
Zela selesai dengan baju gantinya, dia melihat pantulan dirinya di dalam kaca meja riasnya, bentuk tubuhnya memang terlihat lebih berisi sekarang, Zela membolak balikan badannya sendiri untuk melihat penampilannya.
Sejak kapan seorang Azela jadi seperti ini..?? Biasanya dia akan cuek saja dengan penampilannya, karena apapun yang dia pake akan selalu terlihat cocok setiap mata yang melihat.
Brayen yang melihat tingkah Zela tersenyum tipis, dipandanginya istri cantiknya yang masih fokus dengan cermin di depannya.
" Kamu udah cantik yank.. Tanpa harus mondar mandir di depan cermin.." Ucap Brayen membuat Zela menoleh ke arahnya dengan kesal.
" Emang aku cantik..." Jawab Zela dengan nada kesalnya.
Brayen tersenyum menghampiri Zela, ditariknya hidung mancung Zela pelan, sedangkan Zela hanya mengerucutkan bibir merahnya.
" Minta dicium..?? Tanya Brayen menggoda Zela.
" Ayo..." Ajak Zela yang tidak menanggapi godaan Brayen.
Kembali Brayen hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri cantiknya, Zela memang sekarang lebih sensitif sikapnya juga gampang berubah ubah, dan Brayen maklumi itu.
Mungkin karena Zela sedang hamil pikir Brayen.
Zela yang berjalan keluar kamar terlebih dahulu langsung disusul Brayen,, Brayen menggenggam tangan Zela agar mereka bergandengn tangan.
Zela melihat Brayen sekilas masih dengan tatapan musuhnya, tapi dia tidak menolak dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
" Seli....Vani...!!!! " Teriak Zela ketika sudah sampe ruang tv melihat keberadaan kedua sahabatnya itu.
Zela melepaskan gandengan tangganya dengan Brayen, sedangkan Brayen hanya menatapnya dengan senyum sekilas, Zela segera menghampiri kedua sahabatnya yang sudah menunggu ntah sejak kapan.
Benar benar seperti sudah setahun tak bertemu padahal baru beberapa jam saja.
" Udah lama..?? Tanya Zela kepada Seli dan juga Vani.
" Udah dong.. Loe lama.. Ngapain aja sih..?? Jawab Vani balik bertanya kepada Zela.
" Ganti baju dong.." Jawab Zela jujur.
" Ganti bajunya berapa lusin..?? sampe jamuran nih gue.. Ayo.." Ajak Vani lagi.
" Eh.. Ini cuma kita aja nih.. Kak Xelo nggak di ajak..?? Tanya Seli tiba tiba.
" Tenang Xelo nanti ikut kok.. Dia nunggu di restorant.." Jawab Dimas menjelaskan yang dapat anggukan kepala dari Seli.
" Kalau nggak ada Xelo kasian Vani jadi obat nyamuknya ha..ha..ha.." Sambung Dimas lagi meledek Vani.
Vani melotot ke arah Dimas dengan kesal.
" Idih.. Bagusan juga tuh ikan hiu nggak ikut... Males gue berantem mulu.." Cletuk Vani membuat mereka semua terkejut.
Pelase.... Deh Van.. Apa yang kamu omongin itu bener bener nggak sesuai sama apa yang kamu rasakan untuk Xelo, dan mereka semua bisa melihat itu.
" Berantemnya pake sayang dong Van.. Biar nggak malas.." Ledek Dimas lagi kepada Vani.
" Kak Dim ikh.. Udah.." Suruh Seli yang sudah melihat muka merah Vani karena menahan kesal.
" Kak Dim.. Sekali lagi ngledekin gue mulu.. Gue nggak akan restuin hubungan Kak Dimas sama Seli.." Ancam Vani dengan nada kesalnya.
Lalu dengan segera Vani ngacir menuju mobil, duduk dengan keadaan masih kesalnya.
Zela, Brayen, Seli dan Juga Dimas terbengong dengan tingkah Vani, mereka saling tatap dan masih terdiam di tempat.
Vani yang melihat mereka tak kunjung datang segera membunyikan klakson mobilnya berkali kali, dengan perasaan masih kesal tentunya, tapi karena di antara mereka masih juga tak datang, dengan kesal Vani turun dari mobil.
Menghampiri Zela dan Seli lalu menarik tangan mereka untuk menuju mobil, di ikuti Brayen dan Dimas dari belakang sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Vani.
Mobil mereka menuju restorant yang buka 24jm, juga dekat dengan club malam Jova, pacar dari Zifa kakak Azela.
Sampai di restorant ternyata benar jika Xelo sudah menunggu mereka, Xelo datang lebih dulu dari mereka.
Zela memesan beberapa makanan, sedangkan yang lain hanya memesan minuman juga cemilan, maklum mereka dijam segini sudah tidak mungkin jika makan malam.
Terlebih Vani yang sangat takut jika berat badannya berambah naik, berbeda dengan Zela yang ntah kenapa akhir akhir ini sangat bersemangat makan.
Bahkan Zela mengalami mual diawal awal minggu, itupun juga hanya beberapa kali saja, sekarang sungguh calon anaknya sangatlah baik padanya begitu tidak menyusahkannya sama sekali.
" Zel... Pelan pelan makannya ikh.. Udah Kayak nggak makan setahun aja loe.." Cletuk Vani melihat cara makan Zela yang begitu sangat lahap.
Zela hanya nyengir tanpa menjawabnya dan kembali memakan hidangan di depannya.
" Bilang aja kalau loe juga pengen plankton.." Ledek Xelo bersemangat.
" Ish...." Seru Vani kesal.
" Ehmm... Sepertinya perang konyol akan segera di mulai.." Sambung Dimas dengan kekehan.
" Ha..ha..ha.. Tapi serius gue nggak bisa kalau deket ni anak nggak berantem.." Jawab Xelo yang membuat mereka menatap Xelo bingung.
Deg...
__ADS_1
Jantung Vani seperti ingin melomoat keluar.
Tentu saja dia terkejut dengan pernyataan Xelo barusan.
" Why..??? Tanya Dimas singkat.
" Doi cantik kalau lagi kesal.." Jawab Xelo membuat Vani yang sedang meneguk minumannya reflek menyemburkan ke arah xelo.
Fyuhh....
Uhukk...Uhuk....
Vani tersedak, dan membuat celana yang di pake oleh Xelo seketika basah.
doi....??? apa itu gue... batin Vani bertanya.
Zela, Brayen, Seli dan Juga Dimas masih sama terkejtunya dengan Vani tapi kemudian mereka tertawa.
" Akh... Sial... Baru gue bilang cantik aja langsung nyembur... Basah kan..??? Kesal Xelo dengan Vani.
" Salah sendiri nyinyirin gue..." Jawab Vani mencoba membela diri.
" Vani sayang.. Kak Xelo bukan nyinyir tapi muji loe.." Jelas Zela kepada Vani.
" Iya tadi.. Sekarang gue cabut kata kata yang tadi.." Jawab Xelo masih dengan kesalnya, Vani menatap Xelo tajam.
" Dasar ikan hiu..." Kesal Vani.
" Plankton..." Ledek Xelo tak mau kalah.
" Udah... Udah.. Jangan ribut, emmm... Ini cocoknya gue kasih judul apa ya kalau buat film.. Si plankton kecil ngompolin ikan hiu ha..ha..ha.." Ledek Dimas dengan tawanya yang pecah.
" Nggak lucu...!!!! " Teriak Vani dan Xelo barengan.
Mereka semua tertawa dengan kekompakan yang Ikan Hiu dan Plankton tunjukan, meskipun selalu berantem tapi mereka juga kompak, benar benar konyol..
Jam sudah menunjukan pukul 11 malam, mereka kembali kemobil untuk segera pulang ke rumah masing masing.
Dimas mengantar Seli, sedangkan Vani di antar oleh Xelo, ya meskipun awalnya Vani sangat menolak, tapi karena Zela dan Seli terus memaksnya akhirnya Vani mengalah untuk mengiyakan.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Pagi ini jam baru menunjukan pukul 5: 30 ,Zela bangun terlebih dahulu dari Brayen, dilihatnya Brayen yang masih terlelap dengan tidurnya dan Zela tau itu jika suaminya masih di alam bawah sadarnya.
Zela terus menatap wajah Brayen yang masih memejamkan matanya, mata yang ketika menatapnya selalu membuat jantungnya memompa lebih cepat.
Bahkan saat ini Zela mulai terpesona meskipun tak dapat tatapan maut dari Brayen, dengan segera dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, tapi kembali memandang wajah yang selalu memabukannya itu.
" Mata ini... Selalu nakal..." Gumam Zela sambil mengusap pelan mata Brayen yang masih terpejam.
Zela beralih menatap hidung mancung Brayen, yang membuang nafas teraturnya bahkan dapat Zela rasakan karna jarak mereka yang terlalu dekat sekarang ini.
Kemudian dia beralih kebawah pada bibir manis Brayen, bibir yang merah untuk seorang pria, dan Zela sangat suka itu.
Zela terus memandang bibir Brayen sambil mengigit bibir bawahnya, terbayang ketika bibir indah didepannya ini sedang bermain nakal pada dirinya.
Zela jadi senyum senyum sendiri, selalu saja dia bertingkah konyol ketika Brayen masih terpejam, dengan segera Zela mengenyahkan bayangan konyolnya.
Zela melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 5:20, tentu saja Zela sangat kaget.
" Astaga... Selama itu gue pandangin kak ray.." Gumam Zela yang akan langsung berdiri dan bangun secara pelan.
Tapi dengan sigap Brayen menariknya lagi, sampai Zela kembali tertidur disampingnya, Zela tentu saja terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Brayen.
Zela menatap Brayen yang ternyata masih memejamkan matanya, mungkin Brayen sedang mengigau pikir Zela.
Tapi tak lama Zela di kagetkan dengan suara serak Brayen, begitu sexy ya.. begitu terdengar sexy ditelinga Zela, benar benar idola, bukan hanya wajah saja yang membuat wanita mengaguminya bahkan suara Brayenpun sangat memabukan.
" Mandi bareng..." Ucap Brayen dengan suara sexynya masih dengan memejamkan matanya.
Zela menatap Brayen bingung, pasalnya Brayen masih memejamkan matanya, dan Zela masih mengira jika Brayen sedang mengigau.
" Iya.. Bilang aja iya..." Sambung Brayen lagi membuat Zela yakin jika Brayen saat ini benar benar sedang mengigau.
Brayen membuka matanya perlahan, dilihatnya Zela yang berada di depannya, menatap Brayen dengan keterkejutannya.
" Cantik " Satu kata yang keluar dari mulut Brayen, bahkan tak terdengar oleh Zela karena persis seperti gumaman yang sangat pelan.
Brayen mencium bibir Zela pelan juga singkat, membuat Zela bertambah terkejut karenanya.
Menatap Zela dalam, begitu juga dengan Zela yang menatap Brayen masih dengan muka terkejutnya.
Akh...mata ini... mata yang selalu memabukan untuku.. batin Zela.
Mereka saling bertatap mata untuk waktu seperkian detik, jantung Zela mulai terpompa cepat, sungguh tatapan mata Brayen selalu saja membuatnya seperti tak bisa berkosentrasi, Zela mulai terbuai sampai akhirnya...
" Ehem..." Deheman ringan Brayen membuat Zela gelagapan.
__ADS_1
Apa apaan Brayen ini, moment yang akan romantis berubah menjadi canggung dan kikuk seketika, tapi untuk Zela tentunya sedangkan Brayen tersenyum tipis dengan tingkah istrinya cantiknya itu.
Zela mengalihkan pandangannya untuk sedikit mencairkan suasana.
" Kak ray... Aku mandi dulu.." Ucap Zela untuk menghilangkan kecanggungan yang dia rasakan.
" Mandi bareng..." Jawab Brayen singkat.
Zela menatap Brayen sepertu memastikan.
" Tadi aku bilang kita mandi bareng kan...?? " Jelas Brayen lagi kepada Zela.
Tentu saja Zela terkejut lagi dan lagi, berati tadi suaminya ini tidak sedang mengigau.
" Kak ray udah bangun dari tadi..??? Tanya Zela yang ntah kenapa nadanya sudah sedikit kesal.
Baru saja dia merasakan kecanggungan, tapi sekarang ini sudah berubah, akh benar benar mood Zela gampang sekali berubah sekarang ini.
" Iya... Dan aku pengen kita mandi bareng..." Jawab Brayen kembali mengulang kata katanya yang tadi.
" Nggak mau..." Jawab Zela tegas.
" Mau terlambat...??? Tanya Brayen yang dijawab Zela masih dengan menatapnya kesal.
" Kamu terlalu lama tadi pandangin aku... Sampe lupa waktu.." Bisik Brayen seketika membuat Zela terkejut tapi juga malu.
" Udah jam 6 lebih.. Ayo mandi bareng kalau nggak mau terlambat.." Bisik Brayen lagi Zela masih tak bergeming, dia benar benar malu kepergok oleh Brayen.
" Nanti bisa dilanjutin.. Bahkan yang lebih bukan hanya sekedar memandang tapi juga.... Cup...." Bisik Brayen juga mengecup pelan ceruk telinga Zela, semakin membuat Zela terkjut juga menahan rasa malunya.
Zela masih mematung, sumpah demi apapun sekarang ini dia sangat malu kepergok oleh Brayen telah berlama lama memandanginya.
Tanpa menunggu persetujuan dari Zela Brayen bangun lalu segera menggendong Zela menuju kamar mandi.
Sedangkan Zela yang tersadar dengan perlakuan Brayen, terus meronta untuk diturunkan tapi percuma saja karena Brayen tak mungkin akan menurunkannya.
Sampai akhirnya mereka selesai dengan mandi bersama dengan drama yang sungguh membuat Zela tak habis pikir dengan suami tampannya itu.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Zela berjalan menuju kelasnya, setelah tadi di antar oleh suami tampan tapi mesum itu, dan benar saja Zela hampir saja terlambat.
Sampai di kelas Zela bernafas lega karena masih aman dari hukuman guru, Zela tak habis pikir dengan Brayen yang malah membuatnya hampir terlambat tadi di dalam kamar mandi.
" Kok baru berangkat... Begadang tadi malam..??? Tanya Vani yang menoleh kebelakang kepada Zela.
" Kesiangan gue..." Jawab Zela berbohong, Vani hanya mengangguk mengerti dia kembali menghadap mejanya di depan.
Aslinya kan karena dia bermain main dulu di dalam kamar mandi dengan Brayen, bahkan Brayen yang tadi mengingatkan Zela hampir terlambat, buktinya dia sendiri malah yang membuat Zela hampir saja terlambat.
Dasar si tampan mesum..!!!! Pikir Zela.
Sepertinya sebutan itu cukup cocok untuk seorang Brayen ketika bersama dengan Zela.
" Yakin loe kesiangan..??? Tanya Seli memastikan dan Zela kembali mengangguk berbohong.
" Itu leher loe.. Banyak banget bekas kiss mark.. Masih merah banget lagi.." Bisik Seli kepada Zela.
Zela terkejut bukan main, bagaimana mungkin dia sampe setledor ini, akh.. Pasti ini karena dia tadi tak sempat berkaca, tapi kenapa bisa Brayen tak memberitahukan ini kepadanya tadi..??
Apa Brayen tak melihatnya..?? Rasanya tidak mungkin, sudahlah lupakan saja.
Benar benar membuat Zela kesal tapi juga malu kepergok oleh Seli, sedangkan Seli terkikik geli dengan tingkah parno Zela sekarang.
Dengan segera Zela menyeret tangan Seli untuk menemaninya ke kamar mandi, Zela harus segera menghilangkan bekas kiss mark yang ada di lehernya.
Bagaiamana kalau sampe ada yang melihat selain sahabatnya, Vani terbengong melihat Zela yang menarik Seli keluar dari kelas, padahal bell masuk sudah berbunyi.
Dengan segera dia mengejar kedua sahabatnya, tidak peduli dengan guru mata pelajaran pertama yang akan segera masuk kelas, ya begitulah persahabatan mereka.
Mereka bertiga menuju ke kamar mandi, sampai akhirnya..
Bruk....
Vani jatuh tersungkur karena tertabrak oleh cowok di depannya, dengan kesal Vani kembali berdiri yang juga di bantu oleh Zela dan Seli.
Sedangkan cowok di depan mereka terus menatap Zela, ntah apa yang dia lihat atau amati yang jelas degup jantungnya saat ini begitu keras dan mungkin bisa terdengar oleh orang lain.
Jangan Lupa Like, Comment dan Vote ya kak..
Vote..
Vote..
Vote..
Big Thanks... 🙏🙏😘😘
__ADS_1