tadi Tian juga ijin untuk ke toilet.


Vani menunggu sampai seseorang yang berada di toilet sebelahnya itu keluar. Tapi jujur saja rasanya sudah tidak tahan menahan gas anginnya yang sedari tadi sudah mendesak untuk keluar dari jalurnya. Bahkan Vani sampai mengembangkan mulutnya untuk menahananya, jiia di lihat mungkin saat ini wajah Vani sudah teramat merah, setelah mendengar ada suara pintu, Vani yakin jika seseorang yang tadi berada di sebelah toiletnya sudah keluar dan pergi.


" Oke ini saatnya." Gumam Vani berucap pada dirinya.

__ADS_1


Bersamaan dengan Vani membuang nafasnya lega, ujung pant*t Vani juga mengeluarkan suara kentut yang begitu besar, bahkan bukan hanya besar, tatapi juga banyak dan juga cukup lama, mungkin karena Vani yang sedari terus menahan, sampai gas kadaluarsanya menumpuk dan mengantri untuk ke luar.


Duuooddhhhhh... Duuudddhhh....


Trutut... Tuttt... Tuuutthh.... Tut


Bunyi suara kentut Vani yang awalnya besar dan lama lama menjadi kecil tapi cukup banyak dan lama.


Hufh...


" Lega Gue." Ucap Vani sembari tangannya mulai menutup hidungnya dari bau gas yang baru saja di keluarkan olehnya.


Tanpa Vani sadari, Tian yang belum keluar dari lorong kamar mandi sedari tadi mendengar apa yang Vani ucapkan beserta dengan kentut yang Vani keluarkan. Bahkan bau kentut Vani sampai tercium dari arah luar.


Membuat Tian ingin tau wanita seperti apa yang begitu konyol mengeluarkan kentut sampai sebanyak dan sebau ini, tapi lagi-lagi Tian merasa seperti familiar dengan bau kentut yang sekarang sedang menyeruak masuk ke dalam hidungnya, bahkan suara pertama kentut itu tadi mengingatkan Tian tragedi di jalanan waktu itu. Di mana seseorang gadis yang ntah sengaja atau tidak membuang gasnya di depannya.


Mengingat hal itu membuat Tian tersenyum, dan menunggu untuk mengetahui siapa gadis konyol yang hobby sekali membuang kentutnya di tempat umum. Tian yakin dia adalah gadis yang sama dengan tragedi kentut malam itu.


" come on girl, i know it's you." Ucap Tian sembari bersandar di dinding. Tepat di pintu toilet yang Vani masuki.


Baru juga berapa hari di Indonesia dan bersama dengan Brayen lagi. Tapi Tian sudah langsung ketularan konyolnya, hanya untuk menunggu seseorang yang sudah kentut sampai membuatnya penasaran.


Merasa bau kentutnya yang sudah hilang membuat Vani buru-buru memakai parfumnya dan kembali kepada sahabatanya yang masih berada di meja makan.


Vani membuka pintu toilet dengan pelan. Kepala Vani yang pertama keluar untuk melihat keadaan sekitar toilet. Padahal Vani hanya buang gas saja tapi sikapnya sudah seperti maling yang sedang mengintai makanan di restorant kekasihnya.


Betapa terkejutnya Vani melihat Tian yang sedang beridiri sambil bersandar di dinding dengan kedua tangannya bersikedap di dadanya. Tian juga sama terkejutnya dengan Vani, setelah tau siapa gadis konyol yang pernah membuatnya senyum di saat kehidupannya sedang sehancur-hancurnya, meskipun tanpa Vani sadari perbuatannya itu, Tian sedang menatap Vani dengan senyuman yang sulit untuk Vani tebak.


Jujur saja Vani begitu kaget, dia tidak ingin sampai Tian tau apa yang baru saja di perbuatnya, meskipun kenyataannya Tian sudah tau semuanya, bahkan Tian sudah menemukan jawaban dari beberapa bulan yang lalu, tragedi malam yang teramat lucu menurutnya, sampai membuat Tian tertawa tapi juga merasa sedih karena perpisahan kedua orang tuanya.


Dengan memberanikan diri Vani mencoba bersikap untuk tenang seperti baru tidak terjadi apa-apa, Vani ke luar dari pintu toilet.


" Ka Tian kenapa di sini?." Tanya Vani sedikit kikuk, jujur saja meskipun dia mencoba untuk bersikap tenang, tapi tetap saja rasa gugupnya tidak bisa di kendalikan olehnya.


" Lagi nyari jawaban." Jawab Tian membuat Vani menautkan alisnya bingung.


" Gue duluan ya Kak." Pamit Vani kepada Tian, Vani begitu malu dan gugup.


Tapi baru berapa langkahnya untuk ke luar. Tiba-tiba Tian bersuara yang membuat Vani menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Tian.


" Ini untuk yang ke dua kalinya Lo kentutin Gue." Ucap Tian sembari berjalan, dan ketika melewati Vani, Tian tersenyum tampan sampai membuat Vani melotot tidak percaya.


Vani masih berdiri di tempatnya. Pikirannya teringat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu ketika dia kentut di pinggir jalan dan tanpa sengaja dia membuang gas kentutnya di depan seseorang yang sedang duduk di sana.


" Astaga... Nggak mungkin." Gumam Vani menyadari jika Tian adalah seseorang yang begitu sial malam itu, karena mendapat gas kentut Vani yang baunya begitu teramat.


Padahal tanpa Vani tau, Tian malah merasa beruntung karena kejadian itu, dia bisa tersenyum meskipun hanya sedikit saja.


Vani bingung dan malu ingin kembali ke meja makan di mana sahabtanya sedang menunggu. Karena sudah pasti Tian di sana, dan Vani malu jika Tian sampai menyeritakan kejadi itu kepada sahabatnya, terlebih ada Xelo, ah... Vani tidak bisa membayangakan betapa malunya dia meskipun Xelo selalu bilang menerima apa adanya, tapi tetap saja sebagai wanita Vai tidak seharusnya bersikap sekonyol itu.


Vani mencoba mengetik pesan untuk di kirimkan kepada Xelo, Vani meminta untuk pulang terlebih dahulu, dan akan beralasan jika dia sakit perut, tapi belum juga Vani mengirimkan pesannya, Xelo sudah datang dan langsung memeluk Vani, membuat Vani terbengong dengan apa yang harus di lakukan juga katakan kepada lelaki yang begitu dia sayangi itu.


Sorry gaes kemarin nggak up, aku lagi tumbang, ini juga nyempetin karena kasian kalau sampai 2 hari buat kalian nunggu.

__ADS_1


Jangan lupa Like, Comment and Vote ya aku tunggu lho... Big Thanks 🙏🙏😘😘


__ADS_2