
Misah dan Zifa sama sama duduk dibangku bawah pohon besar kampus, jujur saja sekarang Zifa sangatlah malas berurusan dengan cewek di depannya ini.
Zifa tau jika Misha itu sangat menyukai Brayen, dan jika Zifa menebak pasti Misha akan menanyakan tentang pernikahan Brayen dan juga adiknya Azela.
Huuuuffhhh... Zifa menghembuskan nafas panjangnya, karena sedari tadi Misha masih diam belum mengatakan sepatah katapun.
" Mau ngomong apa Sha.. Gue bentar lagi ada kelas.." Ucap Zifa yang akhirnya memulai percakapan.
Membuat Misha akhirnya menatap ke arah Zifa, dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi, Misha menangis didepan Zifa, dan itu sangat membuat Zifa merasa tidak enak.
Bukan tidak enak karena adiknya menikah dengan cowok yang Misha suka, melainkan karena dia malas jika Misha harus curhat dengannya atau meminta bantuannya.
Zifa sudah berpikir jauh kesitu, tentu saja karena Misha ini juga gadis saiko.
" Gue mau loe bantuin gue..." Jawab Misha mantab membuat Zifa seketika menautkan alisnya bingung.
Sungguh Zifa sangatlah bingung dia tidak tau apa yang Misha maksud.
" Gue tau loe nggak suka sama adek loe... Dan gue mau Zela sama Brayen pisah... Gue butuh bantuan dari loe..." Sambung Misha lagi, membuat Zifa benar benar terkejut.
Zifa menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak menyangka jika Misha benar benar punya rencana untuk memisahkan Brayen dan Zela.
Itu menurut Zifa terlalu gila.
" Heh..." Zifa menyunggingkan senyumnya.
" Gue emang pernah nggak suka sama adek gue.. Itu karena kebodohan gue.. Dan itu dulu... Loe jangan pernah berfikir buat misahin Brayen sama Zela, kalau nggak loe bakal nyesel.." Jawab Zifa yang seketika membela adiknya.
Zifa berlalu pergi, tapi baru berapa langkah tangannya sudah ditarik oleh Misha.
Membuat Zifa mau tidak mau menghadapi cewek saiko ini.
Sungguh dalam hati Zifa sangtlah kasihan dengan Zela yang pasti banyak sekali wanita yang tidak menyukainya, tentu saja karena suaki Zela yang begitu tampan di idolakan banyak wanita.
Tapi itu tidak akan menjadi masalah selama Brayen tidak menanggapi dan tetap setia kepada Zela.
" Loe ngancem gue.. Loe pikir gue nggk tau kebusukan loe yang sering pergi ke club malam hmm..??? Kalau orang tua loe tau gue rasa mereka akan kecewa banget..." Ucap Misha yang kini mencoba untuk mengancam Zifa, tidak ada lagi air mata seperti tadi, Misha menatap Zifa begitu tajam, tapi Zifa hanya tersenyum smirk.
" Jadi.. Loe harus bantuin gue..." Sambung Misha kepada Zifa.
" Terserah gue nggak peduli.." Jawab Zifa kini benar benar berlalu pergi.
Membuat Misha mengepalkan tangannya kesal, sungguh Misha tidak tau lagi akan meminta tolong kepada siapa, bahkan mungkin mendekati Brayen saja rasanya dia tak mungkin, mengingat apa yang sudah Misha lakukan di hari ultahnya waktu itu.
Zifa tersenyum melihat muka kesal Misha tadi, emang kenapa kalau dia sering ke club malam, yang punya club juga Jova pacar dia sendiri.
Dan kedua orang tuanya sudah mengetahui hubungan mereka, karena mereka yang memang sudah pacaran sejak lama.
Hanya satu yang tidak orang tuanya ketahui, tentu saja kenakalan Zifa juga Jova yang sama sama tidak bisa menahan hasratnya.
Tapi selama tidak sampe mempermalukan orang tuanya, Zifa pikir itu tidak masalah.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Zela dan Brayen sudah sampe di rumah, mereka langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, rasa lelah dan lega yang saat ini mereka rasakan.
" Thanks.." Ucap Brayen sambil memandangi Zela.
" Untuk apa..??? " Tanya Zela bingung kepada Brayen.
" Udah setuju dengan pengumuman pernikahan kita.." Jawab Brayen membuat Zela tersenyum.
" Aku yang harusnya berterimakasih sama Kak Ray..." Jawab Zela membuat Brayen sedikit menautkan alisnya.
" Kakak tadi udah bikin aku tenang nggak begitu gugup..." Sambung Zela dengan cekikikan membuat Brayen reflek menarik hidungnya gemas.
" I Love you..." Ucap Brayen kepada Zela juga memperlihatkan jurus andalannya, senyuman yang begitu menawan tentunya
" Love you too Kak.." Jawab Zela dengan senyuman manisnya.
Sungguh Zela benar benar bahagia, dan sangat merasa lega, tidak perlu lagi Zela bermain kucing kucingan jika Brayen mengantarkannya atau menjemputnya.
Mengingat Zela dulu yang sering celingukan seperti maling ketika ingin masuk kemobil Brayen, itu sangatlah konyol menurut Zela dan mungkin tidak akan terulang lagi.
Sampai akhirnya Zela dan Brayen sama sama tertidur, masih mengenakan pakaian yang tadi mereka kenakan untuk press conference, mungkin mereka sama sama terlalu lelah.
Sampai akhirnya ponsel keduanya sama sama berbunyi, sungguh menganggu memang, tapi akhirnya mereka sama sama mengangkatnya juga.
Zela dan Brayen saling pandang setelah menerim telpnya.
" Di bawah..." Ucap Zela dan Brayen barengan.
Tanpa pikir panjang mereka langsung menuju kekamar mandi, dengan sambungan telp yang sama sama belum dimatikan.
Dan itu sukses membuat Vani dan Dimas bengong dibuatnya.
Kini Dimas, Xelo, Seli dan Vani sudah menunggu Zela dan Brayen di bawah.
Tentu saja Seli dan Vani sudah tidak sabar ingin mendengar cerita dari Zela, juga mereka ingin bercerita kepada Zela.
__ADS_1
" Gimana..?? " Tanyan Seli kepada Vani.
" Udah di angkat kok.. Tapi ini aneh banget ngilang gitu aja suaranya..." Jawab Vani masih dengan bingungnya.
" Tadi Zela bilang dibawah nggak.?? Tanya Dimas sengaja jail, yang sukses membuat mata Vani seketika melotot.
Sedangkan Dimas terkikik geli, tentu saja Dimas tau apa yang dimaksud Brayen dan Zela itu mereka yang sedang menunggu dibawah, tapi Dimas memang sengaja ingin mengerjai mereka.
" Astaga.... Berati Zela sama Kak Ray lagi...." Ucap Vani menggantung, tentu saja dia tidak bisa jika melanjutkan perkataannya.
" Apa sih Van..??? Tanya Seli yang udah penasaran.
" Anak kecil nggak usah kepo..." Jawab Dimas membuat Seli langsung maksud dengan apa yang sedang mereka bahas.
" Samperin aja Dim ke kamarnya.. Siapa tau nanti loe liat pemandangan indah..." Usul Xelo, yang langsung dapat serangan dari Seli dan Vani.
" Ampunn.... Kalem dong.. Becanda juga.." Ucap Xelo meminta ampun.
" Makanya jangan mesum...." Jawab Seli dan Vani barengan.
" Kalian kayak emak emak sumpah.." Jawab Xelo.
" Dan kalian Bapak Bapak..." Jawab Seli dan Vani masih barengan, sungguh kompak membuat Dimas dan Xelo geleng geleng kepala juga tertawa.
" Nggak ada yang lucu..." Jawab mereka berdua lagi lagi barengan.
" Kekompakan yang haqiqi..." Jawab Xelo langsung tertawa begitu juga dengan Dimas.
Tidak lama Zela dan Brayen turun menemui sahabat mereka.
Zela memang keramas karena dia merasa rambutnya begitu lepek dengan keringat yang terus bercucuran tadi ketika press conference.
Membuat Seli dan Vani benar benar merasa tidak enak, sudah mengganggu kegiatan intim mereka.
" Hallo gaes.. Sorry nunggu lama.." Ucap Zela kepada Seli dan Vani, yang sukses membuat mereka malah menjadi gugup.
" Eh... Enggak kok.. Nggak papa.. Kita malah yang minta maaf udah ganggu loe.." Jawab Seli merasa tidak enak.
" Nggak papa lagi.. Kalau kalian nggak kesini malah bisa sampe sore.." Jawab Zela yang sukses membuat Seli dan Vani melongo seketika.
Sedangkan Dimas dan Xelo sudah cekikikan nggak jelas melihat wajah wajah mereka yang begitu terlihat lucu.
" Sampe sore..??? " Tanya Vani yang diangguki oleh Zela.
" Astaga..." Gumam Vani benar benar masih dengan rasa terkejutnya,begitu juga dengan Seli.
" Kebiasaan deh kalau udah keenakan sampe males mau ngapa ngapain.." Ucap Brayen sambil menarik hidung Zela gemas.
" Hah...?? " Bengong Seli dan Vani, sungguh mereka benar benar tidak menyangka jika Zela bisa seperti itu jika sedang bergulat dengan Brayen.
" Kayak Kakak enggak aja.. Lagian capek lah Kak seharian tadi kayak gitu.." Jawab Zela yang tanpa disengaja seperti teka teki sungguh membuat Seli dan Vani merinding jadinya.
" Akh.. Stop.. Jangan bahas itu.. Bahas yang lain aja.." Ucap Vani yang benar benar sudah tidak tahan.
Membuat Brayen, Dimas, dan Xelo semakin tertawa, sedangkan Zela malah bingung jadinya, tidak ada yang lucu pikir Zela.
" Udah akh.. Ayo.. Zel kita ketaman aja.. Biarin cowok cowok disini..." Ucap Vani langsung menarik tangan Zela juga Sei.
Sungguh perlakuan Vani ini seperti tuan rumah saja.
Mereka bertiga akhirnya duduk santai ditaman, meninggalkan cowoi cowok yang masih setia diruang tv.
" Btw.. Gimana tadi keadaan sekolah..?? " Tanya Zela kepada kedua sahabatnya.
" Nah.. Ini nih yang pengen gue kasih tau.. Loe pasti bakal ketawa kalau liat muka cewek cewek centil itu pada pucat, patah jantung mereka hari ini.." Ucap Vani sambil ketawa.
" Sampe segitunya..?? Tanya Zela tak percaya, yang diangguki oleh Vani dan Seli.
" Loe ma Kak Ray trending juga tau ditwitter, pokoknya di sosmed lagi full berita loe sama Kak Ray.. Gue rasa juga kalau kita nyalain tv yang muncul pertama wajah loe ma kak Ray.." Jelas Seli sambil tertawa renyah.
Hufh...
" Udah gue duga..." Ucap Zela pelan.
" Nggak papa Zel selama itu berita baik.. Ada benarnya lho pernikahan kalian diumumin sekarang, kalau nunggu perut loe gede malah beritanya bakal kemana mana.." Jelas Vani yang ntah kenapa terdengar begitu dewasa perkataannya.
" Dihhh... Mulai pinter ya.." Ledek Seli yang diajawab Vani dengan senyum songongnya.
" Loe bener Van... Gue juga sempet ngerasa gitu.." Jawab Zela, yang diangguki oleh Vani.
" Gue nggak tau reaksi mereka besok liat gue sekolah.." Sambung Zela yang sukses membuat Vani dan Seli terkejut.
" Loe besok udah berangkat..?? Tanya Seli tidak percaya.
" Iya lah.. Gue nikmati dulu masa SMA, sebelum nih perut makin berat gue bawa kemana mana..Ha..ha..ha.." Jawab Zela menjelaskan membuat kedua sahabatnya mengangguk mengerti.
"Ikh... Kita pasti bakal kangen banget deh tanpa loe di sekolah.." Ucap Vani mulai mellow.
" Ya... Kalian wajib kesini dong pulang sekolah.." Jawab Zela
__ADS_1
" Pasti..." Jawab Seli dan Vani barengan.
" Peyukan..." Sambung Seli, yang ditanggapi Zela dan Vani dengan merentangkan tangannya.
" Forever..." Ucap mereka bersamaan sambil tertawa.
Mereka bertiga berpelukan, dengan kehangatan persahabatan yang mereka jalin selama ini, tidak pernah ada perselisihan, hanya pertengkaran kecil konyol yang sering mereka tunjukan satu sama lain.
" Eh.. Loe inget nggak Sel..?? Ucap Vani tiba tiba membuat mereka seketika melepaskan pelukannya.
" Apaan..?? Tanya Seli kepada Vani.
" Vera..." Jawab Vani pelan.
" Akh.. Iya.." Jawab Seli yang juga sama singkatnya dengan Vani.
" Kenapa bakwan..?? Patah hati juga dia...?? Tanya Zela yang diangguki oleh mereka.
" Vera tadi nemuin kita Zel ditempat parkir..." Jelas Vani.
" Masih berani ya tuh anak.. Tapi kalian tidak diapa apain kan..?? Tanya Zela khawatir kepada Seli dan Vani.
" Nggak kok.. Dia cuma kepoin loe ma Kak Ray..." Jawab Seli membuat Zela mengangguk.
" Terus terus..?? Tanya Zela mulai penasaran.
" Terus kita bilang aja.. Jangan urusin rumah tangga orang.. Kalau nggak mau dibilang PELAKOR..." Jawab Vani sambil tertawa.
" Ha..ha..ha.. Gila ya kalian.. Jahat tau nggak kayak gitu.." Jawab Zela.
" Ya emang bener kan..?? Kalau Vera masih berani buat deketin kak Ray.. Dia bukan lagi perebut pacar orang tapi Perebut Laki orang atau pelakor.." Jelas Vani antusias, membuat Zela tertawa.
" Setuju..." Jawab Seli juga dengan tawanya.
" Gue jadi nggak sabar liat temen temen sekolah besok..." Ucap Zela membayangkan hari esok.
" Sama gue juga.. Tapi Zel.. Loe juga harus hati hati sama kakak kampus depan, secara fans Kak Ray kan bukan cuma disekolah kita, tapi dikampus juga.." Jelas Vani yang seketika membuat Zela tersadar jika suaminya ini banyak sekali digilai wanita.
Zela juga teringat dengan seseorang, yang dikatakan Vani sangatlah benar Zela harus hati hati, apa lagi ada seseorang yang begitu menginginkan Brayen bahkan lebih dari Vera.
" Kalian tenang aja.. Gue udah siap apapun nantinya kok... Kayak nggak tau gue aja..." Jawab Zela mantab, membuat Seli dan Vani mengacungkan jempolnya.
Tapi sungguh jauh dilubuk hatinya terpintas nama Misha yang ntah Zela sendiri tidak tau, Misha akan melakukan sesuatu atau tidak.
Semoga saja tidak pikir Zela.
Sore sudah berganti dengan malam, mereka masih sama sama asik mengobrol, sampai Pak Riko juga Bunda Wina pulang dari kantor.
Malam ini mereka makan malam bersama dirumah keluarga Zafano, sungguh sangat menyenangkan bisa berkumpul dan makan malam bersama sama dengan formasi yang begitu lengkap, persis seperti keluarga besar.
Setelah sahabat Zela dan juga Brayen pulang, mereka berdua langsung menuju kamarnya, Zela ingin segera pagi, dia sudah tidak sabar ingin berangkat kesekolah dengan status barunya sebagai istri Brayen bukan lagi pacar Brayen.
Bukan maksud hati ingin pamer, tapi Zela hanya ingin menunjukan jika Brayen, cowok yang mereka idolakan itu sudah mempunyai istri, dan sebentar lagi mereka juga akan mempunyai seorang anak.
Itu yang ingin Zela perlihatkan kepada para wanita, supaya tidak lagi begitu menggilai suaminya.
" Kak..." Ucap Zela disela sela pelukan mereka.
Kini Zela dan Brayen sedang berpelukan dibawah selimut bersama.
" Kenapa lagi yank..?? " Tanya Brayen yang kini menatap Zela.
" Udah nggak sabar.. Pengen cepet pagi..." Jawab Zela pelan dan manja.
Brayen tersenyum, ternyata keputusan mengumumkan pernikahan mereka sangatlah benar.
Dan itu terbukti karena sedari tadi Zela terus mengatakan ingin segera pagi, dan berangkat sekolah bersama dengan Brayen.
Bahkan Brayen sendiri tidak tau sudah berapa puluh kali Zela mengatakan hal yang sama.
Zela benar benar tidak sabar.
Cupppp....
Brayen mencium kedua mata Zela bergantian, berharap agar matanya bisa terpejam, tapi nyatanya mata indah Zela masih begitu bulat, masih terlihat begitu bening belum ada tanda tanda ngantuknya sedikitpun.
Membuat Brayen mau tak mau membisikan kata kata yang membuat Zela berusaha memejamkan matanya sampe akhirnya benar benar tertidur.
Brayen kembali tersenyum, mengecup kening Zela, lalu ikut tertidur dengan tangan memeluk Zela, membawa kedekapannya, agar istri cantiknya bisa tidur dengan nyaman dalam hangat pelukannya, menyambut hari esok yang pastinya akan mereka jalani berbeda dari hari biasanya.
Yuhuuu...Kak.... Ada yang udah nggak sabar pengen Zela lahiran belum..???
Jangan Lupa comment di bawah ya..
Dan juga Like... Vote.., vote, vote, vote..
Oke..???
Semoga hari kalian menyenangkan.... 😘😘
__ADS_1