
Mobil Brayen berhenti tepat di depan rumahnya. Dengan segera Zela dan Brayen keluar dari dalam mobil untuk masuk ke rumah. Sampai di rumah ternyata Pak Riko dan Bunda Wina sedang duduk santai di depan tv. Dengan segera Zela menemui kedua martuanya di ikuti oleh Brayen yang berjalan di belakangnya.
Setelah mencium tangan Bunda Wina dan Pak Riko, Zela dan Brayen duduk di sebelah kedua Orang Tua paruh baya itu, tentu saja Zela yang sudah tidak sabar ingin menanyakan kepada Bunda Wina tentang bagaimana nasib sekolah Vera nantinya.
" Bund..." Panggil Zela dengan sedikit ragu.
" Iya sayang.." Jawab Bunda Wina lembut.
Bunda Wina menatap Zela yang terlihat malu atai ragu ingin menanyakan sesuatu kepada dirinya.
" Kamu pasti penasaran dengan temanmu itu kan Nak? " Tanya Pak Riko seketika membuat Zela menoleh ke arahnya dan menganggukan kepalanya pelan.
Pak Riko terkekeh, menantu cantiknya sangat lucu Pikir Pak Riko.
" Tanyakan saja sama Bundamu Nak" Sambung Pak Riko yang di angguki oleh Zela dengan senyum cantiknya.
Zela menatap Bunda Wina lagi yang sedang tersenyum begitu manis ke arahnya.
" Sini sayang " Ucap Bunda Wina menyuruh Zela untuk duduk di dekatnya.
Zela menurut, kemudian dia beralih duduk di sebelah Bunda Wina.
" Berasa anak tiri nih Gue" Sindir Brayen yang langsung dapat tatapan tajam dari Bunda Wina, membuat Pak Riko dan Brayen terkekeh, sedangkan Zela menggelengkan kepalanya dengan senyumnya.
" Sayang... Kamu begitu penasaran ya dengan temanmu? " Tanya Bunda Wina yang langsung di angguki oleh Zela.
" Maaf Bund sebelumnya kalau Zela lancang, Vera memang salah, bahkan melakukan kesalahan yang begitu fatal, tapi Zela ingin dia mendapat keadilan seperti Zela" Jelas Zela dengan sedikit ragu.
Kembali Pak Riko dan Bunda Wina semakin tersenyum, ternyata menantu cantiknya mempunyai sifat yang sama seperti mereka.
" Begini Nak, kamu tenang saja masalah Vera, dia masih bisa sekolah, kami memberinya kesempatan" Jelas Bunda Wina yang langsung di tatap Zela seperti tatapan tidak percaya.
" Benera Bund? " Tanya Zela memastikan.
" Iya sayang.." Jawab Bunda Wina pasti, yang langsung dapat pelukan hangat dari Zela.
" Maksih Bund.. Makasih banyak.. Makasih Ayah.." Jawab Zela yang begitu bahagia.
Bunda Wina dan Pak Riko lagi-lagi mengangguk dengan senyum, sedangkan Brayen hanya menyaksikan istri dan orang tuanya yang sedang bahagia.
" Tapi.. Kamu harus tau sesuatu hal lagi" Ucap Bunda Wina membuat Zela melepaskan pelukannya dan menatap bingung Bunda Wina bergantian dengan Pak Riko.
" Kenapa Bund? " Tanya Zela sedikit takut, takut kalai kedua martuanya hanya ngeprank saja untuk membuat Zela bahagia.
" Semua ini juga karena suamimu sayang, dia begitu banyak membantu masalah ini" Jelas Pak Riko membuat Zela menatap Bunda Wina seperti tidak percaya.
Tapi Bunda Wina segera menganggukan kepalanya, pertanda mengiyakan apa yang di katakan oleh suaminya tentang anaknya Brayen yanh memang sudah membantu mereka.
Zela beralih menatap Brayen yang sedang berlagak sedikit sombong, tentu saja dia sombong jika dia di puji oleh kedua Orang Tuanya di depan istri cantiknya.
" Beneran Kak? " Tanya Zela memastikan kepada Brayen.
" Huhhh.... Aku nggak mau sombong sama kamu yang " Jawab Brayen songong yang langsung dapat pelukan dari Zela.
Tanpa di sadari Zela mencium pipi Brayen di depan kedua martuanya, tentu saja karena Zela begitu senang dengan apa yang di lakukan oleh suaminya untuk membantu teman Sekolahnya.
Sedangkan Bunda Wina dan Pak Riko tersenyum senang melihat anak dan menantunya begitu romantis dan bahagia.
" Thanks kak... Kakak hebat banget.. Aku salut sama Kak Ray" Ucap Zela memuji Brayen.
" Baru tau kamu yang? " Jawab Brayen sombong.
" Iya dong Kak.. Biasanya Kak Ray kan angkuh" Jawab Zela terkikik membuat Brayen melotot sambil menggendong Zela menuju ke kamar mereka.
" Hah... Dasar anak kecil" Gumam Pak Riko yang langsung dapat tatapan tajam dari Bunda Wina.
__ADS_1
" Maksud Ayah anak kecil yang sebentar lagi akan menjadi orang tua Bund" Jelas Pak Riko lagi membuat Bunda Wina menggelengkan kepalanya.
Sedangkan di tempat lain, kini Seli dan Dimas sedang berada di apartemen Dimas, tadinya mereka akan merencanakan untuk kencan setelah pulang Kuliah da Sekolah. Tapi karena hujan mereka akhirnya membatalkan dan lebih memilih untuk berdiam diri di apartemen Dimas.
" Mi mau yang pedes apa nggak? " Teriak Dimas kepada Seli yang malah sedang asik menonton tv.
Dimas sedang memasak mie instan untuk Seli dan dirinya, bukannya bantuin Dimas memasak, Seli malah asik menonton drakor dengan santainya, sebenarnya baru-baru ini aja Seli menyukai film drakor itu juga karena Vani yang terus bercerita tentang Idolanya Oppa korea.
" Pedes Bi.. Kuah ya Bi!! " Jawab Seli juga dengan teriakannya.
Dimas yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum tampannya.
Dengan segera Dimas melanjutkan masakannya, setelah selesai dan siap di hidangkan Dimas membawanya menuju tuan putrinya yang sedang menunggu dan asik dengan film yang di tontonnya.
" Makanan siap" Ucap Dimas seperti chef yang handal.
Padahal hanya mie instan saja dengan ditambahkan telur juga sayuran, tapi jika yang memasak orang terkasih sudah dipastikan rasanya akan sama dengan makanan mahal di restorant.
" Wuih... Asik....!!! " Jawab Seli girang persis seperti anak kecil.
Dimas mengelus puncuk kepala Seli dengan senyum tampannya.
" Mending aku pesenin aja Mi lewat aplikasi " Ucap Dimas khawatir jika nanti Seli tidak akan kenyang karena hanya memakan mie instan saja.
" Nggk usah Bi, ini udah cukup kok.. Emangnya aku Vani yang makannya banyak " Jelas Seli yang malah membawa-bawa Vani dengan penjelasannya.
Dimas terkekeh, dia menarik hidung Seli gemas, yang di jawab Seli dengan senyuman dan segera menyendokan mie instan ke dalam mulutnya.
Suapan pertamanya langsung membuat Seli melotot, tentu saja Dimas bingung dengan sikap aneh Seli, Dimas fikir Seli keselek tapi dia tidak batuk.
" Kenapa Mi? " Tanya Dimas dengan anda khawatir.
" Rasanya kayak pizza Bi " Jawab Seli membuat Dimas mengernyitkan keningnya bingung.
" He..he.. Nggak kok Bi, serius ini enak banget, makasih ya Bi udah mau masakin buat aku" Jawab Seli sambil menunjukan jarinya berbentuk sayang.
" Sama-sama cantik, lain kali kamu ya Mi yang masak " Jawab Dimas sembari meninta agar Seli yang memasakannya.
Seli mengangguk dengan senyum, jujur saja dia sama sekali tidak bisa memasak, hanya iar putih yang bisa di masak olehnya, bahkan memasak mie isntan saja kadang juga asisten rumah tangganya yang membuatnya.
Mengingat hal itu membuat Seli sepertinya harus berguru kepada Zela yang sudah lumayan bisa memasak.
Setelah selesai memasak, mereka melanjutkan untuk bermain game karena hujan belum juga reda, membuat Seli harus tertahan di apartemen Dimas. Meskipun sebenarnya Seli tetaplah bisa pulang karena mereka memakai mobil bukan kendaraan roda dua yang akan membuat keduanya basah kuyup dengan guyuran air hujan, tapi yang namanya sedang kasmaran hujan juga bisa menjadi alasan agar keduanya tetap bisa bersama.
Gaya pacaran keduanya terbilang cukup sehat tidak aneh-aneh, hanya sebatas kissing dan pelukan tidak lebih dari itu. Tentu saja karena Dimas yang menyayangi Seli dengan tulus, Dimas tidak akan sampai membuat Seli kecewa karena dirinya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
2 minggu kemudian.....
Hari ini, hari di mana Vera akan kembali masuk Sekolah. Setelah cukup lama dia memulihkan keadaannya di rumah sakit Zafano. Vera di perbolehkan untuk berangkat Sekolah lagi, tentu saja karena keluarga Zafano yang sangat baik hati kepadanya.
Huffh...
Vera menghela nafasnya, dia memandangi gedung tinggi yang selama ini menjadi tempat belajarnya. Hari ini dia di antarkan oleh sopir rumahnya. Kedua Orang Tua Vera akan mengawasinya lebih ketat lagi, dan tentu saja Vera tidak akan menolak karena memang semua ini salahnya yang tidak bisa menjaga diri dengan baik.
Vera melangkahkan kakinya memasuki gerbang tinggi sekolahnya. Ada rasa aneh yang muncul dalam dirinya, tentu saja karena dia sudah cukup lama tidak menginjkan kakinya di tempat itu. Tapi Vera tetap melangkah sampai masuk ke dalan Sekolah.
Hal pertama yang dia dapati setelah masuk ke dalam ialah, tatapan risih dari teman-teman Sekolahnya. Dan dia harus bisa hadapi semua itu.
Bahkan beberapa temannya yang termasuk gengnya dulu sama sekali tidak menyapanya, mereka hanya menatap Vera sama seperti yang lain, tajam dan tanpa bicara, jujur saja melihat sikap teman-temannya seperti itu membuatnya sedih tapi Vera harus bersikap biasa sekali lagi.
Vera memutuskan untuk masuk ke dalam kelasnya untuk menenangkan dirinya.
Sedangkan Zela, Seli dan Vani masih duduk di mobil Seli yang terparkir rapih di parkiran Sekolah. Seli sedang memainkan kunci mobilnya, sedangkan Vani sedang sibuk merapihkan rambutnya. Jangan di tanya Zela sedang apa, Zela sedang sibuk membalas chat dari suaminya yang hari ini sedang dalam misi mencari lelaki yang sudah menghamili Vera, tentu saja dengan bantuan Dimas juga bawahannta yang lain.
__ADS_1
Ini sudah 2 minggu sejak pencarian lelaki brengsek itu, siapa lagi kalau bukan laki-laki yang menghamili Vera, dari mulai Brayen dan Dimas datang langsung ke tempat kosnya tapi kata teman kosnnya lelaki itu sudah pindah. Dan teman-temannya tidak tau sama sekali pindahnya lelaki itu kemana, membuat Brayen dan Dimas semakin sulit untuk mencarinya. Tapi bukan Brayen namanya jika tidak bisa menemukan lelaki yang sudah membuat masalah di Sekolah yang sudah di bangun sejak lama oleh kedua Orang Tuanya.
" Gaes.. Katanya Vera udah mulai masuk sekarang ya? " Tanya Vani kepada Zela dan Seli yang masih duduk santai di dalam mobil Seli.
" Lo tau dari mana? " Tanya Seli kepada Vani.
" Anak-anaklah, kemarin pada bilang kalau si bakwan mulai berangkat hari ini" Jelas Vani.
" Bunda juga bilang katanya dia masuk sekarang" Sambung Zela yang masih fokus dengan ponselnya.
Sekarang Zela tidak lagi berkirim pesan dengan Brayen. Melainkan sedang melihat-lihat baju baby untuk calon anaknya nanti.
" Kok masih sepi ya? Belum ada tanda-tanda heboh karena kedatangan Vera" Jelas Vani yang langsung dapat tatapan dari Zela dan Seli. Mereka juga menggelengkan kepalanya dengan apa yang di katakan oleh Vani barusan.
" Astaga.. Tuh mulut lemes banget deh Van" Kesal Seli kepada Vani, tapi di jawab Vani dengan cekikikan sambil berselfi ria untuk di kirimkan kepada Xelo.
" Masuk kelas aja yuk.. Gue nanti sore pengen beli baju buat baby " Ajak Zela kepada kedua sahabatnya.
Zela malas jika membicarakan tentang keburukan orang lain, termasuk Vera, tapi yang namanya wanita memang nggak jauh-jauh dari yang namanya ghibah.
" Ingat No bully ya gaes.." Ucap Zela mengingatkan kedua sahabatnya jika bertemu dengan Vera nanti.
" Iya.. Bawel Lo" Jawab Vani membuat Zela terkikik sambil merangkul kedua sahabatnya untuk masuk ke dalam Sekolah.
Sepanjang lorong kelas yang mereka lewati, tidak hentinya mereka mendengar kasak-kusuk dari beberapa siswi yang sedang membicarakan tentang Vera. Tentu saja itu sudah mereka duga.
Tapi yang lebih mengagetkan karena beberapa tema Vera yang termasuk gengnya dulu juga sedang membicarakan Vera, bahkan apa yang mereka bicarakan tentang Vera lebih parah dari siswi-siswi yang lain.
Sontak saja Zela, Seli, dan Vani saling pandang bingung, mereka tau jika Vera sudah berangkat dan sudah berada di Sekolah. Tapi di mana dia sekarang? Apa dia berada di kantin atau mungkin malah sedang bersembunyi di toilet Sekolah. Pikir mereka bersamaan.
" Ikut Gue" Ajak Zela yang langsung di turuti oleh Seli dan Vani.
" Kita mau kemana Zel? " Tanya Vani karena mereka sudah berjalan melewati kelasnya.
" Temuin Vera " Jawab Zela singkat membuat Vani sedikit terkejut, sedangkan Seli sudah menduga apa yang akan Zela lakukan.
" Bua.." Ucap Vani terpotong karena sudah dapat tatapan tajam dari Seli agar Vani menurut tanpa bertanya lagi.
" Udah diem aja Lo" Suruh Seli membuat Vani mengangguk tapi juga mengerucutkan bibirnya karena sedikit kesal.
Seli yang melihat tingkah lucu Vani hanya terkikik geli.
" Bibir Lo mirip banget pant*t ayam Van " Bisik Seli sambil terkikik membuat Vani langsung melotot ke arah Seli dengan kesal.
" Zezel.. Seli nakal..!! " Adu Vani kepada Zela.
" Iya.. Gue tau.. Makanya Lo jangan lebay" Jawab Zela membuat Vani semakin kesal saja dengan kedua sahabatnya yang menyebalkan tapi begitu dia sayang.
" Ngeselin kalian" Jawab Vani akhirnya membuat Zela dan Seli menoleh ke arah Vani lalu tersenyum dan bebarengan menarik gemas pipi Vani.
" Gemesss..." Ucap Zela dan Seli kompak.
Zela menarik pipi Vani sebelah kanan, sedangkan Seli sebelah kiri, hal itu membuat Vani benar-benar ingin murka rasanya dengan sahabat terkampret dan tersanyangnya.
" Kalau pipi Gue sampe bengkak Gue aduin kalaian ke Kak Xelo" Ucap Vani dengan nada di buat mengancam.
" Silahkan Vani sayang..." Jawab Zela dan Seli lagi dengan kompaknya.
Membuat Vani membrengut kesal, sedangkan Zela dan Seli semakin tertawa dengan tingkah lucu Vani.
Sampai akhirnya mereka sampai di depan kelas Vera. Zela melirik Seli bergantian dengan Vani, yang di jawab mereka berdua dengan menganggukan kepalanya, membuat Zela tersenyum cantik ke arah mereka.
Ketiga gadis cantik itu masuk ke dalam kelas Vera, mereka begitu kaget melihat Vera yang sedang menangis sendiri di dalam kelasnya. Bahkan tidak ada seorangpun yang mau berdekatan dengan Vera, membuat Zela, Seli, dan Vani melangkahkan kakinya semakin mendekati Vera yang masih sesenggukan di dalam kursinya.
Like, Comment and Vote ya gaes.. Aku tunggu lho.. Big Thanks.. 🙏🙏😘😘
__ADS_1